
Sosok berambut pirang itu pun langsung muncul di depan Kers.
Sedangkan Perseus, dia menghadang Dewa Ares. Tapi yang lebih mengejutkan, bukanlah gangguan dari mereka. Tapi kehadiran tiba-tiba Helga tepat di belakang Lascarzio dan membekukan siapa pun di dalam perisai.
Semua, kecuali tiga sosok yang tak pecah gendang telinganya.
“Aku akan mulai darimu, Seth!” teriaknya dan menusuk tubuh Dewa itu.
Kesialan bagi Lascarzio. Selama dirinya mengaktifkan perisai, dia tak ada bedanya seperti manusia biasa. Namun siapa sangka Helga bisa masuk ke dalamnya. Mengingat Yggdrasil, merupakan pohon kehidupan yang bahkan dihormati para Dewa.
Bahkan kuasa Titan kadang goyah di depan pohon mengerikan itu.
Darah pun mulai merembes membasahi pakaian sang Dewa.
“Seth!” teriak Ares.
Tapi tiba-tiba, api hitam keemasan membakar kepala Helga. Gadis itu mengerang namun berhasil mematikannya.
“Kau! Kau tidak membeku?” seringainya sambil memiringkan wajah.
Tatapan tajam Aegayon Cottia, benar-benar menyiratkan sosok yang berbeda. “Terima kasih karena sudah membekukan mereka,” ucapnya tiba-tiba. Dan Raja itu pun terbakar sepenuhnya.
Begitu cepat gerakannya, menyerang Helga sambil dihiasi ayunan pedangnya.
“Api dunia bawah? Tak kusangka ada yang memilikinya. Pantas kau bebas dari es-ku.” Dan wanita itu berhasil menangkap tangan Aegayon Cottia.
Akan tetapi, sang Raja langsung melepaskan pedangnya. Tangannya refleks mencengkeram wajah Helga dan membakarnya. “Untuk bawahanku.”
Pekikan amarah langsung tersembur dari mulut wanita itu. Belum sempat ia memotong tangan Aegayon, Raja gyges sudah terlebih dahulu menendangnya. Tak peduli jika sosoknya wanita, harga dari kematian gyges di tangan Helga memburu emosinya.
“Yggdrasil!” teriaknya.
Dan pohon itu langsung muncul di dalam perisai. Menghancurkan pertahanan Seth, dan juga menyerap energi kehidupan siapa pun juga.
Termasuk Raja gyges yang langsung tumbang dan menghitam tubuhnya.
“Keparat!” umpat Kers tiba-tiba. Ia muncul begitu saja dan mencengkeram kepala Helga. Membuat gadis itu tersungkur ke tanah sambil melontarkan amarah.
“Keparat kau, Apophis!” akar Yggdrasil melilit tubuh Raja hydra. Akan tetapi, kobaran energi hitam di badannya langsung menguapkan semuanya menjadi abu.
__ADS_1
Kers tampaknya benar-benar marah dengan ulah wanita itu. “Aku akan membunuhmu.”
“Jangan Apophis, kau bisa—” terlambat. Kalimat Lascarzio terpotong karena Reygan muncul di sebelah sang Raja dan menghunuskan pedangnya. Namun bilah putih itu langsung patah ketika bertemu energi hitam.
“Kau, ingin mati?” Kers menatapnya tajam. Reygan bergidik merasakan sensasinya. Akibat aura pembunuh menyeruak dari Apophis hendak memakannya.
“Takkan kubiarkan kau menyentuhnya!” geram Helda padanya. Dan lima bola elemen langsung muncul untuk menyerang laki-laki itu. Membuat Kers terlempar beberapa langkah namun tubuhnya baik-baik saja. Sorot matanya menggelap sempurna bersamaan dengan gemuruh petir di atas sana.
“Jangan, Apophis! Kau akan mengundang para Dewa!” teriak Ares mencegahnya.
Sayangnya, kemarahan Dewa itu tidak bisa dihentikan begitu saja. Karena dirinya bisa merasakan betapa tipisnya energi kehidupan rekan-rekannya. Dan semua karena kegilaan Helga yang memakai Yggdrasil bersamanya.
“Seharusnya kau itu tidak disegel. Seharusnya aku langsung saja membunuhmu!” Bak api hitam, begitu besar kobarannya, dan itu menyentak siapa pun juga. Termasuk Helga, membuatnya langsung mengarahkan akar-akar Yggdrasil untuk melindunginya.
Serangan tanpa ampun energi Kers melayukan Yggdrasil. Membuat Helga juga Reygan melompat menjauh menghindarinya.
“Apophis!” Lascarzio berteriak. Ia terperangah melihat sekelilingnya.
Hampir saja.
Hampir saja kemampuan mengerikannya melenyapkan semua yang ada di sana. Andai Lascarzio tidak melindungi orang-orang itu dengan perisainya, sudah jelas siapa pun juga akan tamat.
Dengan tangan menghitam langsung disentuhnya es itu, menguap menampilkan rupa sepupunya yang tak berdaya.
Serupa Raja Aegayon, kulit Revtel telah menggelap. Hanya sedikit energi kehidupan yang tersisa di dalam tubuhnya. Dan itu hanya detakan lemah jantungnya yang menuju gerbang untuk meregang nyawa.
Perlahan, Kers menoleh ke arah Helga. Di mana gadis itu tersenyum menatapnya.
Bahkan jika kuasa gadis itu setara dengan Ares, tapi Yggdrasil menjadi kelebihannya. Sehingga membuatnya pantas diagungkan melebihi Zeus.
Namun ia takkan lupa jika ada seseorang yang harus ia waspadai. Siapa lagi kalau bukan Apophis sang Termulia. Dewa kegelapan itu jelas-jelas memiliki kemampuan luar biasa, sehingga sosoknya pun terpilih duduk di tahta yang sama dengan Titan dahulunya.
Namun dalam sebuah kegelapan, bisikan aneh berkumandang di kesadaran seseorang.
“Tidak peduli di mana pun kamu berada. Ibu, akan selalu mendoakanmu.”
Terperangah. Dirinya membuka mata. Sebuah lapangan berumput yang gelap menjadi alasnya.
Dialah Riz Alea. Seorang anak manusia. Keberadaannya yang sendirian di sana, membuatnya bingung harus berkata apa.
__ADS_1
Sampai akhirnya sebuah ingatan menyentak pikirannya.
“Semuanya!” paniknya. Namun tak ada siapa-siapa. Sampai suara seseorang menyela dan membuatnya menoleh kepadanya.
“Bagaimana perasaanmu?”
“A-anda, bukankah anda Crabius?!” teriaknya senang. Mengingat itu artinya ia tidak sendirian. “Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?!” dirinya pun mendekatinya.
Crabius tidak menjawabnya. Selain mengajukan pertanyaan serupa. “Bagaimana perasaanmu?” ulangnya.
Riz Alea terdiam.
Ditatap lekatnya kepiting campuran itu. Setelah mengembuskan napas pelan, barulah balasan terlontarkan.
“Buruk. Aku seperti mau mati di sini. Kutebak, ini dunia dalam kesadaran ya? Apa anda tahu? Dunia nyata dilanda perang sekarang.”
Crabius tidak menanggapinya. Dan Riz Alea terus bercerita.
“Aku hanya ingin mengumpulkan kristal-kristal. Punya banyak uang sehingga ibuku tak perlu kesusahan bekerja. Aku hanya ingin kaya, aku ... hanya ingin mengubah nasibku agar tidak ditindas lagi oleh Jion dan yang lainnya. Tapi, sepertinya semua itu hanya angan. Apa aku bisa pulang dan bertemu ibuku lagi ya? Bagaimana menurutmu? Crabius.”
Riz pun perlahan mendudukkan tubuhnya. Walau matanya masih menatap lekat kepiting campuran itu, namun jawaban tampaknya tak kunjung ia dapatkan. Sampai akhirnya kalimat tak terduga terlontar dari bibirnya.
“Dunia ini menyenangkan. Karena aku memiliki banyak teman. Toz, Reve, Tuan Doxia, Tuan Rexcel, Horusca, Tuan Aza, Tuan Osmo dan juga yang lainnya. Aku bahagia,” ia terisak tiba-tiba.
“A-aku sangat bahagia bisa bertemu mereka, Crabius. Aku benar-benar sangat bahagia. Walau aku hanya tankzeas tak berguna, tapi aku sangat bahagia bisa bertemu mereka.”
Tangannya pun menutup wajahnya. Begitu deras aliran air mata, sampai-sampai merembes keluar di sela-sela jarinya.
“A-aku sangat bahagia, tapi kenapa? K-kenapa? Kenapa semuanya tidak bisa tersenyum bahagia? Tuan Osmo, meninggal tepat di depan mataku. Begitu pula Tuan Doxia, a-aku ... aku—” kalimat tak lagi dilanjutkan karena sesak di perasaan.
Semua begitu menyakitkan walau Riz tak pernah mengucapkan. Dirinya hanya ingin mengumpulkan kristal dan menjalani hari-hari bahagia bersama teman-temannya.
Bukan pertarungan berdarah dan merenggut nyawa seperti tidak ada artinya.
__ADS_1