
Thertera terdiam. Dia tak membalas ucapannya, tapi sorot matanya agak menekan. Seperti curiga pada sosok di depan mereka.
“Anak itu, sepertinya sekarat.”
Blerda, Kers dan juga sang scodeaz (pengendali) tersentak mendengarnya. Mereka menoleh pada Aza yang digendong Thertera di punggungnya.
“Mau kubantu untuk mengobatinya?”
“Siapa kau?”
Anak itu pun tersenyum akibat pertanyaan Kers padanya. “Lascarzio Hybrida. Aku juga murid Hadesia seperti kalian.”
Akan tetapi, bunyi dari langkah yang cukup keras dari arah tangga mengejutkan semuanya. Dan sosok berkulit eksotis itu pun langsung menjatuhkan lentera di tangan. Sehingga asap muncul di sana mengepul parah sambil mengelilingi mereka.
Sensasi gelap pun langsung menghantam penglihatan masing-masingnya.
Terkesiap.
Remus Eterno membisu. Saat mendengar pernyataan tiba-tiba dari salah satu guru besar yang mengganggu tidurnya.
Di mana berita mengejutkan menusuk emosinya. Kalau Helgida Septor dan Romario Stoyan, ditemukan mati tak jauh dari danau yang berada dalam kawasan hutan belakang bangunan akademi mereka.
Tentunya hanya para guru besar yang mengetahuinya. Akibat Quisea lelah menunggu kedatangan rekannya, sehingga secara terpaksa dirinya juga Jascuer pergi menemui mereka.
Tapi justru mayat keduanya yang menyambut kedatangan para saksi mata.
Sekarang, guru-guru di sana selain Ireas Masamune pergi menuju lokasi mengerikan di tanah Hadesia.
Di mana tubuh dua guru besar mereka, dihiasi darah yang mulai mengering dan juga lubang-lubang di raganya.
Terlihat, jejak kulit melebur di pinggiran luka. Dan hal itu berhasil mengetatkan rahang Remus Eterno karenanya.
“Bawa mayat mereka dan pastikan tidak ada satu pun yang tahu selain kita,” perintahnya pada guru besar lainnya.
Dan langkahnya pun ditemani oleh August Belmera di sisinya. Sepertinya, sosok assandia (petarung) tersebut tahu kalau guru besar di sampingnya memendam emosi yang luar biasa.
“Apa mungkin ini ulah Betsheba?”
Remus melirik sinis ke arah rekannya. “Ireas mengawalnya dan tak ada tanda-tanda kepergiannya. Pasti ada penyusup di sini atau mungkin saja pengkhianat.”
Setelah mendengar penjelasannya, August pun memelankan langkahnya. Membiarkan Guru besar dari siren itu pergi lebih dulu meninggalkannya.
Dia pun melirik ke sekelilingnya. Memilih memantau area untuk memastikan mungkin saja ada jejak dari pembunuh yang tersisa.
__ADS_1
Sementara Aza, terbaring tak berdaya. Di dalam kamar Lascarzio Hybrida. Tentunya para murid yang tadi bersamanya masih tak percaya. Kalau sosok berkulit eksotis itu ternyata memiliki kemampuan teleportasi di luar dugaan mereka.
Dia pun tersenyum ke arah Thertera yang membersihkan darah di mulut murid baru di ranjangnya.
“Perhatian sekali. Apa mungkin dia adikmu?”
“Dia murid baru di sini,” balas Kers seolah mewakili anak bermuka hancur itu.
Lascarzio pun mengangguk. Perlahan, lirikan matanya bertemu dengan Blerda. Walau senyum masih belum luntur, tapi sepertinya sosok muda dari siren tidak berniat memberikan ekspresi serupa.
Namun anak itu tidak peduli dan dirinya memilih mendekati ranjang sambil melontarkan kata-kata yang tak masuk akal di telinga.
“Dia hebat tapi menyedihkan.”
“Hah? Apa maksudmu?” bingung Kers kepadanya.
“Dia berbakat namun fisiknya terlalu payah. Cepat atau lambat dia pasti akan mati.”
Tiga pendengarnya sama-sama menyipitkan mata ke arah Lascarzio. Sampai akhirnya Thertera pun menyuarakan rasa penasarannya.
“Kamu berbicara seolah-olah tahu kondisinya. Atas dasar apa kamu bisa berkata seperti itu?”
Tapi sang pemilik kamar cuma terkekeh pelan. Perlaan disentuhnya rambut Aza, dan mulai berlanjut ke arah lehernya.
“Hei!” cegat Kers karena Lascarzio terlihat seperti ingin mencekik murid baru itu.
“Apa kamu elftraz (penyembuh) sela Blerda tiba-tiba. “Aku tidak lihat cincinmu.”
“Aku belum menjadi guider, tapi aku bisa menyembuhkan anak ini.”
“Benarkah?” nada suara Kers seperti meremehkannya.
“Ya. Karena bagaimanapun juga, aku—” bulu kuduk ketiganya pun langsung berdiri melihatnya. Terlebih lagi, ada sayap kelelawar yang muncul tiba-tiba di punggung Lascarzio. Bersamaan dengan taring-taring panjang memenuhi gigi atasnya.
Dia tersenyum namun lebih mirip seringai di mata penontonnya.
“K-kau,” kaget Kers dan Thertera bersamaan.
“Scodeaz? (Pengendali?)” gumam Blerda saat melihat cincin merah mencuat di dahi anak laki-laki di depannya.
“Kau guider? Tapi katamu tadi—”
“Sshh ...” Lascarzio pun mengarahkan jari telunjuknya ke bibir sebagai tanda agar mereka diam. “Aku akan menyembuhkan luka-luka kalian. Tapi sebagai gantinya, tolong tutup mulut atas apa yang kalian saksikan. Karena kalau tidak, kalian akan mati di tanganku. Bagaimana?”
__ADS_1
Dirinya yang tersenyum di akhir kata tentu saja menyentak jantung para pendengarnya. Tapi Kers, justru mengangguk tiba-tiba. Bahkan ia juga menyodorkan tangan ke arah sosok sebaya di depannya.
“Baiklah. Aku akan tutup mulutku, tapi tolong sembuhkan luka-lukaku. Kita sepakatkan?” lalu diraihnya tangan anak itu seperti menjabatnya. “Sekarang cepat sembuhkan aku!” suruhnya tanpa basa-basi.
Tentu saja, Thertera serta Blerda memberikan respons yang berbeda. Mereka lebih seperti cuirga kepadanya. Akan tetapi, suara batuk dari Aza Ergo mengalihkan perhatian semuanya.
Sampai akhirnya darah kembali termuntahkand dari mulut anak itu akibat sakit yang dirasa.
Mau tidak mau, keduanya menyetujui tawaran Lascarzio untuk menyembuhkan mereka.
“Apa yang mau kamu lakukan?!” Thertera terkejut saat melihat sosok bersayap itu menyayat tangannya.
“Tentu saja menyembuhkan dirinya.”
“Menyembuhkan?”
“Aku bukan elftraz (penyembuh), jadi pengobatanku hanya bisa lewat darah. Memang aneh dan tidak biasa tapi ini manjur untuk menyembuhkan mereka yang terluka. Kalau tidak percaya, mau coba lebih dulu?”
Kers pun tiba-tiba merentangkan tangannya. “Abaikan saja dia dan cepat obati si anak baru itu.”
Tawa pelan pun bersenandung dari Lascarzio karena disuruh olehnya. “Baiklah.”
Dan tanpa keraguan, darah yang mengalir dari tangannya pun diteteskan ke dalam mulut Aza. Sampai akhirnya anak itu terjaga dan meronta tiba-tiba.
Menimbulkan kepanikan mereka namun berhasil ditenangkan olehnya. Karena salah satu tangannya yang bebas ditahankan ke dada sang pengendali magma.
Mata yang terbelalak milik Azkandia penipu itu pun akhirnya mulai sayu tatapannya. Manik rubynya berubah warna di hadapan mereka. Emas kilauanya, senada milik Lascarzio. Sampai akhir berubah kembali seperti semula.
Aza Ergo pun kembali terlelap setelah pengobatan yang tidak disadarinya.
“Sudah selesai?” bingung Kers menyaksikannya.
Sementara sang tabib mendadak itu terdiam sambil menatap telapak tangan terlukanya. Tak tahu kenapa, tapi sorot matanya menatap lekat pada cairan merah di sana.
Dan suara Blerda pun membuyarkan fokus dirinya. “Jangan buang-buang waktu. Karena aku mencium aroma para guru di lorong kamar.”
Seketika mereka menoleh ke arahnya. Walau semuanya tampak terkejut tapi tak ada gunanya lagi memikirkan pernyataan Blerda. Karena yang terpenting cepat sembuh dan pergi dari sana.
Selesai itu Lascarzio pun menggunakan teleportasinya untuk memindahkan mereka. Sekarang, mereka menuju waktu tak terduga yaitu ujian para murid untuk menjadi guider pemula di Hadesia.
__ADS_1