Death Game

Death Game
Level energi kemampuan


__ADS_3

“Menyusahkan,” begitulah umpatan Reve yang sekarang berjalan mendekati ularnya. Dielus lembutnya, membuat sang peliharaan menggeliat pelan.


“Latih lagi kemampuanmu. Walaupun langka, level kemampuanmu cuma prajurit biasa.”


“Kau berbicara seolah kau sehebat itu. Levelmu cuma komandan tingkat tinggi,” sindir Reve.


Akan tetapi, hanya tawa pelan yang dibalaskan Aza. Reve terdiam, menatap energi kemampuan berwarna emas samar yang mengelilingi sang petinggi empusa. “Sayang sekali, tapi aku bangsawan.” Tiba-tiba energi emas itu berubah menjadi merah darah dan berkobar menyelimuti sosok pemiliknya.


“Kau—”


“Para guider level bangsawan ke atas, memang memiliki kemampuan untuk memanipulasi energinya. Jangan lupakan itu, Reve Nel Keres,” lalu energi tersebut memudar beriringan dengan langkah Aza yang meninggalkannya.


Sekarang, karena Toz sudah memperoleh cincin, dia bisa mencium aroma-aroma tak biasa dari tubuh orang-orang di sekelilingnya.


“Wah, tuan Osmo. Seperti kata anda sebelumnya, aku sekarang bisa mencium aroma tubuh yang berbeda-beda,” Toz pun mengendus-endus badannya.


“Benar. Karena sudah menjadi guider, anda bisa membedakan orang-orang yang ditemui berasal dari ras mana.”


“Aroma Tuan Osmo mirip dengan Tuan Rexcel.”


“Karena mereka sekawanan,” timpal Doxia tiba-tiba.


“Sialan! Sebangsa, bukan sekawanan!” jengkel Rexcel sambil memukulnya.


“Sakit bodoh!”


“Kau yang bodoh!”


Mereka berdua pun akhirnya bertengkar.


“Apa itu berarti kamu sudah bisa melihat energi, Toz?” Pertanyaan Riz hanya dibalas dengan gelengan kepala.  


“Energi hanya bisa dilihat jika kalian sudah mencapai level prajurit.”


“Kapan kami akan mencapai level itu?” tanya Toz di mana dirinya dan Riz sama-sama menoleh ke arah Osmo.


“Kalau kalian sekarat,” timpal Aza Ergo tiba-tiba. Di belakangnya juga ada Reve yang mengikutinya.


“Padahal kami serius,” Riz menatap malas padanya.


“Aku juga serius. Kau bisa tanyakan pada elftraz (penyembuh) kita yang hebat itu.”


Orang-orang pun menoleh pada Horsca yang hanya duduk di pinggiran sambil bersandar ke dinding dan kaki terjulur dengan santainya. “Apa?”


“Aku serius. Kalian bertiga tampangnya sangat menyebalkan!” tunjuk Doxia ke arah Horusca, Aza, dan Reve.”


“Benarkah?” Aza menyentuh wajahnya.


“Tentu saja! Apa kau tidak tahu? Tampangmu seperti bocah menyebalkan. Dan kau,” tunjuknya pada wajah Reve. “Mukamu seperti bocah sombong, dan si tanaman seperti orang yang tidak punya kehidupan. Datar dan tidak berkesan,” jelasnya tanpa basa-basi.


Rexcel, Riz, serta Toz dan Osmo, hanya bisa menahan tawa mendengar kalimat Doxia yang berapi-api.  


“Lau kau bagaimana? Kau lebih jelek dari kami,” tukas Aza santai.


“Tentu saja aku begini karena lebih tua darimu.”


“Kau salah. Mau kau tua atau muda, tetap saja kau jelek,” lanjut Reve.

__ADS_1


“Dasar bocah sialan! Aku ini lebih tua darimu, jadi tunjukkan sopan santunmu.”


“Near, sepertinya ada orang gila,” ucap Reve akhirnya dengan berjalan mengabaikannya. Sontak saja hal itu mengundang tawa orang-orang yang bersusah payah menahan ekspresinya.


Berbeda dengan Horusca, tampangnya datar seperti malas ikut menanggapi suasana di depannya.


“Jadi, bagaimana kelanjutan rencana kita?” tanya Doxia.


“Aku lelah. Aku mau beristirahat dulu,” oceh Aza sambil merebahkan tubuhnya ke ranjang yang ditiduri Toz tadinya. Jujur tenaganya sangat terkuras akibat melawan Izanami. Dia dan Reve Nel Keres memang butuh istirahat sekarang.


Namun beberapa jam kemudian di tempat yang berbeda, ada langkah tak terduga sedang melewati kawasan tengah kota Lagarise. Suasana tak lagi ramai, mengingat orang-orang juga butuh istirahat.


Dan akhirnya, pijakan sosok itu berhenti tepat di depan patung sang Dewa yang menjadi lambang keagungan kota. Dewi Lagarise, namanya begitu dipuja di sini. Tempat yang menjadi kenangan tersendiri dengan pesona salju tipis berjatuhan di langit-langit.


Nuansa serba merah dari penghuninya, menjadikan kota itu begitu terkenal karenanya. Kota yang disebut-sebut para tetua sebagai lokasi damai untuk beristirahat.


Akan tetapi, nyatanya sang petinggi empusa tidak merasakan hal tersebut sejak kedatangannya. Matanya yang sudah terbuka, menyoroti mereka yang belum terjaga. Dirinya berlalu pelan dengan langkah tak disadari sekelilingnya. Keluar dari peristirahatan, karena sensasi tak terduga mengganggu tidurnya.


“Mau ke mana?”


Seketika Aza Ergo menoleh ke belakang. Perlahan, senyum tipis merona di bibirnya. Hempasan angin menerpa tubuh keduanya, diiringi gerakan lembut rambut untuk memamerkan dahi masing-masingnya.


“Karena inilah aku juga ingin menjadi pengendali tanaman. Peka dan sangat berguna.”


Horusca pun menyipitkan matanya. “Kau ingin menemuinya?”


“Ya.”


“Dia adalah orang yang berbahaya.”


“Memang.”


Aza Ergo pun mengangkat tangan kanannya. Memamerkan gerakan menutup mulut dengan telunjuk entah apa maksudnya. “Ada yang harus kulakukan. Sampai jumpa lagi, Horusca,” dan ia pun pergi meninggalkannya.


Sang penyembuh itu masih berdiri di posisinya menatap punggung petinggi yang menjauh. Tak jelas apa yang dipikirkannya, namun tampangnya tetap datar seperti sebelumnya.


“Apakah harus mencolok seperti ini? Elftraz (penyembuh) kami jadi bangun kan?” keluhnya. Sementara lawan bicaranya, hanya menatap tenang Aza. “Apa mungkin kau ingin memberi tahu di mana kunci itu berada?”


“Pergilah dari sini. Lupakan kunci dan penjahat keji itu.”


Sang petinggi memiringkan kepalanya. Sekarang hanya ada mereka berdua di sana. Suasana sangat sepi dan mencekam, entah kenapa angin terasa dingin di dekat patung Dewi Lagarise.


“Kalau begitu katakan padaku di mana amarilis.”


“Aku tidak tahu,” jawab singkat Izanami Forseti.


Tentu saja hal itu mengundang senyum aneh di bibir Aza. “Lalu? Ayolah, jika meminta maka harus memberi.”


“Kuperingatkan sekali lagi, sebelum kalian menyesal karena telah merencanakan itu di dunia ini.”


Namun, tiba-tiba tawa pelan berkumandang di bibir Aza Ergo. Kakinya menapaki jarak untuk mendekat pada sosok di hadapan. Kurang dari satu meter, mereka saling bertatapan.


“Menyesal? Memangnya apa yang bisa dilakukan mantan petinggi kotor sepertimu?”


Izanami tersentak. Rasanya, ia baru saja mendengar sesuatu yang menusuk pendengaran. Sosok di depannya mengatakan itu tanpa ekspresi.


Hening masih berkumandang di antara mereka, sehingga Aza kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“Jika kau tidak bisa membantu, maka jangan mengganggu. Tidur saja di persembunyianmu, tradio.”


Raut muka Izanami langsung mendingin karenanya. Diiringi hembusan angin kasar yang mengelilingi kota, seolah mendukung tekanan tak biasa untuk diperlihatkan lawan bicara Aza. Wajahnya, seakan menggelap karena tertutup bayang awan di atas sana.


“Siapa kau sebenarnya?”


“Apa kau tak bisa mencium aroma tubuhku? Sepertinya hidungmu bermasalah,” sindir Aza.


“Siapa yang ada di belakangmu?”


Petinggi itu tersenyum. “Tentu saja empusa. Aku kan petingginya.”


Sekarang, suasana benar-benar pelik. Izanami sedikit pun tak memperlihatkan tampang yang bisa diajak bercanda. Dirinya dan Aza Ergo benar-benar seperti air dan api. Terlalu berseberangan dalam pembicaraan ini.


Tangan Izanami terangkat ke arah laki-laki itu.


“Kau serius akan melakukan ini? Jika ketahuan, aku tidak yakin apa mulutku bisa diobati untuk tak membongkar keberadaanmu,” ancamnya santai.


“Lebih baik membunuhmu daripada lebih banyak hal aneh terlontar di bibirmu.”


“Aku petinggi, kau pikir bisa membunuhku?”


Tangan terarah Izanami terkepal erat sehingga ujung kukunya berhasil melukai kulit. Perlahan darah pun menetes dari sana.


“Dan kau pikir aku tidak mampu?” darah yang berjatuhan mulai bergerak mengelilingi mereka berdua. Semakin lama kian membentuk penjara darah besar untuk mengurungnya.


Aza hanya diam, memperhatikan seberapa lihai kemampuan kendali darah yang baru pertama kali ditemuinya. “Mungkin aku benar-benar akan mati,” seringai tipisnya.


Tiba-tiba, serbuk besi bermunculan di dekat mereka seperti tornado yang menyelimuti penjara darah Izanami. Keduanya pun terkesiap, terlebih sang pemilik kemampuan langsung menurunkan tangannya sehingga jurusnya terhenti.


Sekarang, justru keduanya terkurung serbuk besi lawan yang tak asing lagi siapa pemiliknya.


“Apa kalian ingin membuat orang-orang di sini bangun?”


Suara itu mengalihkan tatapan keduanya. Di samping mereka, muncul serbuk besi yang mengambang dan berputar cepat membentuk gumpalan. Sampai akhirnya menampilkan sesosok tubuh yang mereka kenal orangnya.


“Kau,” Izanami bersuara.


“Wah, sepertinya kau lebih hebat dari penampilanmu. Tapi, apa-apaan tongkat jelek itu?” ledek Aza sambil tertawa.


Orang itu tersenyum pada petinggi empusa yang menghina. “Rumor sepertinya benar.”


“Aku tidak ada urusan denganmu,” timpal Izanami yang membuyarkan suasana. Kedua lawan bicaranya, hanya menatap lekat dirinya.


“Aku yakin kau tahu dengan istilah tamu adalah Raja. Tapi, jangan lupa kalau pendatang juga harus mengikuti aturan sang tuan rumah.”


Pandangan Aza Ergo dan Izanami pun sama-sama menyoroti pengendali besi itu. “Oh, apa mungkin kau tuan rumahnya?” petinggi empusa berjalan mundur dan mendekatkan tangan ke arah sebuk besi yang mengurung mereka.


Hanya senyum yang dilontarkan pendatang baru itu.


“Kau pikir aku peduli? Urusanku dengan bocah itu,” tekan Izanami. Sepertinya, ia benar-benar takkan melepaskan Aza kali ini.


“Sepertinya, sebagai pemimpin Lagarise aku memang harus turun tangan ya.”


Suasana langsung menggelap untuk mereka. Aza Ergo dan Izanami, terkesiap karena pandangan keduanya tertutup kegelapan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.  


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2