Death Game

Death Game
Serangan pembunuh tak kasat mata


__ADS_3

Beltelgeuse Orion yang memahami kekacauan situasi di depannya, seketika meneriakan nama tak terduga. “Tuan Asus!” dan sosok petinggi kurcaci yang dipanggil pun menoleh ke belakang.


“Lindungi aku Hayato!” pinta Reoa tiba-tiba. Dan dirinya pun mengeluarkan jurusnya ke arah Asus Sevka, karena sosoknya menyadari apa maksud dari Ksatria Bintang di sana.


Petinggi dari bangsa kurcaci itu akhirnya menghentakkan kedua telapak tangan ke tanah. Menimbulkan sensasi seperti gempa namun justru memunculkan hal tak terduga.


“El rugit de l’espasa plou! (Raungan hujan pedang!)” ucap Beltelgeuse tiba-tiba.


Akhirnya, gemuruh aneh berkumandang di atas sana. Di langit-langit dengan hiasan awan gelap yang mendadak muncul di pesona nuansa malam. Bersamaan dengan itu, jurus kendali tanah Asus Sevka pun melindungi para petinggi, seolah menyelimuti mereka dari serangan yang akan terjadi.


“Gawat!” pekik Zenolea menyadari apa yang akan muncul sebentar lagi. Sontak saja ia menjarak dari Cerberus hendak berlindung pada Capsier sang pengawal.


“Sial!” Mosia menengadah dengan ekspresi tak terkira.


Dan Arigan Arentio pun tersenyum puas menanti kejadian selanjutnya.


Hujan mengerikan akhirnya mengguyur mereka semua tanpa pandang bulu.


“Ugh!” erang Riz Alea tiba-tiba. Jurus pelindungnya mendadak aktif akibat panik yang dirasa.


Tetesan dari langit atas sana, menjatuhkan pedang air layaknya hujan ke seluruh Kawasan Terlarang tanpa iba. Menghancurkan segala sesuatu yang bernyawa untuk tewas di setiap sentuhannya.


Ghoul, terkoyak dan tubuhnya menampilkan lubang-lubang akibat pedang air yang menyerangnya.


Cerberus, meraung seolah memekik keras akan serangan bertubi-tubi yang menghantam tubuhnya.


Para petinggi, berlindung di bawah jurus Asus Sevka dengan perasaan panik dan cemas di dada. Tak bisa melihat suasana luar, tapi satu hal yang pasti serangan gila sedang menghantam area pertempuran mereka.


“Ksatria Bintang memang gila,” kekeh Arigan sambil bersembunyi di balik senjata mengerikan Thertera Aszeria. Bahkan bukan hanya dirinya, Zargion Elgo juga bersama dengannya.


Dan seluruh kawasan terlarang yang dihujani jurus air Beltelgeuse Orion, akhirnya menampilkan sosok sesungguhnya setelah penyerangan.


“H-hampir saja,” lirih Zarca Aseral melihat pelindung dirinya dan juga Toyotomi akhirnya hancur tiba-tiba.


“Kalian baik-baik saja?” Aza Ergo pun melirik mereka berdua yang sudah dilindungi Horusca bersama dengannya.


“Aza.”


“Jurus tadi,” Toyotomi Evazio menengadah sekilas. Memperhatikan langit yang sudah tak diselimuti awan gelap.


“Orion. Julukan Ksatria Bintang memang pantas disematkan untuknya,” Aza Ergo menyentuh seekor burung gagak yang tampak menyedihkan karena dua lubang di badannya.


Tentu saja hal itu disebabkan oleh petinggi bangsa gyges yang tersohor namanya.


Walau tak menakutkan seperti Revtel, nyatanya kemampuan Beltelgeuse Orion juga hampir mengerikan seperti dirinya.


Bisa melancarkan serangan mematikan secara besar-besaran. Dan hasilnya sekarang bisa dilihat di depan mata.


Cerberus.

__ADS_1


Kondisinya benar-benar mengejutkan penontonnya. Hujan pedang air yang dihantamkan petinggi bangsa gyges sekarang menampilkan permukaan tengkorak atasnya.


Seberingas itulah kemampuan Ksatria Bintang yang bahkan melenyapkan seluruh ghoul tanpa pandang bulu.


“Hebat,” kagum Hanzo melihat sosok di belakangnya.


“Dia,” Mosia mengepal erat tangannya.


“Tuan Logan, anda baik-baik saja?” Estes menyadari jika penyembuhannya terhenti akibat perlindungan yang muncul tiba-tiba.


Dan petinggi dari bangsa dracula itu, mengangguk sekilas sambil berganti pandangan melirik rekan seperjuangan. Cukup takjub menyaksikan kemampuan Orion dalam memusnahkan ghoul yang ada.


Tapi sayang, ternyata hasilnya tidak bertahan lama. Makhluk dunia bawah itu kembali bangkit ke permukaan dan membuat para petinggi geram melihatnya.


“Tak peduli sehebat apa dirimu, kau takkan bisa menghentikan kami!” seringai lebar Mosia melihat kelanjutan pertarungan mereka. “Ayo Zenolea! Jangan buang-buang waktu lagi!” tangannya pun menarik pedang jarum dari dalam mulutnya.


“Rasakan ini!” Gandari pun melempar cincin besarnya untuk mengejar sosok Mosia. Seketika benda tajam itu bergerak cepat untuk memburu sosok dari bangsa hydra.


Sayangnya, senjata mengerikan itu justru pecah tiba-tiba, oleh kehadiran sosok tak terduga yang menyentuhnya tanpa aba-aba.


“Anda—” kaget Bletelgeuse Orion melihat sosok mengejutkan itu.


“Baiklah, sepertinya aku terlambat,” dirinya berdiri di depan Mosia yang tadi dilindunginya.


“Tuan Dantalion!” pekik Mosia dan Hanzo bersamaan.


“Apa-apaan ini? Anda juga pengkhianat?” syok Hayato Sarutobi saat menyadari anggota keluarga Lucian Brastok hadir di sana. “Padahal anda—” deru napasnya mulai tidak beraturan.


Dan semuanya menoleh ke belakang kelompok Beltelgeuse Orion.


“Kalian—” gumam Gandari menyadari kedatangan bantuan kelompoknya. Aza Ergo lah yang tadi bersuara.


“Orang-orang itu,” Toyotomi menatap tak percaya pada sosok musuh yang hadir di depannya. Sampai akhirnya sorot matanya menangkap rupa rekannya dalam keadaan terluka. “Logan!” kagetnya hendak berlari ke arah sana.


Tapi tiba-tiba Aza Ergo menahannya dengan merentangkan tangan kiri ke arah dadanya.


“Kau ingat perkataanku bukan? Horusca,” lirihnya tiba-tiba tanpa menoleh pada sosok yang diajak bicara.


“Mm, jadi yang mana?”


“Entahlah. Mari kita lihat dulu untuk sementara,” dan petinggi empusa pun mengeluarkan ekor magma dari belakang punggungnya.


“Kau, Aza Ergo,” Dantalion mengenalinya setelah melihat kemampuannya.


“Sepertinya kau mengenalku. Tapi aku, tak tahu siapa dirimu,” kekehnya sambil melirik salah satu ekor magmanya. Seketika, jurusnya menusuk ke dalam tanah di belakang dan menyentak beberapa orang sekitarnya.


“Jangan pikir aku tidak tahu pola seranganmu!” Ivailo pun mengobarkan api raksasa yang melindungi rekan-rekannya.


“Dasar bodoh,” Arigan malah tertawa menyaksikan itu semua.

__ADS_1


Tapi bukannya jurus Aza Ergo yang muncul ke permukaan, justru berisik dari mulut Cerberus menghiasi keadaan. Pertanda kalau hewan mengerikan itu akhirnya pulih kembali setelah serangan tadi.


“Apa yang kamu lihat?” lirih petinggi empusa menyadari arah pandangan Zarca.


“Mana ekormu?”


“Tentu saja di bawah pinggangku.”


“Sialan! Maksudku jurusmu bocah bodoh!” kesalnya karena merasa dipermainkan.


“Kalian urus hewan itu, biar aku yang menangani mereka semua,” suruh Dantalion lalu melangkah dengan tenang.


“Tunggu, jangan bilang dia yang akan maju?” Hanzo menjadi panik melihatnya.


“Taringnya, apa dia dari bangsa dracula? Matanya seperti Logan Centrio,” Aza memandang lekat sosok yang hendak menantang mereka.


Toyotomi Evazio pun meliriknya. “Ya! Karena itu hati-hati, bagaimanapun dia setara dengan seorang Raj—”


Mereka terkesiap.


“Toyotomi!” kaget Logan menyadari Dantalion sudah berdiri di depan rekan petingginya itu.


“Hah!” sang korban yang diserang pun terkejut bukan main. Saat menyadari dirinya, dilindungi magma Aza Ergo secara tiba-tiba.


Dan Dantalion yang gagal membunuh sosok dari bangsanya, melirik ke arah petinggi empusa yang berdekatan dengan sumber serangannya. “Kau, cepat juga.”


Pengendali magma itu hanya memiringkan kepala. Ekspresinya datar dan sorot mata mereka saling bertemu. “Tapi kau jauh lebih cepat. Kalian para dracula memang sangat hebat,” pujinya. Lirikannya pun berganti ke arah Cerberus yang hendak dikendalikan Mosia dan Zenolea. “Kudengar, cerberus bisa membelah diri.”


“Lalu?”


“Bukankah akan lebih menantang? Jika para petinggi melawan beberapa cerberus sebagai gantinya.”


Sontak saja pernyataan Aza Ergo berhasil menyentak pendengaran mereka yang mendengarnya.


“Apa yang kau—” Toyotomi menatap tak percaya ke arah dirinya. Tapi, kalimatnya tak dilanjutkan akhirnya, terlebih sang petinggi muda menyeringai lebar pada Dantalion yang berekspresi bingung di depan mereka.


“Kau—” sosok sepupu Lucian Brastok pun menyipitkan matanya. Raut wajahnya berubah, sambil memperhatikan dua ekor magma yang mengudara di belakang Aza. Perlahan, penglihatannya menurun menyusuri tanah dan terhenti pada sosok rekannya. Pendengarannya, menangkap suara yang tak disangka-sangka. “Kau!” geramnya berbalik menatap sang pengendali magma. “Mosia!” teriaknya tiba-tiba.


Dan wanita dari hydra yang terkejut mendengarnya pun hendak menoleh pada rekannya. Tapi, dia tertahan karena ada sensasi aneh menyentuh kulitnya.


“Hah!” kaget Mosia sambil memegang permukaan lehernya. Perlahan, garis memerah muncul di sana. Meneteskan darah secara pelan dan sangat menyakitkan.


Zenolea pun terkesiap melihatnya. Karena kepala keponakan Raja hydra terdahulu itu jatuh tiba-tiba. Terpisah dari badannya tanpa ia tahu serangan apa yang sudah membunuhnya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2