Death Game

Death Game
Hukum dunia Guide


__ADS_3

Hea menatap kaget. Perlahan senyum mengembang di bibirnya. “Dasar anak kurang ajar.”


“Tangkap mereka! Dan bawa ke ruang persidangan!” perintah Bleria tiba-tiba.


“Apa!” Rexcel dan Doxia sama-sama kaget dengan perintah dari petinggi siren itu.


“Ini buruk, jika mereka disidang, maka sudah jelas hukuman yang sama akan dijatuhkan,” bisik Rexcel.


“Dasar bocah bodoh!” gerutu Doxia.


“Kau, obati mereka!” perintah Reve tiba-tiba pada Horusca.


“Hei! Apa kamu sadar sedang berhadapan dengan siapa? Kami berdiri di hadapanmu, dan kamu mengalihkan perhatian?” sela Hea.


“Rekanku terluka, dia harus diobati terlebih dahulu.”


“Dan petinggi seperti kami bukan orang yang suka diabaikan seperti itu.”


Reve masih tak mengalihkan perhatiannya dari Horusca, hingga akhirnya pemuda itu turun tangan dan mengobati Riz serta Toz dengan kemampuannya.


“Kalian benar-benar mengabaikan kami para petinggi bangsa-bangsa, bukankah kalian terlalu arogan?”


Tak ada jawaban, sementara Horusca masih sibuk mengobati Riz dan Toz. Lain halnya dengan Reve yang memperhatikan mereka.


“Kau mengabaikanku?!” Hea mulai kesal dan menarik lengan Reve.


“Shhaah!” tiba-tiba muncullah Near dari balik kerah baju Reve dan membuka mulut hendak menggigit Hea.


“Kau!”


“Near, tenanglah. Tidak apa-apa,” ucap Reve mengelus leher sang ular dengan tangan kirinya. Ia pun melirik Hea, “kami akan pergi ke persidangan itu, jadi jangan macam-macam lagi.”


Wajah Hea langsung memperlihatkan guratan emosi, rasanya ia ingin menghajar pemuda di depannya karena kesombongan yang dimilikinya.


Begitu luka Riz dan Toz sudah sembuh, “Horusca, apa aku boleh minta tolong padamu sembuhkan orang itu?” pinta Riz.


Horusca hanya mengangguk pelan dan melakukannya tanpa banyak bicara. “Hei! Apa yang kau lakukan! Dia budakku!” teriak orang yang tadi menghajar Riz.


“Kau!” geram Riz.


“Hentikan! Kau juga, ikutlah ke persidangan. Ayo Hea,” ajak Bleria pada pemuda yang masih kesal dengan Reve.


“Awas kalian!” gerutu pria pemilik budak pergi meninggalkan mereka.


“Baiklah, jadi apa yang harus dilakukan? Ini salah kalian berdua,” ucap Reve tiba-tiba.


“I-itu,” Toz tak berkutik karena merasa bahwa ia memang salah.


“Dasar bodoh! Apa yang kalian lakukan? Sekarang kita terlibat masalah!” gerutu Doxia.


“Padahal kau bersembunyi karena tak ingin terlibat,” sindir Rexcel.


“Diam kau!”


Rexcel hanya menatap jengkel pada Doxia. “Lebih baik kalian segera pergi, karena jika terlambat mungkin tuntutan di persidangan jauh lebih berat,” jelas Rexcel.


“Baiklah,” angguk Riz. Ia menoleh pada Reve. “Reve, terima kasih karena sudah membantuku. Jika kamu tidak menolong, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.”


Reve pun menjulurkan tangan ke arah Riz. “A-apa?” Riz bingung melihat tangannya. “30 koin emas. Karena kalian aku dalam masalah besar,” ucapnya.


“I-itu ...” Riz tak bisa berkata-kata.


“Sudahlah,” Reve memutar bola matanya menjauh dari mereka. “Di mana tempat persidangannya?”


Salah seorang dari penonton pun memberi tahu Reve sambil menunjuk tempat yang dimaksud. Reve pun menapaki jalanan duluan menuju arah di mana Bleria dan Hea sang petinggi dari bangsa perwakilan mereka.


“Terima kasih,” ucap budak yang luka-lukanya sudah disembuhkan. Ia bersujud sambil beruraian air mata.


“Tidak perlu berterima kasih. Lagi pula kamu itu terluka,” jelas Riz padanya.


Budak itu menangis, rasa sesak menghantui diri Riz dan Toz. Mereka, benar-benar iba pada budak itu. Tapi, itu tak merubah kenyataan kalau mereka sedang terlibat masalah yang tak jelas bagaimana kelanjutannya.


Tanpa membuang-buang waktu, dengan diantar Rexcel, mereka pun pergi ke tempat persidangan di mana bangunannya bisa terlihat jelas karena menjulang tinggi di tengah keramaian kota.


Sesampainya di sana, tampak Reve sudah menunggu sambil menatap lekat Near, sang ular peliharaan. “Reve,” panggil Toz. Saat akan mendekat, sesosok tubuh tegap pun muncul di kiri mereka.


“Bukankah ini ...” ucapnya sambil memperhatikan Reve dengan saksama.


“Tu-tuan Logan,” Toz ingat kalau orang itu adalah sosok misterius yang menjamu mereka berdua di tempat pak tua pemilik toko barang antik.


“Sepertinya ini takdir karena kita bisa bertemu lagi. Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?”

__ADS_1


Toz menunduk, ia tak tahu harus menjawab apa. Sementara, orang-orang yang menemani Toz dan Riz untuk ke tempat persidangan hanya menatap heran.


Bagaimana bisa, Toz dan Reve memiliki kenalan mencolok seperti tuan Logan? Mereka yang sudah cukup lama berada di dunia Guide, pasti tak asing dengan petinggi dari bangsa dracula itu.


Karena Logan Centrio merupakan sosok cerdas namun aneh. Terlebih lagi, ia memiliki mata yang serupa mata serigala.


Bagaimanapun, para dracula identik dengan mata merahnya. Menurut legenda kuno, mata yang menyerupai mata serigala merupakan keturunan asli bangsa dracula murni. Dan ada beberapa orang yang memilikinya termasuk Logan.


“Sepertinya kalian sudah datang. Baguslah, penghukuman untk para pembangkang aturan akan lebih baik dilaksanakan secepatnya,” timpal Hea tiba-tiba.


“Hea? Ada apa?” tanya Logan.


Hea tersenyum. “Tadi ada kejadian yang tak terduga, di mana para anak manusia membangkang atas hukum perbudakan dunia Guide. Bukankah sudah saatnya kita mendisplinkan mereka agar yang seperti ini tak terjadi lagi?” Hea menyeringai.


Logan tersentak, ia lalu melirik para pendatang di sekitarnya. Tatapannya terhenti begitu menatap Reve dan Toz. “Aku duluan,” ucapnya pergi meninggalkan mereka.


Beberapa saat kemudian, di sebuah ruangan besar yang dipenuhi kristal ungu, tampak beberapa kursi berderetan dengan sosok petinggi dari masing-masing bangsa duduk di sana. Ada beberapa kursi yang kosong, mengingat tidak semua perwakilan bangsa-bangsa menghadirinya.


“Itu, bukankah dia pemenang sayembara?” tanya tuan Criber tiba-tiba.


“Ya, sepertinya begitu,” sambung Bleria.


Sementara, tuan Barca Asera yang merupakan pemilik toko barang antik benar-benar tak menyangka jika bocah yang bertemu dengannya sekarang muncul lagi.


“Kenapa mereka ada di sini?”


“Anak-anak itu sudah mengganggu hukum majikan dan budak di dunia Guide,” jelas Bleria.


Dan budak yang menjadi sumber masalah hanya bisa diam menunduk tak bisa apa-apa. Lain halnya dengan sang majikan pemilik budak, ia tersenyum angkuh sambil melirik tiga bocah yang bermasalah dengannya.


Pak tua pemilik toko barang antik, hanya menghela napas pelan akibat penjelasan Bleria. Di tempat yang berbeda, Horusca, Rexcel dan Doxia menunggu di luar ruang persidangan.


“Apa yang akan terjadi pada mereka?” tanya Doxia.


“Mungkin menerima hukuman perbudakan yang sama, atau diasingkan di penjara. Bagaimanapun, mengganggu hukum perbudakan adalah sesuatu yang tabu,” jelas Rexcel.


Berbeda dengan mereka, Horusca tak mengatakan apa-apa kecuali fokus menatap ke depan. Mereka bertiga tak terlibat langsung, jadi keadaan ketiganya terbilang aman.


Berbeda dengan Riz, Toz dan Reve yang langsung turun tangan menghalangi jalannya hukuman pendisiplinan oleh orang itu pada budaknya.


“Woah ... Ada apa ini?” sela seseorang mendekat ke salah satu kursi petinggi. Poni merah kehitamannya, seolah terbang lembut setiap ia berjalan.


“Aza? Bukankah tadi kamu sudah sampai? Bagaimana bisa baru datang?” tanya Logan padanya.


“Entahlah,” jawab singkat Logan.


Di antara petinggi bangsa-bangsa yang hadir, terdapat salah satu dengan tatapan tajam ke arah Toz dan Reve. Dialah Asus Sevka, salah satu petinggi dari bangsa kurcaci. Tatapan tajamnya disadari Reve dan Toz, namun mereka bersikap tak peduli.


“Jadi? Apa yang akan kita bahas hari ini? Tentang hydra? Tapi perwakilan dari dragon dan tradio masih belum muncul juga,” lirih Aza Ergo, sang petinggi dari bangsa empusa yang sibuk memainkan poninya.


“Berhentilah menyebut bangsa yang takkan pernah hadir,” potong Reoa Attia. Salah satu petinggi dari bangsa gyges yang menatap jengkel pada pemandangan di depannya.


“Sebenarnya kita akan di apakan ya?” bisik Toz pada Riz. Riz hanya membalasnya dengan gelengan kepala.


“Jadi, kenapa ada para bocah manusia muncul di sini?” tanya Aza Ergo kembali mengulangi pertanyaannya.


Bleria pun melirik pada pria yang merupakan majikan dari budak pendosa. Orang itu langsung sadar dengan arti dari tatapan Bleria lalu berlutut di hadapan para petinggi bangsa-bangsa.


“Maafkan saya Yang Mulia. Saya seorang guider assandia (petarung) dari bangsa manusia. Saya merupakan orang yang berada dalam hukum perbudakan di dunia Guide. Dia, merupakan budak saya,” ucapnya sambil menunjuk pria yang disiksa sebelumnya.


“Saat saya sedang mendisiplinkan budak saya, anak-anak itu mengganggu dan bahkan mengarahkan senjatanya, bukankah ini sudah menghina hukum perbudakan? Bagaimanapun itu adalah hukum yang sudah ditentukan para petinggi untuk mereka yang berdosa. Saya ingin keadilan Yang Mulia, bagaimanapun hukum harus ditegakkan!” ucapnya. Wajah jeleknya juga disedih-sedihkan agar para petinggi iba.


“Apa ini perlu diperpanjang?” bisik pelan Aza Ergo pada tuan Criber.


“Seperti yang kita tahu. Hukum perbudakan adalah hukum dari petinggi terdahulu untuk mereka yang sudah berbuat dosa. Sebagai hukuman dan penebusan, mereka dijadikan budak oleh orang-orang tertentu. Itu hukum yang sah, bahkan tak bisa diganggu siapa pun,” jelas Reoa Attia.


“Lalu? Karena para bocah ini mengganggu hukum, orang itu ingin mereka diadili?” tanya Aza Ergo.


“Menurutku itu bukan hal yang buruk. Karena hukum tetaplah hukum, tak ada yang bisa mengganggu bahkan jika pemimpin bangsa sekalipun,” sela Hea.


Aza Ergo melirik sekelilingnya. “Jadi, kita sepakat untuk memberikan hukuman pada bocah-bocah itu?”


“Bukan ide yang buruk. Bagaimana menurut kalian?” tanya Bleria.


Akan tetapi, para petinggi lain masih diam menatap para terdakwa di depannya. “Jika ingin menyampaikan sesuatu, silakan katakan,” ucap Reoa Attia.


Riz yang dari tadi mengepalkan tangannya, mulai bersuara. “Apakah ini hal yang benar?”


“Apa maksudmu?” Reoa Attia menyipitkan matanya.


“Hanya karena mereka berbuat dosa, lalu apa? Mereka dihukum dengan dijadikan budak. Tapi, apa disiksa itu wajar? Mereka juga merasakan sakit, apa kalian tidak punya rasa kasihan?” tentang Riz.

__ADS_1


Orang-orang di sana terdiam, sejujurnya mereka kaget karena ada seseorang yang berani mengatakan itu setelah berabad-abad lamanya.


Walau bagaimanapun, semua bangsa menerima hukuman itu tanpa adanya keterpaksaan atau rasa kasihan. Sekarang, seorang bocah amatir dari bangsa manusia menentang hukum yang sudah berjalan dan berakar dalam di dunia Guide.


“Jangan bicara omong kosong. Ini hukum di dunia Guide. Sepertinya kau masih baru di dunia ini, jadi aku akan memakluminya,” tekan Hea padanya.


“Baru atau lama memang apa hubungannya?! Dia disiksa di depan umum! Memangnya kalian tahu apa tentang rasa sakitnya?!”


“Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?” raut wajah Hea mulai berubah, membuat suasana sedikit mencekam.


“Tolong lepaskan status budak itu!” sahut Riz tanpa ragu. Toz terbungkam, ia tak menyangka jika Riz akan seberani itu. Sementara para petinggi hanya mendengar perdebatan dengan tenang.


“Kalau begitu? Apa kau bersedia?”


“Bersedia? Apa maksudmu?”


Hea tersenyum, “menjadi budak menggantikannya. Jadi, apa kau bersedia? Kalau iya, maka budak itu akan dibebaskan, selama kau menggantikannya.”


Riz terdiam, tubuhnya bergetar, tiba-tiba ada rasa takut yang muncul di tubuhnya karena perkataan orang itu. “Kenapa kau diam? Aku tanya apa kau bersedia?”


“I-i-itu ....”


“Kau memang seorang guider dari bangsa manusia. Dan kami pun tahu itu. Karena itulah kau diizinkan berbicara di sini. Tapi, apa kau pikir kau punya hak untuk membebaskan seorang budak? Perbudakan adalah hukum yang sudah mendarah daging di sini. Dan seluruh bangsa tahu tentang itu, termasuk juga dengan bangsamu!” tegas Hea.


“Hanya karena rasa kasihan, kau pikir dosa budak itu bisa dihapuskan? Dia menjadi budak karena sudah melakukan kesalahan fatal di dunia ini. Jika hukum seperti itu dihapuskan, maka yang lain juga akan melakukan dosa karena mengikutinya! Jangan bawa-bawa nurani di saat hukum sudah ditegakkan! Karena nurani takkan bisa menghapus dosa!” teriak Hea dengan lantangnya.


Teriakannya bahkan menimbulkan getaran di ruangan.


Riz jatuh terduduk, kakinya seolah kehilangan tenaga akibat tekanan dari Hea. Tubuhnya gemetar, tapi ia masih tak mengalihkan pandangan dari Hea. Rasanya, lidahnya kaku untuk membalas kembali ucapan petinggi itu.


“Riz! Ka-kamu baik-baik saja?!” tanya Toz sambil merangkulnya.


Sementara, budak yang ia bela sekarang hanya bisa menangis sambil tetap berdiri tegak. Tangis tanpa suara itu bahkan tak mampu melunakkan suasana yang memanas.


Guratan emosi terpancar jelas di wajah Hea, walaupun masih muda, dirinya tetaplah seorang petinggi dari salah satu bangsa. Sehingga memiliki hak untuk mengatakan apa saja yang membebani lidahnya tanpa bisa dihentikan.


“Pembahasan ini benar-benar membosankan,” timpal Aza Ergo tiba-tiba. Hea meliriknya dengan mengernyitkan kening.


“Bukankah masalah ini tak perlu diperpanjang lagi? Karena sudah jelas anak itu menentang hukum di dunia ini, maka berikan saja ia hukuman yang setimpal. Di penjara atau ikut menjadi budak, bukankah itu lebih baik?” tanya Aza Ergo pada orang-orang sekelilingnya.


“I-itu!” pekik Toz kaget. “Tolong ampuni kami Tuan! Kami tak bermaksud apa-apa, hanya saja, hanya saja ...” lirih Toz panik.


“Mmm? Kau meminta pengampunan kami?” Aza Ergo tersenyum.


“I-iya, karena itu, aku-”


“Hentikan Toz,” potong Reve tiba-tiba.


“Reve?”


“Kita tidak salah, kenapa harus meminta pengampunan?”


“Kau!” Hea berdiri dari duduknya. Sementara para petinggi lain masih diam tak melakukan apa-apa.


“Kenapa semarah itu? Aku cuma mengatakan apa yang sebenarnya.”


Wajah Hea pun berkerut penuh emosi. “Bukankah lebih baik kita langsung berikan dia hukuman?” ajaknya pada petinggi lain.


Reve tersenyum, “hukuman apa yang kalian maksud?”


“Sepertinya bocah ini terlalu arogan,” sambung Reoa Attia.


“Sebelum berbicara, lebih baik kalian berkaca. Memberikan hukuman pada kami yang tidak berdosa? Kalau begitu, bukankah kalian juga harus menerima hal yang sama? Karena kita tidak ada bedanya.”


“Sialan! Apa maksudmu! Kau berani merendahkan kami seperti itu?!” hardik Reoa Attia.


“Aku? Kapan aku seperti itu?”


“Dia assandia (petarung) dari bangsa manusia bukan?” tanya Bleria tiba-tiba.


“Sepertinya begitu,” lanjut Aza Ergo.


Sementara para petinggi lain, tak satu pun dari mereka mengalihkan perhatian dari ketiga anak manusia yang menanti hasil penghakiman. Terlebih lagi, salah satu dari mereka baru saja memantik api di antara mereka.


“Menurutku, lebih baik kita segera memberinya hukuman agar masalah tak berkepanjangan. Bagaimana menurut anda tuan Criber?” tukas Logan akhirnya.


“Memberi hukuman? Lalu kalian bagaimana?” tanya Reve tiba-tiba.


Logan memiringkan wajahnya. “Kalian? Apa maksudmu kami? Memangnya apa dosa yang sudah kami lakukan?”


“Reygan Cottia.”

__ADS_1


“Deg!” jantung seluruh petinggi tersentak kaget mendengarnya. Tak menyangka jika pemuda itu akan mengatakan sesuatu yang benar-benar tak terduga.


__ADS_2