Death Game

Death Game
Turun tangannya para Raja


__ADS_3

Pertarungan para Raja dan Wakilnya dalam melawan cerberus akhirnya dimulai juga. Serangan barbar dari orang-orang yang dipuja sebagai sosok tertinggi telah mengejutkan para penonton di sekelilingnya.


Mengerikan.


Begitulah levelnya.


Para petinggi, Tetua, dan keluarga bangsawan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kelihaian mereka.


Bangsa-bangsa dunia Guide.


Siren, dengan kemampuan Megalodon sang pelayan dewa. Menggetarkan tanah bangsa mereka. Pertarungan dengan dampak bak perang besar itu meluluh lantakan hampir separuh kawasan itu.


Dan Blerda Sirena hanya menonton tak jauh dari sana.


Otak sesungguhnya dalam pengendalian Cerberus. Dalang pertama yang merencanakan keruntuhan para Tetua dan bangsawan.


Orang yang memulai informasi kalau para murid Hadesia akan menjadi ancaman bagi mereka. Juga sosok licik sebagai pelopor kalau cerberus bisa digunakan untuk membunuh para murid pelatihan dingin sekaligus memuluskan rencana lainnya.


Nyatanya, semua sudah berada di dalam jangkauannya.


Para pelakon pertarungan adalah bidak catur miliknya.


Dan dia juga yang membuat banyak bangsawan serta petinggi mengkhianati bangsa masing-masing demi ambisi pribadi mereka.


Rencana orang-orang itu hanyalah pijakan dari tujuannya. Bukankah sosoknya yang berdiri dalam bayang-bayang sangat bersih pekerjaannya?


Hasratnya tak perlu mengotori tangannya. Karena kehancuran ini sampai kapan pun juga akan diingat sebagai rencana dari beberapa petinggi serta bangsawan yang memasuki kawasan terlarang tanpa izin bangsa-bangsa.


Mimpi Dewa Apollo memang diluar perhitungannya. Tapi Blerda tidak peduli, selama Tetua serta bangsawan korup mati dalam tragedi, itu sudah lebih dari cukup baginya.


Kurcaci.


Bangsa dengan berkat untuk bisa melihat aura. Noa Krucoa sebagai pemimpinnya, hanya berdiri diam sambil melirik pemandangan di luar jendela.


Kedamaian ada di tanah pemerintahannya. Semua bangsawan dan Tetua tunduk serta hormat pada kekuasaannya.


Tapi seekor gagak merah bertengger indah di bahu kirinya. Kiriman dari Raja siren, sebagai informasi dari kejadian sebenarnya.


Walau memang tindakan tak terpuji, tapi setiap bangsa punya cara tersendiri menangani kisruh di kawasan naungannya.


Sehingga Noa Krucoa akan memaklumi kehancuran yang terjadi karena keinginan masing-masing dari pemimpin muda di luar sana.


Empusa.


Identik dengan bendera putih bergambar sayap kelelawar yang terbakar. Rajanya sang pemegang sabit Dewa Kematian, memenggal kepala cerberus tanpa perlu banyak usaha. Dalam tiga kali ayunan, monster legenda itu menggeliat sekarat di depan mata.

__ADS_1


Sorak-sorak rakyat yang terluka namun masih bisa menyaksikannya, bertepuk tangan memuja kehebatannya.


Tapi hati sang Raja kecut dibuatnya. Tangan Trempusa menggenggam erat senjatanya. Rasanya seperti seorang penipu.


Ia sadar kalau hewan itu tidak benar-benar menyerangnya. Mengingat monster legenda ada di bawah kendali Arigan Arentio serta Thertera Aszeria sebagai Tuannya.  


Chimera.


Anjing berisik yang menjadi lawan sang Raja akhirnya meregang nyawa. Heksar Chimeral sudah kembali ke wujud semula. Tapi penampakan di depan matanya, membuat orang-orang sekitar takjub sekaligus takut padanya.


Hancurnya kepala cerberus akibat cengkeramannya, membuat orang-orang yakin kalau dialah Raja terhebat dari seluruh bangsa-bangsa.


Nyatanya Raja cebol itu merasa dipecundangi oleh hewan yang sudah mati di tangannya.


Berlagak keren dalam bertarung, tapi monster legenda itu dari awal sudah di hipnotis agar bisa dibantai dengan mudahnya.


Tak berkesan baginya pertarungan ini. Kecuali sorot matanya, melirik keadaan sekelilingnya.


“Cepat bantu semua orang yang terluka!” perintahnya pada ksatria dan prajurit bangsa chimera.


 Hydra.


Hampir separuh kawasan yang hancur, tanahnya diselimuti oleh es. Bahkan, hewan mengerikan sebagai tersangka perusakan membeku karena kemampuan Wakil Raja di sana.


Tanpa Kers harus turun tangan, Revtel mampu membantai sang monster legenda.


Nyatanya mereka meyakini kalau dialah yang pantas duduk di singgasana. Akan tetapi, ini semua jelas-jelas akan ditentang oleh beberapa bangsawan serta Tetua yang tersisa.


Bagi mereka, lebih baik Hydragel Kers yang menjadi Raja.


Karena sosok pemakan anggur yang hanya bisa membaca pikiran, jauh lebih berguna untuk dikendalikan sebagai boneka.


Sayangnya, tak satu pun dari orang-orang korup itu tahu. Kalau laki-laki yang diremehkan mereka, adalah ular terburuk di tanah kelahirannya.


Karena Kers merupakan orang terkeji kedua setelah Blerda dalam memimpin Kerajaannya.


“Anda baik-baik saja?!” panik Raja ular itu sambil membantu Tetua yang tampak terluka. Bahkan matanya berkaca-kaca saat menyaksikannya. “Maafkan aku. Maaf karena terlambat menghentikan monster gila itu. Andai kami bergerak lebih cepat, maka semua ini pasti tidak akan terjadi.”


Dan tangannya pun diarahkan untuk menutup mulut pak tua itu. Tentunya, sosok yang dibantu menjadi bingung karenanya.


Perlahan-lahan ia merasakan sensasi aneh masuk ke kerongkongan. Ternyata, itu adalah jurus kegelapan dari telapak tangan Rajanya.


Terlihat olehnya, Kers menyeringai tiba-tiba. Diiringi sensasi aneh menyentrum seluruh organnya.


Tetua itu pun mati tanpa bisa mengatakan kebenaran sesungguhnya. Kalau setiap sistem saraf di raganya telah menegang dan tak berfungsi lagi sebagaimana mestinya.

__ADS_1


Sang penolong justru membunuhnya dalam diam dengan jurus rahasianya.


Sehingga Kers pun kembali menetralkan ekspresinya. Seolah panik melihat pak tua itu, tak bergerak lagi di dalam rangkulannya.


Dracula.


Bangsa yang identik dengan assandia tingkat tinggi milik mereka. Tanpa kehadiran Lucian Brastok, bawahannya menyerang membabi buta untuk menghentikan amukan monster legenda.


Tapi di satu sisi, langkah kaki Rajanya terhenti di sebuah gerbang kokoh di ruang bawah tanah. Perlahan dibukanya, dan tampaklah sekumpulan Tetua serta beberapa bangsawan hadir di ruang tertutup itu sambil menikmati kemewahan yang ada.


“Kau! Lucian? Bagaimana bisa kau di sini?!” panik salah satu dari mereka melihat kemunculannya.


Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa. Kecuali manik matanya, menyapu bersih rupa setiap penghuni ruangan di depannya.


“Padahal orang-orang di atas sedang sibuk bertarung. Apa yang kalian lakukan di sini?”


“I-itu—” sang penjawab tampak gugup melanjutkan kalimatnya.


“Oh, kalian bersembunyi ya. Pantas saja di pintu utama aku dihadang segel kuat. Rupa-rupanya agar tidak ada yang menyadari tempat ini ya.”


“Kau!” geram salah satu Tetua karena tertangkap basah oleh Rajanya.


“Baiklah. Jika memang itu yang kalian inginkan, maka akan aku kabulkan.”


Lucian pun melangkah masuk ke dalamnya. Menutup gerbang kokoh itu agar tak bisa bisa lagi dibuka tanpa seizinnya.


“Mau apa kau?!”


Tapi, justru guratan senyum tipis tercetak di bibirnya. Lambat laun aroma darah pekat menguar dari kulitnya.


“Kau!” kaget salah satu bangsawan menyadari keanehan dari Rajanya.


“Berterima kasihlah. Karena kalian tak perlu lagi melihat dunia luar nantinya.”


Dan obor-obor yang menerangi seluruh ruangan pun mendadak padam tiba-tiba. Bersamaan dengan teriakan menggema di sana akibat serangan tak terduga menghantam orang-orang di dalamnya.


Lucian Brastok, membantai mereka dengan kemampuan yang tidak pernah dikeluarkannya untuk dipertontonkan pada bawahannya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2