
“Kau,” geram Tetua paling disegani itu. Tangannya terkepal erat saat menatap wajah petinggi muda. “Kau pikir, kau sedang bicara dengan siapa?”
“Menurutmu aku bicara dengan siapa? Tidak mungkin aku bicara dengan kadal kan?” kekehnya.
“Kau!” kesal bangsawan di seberang.
Tapi Aza hanya tersenyum riang. “Ayo Trempusa. Aku butuh bantuanmu. Pertemuannya sudah bubar, bubar!” lalu dirangkulnya kedua bersaudara itu.
Namun, siapa yang bisa mengira. Kalau Komandan Ksatria Kerajaan menghalangi jalan mereka.
“Komandan,” Trempusa kaget melihat sosoknya.
“Pertemuannya masih belum selesai, Yang Mulia.”
“Kau,” raut wajah Ragraph terlihat kesal menatapnya.
Tiba-tiba Aza Ergo menyentuh bahu Ksatria di depannya. Membuat orang-orang menatap bingung dengan tingkah sembarangannya.
“Tuan.”
Perlahan, manik mata petinggi empusa bergerak menyoroti rupa bawahan sang Raja. “Kaulah Rajanya, Trempusa. Kaulah aturannya.”
“BRAK!”
Terbungkam. Tak satu pun bersuara. Akibat tontonan tiba-tiba yang dihadiahkan Aza Ergo kepada mereka.
Komandan Ksatria Kerajaan, tampak terluka parah akibat serangan ekor magma sang petinggi muda.
Tubuhnya menabrak pintu aula sehingga menimbulkan kegemparan setiap pasang mata.
“Aza,” syok Trempusa menyaksikannya.
“Kurang ajar. Kau hanya Ksatria, lancang sekali kau menghentikan langkah Raja? Apa seperti ini didikan prajurit di empusa?” tekan murid dari Hadesia itu. Lalu dirinya berbalik menatap para Tetua serta bangsawan yang masih di sana. “Tak peduli seperti apa latar belakang Trempusa, dia tetaplah Raja, dan dia tetaplah aturan di bangsa-bangsa. Jika kalian masih keras kepala dengan omong kosong yang ada, jangan salahkan aku kalau informasi menjijikan ini menyebar ke daratan dunia Guide. Ingat itu.”
Selesai mengatakannya, mereka bertiga pun pergi dari sana.
Meninggalkan murka orang-orang yang sudah dihadiahi ocehannya. Tak peduli seberapa benci mereka pada sosoknya, karena perkataan Aza Ergo memang benar adanya.
Kalau sampai daratan dunia Guide tahu tentang pembangkangan para Tetua serta bangsawan pada Raja, itu akan menimbulkan konflik tersendiri, berupa penyerangan dadakan oleh bangsa lain.
Mengingat kondisi internal mereka terpecah belah, akan memudahkah lawan menjajah kekuasaannya.
Kalau sampai itu terjadi, Tetua serta bangsawan empusa juga yang akan rugi. Dan Aza Ergo dengan skill luar biasa, pasti akan berdiri menonton peperangan. Mengingat sosoknya tipe yang tak peduli dengan tanah air sendiri.
Apa pun yang terjadi, orang-orang itu harus bisa mengikat sang pengendali magma untuk tidak mengkhianati bangsanya.
__ADS_1
“Aza,” panggil Trempusa.
Akan tetapi, sang petinggi hanya terus berjalan. Melewati lorong besar yang mengarah ke kamar pimpinannya. Tanpa keraguan dimasukinya kamar Trempusa. Sebagai tanda kelancangan dirinya. Tampaknya sang Raja tidak mempermasalahkan dirinya.
“Aza—”
“Di mana Bragi Elgo?”
“Apa,” kaget laki-laki itu akibat ucapan adik seperguruannya. “Tuan Bragi—”
“Di mana dia?” potongnya tiba-tiba. Tampaknya, Aza benar-benar membutuhkan informasi darinya.
“Aku tidak tah—”
“Jangan bohong. Zargion sendiri yang mengatakan padaku, kalau kamu tahu di mana keberadaannya.”
“Zargion? Zargion Elgo?! Dia di sini?!”
“Jangan alihkan pertanyaanku Trempusa. Di mana Bragi Elgo?”
Sepertinya, sang petinggi benar-benar serius dengan perkataannya. Ragraph yang tak tahu apa permasalahan mereka, memilih diam saja. Sampai akhirnya sang kakak mengepal erat tangan dengan ekspresi berat di wajahnya.
“Apa karena itu kamu datang ke sini?”
“Ya.”
“Kenapa kamu berekspresi seperti itu?” tanya pengendali magma itu.
“Aku hanya—”
“Kamulah Rajanya, Trempusa. Kamulah aturan bagi bangsa kita. Tak peduli seperti apa kata orang-orang di sekitarmu, tahta itu tetaplah milikmu. Kamu bahkan berhak menghukum mati orang-orang yang merendahkanmu, tapi kenapa kamu lemah begini?”
Dua bersaudara Revos itu terkesiap mendengarnya. Tak menyangka jika sang petinggi akan melayangkan kalimat begitu. Perlahan, Trempusa berlalu menuju balkon di kamarnya.
“Kamu sendiri tahu kalau aku cuma—”
“Cuma apa? Anak dari bangsawan campuran? Putra dari keluarga yang tidak punya kekuasaan? Jangan bercanda, Trempusa. Kau lulus ujian menjadi Raja, kau bahkan salah satu murid terbaik di Hadesia. Kau juga punya sabit Dewa yang bisa mengeksekusi semuanya. Lalu kenapa kau masih menjadi boneka? Blerda bahkan rela berlumuran darah untuk melawan para pengusiknya. Arigan, Thertera, serta Zargion, bahkan membiarkan diri mereka disebut pengkhianat demi kebahagiaan masing-masingnya. Dan kau, masih begini? Membiarkan para luwak tua itu menekanmu? Kalau begitu kenapa kau tidak mati saja?”
“Kau!” kaget Ragraph mendengar ucapan sang petinggi muda.
Sungguh luar biasa. Sosoknya yang biasa tampak santai tak terlihat lagi di sana. Raut muka tenang Aza melirihkan kata tajam untuk menusuk atasannya.
Trempusa benar-benar tak berkutik dibuatnya.
“Kenapa? Aku benarkan? Apa yang kau takutkan? Cabut saja posisi mereka. Kau punya kekuasaan untuk itu, kenapa kau malah takut? Wahai Raja boneka.”
__ADS_1
“Cukup Aza! Sekali lagi kau—”
Dan sorot mata sang petinggi pun beralih ke arah putra kedua Revos. Menatapnya dengan remeh seolah tak peduli dengan kehadirannya.
“Lalu bagaimana denganmu? Calon petinggi. Apa ujianmu sudah selesai?”
“Aza,” sela Trempusa tiba-tiba. “Terima kasih untuk yang tadi. Hanya saja, semua tak semudah perkataanmu. Untuk orang sepertiku, butuh banyak usaha dan waktu agar bisa melawan mereka. Kamu sendiri tahu itu.”
“Kalau begitu bunuh saja para Tetua dan petinggi. Mudahkan?”
“Aza!”
Sang pengendali magma pun merebahkan tubuhnya di sofa. Menatap sinis ke arah pimpinannya.
“Jika perhitunganku benar, hanya tersisa tiga belas anggota Dewan. Lima bangsawan dan empat Tetua menyebalkan, Itu berarti empat lagi cuma tokoh netral.”
Sungguh sang Raja syok mendengar perhitungan bawahannya itu. Masih merasa tak percaya akan ocehan tak masuk akalnya barusan.
“Aza, kamu gila? Membunuh orang kita bukanlah hal yang dibenarkan oleh semuanya.” Tapi, entah kenapa sang pengendali magma menyeringai kepadanya. “Dengar Aza, bahkan jika hanya itu jalan akhir kita, mereka orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Membunuhnya takkan semudah itu dan kita pasti akan ketahuan nantinya.”
Sayang sekali. Sang petinggi, tampaknya tak peduli dengan lirihan kakak seperguruannya. Entah apa yang ada di otaknya, tapi itu pasti bukanlah hal baik bagi bangsa mereka.
“Dengar Aza, lebih baik menurunkan mereka dari posisi Dewan daripada membunuhnya. Kamu mau dicap sebagai pengkhianat? Jangan lupa, walaupun kamu petinggi senior, hukum tetap bisa menyiksamu. Jadi jangan gegabah, Aza. Aku mohon tolong jangan bertindak gila begitu.”
Pengendali magma itu pun bangkit dari duduknya secara tiba-tiba. Mengejutkan dua Revos sampai akhirnya Trempusa menahan tangannya agar dia tak pergi dari sana.
“Akan kukatakan di mana Tuan Bragi berada. Jadi aku mohon, tolong jangan bertindak aneh-aneh, Aza. Aku mohon,” pintanya penuh harap.
“Baiklah. Tuan Bragi, ada di mana?”
Tampaknya, sang petinggi luluh dengan perkataan Rajanya. Dia bahkan mengibarkan senyum untuk ditatap dua Revos di depannya.
“Tuan Bragi ada di—”
__ADS_1