Death Game

Death Game
Menghabiskan hari di ruang besi


__ADS_3

“Kenapa kau menghalangi? Kau bisa saja mati,” ucapnya melempar pedang yang diselimuti mantra terlarang. Tangannya meneteskan darah karena sayatan pedangnya sendiri.


Toz tak bisa bicara, otaknya langsung membeku membuat kata-kata tak mampu terlontar di bibirnya. Tak terasa usaha melindungi yang dilakukan Toz, hampir saja mengantarkannya pada kematian.


Reve sedikit mendorongnya, lalu mengibas-ngibaskan tangan sehingga darahnya makin bertebaran.


“Ke-kenapa?”


“Apanya?”


“Kenapa kamu mencoba menyerang kurcaci?” tanya Toz.


“Tak ada urusannya denganmu,” balas Reve.


Kepala desa pun keluar dari kobaran api yang membakar rumahnya. Mendaratkan kaki tak jauh dari posisi Reve dan Toz berdiri sekarang.


Reve mambalikkan tubuh dan menatapnya, “sekarang aku kehilangan selera. Lain kali saja kita lanjutkan,” ucapnya pada kepala desa.


“Nesian, obati dia,” perintah pak tua itu.


“Baik!” Nesian pun mengangkat tangan dan mengarahkannya pada Reve, “liaythax nehriem miaglea (bola hijau nehriem),” ucapnya. Dan bola hijau yang muncul di telapak tangannya langsung menyembunyikan Reve di dalamnya.


“Kepala desa! Apa yang terjadi?” tanya salah satu warganya.


“Kepala desa,” panggil Oa dengan ekspresi berat yang terpampang di wajahnya. “Apa yang sudah terjadi?”


Kepala desa masih diam menatap Reve Nel Keres yang sudah selesai disembuhkan. “Oa, awasi mereka berdua di rumah besi. Pastikan tak ada satu pun yang keluar dari desa,” perintah kepala desa.


“A-a, baik,” angguknya. Ia tak lagi berbicara, karena tampaknya kepala desa takkan menjawab rasa penasarannya.


“Zerca!” panggil kepala desa pada salah satu kurcaci yang hanya diam memperhatikan kerusuhan.


“Baik!” sepertinya ia paham maksud dari kepala desa saat memanggil namanya.


“Izdignete se ot nishtoto (bangkit dari ketiadaan)” ucapnya.


Dan tiba-tiba, bangunan terbakar langsung ditelan bayangan yang membuat Toz terperangah. Sekitar 10 detik bayangan itu langsung berputar membentuk pusaran angin yang di dalamnya terdapat sebuah bangunan menyerupai bentuk awal sebelum terbakar.


“I-itu!” pekik Toz kaget.


Pusaran angin pun langsung lenyap ke udara meninggalkan debu dan dedaunan yang diserahkan pada sekelilingnya. Tak ada lagi bangunan terbakar, tak ada lagi jejak api, semua kembali seperti semula sebelum kekacauan di kediaman kepala desa terjadi.


Zerca, sang kurcaci yang memakai mantra kebangkitan itu pun tiba-tiba menghembuskan napas kasar karena jeratan lelah yang ia rasakan. Reve menatap datar pemandangan ajaib di depannya, kecuali sesekali melirik kepala desa yang sudah tak lagi berniat melanjutkan pertarungan.


“Menyebalkan,” umpatnya pelan. Langkahnya mulai melebar untuk meninggalkan mereka entah ke mana.


“Hei! Mau ke mana kau!” teriak Oa mengikutinya.


“Kau juga ikutlah dengan mereka,” perintah kepala desa pada Toz.


“B-baik!” angguk Toz untuk pamit dari sana. Ia berlari, mengejar langkah Reve dan Oa yang tak cukup jauh di depan.


“Kepala desa, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Nesian.


“Sudah kuduga ada yang tidak beres dengannya. Mantra itu, sudah jelas ia bukan sekedar assandia (petarung) sembarangan,” sambung Zerca.


Sejenak, kepala desa tak menjawab pertanyaan mereka kecuali melontarkan kalimat yang berbeda. “Pastikan utusan hydra tak mengetahui keberadaan mereka, begitu pula sebaliknya. Perketat keamanan desa dan jangan biarkan lagi ada yang memasukinya,” perintahnya sebelum pergi.


“Baik!” balas semuanya serempak.


Di kamar dalam bangunan yang sekelilingnya terbuat dari besi berwarna hitam, Reve pun merebahkan diri di ranjang tak seberapa besar namun cukup pas untuknya seorang.


Sementara Toz menatapnya tanpa berkedip, walau temaram, setidaknya cahaya dari lilin-lilin di lampu gantung sudah cukup membantu penerangan.


“Kamu, bukankah kamu bilang hanya ingin berbicara dengan kepala desa? Lalu kenapa kalian bertarung? Apa kamu berniat membunuhnya?!”


Reve tak menanggapi, kecuali menyentuh ujung depan rambutnya lalu memainkannya.


“Hei Reve? Kamu dengar aku tidak?!”


“Aku memang sedang bicara dengannya, kalian saja yang seenaknya mengganggu tanpa tahu apa-apa.”


“Apa maksudmu? Sedang bicara? Pembicaraan apa yang kalian lakukan sampai membakar rumah begitu?!” Toz semakin jengkel.


“Hanya pembicaraan antar laki-laki dewasa.”


“Heh! Kamu bercanda? Wajahmu saja bahkan tak lebih tua dariku!” gerutu Toz. “Apa kamu sadar senjatamu itu hampir melukai salah satu kurcaci?!”

__ADS_1


“Sayangnya kau menghalangi dan aku pun terpaksa melindungi kebodohanmu,” cela Reve.


“Melindungiku? Kalau bukan kau yang menyerang, maka semua takkan terjadi lalu kau juga tidak akan terluka seperti itu,” oceh Toz tak henti-hentinya.


Sepertinya ia sangat suka melepaskan apa saja beban yang ada di otaknya, dan itu terlihat jelas dari ekspresinya yang masih ingin mengatakan sesuatu.


Wajah Reve berubah masam saat menatapnya. “Sudah selesai? Aku ingin tidur, jadi berhentilah bicara denganku.”


“Apa?! Padahal masih ada yang ingin kukatakan dan seperti itu responsmu? Kau sangat menyebalkan! Menyebalkan! Aku yakin tak ada orang yang mau berteman denganmu!” sindirnya.


Reve pun tertawa pelan, “berteman? Setidaknya aku bukan pecundang yang suka dibully orang.”


Toz terbungkam, perkataan Reve langsung menusuk ke tubuhnya sehingga tak mampu lagi berbicara. Ia mengalihkan pandangan untuk menenangkan diri, karena masih tak biasa dengan sindiran tajam yang mengenai tepat jantungnya.


“Kamu, apa kita satu sekolah?” Toz memandang ragu ke arah Reve.


“Menurutmu?”


Toz terdiam sejenak sebelum membalas perkataannya. “Sepertinya begitu.”


“Mungkin saja.”


Toz akhirnya merebahkan diri di ranjang yang sedang didudukinya. Membelakangi Reve menatap dinding besi polos tanpa satu pun jendela di sana. “Riz, bagaimana keadaanmu? Aku harap kamu baik-baik saja,” batin Toz berdoa untuknya.


Malam pun berlalu.


Sekarang, kicauan burung gagak di pagi yang menjelang, menari di balik pepohonan diiringi raungan para monyet dan binatang lainnya. Semua begitu berisik, sehingga sayup-sayup kebisingannya mencoba menghampiri telinga-telinga pemukiman hidup yang dihuni bangsa bertubuh kerdil.


Toz membuka matanya, menggeliat seperti cacing-cacing di permukaan. Tiba-tiba, matanya menangkap sepasang mata yang memandang tajam ke arahnya. Siapa lagi kalau itu bukan mata Near. Sang ular black mamba yang duduk cantik di atas ranjang Reve.


Bagi Toz ia terlihat seperti itu, walau kenyataannya tak jelas apakah ular itu sedang duduk atau berdiri karena ia melata.


Toz meneguk kasar ludahnya, lalu menyadari Reve sedang memakan anggur di pojokan.


“Kamu! Kamu sudah bangun?” tanya Toz yang bangun dari tidurnya.


“Mereka membawakan kita makanan. Tapi sayang sekali kita tak diizinkan keluar,” jelas Reve. Ia memakan anggur yang selanjutnya dan menelannya dengan ekspresi datar.


“Kita tak bisa keluar karena kegilaanmu!” gerutu Toz dalam hati. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan jejak-jejak tidur di wajahnya. Tak terasa perutnya juga mulai bersuara, mencoba menceritakan keluh-kesah akan rasa lapar yang melanda.


“Apa hanya ada ini?” tanya Toz pada Reve dalam keadaan wajah yang masih basah.


“Huh,” gerutu Toz. Ia pun mengambil sebuah pisang dan apel lalu memakannya. Semua yang ada di depannya hanya buah-buahan, tentu saja itu takkan membuatnya kenyang.


Tapi ingatan tentang ular bakar sekilas menendang otak Toz, mencoba untuk memberi tahu kalau itu sudah lebih baik dari pada sajian aneh yang mereka berikan untuk sarapan.


Waktu semakin berlanjut dan mereka berdua masih terkurung di ruangan besi itu. Suatu keuntungan ada kamar mandi di sana, hanya saja hidup tanpa jendela cukup menyesakkan bagi salah satunya.


“Reve, apa kamu tak bisa melakukan sesuatu? Aku sudah memanggil-manggil mereka tapi tak ada satu pun yang menjawab,” lirih Toz akhirnya.


“Sampai tiga hari ke depan,” ucapnya tiba-tiba.


“A-apa maksudmu?”


“Kita akan terkurung sampai tiga hari ke depan.”


“Tiga hari? Kenapa? Ini pasti salahmu karena sudah melawan kepala desa tanpa berpikir dulu. Sekarang kita terkurung begini tanpa bisa apa-apa! Bagaimana jadinya kalau kita terus di sini selamanya?! Aku harus pulang untuk cari kristal asosiasi dan bertemu keluargaku!”


“Dasar betina.”


“Apa! Kamu bilang aku apa?!”


“Cerewet.”


“Aku hanya mengatakan apa yang ada di otakku, bagaimana bisa kau sebut aku begitu?! Padahal sebelumnya mereka ramah pada kita, tapi sekarang lihatlah! Karena kegilaanmu kita terkurung di sini dengan kelaparan. Untung saja kepala desa tak memerintahkan hukuman mati karena tingkahmu itu!”


“Sudah selesai?”


“Apanya?!” Toz menatap sebal.


“Near, lakukan sesuatu pada mulutnya,” perintah Reve pada ularnya. Sang peliharaan pun melesat maju ke arah ranjang Toz.


“Aaah! Apa yang mau kau lakukan?! Hush! Hush! Pergi! Jangan mendekat! Jangan mendekat!” jerit Toz.


Tapi sang ular masih tak peduli dan melingkari tubuhnya di salah satu kaki penopang ranjang.


“Aah! Toloong! Dia ingin membunuhku! Dia akan membunuhku!” teriak Toz melompat dari ranjangnya dan berlari ke arah Reve.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?”


“Kenapa kau mau membunuhku?! Padahal aku terkurung gara-garamu!”


“Benarkah? Apa aku begitu?” tanya Reve bernada datar. Sementara Near sudah terlanjur berdiam diri di ranjang Toz.


“Tentu saja!”


“Jangan berteriak di dekat telingaku, dan turun dari ranjangku.”


“Suruh dulu ularmu pergi!”


“Near.” Tapi ular yang dipanggil malah menggulung tubuh lalu terlelap tak acuh pada dua manusia itu. “Sepertinya Near lelah dan ingin tidur di ranjangmu.”


“Diam bodoh! Aku tak peduli!”


“Kalau begitu tidur saja di lantai, karena Near takkan mungkin mematuhimu.”


“Kau! Aaaaaah!” jerit Toz kesal.


Jika terus terkurung bersamanya, sepertinya Toz akan gila sebelum mencapai impiannya.


Beberapa jam pun sudah berlalu, sementara keduanya hanya bermalas-malasan saja. Tampak sosok Toz sedang bersandar di dekat kaki Reve yang tidur-tiduran.


“Reve, apa aku boleh tanya sesuatu?”


“Mmm.”


“Kenapa kamu dan kepala desa bertarung?”


Sekitar semenit Reve diam menatap langit-langit sebelum menjawab pertanyaan Toz.


“Karena dia tak memberikan apa yang aku inginkan.”


“B-benarkah? Memangnya apa yang kamu inginkan?” Toz mulai penasaran.


“Sesuatu yang tak diinginkan siapa pun di dunia ini.”


Toz merasa aneh mendengarnya, “memangnya apa itu?”


“Kebebasan.”


Toz menatap lekat pemuda yang sebaya dengannya, kulit putih melebihi dirinya, rambut biru kehitaman beserta manik biru layaknya kedalaman samudra menghiasi rupa Reve yang tampan. Bukan suatu kebohongan, bahkan jika ia laki-laki, batin Toz juga mengakuinya.


“Kebebasan apa yang tak diinginkan orang-orang di sini?” gumam Toz sambil menatap udara kosong di depannya.


“Kebebasan dari makhluk terlarang.”


Jantung Toz tersentak, “apa yang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali dengan maksudmu!”


“Hanya sebuah dongeng, dari kisah masa lalu para pendosa,” lirihnya.


“Sepertinya kamu tahu banyak tentang dunia ini.”


“Entahlah.”


Toz kembali menatapnya, “Reve, apakah dewa benar-benar ada di dunia ini?”


Reve tak menanggapi, sementara Toz kembali melanjutkan ucapannya.


“Saat aku mendengar kenyataan tentang dunia ini, aku benar-benar kaget dan kecewa. Sejujurnya aku berpikir ini adalah dunia baru yang menyenangkan karena ada banyak guider-guider hebat keluar masuk di tempat ini. Akan tetapi -”


“Naif,” potong Reve tiba-tiba. “Apa yang kau harapkan? Sekalipun mengoceh tak berguna, kau takkan merubah apa pun dengannya. Jalani saja, jika terlalu sibuk mendengarkan cerita, maka kau takkan pernah sampai ke tujuan.”


“Ah!” Toz kaget mendengar Reve berkata seperti itu.


“Tak ada gunanya memikirkan isi dunia ini. Kita punya impian, begitu pula yang lainnya. Cerita atau legenda hanya bunga tidur untuk pendengarnya. Percaya atau tidak, tak ada satu pun kebenaran kecuali dewa sendiri yang mengucapkannya.”


“A-apa maksudmu?”


Reve tersenyum, “kita takkan mati selama tidak mempercayai siapa pun.” Perkataannya membuat Toz menatap tak berkedip ke arahnya. Sementara sang ular yang tadinya tampak terlelap, sekarang memandang lekat keduanya dalam diam.


“Apa itu berarti kita tak bisa mempercayai siapa pun termasuk teman sendiri?”


“Dunia ini kejam Toz, saat kau menaruh kepercayaan pada mereka, mungkin saja ada pisau yang mengarah ke jantungmu.”


“Bahkan jika itu kepala desa yang sudah mengizinkan kita tinggal di sini?”

__ADS_1


“Heh! Termasuk para dewa yang dipuja di tempat ini.”


__ADS_2