
“Serpens,” Reoa melirik kaget ke arahnya.
“Aku mengerti, kalau kita semua memang harus memikirkan arti dari mimpi Dewa Apollo. Tapi, jangan lupa kalau bencana dari para pengkhianat harus ditangani dengan cepat. Kalau seandainya kegelapan yang dimaksud adalah Cerberus itu sendiri, bagaimana? Kita jelas membuang-buang waktu dengan sia-sia karena belum memburu mereka.”
“Aku setuju denganmu. Lebih baik, memburu mereka terlebih dahulu,” bahkan Noa Krucoa salah satu sosok yang di tuakan sekaligus Raja bangsa kurcaci ikut menyuarakan pendapatnya. “Lagi pula, kita bisa mencari makna dari mimpi itu sambil berjalan. Kurasa, kalian pasti paham apa maksud ucapanku.”
Dan akhirnya, beberapa orang mulai mengangguk menyetujuinya. Bahkan Aza tersenyum remeh pada Heksar, membuat Raja cebol itu semakin jengkel kepadanya.
“Kalau begitu besok perburuan akan dimulai. Apa pun arti mimpi Dewa Apollo, bisa kita pikirkan nanti setelah mereka ditangani, apa kalian semua setuju?” tanya Logan Centrio pada semuanya.
“Ya. Lagi pula, lebih cepat selesai lebih baik,” angguk Ilhan Leandro.
Dan para perwakilan bangsa-bangsa pun kembali ke ruang peristirahatan masing-masingnya. Meninggalkan Blerda, Noa Krucoa, Barca Asera serta Lucian Brastok di sana.
“Sepertinya, bakat tidurmu makin parah Yang Mulia,” pak tua penjual rongsokan memulai pembicaraan.
Lucian Brastok yang dicela pun melirik ke arahnya. “Seharusnya aku di petiku, jika bukan karena pertemuan ini.”
Blerda yang mendengar ucapannya pun hanya berekspresi tenang.
“Benar juga soal pertemuan ini, mana Bleria? Dia tidak hadir di pertemuan bersama kita kan?” Barca Asera pun menoleh pada Raja muda.
“Dia di penjara,” jelas gadis itu tanpa basa-basi. Sehingga ucapannya berhasil membuat orang-orang di sana terdiam menatapnya.
“Kau, memenjarakan adikmu?”
“Ya,” jawabnya tanpa keraguan atas pertanyaan Lucian. Dan Raja dracula, hanya memasang raut kantuk mendengar pernyataannya. “Memang Raja gila.”
“Aku hanya mendengar rumor, kalau dia sangat dekat dengan salah satu tersangka yang di eksekusi mati.”
“Memang benar.”
Tak ada basa-basi dalam kalimat Blerda saat menjawab pertanyaan Barca Asera.
“Kalau begitu, apa dia juga terlibat di dalamnya?”
“Mungkin saja.”
“Dan kamu tidak memberi tahu para tamu tentang hal ini?”
“Aku tidak suka, hukumanku diganggu nantinya. Lagi pula, Bleria tidak terlibat langsung dalam pengkhianatan ini.”
__ADS_1
“Dan sebagai kakaknya, kamu tidak berniat melindunginya? Kamu bisa saja membebaskannya.”
Mendadak senyum tipis disunggingkan Blerda atas ujaran yang dilontarkan Barca Asera. “Status Raja, bukan untuk melindungi keluarganya.”
Lucian pun ikut tersenyum mendengarnya. “Mungkin karena dia bukan adikmu.”
“Dia putri ayahku dan bibiku. Bagaimana mungkin dia bukan adikku? Sepertinya, rasa kantuk membuat Yang Mulia dracula mengigau dalam berbicara.”
Tapi entah kenapa Noa Krucoa tak mengatakan apa-apa padahal mereka juga duduk bersama.
“Ramalan itu, bagaimana menurut anda Yang Mulia?” Barca Asera mengalihkan pembicaraan pada pemimpin bangsa kurcaci.
“Mimpi,” sela Blerda dan Lucian bersamaan.
Membuat pak tua penjual rongsokan menghela napas pelan akibat ulah mereka. Tiba-tiba pintu terbuka, sehingga keempat orang itu menoleh pada sosok pendatangnya.
“Wah, apa ini? Sepertinya aku sudah mengganggu pertemuan kalian ya,” Kers terkekeh sambil terus masuk menuju kursinya. Dan mengambil keranjang anggur yang ketinggalan di meja bangsa hydra.
“Yang Mulia, sepertinya kamu sedang bahagia.”
Ucapan petinggi chimera itu berhasil membuat Kers memudarkan senyumannya seketika. Dialihkannya wajahnya? Memberikan tatapan polos pada mereka yang memperhatikan.
Seandainya Heksar dan Revtel ada di sana, bisa dipastikan Raja hydra itu mendapat hukuman atas perkataannya.
“Apa pendapatmu tentang mimpi Dewa Apollo?” Noa Krucoa menyentak mereka semua. Karena dia tiba-tiba melayangkan pertanyaan pada Raja hydra yang baru datang ke sana.
“Pendapatku? Mm ... jalani saja.”
“Apa,” kaget Barca Asera mendengarnya.
“Kenapa cemas begitu? Para Dewa kan menyerahkan masalah itu pada kita. Kalau memang terjadi ya biarkan saja. Nanti kita tinggal menanganinya. Mudah bukan?”
Sungguh dia terlalu menggampangkan semua permasalahan yang ada. Sampai-sampai pak tua penjual rongsokan memijat pangkal alis karenanya. Lucian kembali tersenyum oleh ulah para Raja muda.
“Sepertinya, apa yang anda ucapkan ada benarnya.”
Kers pun dibuat semringah akan kalimat yang dilontarkan Raja kurcaci. “Ya, tentu saja aku benar. Aku senang sekali Pak tua sepertimu bisa memahaminya. Benar-benar berbeda dengan Revtel, dia Wakil sialan.”
Petinggi chimera makin tak habis pikir sekarang. Bagaimana bisa, para Raja muda itu isinya orang-orang yang seperti ini?
Heksar? Dia cerewet dan selalu saja bermasalah.
__ADS_1
Kers? Dia rakus dan terlalu santai dalam menanggapi semuanya.
Trempusa? Terlalu lunak sebagai Raja.
Blerda? Cukup arogan namun sangat konsisten dan menekan.
Aegayon Cottia? Entah ke mana.
Lucian Brastok? Tukang tidur dan tak terlalu berguna.
Itulah sosok mereka di mata dirinya. Ingin menyuarakan tapi ia tidak bisa. Karena harus diakui kalau orang-orang itu memiliki kekuatan yang pantas membuatnya berdiri di singgasana.
“Kalau begitu aku kembali dulu. Karena aku harus tidur sebelum memulai perjalanan,” pamit Kers pada mereka.
“Yang Mulia, anda juga akan ikut berburu?” kaget Barca Asera.
“Tidak. Mana mungkin aku ikut serta? Besok aku cuma ingin jalan-jalan di kawasan siren. Apa anda juga mau ikut? Kudengar buah-buahan di sini sangat enak di bandingkan tempat lain.”
Benar-benar Raja yang tidak teladan.
“Tidak. Anda saja yang pergi. Semoga harimu menyenangkan Yang Mulia.”
“Kalau begitu sampai jumpa,” dan Raja hydra pun benar-benar pergi meninggalkan mereka.
Esok harinya, tepat di depan halaman istana bangsa siren, para perwakilan bangsa-bangsa sudah hadir di sana.
Mereka tampak bersiap sebelum memulai perburuan para pengkhianat.
“Aza. Kamu, benar-benar tidak akan ikut serta?” Beltelgeuse pun mencoba memastikannya. Ditatap lekatnya manik mata sang adik seperguruan, berusaha memahami arti senyuman di bibirnya.
“Sampai bertemu lagi, Tuan Orion,” hanya itu yang ia ucapkan sambil menyentuh bahu petinggi gyges. Mengabaikan pertanyaan barusan, sehingga sosok pemilik firasat tertinggi itu semakin yakin ada yang ditutupi Aza Ergo dari semuanya. Tanpa sadar, tangannya pun terkepal erat.
“Demi dunia Guide. Para Raja dan juga petinggi yang tersisa, melepas kepergian kalian untuk melakukan tugas mulia ini. Dan semoga berkah para Dewa selalu menyertai kita. Tolong kembalilah dengan selamat semuanya,” ucap Noa Krucoa sang Raja kurcaci yang melakukan pelepasan untuk para perwakilan.
Akhirnya, sosok-sosok petinggi hebat itu pun pergi dari sana untuk melakukan rencana mereka. Berburu, mengejar dan mencari orang-orang yang telah ditandai oleh semuanya.
Berharap dalam langkah, semoga tujuan para musuh tak berhasil begitu saja.
“Aza,” panggil Trempusa tiba-tiba. “Ayo ikut denganku sebentar,” ajaknya sambil melangkah duluan. Dan orang-orang yang tersisa pun hanya menatap kepergian mereka. “Apa kamu akan kembali bersamaku?”
__ADS_1