Death Game

Death Game
Tragedi kelam daun muda Hydra


__ADS_3

“Kau,” Zenolea memandangnya dengan tatapan menekan. “Memang pantas menjadi seorang petinggi jenius di usia muda.”


“Terima kasih pujiannya.”


“Jika aku bergabung denganmu, apa yang akan aku dapatkan?”


Tapi bukannya menjawab, Aza Ergo malah terbatuk-batuk keras. Menyemburkan darah pada telapak tangan saat menutup mulutnya.


Dan pandangannya mulai nanar melihat sosok di depannya. Dia, benar-benar merasa sial karena kondisi tak terduga mendera fisik sakitnya.


“Sepertinya ini hari kesialanmu,” lanjut Zenolea dengan ekspresi meremehkan di wajah.


Aza Ergo yang mendengar itu semua, akhirnya jatuh terduduk karena siksaan di dada. Begitu kejam dan melumpuhkan kesadaran di raga. Dia pun jatuh pingsan karenanya.


“Wah,” salut Zenolea melihat kondisi lawannya.


Perlahan di dekatinya, ditatap lekat sang pengendali magma yang tergeletak di depannya. “Sepertinya jurusmu sangat berguna,” kekehnya melilitkan cambuk ke leher Aza. Sosoknya berusaha keras untuk mencekiknya.


Akan tetapi, hal tak terduga justru terjadi. Ada energi gelap yang menyeruak ke luar dari diri petinggi empusa. Bersamaan dengan tanduk aneh tumbuh di kepala.


Dan tiba-tiba, darah terciprat dari leher Zenolea. Akibat sayatan benang merah yang ia tak tahu milik siapa. Sosoknya pun menggumamkan kata tak kentara, sebagai tanda sesaat sebelum kematian menjemput dirinya.


Tubuhnya pun terpotong-potong menjadi beberapa bagian akhirnya.


Perlahan, aura hitam menguar dari fisik pengendali magma. Matanya serupa manik ular namun berwarna emas. Ada sisik di area pinggir wajahnya dan taring memanjang di gigi atasnya.


Dia memiringkan kepala sambil memperhatikan potongan tubuh di depan mata.


“Jangan bunuh, Aza. Karena dia adikku yang sangat berharga,” begitulah lirihan kata sang pengendali magma. Banyak benang merah keluar dari tubuhnya. Dan menyerang potongan raga itu menjadi cincangan kecil di sekitar kakinya.


Langit pun bergemuruh di atas sana, dan sosoknya menengadah memandangnya.


“Sudah berapa lama ya?” gumamnya. Tangan pun terangkat lalu diperhatikan telapaknya. “Sepertinya, kamu sudah tumbuh dengan baik, Aza.”


Seketika sorot matanya berubah sayu dan kehilangan cahaya. Bersamaan dengan jatuhnya petinggi empusa itu secara tiba-tiba. Tergeletak tak sadarkan diri sambil kehilangan sisik dan taringnya. 


Langit pun menurunkan hujan untuk menghiasi suasananya.

__ADS_1


Memekik.


Akibat teriakan yang saling berkumandang. Bersahutan dengan harapan bantuan akan datang. Nyatanya setiap uluran tangan terasa seperti pecundang. Karena para penantang Cerberus nyawanya harus melayang.


“Mana Revtel?!” tanya salah satu Tetua yang panik.


“Saya tidak tahu, Tuan.”


“Cepat panggil dia! Hentikan monster itu bagaimanapun caranya!” perintahnya pada ksatria yang mengawalnya.


Tapi di satu sisi, sosok yang dicari masih berdiri sepi. Tubuhnya gemetaran menyaksikan penampakan tragedi.


Memilukan baginya. Terlebih lagi banyaknya kaum wanita dan anak-anak meregang nyawa akibat diselimuti reruntuhan yang diciptakan Cerberus karena menggila.


“Cukup, Kers. Ini sudah sangat keterlaluan,” lirihnya karena menyadari langkah adik seperguruannya.


“Masih belum Revtel. Ini masih belum setengahnya.”


“Apa kau ingin membantai habis bangsa kita?!” marah Revtel akhirnya.


“Tidak. Aku hanya ingin para Tetua dan bangsawan meregang nyawa.”


Hydragel Kers memainkan mata. Melirik genggaman erat yang seperti ingin merobek pakaiannya. Perlahan disentuhnya, dan satu tangannya yang bebas menyentuh pipi Wakilnya.


“Lalu? Bagaimana caranya? Dengan berbicara?”


“Kers.”


Laki-laki itu tersenyum lalu melepas sentuhannya. “Jangan lupa Revtel, kamu seharusnya jadi Raja hari itu. Aku hanyalah pelayanmu. Jangan lupa Revtel, aku harus kehilangan nyawa untuk melindungimu. Jangan pernah lupa Revtel, kalau ibuku mati karena tindakan para Tetua keparat itu. Jangan lupakan kerja keras Tuan Bragi untuk kita. Jangan lupakan nyawa anak-anak yang sudah mati di tanganmu. Jangan lupa kalau orang terkutuk sepertiku harus menggantikanmu di singgasana kotor itu. Kamu berhutang banyak padaku. Jadi kamu harus mengikuti keinginanku.”


Sang pengendali es pun terkesiap. Dirinya terbungkam hatinya dirundung sensasi tidak tenang. Untaian kata Kers menyadarkan sosoknya, kalau ia sudah dirantai akan masa lalunya.


Dia lari dari posisi Raja hydra. Dirinya yang cuma anak haram pimpinan bangsa ular, memang punya hak untuk duduk di atas tahta.


Akan tetapi, tindakan di masa kelam menjadi batu sandungan untuk langkahnya. Sampai akhirnya Kers yang merupakan sepupu sekaligus putra dari pengasuhnya, menjadi tumbal untuk melindungi dirinya.


Benar.

__ADS_1


Adik seperguruannya sudah kehilangan nyawa sebanyak dua kali.


Pada kematian pertama, dalam insiden pemberontakan yang dipimpin oleh kakak ibunya. Sang paman tidak rela, melihat adiknya tersiksa akibat hinaan karena memiliki anak haram Raja hydra.


Saking kejamnya sang Ratu pada Ibu Revtel, ia bahkan tega menjebak wanita itu untuk dinikmati para bangsawan sebagai pemuas ***** mereka.


Malu dan luka memenuhi dirinya. Di balik senyum untuk menenangkan sang putra, nyawanya menangis agar dipeluk tiang gantungan.


Raja hydra yang murka akan pengkhianatan paman Revtel, termakan hasutan dari istri sah serta para Tetua. Dirinya menghukum mati keluarga selirnya, dan membiarkan ibu dari putra haramnya menjadi pelacur untuk para bawahannya.


Tak berotak sebagai suami, tidak bernurani sebagai Raja. Indah dandanannya untuk seseorang yang berpangkat tinggi, rendah harganya untuk dipandang orang-orang di bawah kaki.


Dan mereka adalah sosok-sosok yang ditindas oleh keputusannya.


Bahkan jika Revtel berusaha melarikan diri, nyatanya banyak yang harus dikorbankan dalam setiap langkahnya.


Ibu Kers yang tertangkap demi mengulur waktu demi mereka. Dan kematian sang adik sepupu akibat melindungi dirinya.


Tapi, seolah malaikat pencabut nyawa enggan merangkul nyawa anak itu. Tiga belas menit kemudian, jantung dan paru-paru Kers yang berlubang beregenerasi kembali.


Meninggalkan misteri untuk berusaha dikaji.


Namun tangisan anak itu mengingatkan Revtel akan dosa dalam hidupnya. Karena demi melindungi anak haram sepertinya, sang adik sepupu harus kehilangan ibunya.


Sampai tiga hari kemudian kenyataan terpahit mendera hati mereka yang kembali ke istana.


Ibunda dari Hydragel Kers. Pengasuh Revtel, sekaligus adik kandung dari Ibunya, dirudapaksa para Tetua karena memang memiliki visual yang luar biasa. Terlebih parahnya lagi itu di hadapan ayah kandungnya.


Beramai-ramai dia disiksa seperti binatang. Diperlakukan layaknya makhluk buangan, akibat kenyataan telah membawa lari Revtel sebagai keturunan pengkhianat paling dilarang. Sosoknya pun diseret dengan tali yang diikatkan pada kuda, menjadi tontonan di sepanjang halaman istana.


Putra sekaligus anak asuhnya hanya bisa menonton sambil beruraian air mata dalam persembunyiannya.


Sampai akhirnya kata terakhir wanita itu sangat jelas di mata keturunan semata wayangnya.


Sebuah kata maaf, akibat harus pergi meninggalkannya karena nyawa hendak bebas dari tubuhnya.


Tapi, Kers tak sanggup lagi menahannya.

__ADS_1


Kristal bening yang merupakan penghias di wajah keruhnya, berubah menjadi darah akibat amarah berkobarnya. Kegelapan menyelimuti seluruh istana, dan kematian menghampiri para penghuninya.


Hari itu, insiden terburuk pun terjadi di sana.


__ADS_2