Death Game

Death Game
Pecahnya pertemuan


__ADS_3

 “Kers,” Blerda kembali mengulangi panggilannya.


Tentu saja hal tersebut mengundang perhatian orang-orang sekitar. Bertanya-tanya kenapa wanita itu memanggil Raja hydra.


“Tapi ...” suara Aza memecah suasana. “Mana tamu terhormat yang lainnya? Bukankah tidak menyenangkan jika mereka tidak ikut serta?”


“Benar. Mana Bleria? Aku tidak melihat dirinya ataupun Tuan Ivailo Stoyan,” lirih Reoa Attia sambil melirik perwakilan bangsa siren dan juga manusia secara bergantian. “Aquila juga tidak hadir.”


Tawa lalu pecah dari mulut Hydragel Kers. Dia menatap Aza Ergo yang mencibir ke arahnya. Mengundang raut muka masam Revtel meliriknya.


“Kers.”


“Apa?”


“Apa yang lucu?”


“Entahlah. Apa ya? Menurutmu bagaimana Aza?”


Revtel dengan ekspresi dinginnya pun melirik pengendali magma itu. “Apa maksud surat undangan yang mencantumkan tiga nama itu? Kuharap anda punya penjelasan yang masuk akal sebelum kita masuk ke inti pembahasan Yang Mulia.”


Kalimat Revtel, jelas menekan suasana. Situasi ini begitu menyusahkan di mana beberapa orang bingung harus memulainya dari mana.


“Jadi, mayat siapa saja yang anda kirimkan itu?”


“Ayolah Revtel. Jangan tegang begitu,” bujuk Kers namun hanya dibalas lirikan tajam olehnya.


“Sidag Arka.” Orang-orang terdiam. “Gilles Smonea, Draco Arka, Cobra Nehya, Shin Nomel, Nial Zabuza, dan juga Ryujin Gosca. Kepala merekalah yang dipajang di alun-alun kota siren. Walau sangat disayangkan karena kepala Tetua empusa sudah hancur jadi hanya badannya yang digantung. Tapi, bukankah sisanya kubagi-bagikan?”


Terbungkam.


Pernyataan gadis itu jelas-jelas membakar ketenangan. Walaupun orang-orang tahu akan fakta dari potongan mayat tersebut merupakan milik empusa dan juga siren, tapi tak ada yang menyangka nama-nama korbannya.


“Ryujin Gosca?” nada suara Kagura berubah menekan. Terlihat deru napas yang memburu dari dirinya. Pertanda amarah mulai berlari menuju ubun-ubunnya.


“Benar.”


Jawaban santai Blerda, sontak saja menghantam kesabaran bangsawan Masamune.


“Apa-apaan maksudmu itu?!” seketika kehebohan terjadi dengan aura pembunuh yang mengaliri di diri petinggi empusa.


“Kagura! Tenangkan dirimu! Dia Pimpinan siren!” cegat Estes karena kaget akan kemurkaan rekannya.


“Lalu apa? Hanya karena dia pemimpin, kau akan tenang saja?! Apa kau tidak dengar ucapannya?! Raja siren itu telah membunuh gurumu, Estes! Dia membunuh kakekku!” marahnya.

__ADS_1


Orang-orang terdiam akan pernyataan petinggi empusa. Karena faktanya, itu hal yang wajar untuk mengundang emosi mereka.


“Dan kurasa anda pasti tidak akan lupa akan hukum di dunia Guide, Yang Mulia. Kalau orang terhormat dari bangsa lain, tak bisa diadili tanpa ada persetujuan ataupun kerjasama. Atas dasar apa anda mengeksekusi Tetua empusa? Bahkan bukan hanya Tuan Ryujin, anda juga menghukum mati beberapa bangsawannya. Ini jelas pengkhianatan dan juga pernyataan perang.”


Kalimat Revtel, jelas-jelas mengundang api di pertemuan. Karena siapa pun tahu jika dirinya adalah sosok yang taat aturan dan juga realistis. Entah dirinya memihak empusa atau tidak, aturan tetaplah aturan. Dan keadilan harus ditegakkan.


“Aku ada di sini. Bagaimana bisa menjadi pengkhianatan dan juga pernyataan perang?” Aza menimpali.


“Aza!” hardik Kagura tiba-tiba.


“Mereka pantas mati, karena itulah pertemuan ini terjadi. Jangan menyela saja bisanya, punya otak masing-masingkan? Kalau kesabaran menipis, minta Tuan Beltelgeuse untuk mendinginkan. Lagi pula, dia Ksatria Bintang bertipe air bukan?” ucapnya sambil terkekeh. “Ah benar juga. Kenapa harus repot begitu? Yang Mulia Revtel, jauh lebih ahli dalam hal ini bukan?”


Benar-benar luar biasa. Entah apa maksud Aza Ergo. Tapi mulutnya berhasil membangkitkan sesuatu di dirinya pendengarnya. Beberapa benar-benar terprovokasi oleh ujarannya.


“Aza Ergo,” tatap tajam Revtel.


“Kau, kau petinggi empusa bukan? Apa kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?” suara Kagura kian memberatkan suasana.


“Bagaimana mungkin aku tidak sadar? Lagi pula, aku dan Kers yang menyetujuinya.”


“Azaaa!” bentak Kagura tiba-tiba. Pedang panjang langsung terarah tepat ke kepalanya. Andai Trempusa tak memegangi senjata petinggi bangsanya, bisa dipastikan kepala bocah pengendali magma itu berlubang akan benda tajam rekannya.


Tampaknya, Raja empusa itu juga syok dengan kejadian di depan matanya.


Tak ada yang mampu bersuara, kecuali menonton dalam diam pemandangan di hadapan. Nyatanya, Kagura Masamune benar-benar dirundung emosi akan ocehan dari Aza.


“Aza, apa benar apa yang kamu katakan barusan?” Trempusa mencoba menengahi keadaan.


Tapi hanya tawa pelan sebagai balasan dari adik seperguruannya.


“Aku yakin kalau suratku sudah menjelaskan permasalahan yang terjadi.” Suara tenang Blerda, mengacaukan fokus mereka. "Fakta kalau Tetua empusa mati di sini hanya permasalahan kecil saja. Nyatanya, dunia ini dirundung masalah yang lebih besar."


“Permasalahan kecil? Kau bilang kematian kakekku hanya masalah kecil? Kau pikir kau siapa bisa bicara begitu?!”


“Kau!” marah Huldra karena merasa tak terima jika pemimpin bangsanya diperlakukan seperti itu.


“Kagura, jaga bicaramu. Blerda merupakan Raja dari bangsa siren. Ingat itu!” tekan Trempusa karena tak bisa lagi mentolerir emosi petingginya.


“Ini buruk,” lirih Gandari tiba-tiba.


“Kenapa?” Julius menatap bingung.


“Karena sepertinya, akan terjadi pertarungan berdarah.”

__ADS_1


Tapi, seseorang yang dari tadi seharusnya memulai pembicaraan dari awal malah sibuk dengan anggurnya. Sampai-sampai, Hea Alcendia dan Beltelgeuse Orion menatap tak percaya akan sikap cueknya.


Benar-benar pemimpin tidak tahu diri karena masih sibuk mengurusi isi perutnya.


“Kers!” bentak Heksar Chimeral tiba-tiba. Orang-orang pun terperanjat akan kekerasan suara dari monster bangsa chimera. Karena dirinya, berhasil merusak suasana yang panas itu. “Bisa-bisanya kau makan di saat suasana sedang kacau begini?!” ia tak habis pikir melihatnya.  


“Kers. Jangan sampai aku membelah perutmu dan mengeluarkan anggur-anggur itu di sini,” ancam Revtel akhirnya. Sorot matanya, benar-benar tak memperlihatkan keramah tamahan lagi pada Rajanya.


“Cih ... kenapa kalian emosi begitu?” gerutu Raja hydra.


Akan tetapi, Revtel pun berdiri dan menoleh ke arah temannya itu. Kers pun tersentak karena merasa nyawanya benar-benar terancam sekarang.


“Kau mau apa Revtel? Kau tidak lupa kalau aku ini Rajamu kan?”


“Jangan membuatku menyesal karena tetap diam melihat tingkahmu, Yang Mulia.”


Benar-benar situasi di luar dugaan. Siapa yang bisa mengira kalau perpecahan justru terjadi sekarang.


Bahkan orang-orang terhormat dengan usia lanjut hanya memilih diam melihat perkembangan. Nyatanya, mereka juga enggan ikut campur karena tahu seperti apa sosok Revtel yang sedang marah.


Akan tetapi, hal yang mengejutkan justru terjadi. Semuanya terkesiap. Sebuah sensasi membunuh muncul tanpa aba-aba dan menyeruak di dalam ruangan. Sampai akhirnya orang-orang menoleh pada sumber masalahnya.


“Silakan duduk kembali.”


Kalimat tersebut, benar-benar seperti batu besar untuk mereka yang merasakan. Karena sosok Blerda Sirena, mempelihatkan monster di belakang kursinya.


Capricorn.


Pelayan Dewa dalam wujud sempurnanya. Pertanda, kalau gadis itu mulai serius pada perundingannya.


“Kau,” geram Kagura.


“Aku tak suka, mengulangi perkataanku,” ucapnya kembali. Dan sorot matanya, menampilkan ketidak ramahan di mukanya.


Dengan terpaksa, mereka yang berdiri kembali menjatuhkan diri di kursi. Tak punya pilihan karena tuan rumah sudah mengambil keputusan.


“Hukum memang harus berjalan, dan keadilan tak boleh diabaikan. Karena itu aku mengambil langkah seperti ini. Mereka yang mati dalam eksekusi, adalah sosok-sosok dengan kesalahan tak pantas diampuni. Secara sombong mengusik warisan Dewa, dan bersikap layaknya makhluk paling suci. Jika bukan hukuman mati, tindakan apa yang paling pantas baginya? Mengendus kawasan terlarang dan bermimpi memegang tangan monster mengerikan. Sekarang jawab aku, bagaimana tanggapan kalian setelah mendengarnya?”


  


 


 

__ADS_1


__ADS_2