
Benar-benar mengagetkan sosok pendengarnya. Sang petinggi dracula bergeming, saat darah diarahkan kembali padanya.
“Jawab aku, apa yang bisa kudapatkan jika kuminum darahmu?”
Tapi, justru tawa pelan yang tercetak di bibir sang petinggi. Dia berjalan, melingkari kuburan Arjuna entah untuk apa gunanya.
“Entahlah. Tapi bila saatnya tiba, maka kau akan tahu jawabannya.”
“Kalau begitu aku takkan meminumnya.”
“Tidak masalah. Tapi saat kau akan mati, maka kau akan menyesali keputusanmu hari ini,” Aza pun berbalik hendak meninggalkannya.
Sampai akhirnya, suara Lucian Brastok mengganggu suasana. “Aneh melihat kalian bersama di sini.”
Keduanya sama-sama menoleh dan menatap Sang Raja dengan ekspresi yang berbeda. Toyotomi tampak kaget, berlainan dengan Aza. Senyum malah terkembang di bibirnya.
“Tak kusangka, Raja tidur kita akan datang kemari.”
Entah kenapa kalimat pengendali magma itu terasa seperti sindiran bagi dua guider keturunan dracula.
“Aroma darah.”
“Ya. Mau minum?” Aza malah menyodorkan tangan yang terluka. Membuat Toyotomi tak habis pikir akan isi otaknya.
Namun, hanya tampang hangat sebagai balasan Lucian atas jawaban anak muda di depannya. Perlahan, lirikan berganti ke arah Toyotomi.
“Apa ada pertarungan di sini?”
“Tidak,” jawab Aza dan petinggi dracula itu bersamaan.
“Ayolah. Anda pasti tahu apa yang sedang kami bicarakan. Lagi pula, dracula kan punya pendengaran yang luar biasa,” ledek Aza Ergo akhirnya.
Dan tiba-tiba hembusan angin kasar pun berkumandang di sekitar mereka. Menggugurkan dedaunan tua untuk terbang mengudara di sekelilingnya. Sambil memancarkan aroma tubuh dari masing-masing orang yang berdiri di sana.
Lucian Brastok serta Toyotomi Evazio pun sama-sama mengernyitkan wajah bingung karenanya.
“Aroma ini,” lirih petinggi dracula sambil melirik bingung ke arah pemuda di sisi kanannya. “Apa ini? Siapa kau sebenarnya?” kagetnya.
__ADS_1
“Kau, apa mungkin kau bukan empusa murni?” Lucian juga ikut berbicara.
“Entahlah,” jawab singkat Aza sambil dihiasi senyuman khas miliknya. Tangannya pun kembali terulur ke arah Toyotomi. “Minum darahku, maka kau mungkin akan tahu jawabanmu.”
Hening pun berkumandang tiba-tiba. Dari dua pendengarnya, sebab mereka masih terlena pada pemikirannya. Sampai akhirnya salah satu tangan Lucian terangkat dan menyentuh wajahnya sendiri dengan tenang.
“Tak salah lagi. Tubuhmu memancarkan bau empusa. Tapi darahmu beraroma berbeda. Siapa kau sebenarnya?”
Tapi, tak ada jawaban dari petinggi itu. Kecuali Aza berekspresi masam akhirnya. “Kalian sangat cerewet. Jika memang tidak mau kubantu, jangan banyak tanya. Aku orang sibuk walau penampilanku begini.”
Dan akhirnya sang petinggi muda pun beranjak dari posisinya. Meninggalkan keduanya begitu saja.
Membuat dua guider dari bangsa dracula, memperhatikan dengan lekat sosok punggungnya.
“Aku yakin kalau dia punya rahasia besar,” lirih Toyotomi. “Aroma darahnya, entah kenapa rasanya aneh. Itu, aroma apa?”
Lucian Brastok pun memalingkan wajah ke arah petingginya. “Entahlah. Siapa pun dia, kita tetap harus bekerja sama dengannya.”
“Lalu darahnya? Apa itu berarti aku juga harus mencicipinya?”
“Tak masalah jika kamu mau. Turuti saja kata hatimu, Toyotomi.”
“Kita akan kembali sekarang,” sela sebuah suara tiba-tiba.
Laki-laki itu pun menoleh ke belakang. “Apa tidak besok saja? Ayo nikmati pemandangan di sini sehari lagi.”
“Jangan gila Kers. Kau ingin singgasanamu kosong berapa lama? Para Tetua pasti merencanakan sesuatu selama kita tak ada.”
“Lalu apa masalahnya? Bukannya itu bagus? Jika mereka memberontak, bisa kita habisi semuanya.”
Revtel pun memasang muka malas mendengarnya. “Ayo pulang, Hydragel Kers. Jangan sampai aku melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu.”
“Aish! Iya-iya! Dasar pemaksa,” keluhnya.
“Kupikir kita tidak akan bertemu lagi,” lirih Barca Asera tiba-tiba. Dan sosoknya pun menatap tenang siluet di balik gorden di depan mata di ruangannya.
“Aku juga begitu. Tapi siapa yang bisa menyangka? Kalau ternyata kalian malah datang ke sini tiba-tiba.”
__ADS_1
Dan ternyata, Raja kurcaci yakni Noa Krucoa juga berada di sana. Berdiri di dekat pintu dengan rupa tenangnya.
Sampai akhirnya tamu asing itu memperlihatkan wajah aslinya. Dialah Reve Nel Keres. Pemuda dengan rambut hitam kebiruan serta warna mata seperti samudera terdalam. Dia tersenyum senang dan melangkah secara perlahan. Menemui dua orang tua yang sedang menantinya di ujung ruangan.
“Apa maksudmu berkeliaran dengan salah satu petinggi?”
“Apakah itu aneh? Dia hanya rekan seperjalananku.”
“Jangan bercanda anak muda. Aza Ergo bukan sekadar rekan seperjalanan. Dari ekspresinya aku tahu kalau kalian ada sesuatu.”
Sementara Noa Krucoa, masih diam mendengarkan.
“Lalu apa masalahnya? Tujuanku tak ada hubungannya dengan kalian.”
“Kau, apa mungkin kau bekerja sama dengannya?” tanya Noa Krucoa tiba-tiba.
“Selalu saja. Apa para Raja memang seperti itu? Kalian berbicara seolah tahu segalanya.”
Pernyataan Reve pun berhasil menyentak pendengarannya. Dua pak tua dengan jabatan jabatan yang berbeda itu terkesiap dibuatnya.
“Bukankah tujuanmu Reygan Cottia? Bagaimana bisa kau melibatkan petinggi empusa? Apa mungkin dia juga tahu kalau aku yang mengatakan padamu siapa kuncinya?” nada suara Barca Asera benar-benar terdengar syok iramanya.
“Dasar penipu.” Terdiam. Mereka dibuat terbungkam. “Bragi Elgo, Sif Valhalla, dan juga Izanami Forseti, bukan hanya mereka saja kan kuncinya? Barca Asera, Noa Krucoa, Aegayon Cottia, Zeus Vortha, juga enam hantu lainnya, kalianlah pemegang kunci sebenarnya. Padahal aku berpikir kalau kalian sudah jujur kepadaku. Tapi ternyata, kalian benar-benar penipu. Kalian pikir aku main-main dengan tujuanku? Aku bahkan menutup mulut agar tak ada satu pun yang tahu kalau kalian terlibat dalam rencanaku.”
Raut wajah Reve Nel Keres pun berubah menekan sekarang. Begitu dingin dan bermata tajam. Sangat berlainan dengan sosoknya yang sebelumnya.
“Kau, siapa kau sebenarnya?”
Pemuda itu tertawa seketika karenanya.
“Siapa? Setelah melihat mata dan rambutku, kalian masih bertanya? Setelah tahu apa tujuanku, kalian masih tidak tahu apa-apa?! Menurutmu siapa lagi yang punya penampakan sepertiku?!” marahnya.
Tiba-tiba aura aneh terpancar darinya. Aura gelap yang pernah diperlihatkan Reve Nel Keres pada Noa Krucoa, saat pertarungan mereka.
“Makhluk tanah biru. Kau benar-benar dia,” gumam Barca Asera.
“Keterlaluan. Bahkan setelah semua, kalian tega melakukan ini padaku?! Jangan lupa kalau kalian juga berdosa atas apa yang terjadi pada tanah kelahiranku! Ketidak berdayaan kalian menghancurkan bangsaku! Kalianlah yang sudah memusnahkan garis darahku! Dan sekarang kalian menipuku?! Apa kalian tidak punya hati? Atas apa yang terjadi pada bangsaku! Kalian, benar-benar keterlaluan!”
__ADS_1
Keduanya benar-benar terbungkam. Merasa kaget dan tak percaya, atas nada tinggi yang dilontarkan sang pemuda. Seolah-olah anak itu ingin memakan mereka jika dirinya bisa.
Dan tanpa sadar matanya bercahaya, bersamaan dengan tato hitam aneh menghiasi wajah rupawannya.