Death Game

Death Game
Sang pemanah dari Siren


__ADS_3

“Gawat! Aza!” teriak Revtel padanya.


Dan petinggi empusa itu pun langsung mengeluarkan ekor magma untuk menggulung Capricorn yang berjalan ke arah Heksar.


Tapi pelayan Dewa itu menembusnya begitu saja, bahkan jika kulitnya melebur akibat jurus sang pemuda tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Nyatanya, para pelayan sekaligus peliharaan para Dewa memang memiliki penyembuhan yang luar biasa.


Sementara di dalam hutan di kawasan di mana suar tadi dilepaskan, terlihat sosok Arjuna bersama kedua rekannya yaitu Zarca Aseral serta Toyotomi Evazio sedang bertahan.


Di depan mereka ada sepuluh ghoul yang menggila serta seorang wanita dengan aroma tubuh yang tak biasa.


Hellbertha.


Dialah yang berdiri bersama para ghoul itu. Dan ditangannya seperti ada sebuah terompet dari kerang. Berwarna hitam pekat dan memancarkan aroma tak bisa.


Sosoknya tersenyum pada tiga utusan yang memang akan memburunya.


“Gyges,” lirih Arjuna. Salah satu tangannya pun berlumuran darah akibat diserang ghoul yang muncul tiba-tiba.


“Jujur aku kaget, saat mendengar ada pertemuan besar-besaran di tempat bangsa siren. Tapi siapa yang akan menyangka, kalau aku akan bertemu dengan kalian di sini. Ini benar-benar di luar dugaan.”


“Nyonya,” Zarca pun menyipitkan matanya. “Aku bahkan masih tak percaya jika tabib kepercayaan gyges sepertimu ternyata seorang pengkhianat.”


Tapi, malah tawa yang disemburkan Hellbertha kepadanya. “Pengkhianat? Di mana letakku berkhianat? Padahal aku masih setia mengabdi pada bangsa gyges sebagai tabib terbaik mereka.”


“Menjijikan,” lirihan tiba-tiba Toyotomi pun berhasil menyentak kesadaran wanita itu.


“Kau!”


“Siapa pun yang berkeliaran dengan ghoul, sudah jelas pengkhianat. Jika namanya memang Hellbertha seperti yang kau katakan, maka tak perlu lagi buang-buang waktu. Ayo kita bunuh dia,” dan Toyotomi pun mengangkat tangannya ke atas. “Nigel, flores rabidus (muncullah, bunga gila)”


Lalu permukaan tanah pun langsung retak karenanya. Memunculkan tanaman merambat yang bergerak cepat ke arah lawannya.


Akan tetapi, para ghoul yang memang harus dibunuh dengan senjata tertentu atau dihancurkan intinya, tak berdampak apa-apa oleh serangan tanaman milik Toyotomi. Dan para makhluk gila itu pun segera berlari ke arahnya yang membuat kaget kedua rekannya.


“Gawat!” pekik Arjuna.


“Ugh!” erang Zarca tiba-tiba. Cairan racun yang mendadak ia hantamkan lewat telapak tangannya malah tak berdampak apa-apa bagi makhluk-makhluk sialan itu.


Mereka melompat tinggi dan mendarat terpisah mengeliling ketiganya.


“Jangan terpisah atau kita akan tamat!” teriak Arjuna.


“Tanpa begitu pun nasib kalian sudah tamat,” seringai Hellbertha.


“Awas Arjuna!” pekik Toyotomi mengingatkan.

__ADS_1


Dan busur sang petinggi siren pun segera menembakkan panah pada ghoul yang muncul di bawah kakinya. Tak disangka ternyata masih ada monster lain bersembunyi di sekitar mereka.


Sehingga sekarang totalnya menjadi dua puluh satu ghoul di sekelilingnya.


“Sial!” umpat Zarca. “Kau, berani-beraninya kau mengusik gerbang terlarang! Apa kau ingin mengundang murka para Dewa?”


“Murka? Entahlah. Kalau mereka memang murka, seharusnya mereka datang sebelum monster ini dikeluarkan. Sekarang, hanya menunggu waktu sampai medusa dan cerberus dilepaskan.”


“Medusa?! Jangan mimpi nenek tua! Rekanmu di kawasan sana sudah mati di tangan Ratu Blerda. Jangan harap rencanamu akan bisa terlaksana.”


Tapi bukannya terkejut, justru guratan murka yang diperlihatkan wanita itu mendengar ocehan Toyotomi.


“Jadi rumor itu benar?! Blerda keparat itu mengeksekusi mereka!”


“Kenapa?! Kau kesal?! Nasibmu juga akan sama seperti mereka. Jadi diam saja dan biarkan aku menangkapmu!” Toyotomi pun melancarkan serangannya bertubi-tubi pada Ghoul di sekelilingnya. Sehingga mereka hancur berkeping-keping dan mengalami pemulihan yang cukup lambat. “Sekarang giliranmu!” teriaknya.


Sayang, saat tanamannya melesat maju, justru sebuah tumbuhan penuh duri seketika langsung melindungi Hellbertha. Membuat laki-laki itu terkesiap akan skill wanita di depannya.


“Kau seorang elftraz (penyembuh)”


“Jangan lengah! Dia salah satu tabib terbaik bangsa gyges! Toyotomi! Kita fokus saja pada ghoul, biar Arjuna yang menanganinya! Jangan terpisah!” Zarca mengingatkan.


Dan Arjuna pun langsung menyiapkan panahnya.


Keduanya pun melancarkan serangan melindia (penyihir) serta elftraz (penyembuh) yang menjadi ciri khasnya. Berupa cairan racun serta tanaman yang takkan berhenti menghalau musuh sampai mereka hancur tak bersisa.


Tapi yang menjadi masalahnya, ghoul itu bisa beregenerasi kembali. Sampai akhirnya sebuah serangan tak terduga tiba-tiba mendera Arjuna yang melancarkan serangan dahsyat ke arah Hellbertha.


“Agh!”


“Arjuna!” teriak Zarca dan Toyotomi bersamaan.


“Aku berhasil,” seringai seorang perempuan muda secara tiba-tiba yang berdiri tepat di belakang sang pemanah. Dihiasi sebuah pisau dari perak yang menancap tepat ke arah jantungnya.


“M-maafkan aku, semuanya,” lirih laki-laki itu sambil menatap kecewa.


Seketika, wajah sang petinggi siren pun retak dan berubah menjadi pasir di hadapan mereka. Membuat Toyotomi dan Zarca terkesiap dan deru napasnya kian tak beraturan akhirnya.


“Kau! Gadis brengsek!” marah Toyotomi dengan tangan yang diayunkan sehingga sebuah serangan kasar dari tanaman langsung menghantam sang gadis muda.


Akan tetapi, perisai pohon raksasa milik Hellbertha langsung menyelamatkannya, bahkan jika sosoknya cukup terluka akibat panah Arjuna, tapi dia masih bisa menghentikan serangan seperti itu tanpa kesulitan.


Merupakan sebuah keanehan karena dia seorang elftraz (penyembuh) yang selevel dengan Toyotomi tapi seperti memiliki kemampuam lebih tinggi.


“Bagaimana Nyonya Hellbertha? Aku, berhasil bukan? Satu petinggi pun mati di tanganku,” lirih gadis itu dengan bangganya.

__ADS_1


Sementara Toyotomi dan Zarca yang mendengar itu semua, tanpa sadar meneteskan air mata. Karena rasa geram dan marah di dada akibat tak bisa menyelamatkan ketua tim sekaligus teman mereka.


Arjuna, telah mati dengan pisau perak yang aneh sensasinya.


“Kerja bagus Del Aney. Sepertinya, kau memang pantas menjadi bagian dari kami,” puji Hellbertha.


“Menghindar Toyotomi!” teriak Zarca tiba-tiba.


Tapi, sebuah sabetan pedang panjang langsung mengejutkan semuanya. Dan itu berhasil menghentikan serangan ghoul yang hendak menggigit Toyotomi tadinya.


“Kau!” kaget Hellbertha.


“Firasatku berkata buruk dan rupanya itu benar. Tak kusangka anda ternyata seorang pengkhianat, Nyonya Hellbertha.”


“Orion!”


“Tuan Orion!” Zarca juga terkejut melihat kedatangan kelompok di bawah pimpinan Ksatria Bintang itu.


“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!” kaget Hea melihat pemandangan di sekitarnya.


“Pasir,” lirih Gandari kaget melihat tumpukan itu di atas tanah. Dan Toyotomi yang terisak pun langsung melepas jubahnya lalu mengumpulkan pasir itu ke sana. Diperhatikan oleh mereka, di mana Hea dan juga Zarca sibuk membasmi ghoul yang masih saja meregenerasi tubuhnya. “Tunggu, mana Tuan Arjuna?!”


Namun, tak ada jawaban yang dilontarkan Toyotomi ataupun Zarca. Sehingga membuat ketiga orang baru itu pun syok karena.


“Kalian menangis. Tunggu, apa mungkin pasir itu—” Gandari mulai menatap tak percaya pada apa yang sedang dikumpulkan Toyotomi.


“Pasir itu adalah petinggi siren yang kalian cari. Bukankah, kami sangat hebat? Bisa membunuhnya tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Sepertinya, selanjutnya giliran kalian,” seringai Hellbertha yang menatap angkuh semuanya.


Sontak saja, raut wajah tiga pendatang itu langsung berubah. Terlebih Hea dan juga Gandari, mereka mengepal erat tangan dengan geramnya.


“Lokasi ini masih tidak jauh dari kediaman bangsa siren,” lirih Beltelgeuse Orion tiba-tiba.


“Aku akan membunuhnya,” Hea menatap tajam pada dua wanita yang menjadi musuh di depannya.


“Tidak Hea. Bantulah Zarca mengurus para ghoul itu. Mereka biar aku yang menanganinya,” cegat sang petinggi bangsa gyges padanya.


“Kau pikir, kau bisa mengalahkan kami?”


“Kami tidak akan mengalahkanmu. Tapi kami akan membunuhmu,” sahut Gandari sambil berjalan mendekati Orion.


“Kalau begitu lakukanlah.”


Dan raut wajah petinggi manusia serta gyges itu pun menggelap seketika karena cahaya bulan yang tertutup awan menghalangi sinar di atas sana.


 

__ADS_1


__ADS_2