Death Game

Death Game
Tugas para Dewa


__ADS_3

“Jadi, apakah dirimu menyesal?”


Perlahan Riz menjatuhkan tangannya. Begitu keruh penampakannya. Sosoknya jelas dirundung kesedihan.


“Menyesal?”


“Dunia memang begini. Ada yang tersenyum ada yang menangis. Ada yang bernyawa, ada yang mati. Semua silih berganti, namun untuk menjalaninya itu pilihan para penghuni. Dan para Dewa, hanya bisa memandang dari pinggiran. Bencana bagi mereka jika memilih turun tangan.”


Riz terdiam. Wajahnya berpaling untuk menatap ujung sepatunya.


“Kalau begitu kami harus bagaimana? Lihatlah dunia nyata, Crabius. Para petarung seperti seorang Dewa. Ah, tidak. Ada Dewa di dalamnya. Tuan Kers, juga Tuan Lascarzio, mereka Dewa. Bahkan Near ...” air mata tak lagi berjatuhan ke pipi. Namun masih menyisakan jejak basah di rupanya.


“Ingin kuperlihatkan sesuatu?”


Riz mengerutkan dahi bingung karenanya. “Perlihatkan apa?”


Sekejap mata, semua berubah seketika. Riz terdiam melihat keadaan di sekelilingnya. Sekarang sosoknya berada di dunia manusia.


“Ibu!” teriaknya.


Karena melihat wanita itu berjalan di sampingnya. Tanpa keraguan ia ikuti sosoknya, namun dirinya terdiam sebab sadar jika ibunya tak bisa melihatnya.


“Apa ini asli?”


“Jawabannya, akan kau temukan nanti.”


Riz pun mengikuti ibunya. Bersama Crabius, mereka menuju tempat yang tak asing baginya. Dan itu, adalah tempat yang ia sebut rumah. Dirinya ada di dalamnya, sedang berjualan dan belajar.


“Itu aku. Ini, masa lalu?”


Crabius tidak menjawab. Riz kembali berpaling ke depan. Lukisan pemandangan di hadapan menyesakkan dada. Di mana tawa ibu bersamanya, membuat rindu menggelora. Ia ingin menemuinya. Tiba-tiba dirinya berbalik.


“Kenapa?”


“Aku tak sanggup melihatnya. Boleh kita pergi saja?” pintanya dan lagi-lagi beruraian air mata.


Dan seperti sebelumnya. Semua berubah seketika. Ia terdiam saat menyadari ini kamar seseorang yang sangat berarti baginya.


“Ini, kenapa kita di sini?” syoknya.


Tapi, entah kenapa kepiting campuran tidak bersuara. Sampai akhirnya pintu kamar di mana mereka berada pun terbuka, menampilkan sosok yang tak disangka-sangka.


“Ellio!” pekiknya panik.

__ADS_1


Tapi, akhirnya dirinya tersadar kalau ia tak terlihat. Dan yang lebih mengejutkan, mantan sahabatnya itu babak belur sambil beruraian air mata.


“Kenapa?” Ellio bergumam. “Kenapa semuanya jadi begini?” ia terisak. “Kenapa dunia ini tidak adil? Aku memang orang miskin. Aku sampah untuk negeri ini. Tapi kenapa mereka menindasku begini? Kenapa? Kenapa! Kenapa! Kenapa!” histerisnya sambil memukul lantai.


Ia meringkuk. Bersujud tak berdaya. Ditatap diam oleh Riz sambil lagi-lagi beruraian air mata.


“Jika aku jadi Raja, apa aku bisa menciptakan dunia yang lebih baik untuk semuanya?” Ellio pun berbalik. Posisinya terlentang. Sungguh kondisi wajahnya sangat mengejutkan. “Riz, maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba. Dan itu jelas membuat sang pemuda tersentak mendengarnya.


“Apa maksudnya maafkan aku?” tanyanya pada Crabius.


Tapi kepiting campuran itu masih saja belum bicara. Kecuali, arah pandangannya tetap tertuju pada Ellio.


Dan tiba-tiba, semua berubah kembali. Tempat yang berbeda, dan ini adalah halaman rumah seseorang yang tak dikenalnya. Kediaman bergaya kontemporer yang di dominasi warna hitam putih.  


“Ini di mana? Ellio?!” kaget Riz saat sosok itu melewatinya. Tak seperti sebelumnya, wajah sahabatnya itu baik-baik saja. “Apa ini?”


Lagi. Pemandangan menyedihkan terjadi. Kediaman ini, rupanya milik si bangsat Jion.


Dan sosok brengsek itu bersama ibunya sedang tertawa dengan lantangnya. Sementara Ellio yang datang justru bersujud di hadapan mereka.


“Memangnya kenapa? Itu kan salah ayahmu. Salah kalian karena menjadi sampah di negeri ini. Kenapa kau malah menangis? Seharusnya kau bersyukur mendapatkan ganti rugi. Mau dicari ke mana lagi uang sebanyak itu? Sampai mati pun kau dan ibumu takkan pernah melihat tumpukan uang seperti itu!” ledek wanita yang memakai lipstik merah menyala.


Pakaian bermerek di badannya, sungguh mempesona. Tapi tidak dengan mulutnya, itu berbisa.


“Ayahku tidak bersalah. Ayahku tidak pernah salah!” teriaknya tiba-tiba.


“Heh! Brengsek! Kau berani meneriaki ibuku!” jengkel Jion sambil mencengkeram kerah baju Ellio.


“Kenapa?” tanya sosok tertindas itu. “Kau bisa meneriaki ibuku. Kau juga bisa menghajar ayahku. Lalu kenapa jika aku melakukan hal serupa? Kalian, benar-benar iblis berwujud manusia.”


“Keparat!”


Mendadak gelap. Semua pemandangan itu sirna, dan Riz pun langsung melirik ke arah Crabius yang tak tampak lagi oleh mata.


“C-Cra-Crabius?” panggilnya.


Namun, sensasi aneh justru menusuk tulang. Karena tepat di sampingnya, seseorang telah hadir mengganggunya. Riz terkesiap karena itu bukan kepiting campuran yang dicarinya.


“Crabius?”


Sosok berkulit kuning langsat itu tersenyum. Dia lelaki muda, sebaya Kers jika diperkirakan. Mengenakan pakaian yang tak biasa dan duduk di atas awan mengambang.


“Crabius sudah pergi. Menghadapi manusia yang berperasaan, sosoknya sangat anti.”

__ADS_1


“Anda siapa?”


“Panggil saja aku, Ra.”


Riz mengangguk paham. “Apa anda Dewa?”


Sosok itu tertawa pelan. Merasa tak menyangka, jika sosok di hadapan tidak berbasa-basi. Perlahan awan yang menjadi alas duduknya membesar, mencapai sang pemuda agar ia juga bisa beristirahat di sana.


“Ya, aku Dewa. Rival Apophis jika dirimu ingin tahu kelanjutannya.”


“Tuan Kers?!” Riz menatap tak percaya.


“Ah, begitulah namanya di dunia Guide ya. Ya, kau benar. Duduklah, Nak. Sepertinya kau butuh istirahat.”


Aneh rasanya. Karena sosok yang tampak muda memanggilnya begitu. Namun tanpa basa-basi, Riz duduk di sana. Sensasi empuk yang tak pernah ia rasakan sungguh menyamankan bokongnya.


Tangannya pun mengelus-ngelus awan sambil mencoba mencengkeramnya.


“Apa aku akan kembali ke dunia nyata?”


Ra tersenyum. Ia pun merebahkan tubuhnya. Walau kakinya masih menggantung di atas awan yang mengudara.


“Buru-buru? Apa kau tidak nyaman bersamaku?”


“Ah, bukan begitu. H-hanya saja, aku mengkhawatirkan mereka semua.”


Raut muka dingin tertera di rupa Ra. Riz terkesiap, dadanya berdesir aneh melihatnya. Bertanya-tanya apakah ia baru saja melakukan kesalahan pada sang Dewa.


“Yggdrasil. Berakar di kayangan dan rentangan dahannya menjadi payung di kehidupan. Apakah kau tahu? Para Dewa, sekarang berniat menghujani dunia itu karena ulah penghuninya.”


Riz tersentak. Tubuhnya menegang mendengar ucapan sang Dewa. Mendadak raganya gemetar hebat karena masih tak menyangka.


“A-apa maksud anda?!”


“Helga dan Apophis. Pertarungan keduanya sudah mencapai gerbang kayangan. Para pengkhianat, bukankah memang sudah seharusnya dimusnahkan?” Ra menyeringai.


Dan Riz menatap tak percaya padanya. Tatapannya langsung berubah benci entah kenapa.


“Dan kalian sebut diri kalian Dewa?” Ra mengangkat sebelah alisnya. “Apa itu cara terbaik yang bisa kalian lakukan untuk menghentikan semuanya?!” suaranya tiba-tiba meninggi begitu saja.


“Kenapa kau marah, Nak? Bukankah itulah tugas para Dewa?”


Sorot mata Riz mendingin memandangnya. Tak tahu kenapa, ucapan Ra yang mengatakan para Dewa bersiap menghujani penghuni dunia menusuk perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2