
“Tapi, itu tidak menolak kenyataan kalau murid dari Hadesia terlibat,” lirih seorang bangsawan. Dia tampaknya tak takut menyuarakan pendapatnya.
“Dan menurutmu, dia berasal dari mana?” Kalimat Heksar membuat orang itu tidak berkutik sekarang. “Kenapa diam saja? Kutanya Thertera Aszeria itu berasal dari mana?”
Sosok yang ditanya tertunduk tak sanggup membalasnya.
“Jangan bilang kalau kalian lupa dia siapa?” Heksar pun bangkit dari duduknya.
“Yang Mulia,” Barca Asera agak kaget melihatnya.
Lambat laun Raja cebol itu melangkah pelan sambil menyentuh punggung-punggung kursi yang dilewatinya.
“Thertera Aszeria, dia putra dari rakyat biasa yang kau pilih sebagai cucu angkatmu,” tekan Heksar pada Tetua yang tadi memulai pembicaraan. “Dia anak emas yang kau jadikan sebagai penjaga kandang kudamu!”
Tak satu pun orang-orang di sana mampu menyelanya.
“Dia scodeaz (pengendali) terbaik yang bisa memisahkan roh hewannya menjadi senjata! Dia cucu angkatmu yang kau biarkan tersiksa di tangan para bawahanmu! Dia aset chimera yang kau rebut dari orang tuanya! Dia anak berbakti yang bahkan rela bersujud di kakimu demi ayah dan ibunya! Dia cucu angkatmu tapi kau jadikan tameng untuk melindungi putra kandungmu!”
Benar-benar suasana yang luar biasa. Orang-orang di sana tampak tertekan akan setiap untaian kata Heksar yang bernada tinggi.
“Dia cuma prajurit untuk anakmu yang dikirim ke Hadesia! Dia cuma pengawal di tangan kalian! Anak muda yang kalian kirim ke neraka sebagai penjaga! Kau tahu bagaimana nasib rakyat biasa tanpa surat izin dari Raja di sana! Kau tahu bagaimana itu Hadesia! Kau tahu jika para pengawal hanya jadi sampah di tanah dingin itu! Tapi kalian tetap tega mengirimnya sebagai penjaga pintu putra kalian.”
Ketegangan mulai mengambang ke udara. Walau volume suara Heksar menurun dalam meneriaki mereka, tapi tidak dengan ekspresinya. Sosoknya benar-benar marah pada orang-orang di sekitarnya.
“Hadesia! Hadesia! Hadesia! Aku muak mendengarnya! Sekarang kalian melabelinya pengkhianat?! Di mana otak kalian, di mana! Jangan lupa kalau kalian berdosa pada kedua orang tuanya! Dia terluka namun tak satu pun dari para pemakai jasa memberikan air suci kepadanya! Kalian buang dia seenak perut kalian setelah memakai habis tenaganya! Dan kalian eksekusi mati orang tuanya karena air suci yang kalian monopoli bersama! Kalian semua bajingan! Kalian Tetua dan bangsawan terburuk yang pernah ada!”
Sekarang, terlihat kalau para pendengar menampilkan ekspresi yang berbeda. Beberapa menatap tak percaya kalau Raja cebol itu ternyata tahu dengan skandal di bawah tangan bangsawan dan Tetua.
Padahal saat anak itu akan menjabat sebagai Raja, informasi tersebut sudah ditutup rapat di era ayahnya.
Bahkan Raja sebelumnya tidak tahu informasi itu akibat dicuci bersih Wakilnya.
Tapi Heksar justru mengetahuinya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Kalian pikir aku tidak tahu kelicikan yang kalian lakukan di belakangku?! Kalian pikir aku tuli saat duduk di singgasana itu?! Aku Rajanya! Dan aku tahu skandal busuk yang kalian semua lakukan bahkan di saat ayahku masih duduk di kursi itu! Kalian jual orang-orang dari bangsa kita sebagai bahan percobaan keabadian! Kalian benar-benar—” kalimat Heksar tak lagi dilanjutkan.
__ADS_1
Napasnya terengah-engah, akibat banyaknya kata-kata terlontar dari mulutnya. Perlahan ia usap sekilas wajahnya seperti mencoba menenangkan dirinya.
“Memang tak ada gunanya kukatakan itu semua. Mulai sekarang, semua keputusan demi bangsa kita mutlak di tangan Raja dan petingginya. Para Tetua serta bangsawan hanya akan jadi penasehat di singgasana! Hal-hal yang berkaitan dengan pajak daerah serta kekuasaan harus dibayarkan tanpa pengecualian! Dan juga air suci, kubebaskan kalian dari tugas pengawasannya! Karena aku sendiri yang akan menunjuk orang-orang untuk mengelolanya! Ingat itu!”
Selesai mengatakannya Raja cebol itu pun pergi dari sana. Dengan membawa amarah yang sudah dilontarkan dirinya, namun masih ada beberapa serpihan tertinggal di sana.
Tangannya perlahan terkepal erat. “Kau berhutang budi padaku, sahabatku,” ucapnya dengan ekspresi agak kecewa.
Karena bagaimanapun juga setelah sekian lama penindasan terjadi untuk rakyat-rakyat miskin di bangsanya, baru sekarang ia bisa menyuarakan semuanya.
Sosoknya yang selalu berdiri di tepian dan menyaksikan secara langsung penindasan pada Thertera tak bisa berbuat apa-apa.
Keluarga Raja, keluarga yang diakui sebagai sosok tertinggi dalam bangsa-bangsa, nyatanya kekuasaan mereka diselimuti oleh campur tangan bangsawan dan Tetua dalam memimpin semuanya.
Apa kata mereka itulah arah panah orang di singgasana. Karena nyatanya keluarga Raja hanyalah boneka di tangan mereka.
Benar-benar menodai pihak tertinggi di atas tahta.
“Akhirnya, kalau bukan karena gagak dari pengendali tanaman ini, kami pasti sudah menyusul kalian,” jengkel Doxia saat melihat kedatangan Aza dan juga Horusca.
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Reve kepadanya.
“Masalah cerberus sudah bukan urusan kita lagi, jadi ayo pergi dari sini,” ajak pengendali magma itu seperti seorang ketua. Tapi tiba-tiba Horusca menyentuh bahunya. “Apa?” dia menoleh ke arahnya.
“Apa tak masalah kalau kamu tidak ikut serta dalam upacara pemakaman rekanmu?”
“Ah,” Aza jadi teringat sosok Huldra. “Biarkan saja. Lagi pula ada atau tidak adanya aku dia pasti tetap dikuburkan. Ayo pergi, jangan sampai kita bertemu mereka lagi,” lalu kakinya pun melangkah duluan.
Benar-benar sosok tidak berperasaan. Padahal Beltelgeuse Orion, sedang menanti Aza di pinggir tebing sesuai perjanjian.
Bagaimanapun juga, dia sangat cemas pada kondisi adik seperguruannya. Terlebih lagi firasatnya berbicara kalau keadaan petinggi muda itu benar-benar tidak baik-baik saja.
Langkah mereka pun keluar dari kawasan terlarang kuil Dewa Nagagini melalui jalur yang berbeda. Di mana arah perjalanan mereka menjadi tempat peristirahatan tiga pengkhianat tersisa dalam memulihkan tenaganya.
__ADS_1
“Aah, akhirnya kita berhasil juga,” keluh Arigan Arentio sambil menyandarkan tubuhnya pada batu.
Sedangkan dua laki-laki di depannya sibuk melakukan aktivitas masing-masingnya. Di mana Thertera Aszeria membasuh wajahnya dan Zargion Elgo fokus memperhatikan keong pemanggilan di tangannya.
“Kenapa kau menatapnya seperti itu? Kalau tidak mau berikan saja padaku,” lirihnya sambil menyodorkan tangan pada cucu Bragi Elgo.
Tapi bukannya menjawab, sosok dari empusa malah mengabaikannya. Memilih menyimpan kembali alat yang digunakan untuk memanggil pasukan pemakan daging yaitu ghoul.
“Ya ampun, bahkan kamu juga tidak sudi meminjamkan itu padaku. Benar-benar bangsawan sialan,” kekeh Arigan menatapnya.
Thertera yang sudah selesai melakukan aktivitasnya ditepi sungai kecil pun mendekati mereka.
“Aku dapat banyak ikan, ayo kita makan,” ajaknya.
Bahkan tanpa mengatakan apa pun, Zargion menyiapkan unggung untuk mereka. Agar Thertera bisa memasak demi menyelamatkan perut menyedihkan ketiganya.
“Tapi,” Arigan tiba-tiba bersuara. “Blerda itu benar-benar sialan.”
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa? Dia sama sekali tidak memikirkan keselamatan kita. Bisa-bisanya dia menyuruh kita berkhianat pada bangsa sendiri dan menyusup pada koloni mengerikan itu. Dari mana dia mendapat informasinya?” Arigan menyuarakan kejengkelannya.
“Dia dari bangsamu bukan? Seharusnya kamu lebih tahu.”
Arigan pun terkekeh mendengar lirihan Thertera. “Walau kami satu ras, aku tidak sedekat itu dengannya. Lagi pula, bukankah seharusnya kamu yang lebih tahu? Bagaimanapun juga, kalian sama-sama dari Hadesia.”
__ADS_1