Death Game

Death Game
Dia istriku


__ADS_3

Betsheba Voskha benar-benar tak habis pikir dengan ucapan pria muda di depannya. Rasanya cukup sulit berbicara dengan Maximus yang terasa sangat keras kepala baginya.


“Apa ini karena wanita itu?” Laki-laki itu terkesiap lalu mengernyitkan dahinya. “Apa ini karena janjimu pada wanita itu?”


“Namanya Olea Zoyaveira, Tuan. Dan dia istriku, jadi aku mohon tolong panggil dia seperti itu.”


Tapi siapa yang bisa mengira. Kalau sang Tetua gyges justru mengetatkan rahangnya akibat ucapan Maximus barusan.


Sorot matanya menekan dan terasa memberatkan keadaan. Dan Maximus, hanya bisa meneguk ludah kasar melihatnya. Bagaimanapun dia tidak salah menurutnya.


“Setelah semua, kau lebih memilih membuang kehidupanmu demi istri yang sudah pergi meninggalkanmu.”


“Dia pergi karena tugas yang mulia, Guru. Dan aku, tidak pernah menyesal memilihnya sampai harus membuang semua yang ada pada diriku. Aku tidak akan pernah menyesali itu.”


“Maximus!” bentak Betsheba tiba-tiba.


Sontak saja Laravell dan Aza menoleh ke arah mereka. “Ayah!” keduanya pun mendatanginya dengan terburu-buru.


“Ayah! Ayah baik-baik saja?!” panik Laravell sambil menyentuhnya.


“Hei, Pak Tua. Kenapa kamu membentak ayahku seperti itu?! Pergi sana!” usir Aza tiba-tiba.


Dan hal itu berhasil membuat sang Tetua tak habis pikir dengan mulut kurang ajar anak dari mantan muridnya.


“Apa yang kamu ajarkan pada anak-anakmu?” heran Betsheba melihatnya.


Maximun pun tersenyum canggung ke arah gurunya. “Mereka anak-anak yang baik guru. Tolong dimaklumi jika mereka bersikap tidak sopan begitu. Bagaimanapun, mereka hanya mengkhawatirkan diriku,” sambil memeluk kedua putranya.


Tentunya, sang guru masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa murid yang disayanginya memilih jalan ini?


Maximus Ergo sang pangeran bangsa empusa. Ditakuti sebagai Pangeran perang oleh lawannya. Terlebih lagi, hanya Aegayon Cottia muda sebagai adik seperguruan yang mampu menyeimbangi kemampuannya.


Tapi, laki-laki ini memilih membuang nama baik serta kekuasaannya demi sebuah cinta. Seorang wanita, bernama Olea Zoyaveira berhasil membuatnya dicap sebagai pengkhianat dan dibuang oleh bangsanya.


Sehingga Maximus pun menjadi pelarian dan lenyap dari sejarah empusa.


Dan sekarang, di sisinya ada dua anak muda yang diakui sebagai putranya. Satu berambut merah dengan nama Laravell Ergo, sementara lainnya bernama Aza Ergo. Berambut hitam dan bermata ruby menawan.


Tatapan keduanya seperti bocah arogan. Tapi apa mau dikata, mereka hanya anak kecil. Karena kalau orang dewasa, Betsheba pasti sudah menendang keduanya akibat kurangnya sopan santun mereka.


Benar-benar anak yang kurang ajar menurutnya.


“Heh? Makanan apa ini?” keluh Pangeran pertama bangsa hydra saat melihat sajian di depannya. “Yang benar saja, masa kami disuruh makan ini?” keluhnya.


Semangkuk bubur dan juga buah-buahan menjadi makanannya. Benar-benar tak sesuai selera menurutnya.

__ADS_1


“Jangan berisik. Kalau tidak mau makan ya pulang saja,” timpal seseorang tiba-tiba. Sontak saja wajah sang Pangeran langsung berubah merah padam saat meliriknya.


“Apa katamu?”


“Pulang saja anak manja, orang-orang malas mendengar ocehanmu.”


“Kau!”


“Hentikan!” sontak saja suasana di ruang makan besar itu berubah sunyi. Quisea Sirena pun melirik sekelilingnya, sambil memamerkan tatapan dingin pada mereka dia juga berjalan santai untuk memperhatikan murid-murid barunya. “Jangan berisik dan makan saja. Karena kalian berada di Hadesia,” tegasnya.


Mau tidak mau dengan segala umpatan di hati, sosok-sosok yang tak suka dengan sajian itu pun terpaksa memakannya.


Mengingat yang mengawasi mereka salah satu guru besar dengan kekuasaan tinggi di pelatihan. Kalau macam-macam, bisa dipastikan nasib mereka akan jadi buruk nantinya.


Jadi lebih baik menurut saja daripada terkena masalah sebelum semuanya dimulai. 


Berisik berkumandang. Tengah malam bel yang berdentang keras di puncak menara sungguh memekakan telinga.


Beberapa anak menggeliat. Dan ada juga yang langsung terjaga. Kamar hunian di mana Kers serta lainnya berada memperlihatkan anak-anak itu sudah bangun dengan mata terbuka lebar.


Sampai akhirnya suara pengumuman dari beo yang berisik di sepanjang ruangan menyadarkan para murid itu.


Kalau pelatihan yang sesungguhnya akan dimulai sekarang.


Di depan mata para murid itu, terdapat kolam besar dengan pohon raksasa di tengah-tengahnya.


Dingin sungguh menusuk ke badan, terlebih lagi perkataan Quisea Sirena seperti kata mati bagi mereka.


“Masuklah ke dalam kolam itu. Dan jangan keluar sebelum aku perintahkan.”


“Hah?” gumam Kers yang takkan kedengaran olehnya. “Tengah malam dan kita masuk kolam? Kita bukan ikan kan?” keluhnya pada Revtel yang berada di sampingnya.


“Tunggu apa lagi? Cepat masuk ke dalam sana! Karena pelatihan yang sesungguhnya dimulai dari sekarang.”


Terpaksa. Semua murid masuk ke dalam sana. Dengan dandanan yang masih melekat di badan tak satu pun membantahnya.


“Agh! Dingin!” pekik Pangeran pertama bangsa hydra.


Tapi, sosok Quisea Sirena hanya diam saja. Walau matanya bertemu pandang dengan Blerda, sang guru tampak angkuh di matanya.


Seolah-olah mereka tak saling mengenal padahal ada ikatan darah sesungguhnya. Di mana wanita itu merupakan adik kandung dari ayahnya.


“Tidak dalam tapi airnya dingin sekali,” bibir Trempusa tampak gemetaran.


Akan tetapi di antara semua yang mengeluh kedinginan, ada beberapa anak wajahnya tetap memamerkan ekspresi santai.

__ADS_1


Dialah Blerda Sirena, Revtel dan juga Thertera. Mereka bertiga tampak tidak terpengaruh oleh dingin yang dirasa.


Namun cukup menyedihkan bagi cucu angkat Tetua chimera. Dia yang bukan murid sah di Hadesia, harus mengikuti pelatihan itu juga. Agar bisa membantu majikannya saat dibutuhkan.


Tapi, respons orang-orang sekitar tidaklah baik untuknya. Teman-teman dari putra sang Tetua, suka sekali merundungnya. Sebagai bahan pelampiasan kalau bosan menerpa.


Bibir-bibit keparat dari pembully yang berlindung dalam nama besar keluarga. Itulah mereka sang penyiksa. 


“Aduh, bagaimana ini? Dingin sekali, Revtel,” gerutu Kers sambil menatap masam ke arah Quisea.


Kakak sepupunya pun mengelus kepalanya. “Jangan lemah, Kers. Sebentar lagi kita pasti keluar dari sini. Jadi ayo semangat.”


“Cih! Semangat-semangat sialan! Bisa-bisa sebelum pergi dari sini aku sudah mati duluan, bodoh!”


Revtel jadi bingung harus mensupportnya dengan cara seperti apa. Karena nyatanya, dia tidak merasakan dingin pada air yang mengapungkan tubuhnya.


Sosoknya juga heran kenapa bisa begitu jadinya.


“Sialan! Lihat saja! Kalau bukan karena ayahku, aku juga tidak sudi ikut pelatihan konyol begini!” Pangeran pertama bangsa hydra masih saja mengoceh.


Mungkin takkan satu pun dari mereka sadar kalau Quisea Sirena sebenarnya tahu semua yang diumpatkan murid-muridnya.


Mengingat sosoknya merupakan scodeaz (pengendali) yang cukup peka.


Sampai akhirnya setelah lebih dari tiga jam barulah anak-anak itu diizinkan keluar dari kolam. Tapi nyatanya banyak yang pingsan di dalam sana.


Dan air yang menenggelamkan mereka pun bergerak hebat seolah tsunami di depan mata. Tapi, mulai surut alirannya lalu menyusut jumlahnya. Perlahan namun pasti, terbentuklah wujud seseorang sebagai gantinya.


Jascuer Alcendia sang merlindia (penyihir) air bangsa hydra. Dialah perwujudan sesungguhnya dari cairan dingin yang yang menusuk tulang para muridnya.


“Hebat, banyak yang pingsan,” pujinya saat melihat murid-murid tak berdaya tergeletak di atas tanah di hadapan mereka.


“Lemah,” sindir Quisea lalu pergi dari sana.


“Hei, bagaimana dengan para murid?”


“Biarkan saja. Lagi pula, ini pelatihan kan? Jadi biarkan mereka menangani tubuhnya sendiri. Ayo pergi,” ajaknya pada Jascuer.


Dan hal itu, tentu saja mengundang tanda tanya para murid yang masih sadar.


“Apa-apaan ini? Apa pelatihannya memang seperti ini?” Kers pun melirik sekelilingnya.


Dia yang lusuh dandanannya hanya bisa terduduk di atas tanah sambil menggigil di sana. Mengingat tubuhnya sudah tidak punya tenaga untuk memasuki asrama dan menghangatkan raganya.


“Pelatihan bajingan,” umpat seseorang yang mulai sayu penglihatannya.

__ADS_1


__ADS_2