
Berita tentang Azkandia yang menjadi petinggi benar-benar memenuhi tanah Hadesia. Banyak pro dan kontra di dalamnya. Terlebih para murid tak bisa mengakui kehebatan kemampuannya.
Dia cuma bocah sepuluh tahun dengan kemampuan yang kebetulan lebih tinggi dari mereka. Bahkan setiap ujian fisik dilewatinya dengan mudah walau tubuhnya harus berdarah.
Dan di antara semuanya, salah satu penghuni asrama akhir dirundung perasaan aneh di dada.
Beltelgeuse Orion.
Akhir-akhir ini instingnya tidak baik-baik saja. Karena ada firasat meengerikan berbicara ke dirinya.
Kalau Hadesia tidak lama lagi akan dirundung oleh petaka. Tentunya sosoknya bingung harus menceritakan hal itu pada siapa.
Karena menurutnya, tidak semua akan percaya kepadanya. Sampai akhirnya ia melihat Blerda Sirena dikerubungi kupu-kupu merah kehitaman di sekelilingnya.
“Blerda.” Gadis itu menoleh dan tersenyum kepadanya. “Ini, apakah ini kemampuanmu?”
“Begitulah.”
“Kupu-kupu yang indah. Apa yang bisa dilakukan hewan ini?”
Blerda tertawa pelan. Tentunya mengundang bingung sang lawan bicara. “Menjadi mata dan telinga?”
“Benarkah?!” kaget Orion mendengarnya.
“Tentu saja menjadi pembunuh untuk semua yang disentuhnya.”
Anak laki-laki itu pun terkesiap dan langsung menjauhkan tangannya saat akan menyentuh peliharaan milik Blerda.
“Hampir saja aku mati.” Gadis siren cuma tersenyum menanggapinya. Dan Beltelgeuse pun menyandarkan tubuh ke dinding di samping Blerda. “Aku tidak melihat anak-anak.”
“Dan kamu sendirian di sini.”
Rasanya bagai disindir, tapi Orion mencoba memaklumi gaya bicara Blerda yang memang begitu orangnya.
“Menurutmu, bagaimana pelatihan ini?”
“Buruk.”
Sosok dari gyges itu melongo mendengarnya. “Buruk maksudmu?”
Entah kenapa Blerda malah memiringkan wajah saat melihatnya. Dan membuat lawan bicara menghela napas pelan akan ekspresinya. Perlahan ia usap kasar kepala karena jawaban yang tak kunjung aku dapatkan.
“Jujur saja, akhir-akhir ini aku merasakan firasat yang begitu buruk.”
“Begitu?”
“Seolah akan ada teriakan dan air mata yang menimpa Hadesia.”
Blerda pun memudarkan kupu-kupunya. “Kalau seandainya memang terjadi, kamu akan bagaimana?”
“Tentu saja aku harus menghentikannya. Bagaimana jika itu berdampak pada keselamatan kita?”
Tapi, entah kenapa ukiran di wajah gadis itu mulai menyiratkan ekspresi meremehkan. “Menghentikannya ya.”
“Apa mungkin kamu tahu sesuatu?”
Gadis itu menggeleng. “Ada banyak murid di sini.”
Beltelgeuse Orion menyipitkan mata mendengarnya. Jujur ia selalu merasa aneh saat berbicara dengannya. Tapi sekarang lebih parah rasanya.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti, Blerda.”
Namun sang siren perlahan mulai beranjak dari posisinya. “Entahlah. Hanya saja, rasanya tidak begitu buruk jika kita saja yang tersisa.”
Dan senyuman di akhir kata seolah melukiskan arti tak terduga. Seperti hendak berkaitan dengan arti dari firasat yang sering dirasakan Orion sebelumnya.
Tapi di kawasan yang berbeda, tampak seorang anak muda berjalan dengan santainya. Dia berusia sekitar empat belas tahun dan itu berarti sebaya dengan Hydragel Kers.
Di wajahnya terpampang tato dari cahaya bersamaan dengan rambut merah yang bergerak lembut saat angin sepoi-sepoi menerpa.
“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Aza.”
Revtel terkesiap, saat dirinya tiba-tiba kehilangan tenaga akan minuman yang disodorkan kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Pangeran pertama.
Tiada angin tanpa hujan sosoknya mendadak bersikap baik pada adiknya itu. Bahkan memberikan pakaian serta minuman kesukaannya.
Tapi nyatanya semua hanya jebakannya.
Tanpa ampun ia seret paksa lengan adiknya. Tentunya sosok Revtel yang tak berdaya tidak bisa melakukan apa-apa selain terluka akibat gesekan kulit dengan tanah dan juga bebatuan.
Entah akan dibawa ke mana, dirinya hanya bisa berharap ada seseorang yang bisa menolongnya.
Pukulan dengan batu pun dilayangkan pada Revtel berulang-ulang olehnya. Walau mencoba menggerakkan tangan untuk melindungi diri, nyatanya semua sia-sia.
Wajah anak itu perlahan mulai hancur akan ulah kakaknya.
“K-kakak!” kaget Pangeran kedua yang kebetulan muncul di sana. Sungguh dirinya terkesiap melihatnya.
Di mana sosok adik berdarah haram menurutnya tampak menyedihkan di depan mata.
Wajah Revtel hampir hancur sepenuhnya, bahkan tulang rusuknya kemungkinan patah akibat kekejian saudaranya.
Ajakannya pun berhasil menimbulkan takut di diri adiknya. “Kak, kalau kita ketahuan bagaimana?” paniknya.
“Kita tidak akan ketahuan, karena dia cuma bocah buangan. Lagi pula siapa yang akan memergoki kita? Danau ini jarang di datangi karena aku sudah memeriksanya selama beberapa hari.”
Pernyataan Pangeran pertama pun berhasil membuat perasaan adiknya melega. Perlahan, ditatap lekatnya Revtel yang menyuarakan gumaman tak jelas di telinga.
Tiba-tiba, sang kakak menyodorkan batu yang digunakannya untuk menghajar Revtel.
“I-ini—”
“Mau coba? Rasanya menyenangkan lho, seperti memukul mainan yang bernyawa,” kekeh Pangeran pertama.
Adiknya pun meneguk ludah kasar mendengarnya. Walau penuh keraguan, akhirnya tangannya pun mengambil batu itu dan menggembangnya.
Walau segenggaman tangannya, tapi entah kenapa dirinya bergetar hebat saat menyaksikan benda berlumuran darah itu.
“Ayo cepat pukul dia, karena kalau terlalu lama bisa saja ada yang datang.”
“T-tapi kakak bilang tempat i—”
“Pukul dia!” Pangeran pertama memotong ucapan adiknya.
Sehingga mau tidak mau anak itu menurutinya. Dihajarnya Revtel yang bahkan sudah hampir kehilangan kesadaran.
Sungguh menyakitkan rasanya. Remuk di seluruh raga menghantam dirinya. Benar-benar tidak berperasaan. Tindakan kejam dua bersaudara itu berhasil menghancurkan wajah juga tulang dada area kanan.
Bisa dipastikan pendarahan hebat sedang berkecamuk di dalam tubuhnya. Terlebih napas yang sudah terengah-engah karena tertusuknya paru-paru, mendera dirinya.
__ADS_1
Kesadaran mulai memudar dari raganya.
“Sudah, ayo cepat buang dia,” Pangeran pertama pun menghentikan aktivitas penyiksaan oleh adiknya.
Tak tahu lagi sebutan apa yang pantas bagi mereka berdua. Melakukan tindakan keji seperti itu tanpa merasa takut atau bersalah. Keduanya bahkan tak ragu membuang tubuh Revtel ke dalam danau di sampingnya. Sebagai tanda untuk menghilangkan jejak penyiksaan.
Terlebih parahnya lagi hydra bersaudara itu juga tertawa puas melihat lenyapnya hasil kerja mereka.
“Ayo kita kembali.”
“Ya,” setuju Pangeran kedua.
Sementara Revtel yang tenggelam dan mulai menyentuh dasar danau samar-samar bisa merasakan keandehan di dalam sana.
Teriakan, tangisan, pertengkaran, bisikan, semua suara itu berkecamuk di pendengaran. Seolah ada kehidupan di dalam sana. Sampai akhirnya ia terkesiap saat menyaksikan rupa mengerikan di depan mata.
Seorang wanita yang berwajah gelap dan berambut panjang di dalam danau berair terang.
“Kers!”
Tersentak.
Anak laki-laki itu terdiam. Dirinya melirik sekelilingnya, memastikan keanehan yang terjadi. Sensasi tidak tenang dan panggilan barusan menghantui sosoknya.
Dan ia pun merasakan debaran di dada yang terlalu luar biasa. Seperti ketakutan berbisik keras kepadanya.
“Ini, Revtel?” gumamnya. Tiba-tiba sosoknya berlari dengan cepat.
Tentunya menimbulkan ekspresi bingung dari dua pengamat yang kebetulan melihatnya. Merekalah Bragi Elgo dan juga Blerda Sirena. Saling menyaksikan dari tempat nan berbeda.
Tentu saja, sang Raja empusa yang hari ini akan pergi dari Hadesia merasa terganggu akan ekspresi Kers yang sempat ditangkapnya.
“Komandan.”
“Ya, Yang Mulia?”
“Tunggulah di gerbang. Aku ada urusan sebentar.”
“Baik,” angguk pria itu. Ditatap lekatnya sosok pak tua yang berlalu meninggalkannya.
“Revtel, Revtel! Revtel!” panggil Kers dengan napas terengah-engahnya.
Semakin ia berlari, debaran di dadanya kian kencang seolah menuntun langkahnya agar mengikuti instingnya.
Dan dirinya pun sampai di depan danau yang tenang alirannya.
“Kers.”
Tersentak. Tanpa keraguan Hydragel Kers pun melompat ke dalam sana. Walau gumaman tanpa suara itu tak terdengar di dunia nyata, nyatanya tak berlaku untuknya.
Karena ia yakin kalau Revtel lah yang memanggilnya.
Tiba-tiba dirinya pun menyaksikan pemandangan mengejutkan di dalam danau. Matanya terbelalak, bahkan napasnya serasa tercekat.
Saat tubuh Revtel yang tampak mengerikan kondisinya berlubang dadanya. Dan semua disebabkan oleh tangan seorang wanita menakutkan yang menggenggam jantung kakak sepupunya.
Rupa terburuk yang pernah dilihat Kers pun perlahan menyeringai ke arahnya.
__ADS_1