
“Kers!” pekik Revtel melihatnya. Sontak saja dibantunya sang adik sepupu yang meringis kesakitan. “Kers! Kamu baik-baik saja?!” paniknya. Tapi, justru tawa yang dilontarkan para penonton melihatnya. “Kers.”
“Itulah akibatnya karena berani melawanku!” sang Pangeran pun menyeringai lebar saat menyaksikannya. “Kenapa? Mau menangis? Ayo menangis cengeng! Menangis yang keras sampai di dengar oleh Ibumu!” ledeknya dan tertawa di akhir kata.
“Ya ampun, Revtel! Kers!” kaget seseorang lalu berlari ke arah mereka.
Dan itu berhasil mengalihkan perhatian komplotan sang Pangeran pada sosok yang datang.
“Ibu,” lirih Revtel saat melihat kedatangan Ibu kandungnya. Wanita itu pun menatap panik pada memar di wajah keponakannya. “Apa-apaan ini? Apa yang terjadi?!” syoknya sambil melirik semuanya.
“Apa lagi? Aku menghajarnya karena dia menentangku,” jelas Pangeran pertama dengan angkuhnya.
Wanita itu pun menatap tak percaya akibat ocehan arogan yang dinyanyikan anak muda di depannya.
“Memangnya apa yang sudah dilakukan Kers sampai anda memukulnya?!”
“Hei! Kau berani meninggikan suara di depanku?!” kaget Pangeran itu tiba-tiba. Tentunya, kalimat kurang ajarnya pada Ibu Revtel pun sontak membuat sang anak haram terkesiap mendengarnya.
“Ada apa ini?” lagi-lagi suara seseorang datang menyela.
Semuanya pun menoleh dan mendapati sosok Raja bangsa hydra bersama paman dari Revtel. Tanpa keraguan kakak dari Ibunya itu berlalu menghampirinya.
“Kers, Revtel! Apa yang terjadi?!” paniknya.
Akan tetapi, Hydragel Kers justru menggelengkan kepala. “Pangeran pertama memukulku, hanya itu,” lirihnya santai tanpa beban. Bahkan jika sakit mendera dia tidak menangis dan itu berhasil membuat beberapa pasang mata musuh bingung melihat ketegarannya.
“Apa benar kamu memukulnya?” tanya sosok pemilik tahta tertinggi bangsa itu.
Mau tidak mau, putra pertamanya pun terpaksa mengakuinya. “Tapi aku memukulnya karena dia sudah berani mengataiku! Dia merendahkanku, Ayah! Karena itu aku menghukumnya! Apa yang salah dengan itu?!”
Dan lirikan mata Raja pun bergerak menuju sosok yang merana pipinya. Berbeda dengan Revtel, Kers tidak ragu menatap balik rupa pria mengerikan di depannya.
“Kers, apa benar kamu melakukan itu pada Yang Mulia Pangeran?” tanya Ibu Revtel kepadanya.
“Ya. Tapi itu karena dia marah mendengar jawabanku. Lalu kenapa Pangeran harus memukulku? Kalau tidak suka ya jangan bertanya. Mudah kan?”
Orang-orang pun dibuat terbungkam atas pernyataan tanpa keraguan Hydragel Kers.
“Memang apa yang ditanyakan olehnya?” akhirnya Sang Raja pun bersuara.
__ADS_1
“Dia bertanya apa aku adik sepupu Revtel si anak haram. Lalu apa salahku? Bukankah sudah jelas kalau jawabannya iya? Dia memukulku tanpa aba-aba,” keluh Kers sambil mengusap lembut pipinya.
“Hei! Tentu saja aku memukulmu! Karena kau itu—”
“Pangeran!” sela ayahnya tiba-tiba. Dan hal itu berhasil membuat bulu kuduk semuanya berdiri karenanya.
Akibat tatapan sosok tertinggi itu, mau tidak mau putra pertamanya pun terpaksa meminta maaf pada Kers. Jujur saja, dia sangat membencinya. Dan karena hal ini kebenciannya semakin membesar kepada mereka.
Berharap, suatu saat nanti bisa menyiksa Kers beserta kakak haramnya itu.
Setelah melewati banyaknya perundingan dan juga kesepakatan, bangsa-bangsa pun mengirimkan utusan mereka ke Hadesia.
Dalam satu bangsa ada sekitar tujuh sampai sepuluh anak yang dikirimkan. Dan mereka terdiri dari keturunan para Raja, Tetua, bangsawan.
Tak ada rakyat biasa di sana, karena nyatanya mereka tidak masuk ke dalam kualifikasi untuk mengikuti pelatihannya.
Sungguh pelatihan yang tidak adil jika dilihat dari tokoh para netral mengingat itulah keputusan semuanya.
“Cepat bawa ini!” perintah salah seorang putra Tetua kepada Thertera Aszeria. Mau tidak mau, anak itu membawa senjata atasannya tanpa mengeluhkan apa-apa.
Padahal, dirinya sudah diangkat sebagai cucu oleh ayah dari majikannya. Hanya saja, siapa yang bisa mengira kalau sosoknya cuma dijadikan sebagai tukang suruh dan penjaga.
Thertera yang mengira kalau pilihannya mungkin saja bisa memakmurkan kehidupan kedua orang tuanya justru terjebak dalam kejamnya penipuan.
“Kers, kamu ingat ya, jangan buat masalah di sana. Kita harus rajin belajar karena tidak ada Paman ataupun Ibu yang akan melindungi kita,” jelas Revtel pada adik sepupunya.
Mereka berdua sedang duduk di dalam kereta kuda. Dan sosok muda dari hydra cuma memasang tampang mencibir sebagai balasannya.
“Kers! Kamu dengar aku tidak sih?!” jengkel sosok yang bertanya.
“Revtel, kamu sudah mengatakan ini puluhan kali sebelum kita keluar dari istana. Apa kamu tidak bosan? Telingaku rasanya sudah berbulu mendengarnya,” keluhnya sambil mengorek-ngorek isi telinganya.
“Aku mengatakan itu juga demi kebaikanmu!”
“Yaaaaa ... terima kasih, Kakak,” balasnya karena tak mau lagi berdebat dengan sosok cerewet di depannya.
Sementara Blerda, lirikan matanya tak henti-hentinya menyoroti tangan sampai bahu kanannya yang lebam.
Sakit tentu saja. Tapi dirinya tidak sempat mengobati itu semua. Karena Belmina sudah terlanjur marah dan mengusirnya untuk naik kereta menuju Hadesia.
Memar yang ia terima tentu saja akibat ulah bibi kandung sekaligus ibu tirinya itu. Padahal dirinya tidak salah apa-apa.
__ADS_1
Tapi karena Bleria sibuk mengganggu belajarnya sebab ingin main bersama, justru tidak sengaja terjatuh di depan matanya. Dan hal itu pun berhasil membuat Belmina naik pitam saat mendengar tangisannya.
Tanpa keraguan dipukulkan bibinya itu kayu bakar yang ada di perapian ke tangan anak tirinya.
Sampai akhirnya mengenai tangan kanan Blerda saat mencoba melindungi diri. Sungguh siksaan kejam padahal mereka merupakan keluarga.
Dan sang Raja malah tidak membelanya. Percayalah, tak ada yang lebih menyakitkan bagi Blerda selain mengetahui pengkhianatan sang ayah kepada ibunya.
Sakit dan siksaan bibi kandungnya mungkin masih bisa diterima. Akan tetapi, luka dihati begitu sulit ia pendam deritanya.
Sang Raja ternyata diam-diam sudah lama selingkuh di belakang ibu kandungnya. Terlebih parahnya lagi dengan Belmina yang merupakan adik kandung Ratu sendiri. Sesak baginya begitu mengetahui fakta kalau Bleria anak kandung ayahnya.
Semua baru terbongkar setelah dua hari kematian sang Ratu. Saat Raja siren berniat menikahi Belmina demi kebaikan tahta mereka.
Dan Blerda kian tak bisa memaafkan itu semua setelah mengetahui fakta paling kejam yang dimiliki kedua orang tuanya.
Ayahnya hanya cinta pada Ibunya demi bisa duduk di singgasana. Dan belahan jiwa sang Raja tak lain ternyata bibinya sendiri.
Mereka bekerja sama meracuni Ibunya dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya tuduhan pengkhianatan dilabelkan pada Ratu akibat ulah bawahannya karena tak suka pada kepemimpinan Raja mereka.
Para sosok yang kontra dibabat habis dengan bukti palsu yang disiapkan oleh Belmina. Padahal mereka bersaudara tapi sang Bibi tega menusuk kakaknya sendiri dan menghancurkan namanya.
Membiarkan Ibu Blerda mati di tiang gantungan dalam keadaan terluka dan juga sakit di tangan mereka. Sebelum ajal menjemput dia bahkan masih sempat mengibarkan senyum kepada putrinya.
Sebagai tanda kalau kematian takkan melunturkan kebahagiaannya.
Dia dikhianati saudara, Tetua, bangsawan serta suami akibat Ratu merupakan sosok yang tegas dan juga bijaksana.
Menentang penyelundupan air suci demi kemakmuran para otak korup di bangsanya. Sampai air berharga itu sulit di dapatkan bangsa lain saking mahalnya harganya.
Dan tentu saja semua terjadi karena ulah dari orang-orang yang sudah berhasil menjatuhkannya.
Fakta pengkhianatan itu berhasil diketahui Blerda sehari sebelum dia pergi dari Hadesia.
Sebelum menerima siksaan Ibu tirinya, ia mendapati fakta itu karena menguping secara tidak sengaja.
Nyanyian yang terdengar seperti ocehan santai para bajingan, menusuk ke pendengaran dan tertinggal dalam ingatan.
Sampai akhirnya Blerda pun bersumpah akan membalas perbuatan mereka bagaimanapun caranya. Walau harus bermandikan darah dan siksa dalam menenggelamkan sosok-sosok keparat yang sudah menghancurkan kebahagiaannya dan juga ibunya.
__ADS_1