
“Mitos yang menarik. Akan sangat bagus untuk pengantar tidur,” Reve tertawa pelan.
“Beri tahu aku tujuanmu. Dengan begitu, mungkin aku bisa berpikir apa yang salah kenapa kau menolak ajakanku.”
“Itu terdengar buruk.”
“Amarilis, dia sebenarnya peri yang baik. Akan tetapi, karena pengkhianatan orang terkasih, sekelilingnya langsung berubah menjadi gelap. Pengkhianatan yang meninggalkan luka besar pun ditutupi dengan menjual jiwa-jiwa pada kegelapan. Jiwa itu hanya bisa selamat dengan memakai darahnya, dan salah satu korban itu adalah ayahku,” jelas Aza Ergo.
Hening, selesai kata terakhir keluar dari bibir Aza Ergo, tak ada lagi yang bicara. Tatapan mereka ke satu pusat danau yang memantulkan sinar dua bulan mulai berubah kesunyiannya. Perlahan, angin dari timur berhembus sepoi-sepoi dan menerbangkan apa pun yang bisa diangkatnya.
Daun-daun tua mulai gugur, di antara banyaknya yang berjatuhan ada satu terbang mengudara. Entah suatu kebetulan atau tidak, salah satu daun gugur melayang masuk ke tempat di mana Reve dan Aza Ergo berdiri.
“Reygan Cottia.”
“Deg!” jantung Aza Ergo tersentak mendengarnya. “Dari mana kau mendengar nama itu?”
“Penjahat terbesar dalam sejarah dunia Guide. Banyak petinggi ataupun rakyat dari bangsa lain yang mati karena kegilaannya.”
“Nama itu hanya diketahui beberapa petinggi. Dan bisa-bisanya kau menyebut nama itu di depan orang lain. Apa kau sadar kalau kau baru saja menarik tali di depan perwakilan bangsa-bangsa?”
“Sayangnya, tali itu sudah tertarik saat aku baru datang ke dunia ini.” Reve menyeringai, membuat Near sang ular bergerak cepat lalu menjauh darinya.
Berbeda, ada yang berbeda. Aza Ergo merasakan kejanggalan tiba-tiba menyeruak saat pemuda itu menyeringai. Firasatnya buruk, sesuatu mulai mengganggu sudut hati dan pikiran untuk berbicara.
“Kau, apa tujuanmu sebenarnya?” Aza Ergo membulatkan mata menatap lekat pemuda itu.
Desiran angin berubah ribut, hendak menyapu apa pun yang ditabraknya. Rambut lembut keduanya bergoyang, menampilkan setiap garis wajah tanpa cela. Sekarang, bukan hanya rupanya yang terlihat jelas, manik biru Reve perlahan bersinar terang seperti pantulan bulan di permukaan danau.
“Kunci penjara Reygan Cottia.”
Ekspresi Aza Ergo yang semula tenang, sekarang menjadi lebih gelap. Sinar bulan tertutup awan, membuat wajah laki-laki itu tertutup bayang-bayang. “Aku benar, kau berbahaya,” Aza Ergo menyeringai. Wajah tampan dari petinggi bangsa empusa tersebut, mulai meleleh dari mata kanannya.
“Kau memberi tahuku tujuanmu. Aku hanya membayar harga yang sama. Tak peduli seberapa buruk itu, kau dan aku sama.”
“Sama?” Aza Ergo terkekeh. “Beri tahu aku Reve Nel Keres. Jika kau mendapatkan kuncinya, apa yang akan kau lakukan?”
Reve memutar bola mata melirik Near sang ular yang berada di sudut balkon. “Jika saatnya sudah tiba, maka dunia akan tahu jawabannya.”
Sejenak kemudian, Aza Ergo pun mengulurkan tangan ke arah Reve. “Jabat tanganku teman, aku hanya butuh kekuatanmu, bukan tujuan iblismu.”
Reve terdiam. “Apa kau masih waras?”
“Reygan Cottia itu kematian. Entah kau akan membunuh atau membebaskannya, hasilnya akan tetap sama. Aku hanya butuh darah amarilis. Bahkan jika dunia terguncang, ada orang-orang kuat yang bisa menghentikannya. Aku butuh kekuatanmu. Jika hanya kunci aku bisa membantumu. Jika makhluk kotor itu, aku juga akan membunuhmu bersamanya, karena aku tetaplah petinggi dari empusa.”
Reve tersenyum, sambil melirik tangan yang masih tersodor di depannya. Sampai akhirnya ia menyorot Near lewat sudut mata. Cukup lama ia seperti itu, membiarkan beberapa detik berlalu di tengah ributnya angin malam.
“Baiklah, kuharap kau tak menarik ucapanmu.” Reve akhirnya menjabat tangan itu. Sebuah kesepakatan tercipta dalam proses bicara yang cukup mencekam. Di mana magma yang meleleh di mata Aza Ergo, sudah jatuh ke lantai.
“Tenang saja, aku takkan menariknya. Kecuali melakukannya dengan caraku sendiri,” nada Aza Ergo terkesan menyindir, sampai akhirnya jabat tangan itu berpisah. “Jadi, apa kau sudah tahu di mana letak kuncinya?”
“Ada tiga orang yang mengetahuinya. “Bragi Elgo, Sif Valhalla, dan Izanami Forseti.”
“Tunggu! Bragi Elgo? Bukankah itu mantan pemimpin empusa?”
“Benar, apa kau tahu orangnya? Kalau iya itu bagus sekali.”
Wajah Aza Ergo berubah jenuh mendengar kalimat Reve. “Karena kita sudah sepakat, jadi baiklah. Tapi aku punya satu syarat.”
“Apa?”
“Pastikan keamananku. Walau petinggi, aku bisa mati sia-sia sebelum tujuanku tercapai.”
“Apa ini? Pengecut,” cela Reve sambil membalikkan tubuhnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Saat aku kembali kita akan meninggalkan kota ini. Bagaimana?”
“Tidak masalah. Karena aku juga tidak betah berlama-lama di sini.” Mereka berdua pun kembali ke kamar Reve. Di mana Toz dan budak yang kabur terkapar di sofa, sementara yang lain sibuk bercerita.
Riz memandang ke arah Reve yang menaruh ularnya di atas ranjang. “Dengarkan aku,” tukas Aza Ergo tiba-tiba. “Seperti yang kalian ketahui, bahwa kita sepakat akan bekerja sama. Jadi, aku akan menyelesaikan urusanku di kota ini terlebih dahulu. Saat aku kembali kita akan pergi dari kota ini diam-diam. Setuju?”
“Hei! Aku tidak akan ikut denganmu, jangan lupa itu!” oceh Doxia.
“Aku juga tidak berminat mengajak orang tua sepertimu.”
“Apa kau bilang! Hanya karena kau petinggi ...” geram Doxia.
“Aku masih belum bisa memutuskannya. Sejujurnya tujuanku hanyalah ikut sayembara untuk memenangkan perisai hitam dan mencuri surat penting dari guru Criber,” jelas Rexcel.
__ADS_1
“Lupakan saja surat itu bodoh! Kau pikir kita takkan ketahuan?! Waktu itu aku beruntung karena dia sedang bertengkar. Kalau tidak, pak tua itu pasti sudah membunuhku karena membohonginya.”
“Surat? Surat apa yang kalian bicarakan?”
Rexcel tampak ragu menjawabnya. “Maaf tapi surat itu cukup rahasia.”
“Baiklah, terserah saja. Karena tim impianku juga sudah terbentuk,” Aza Ergo lalu menyapu pandangan pada orang-orang di depannya. “Aku pergi dulu,” ucapnya meninggalkan mereka.
“Reve,” panggil Riz.
“Hei bocah! Kau mau ke mana?” tanya Doxia.
“Bukan urusanmu,” jawab Horusca lalu pergi meninggalkan mereka.
“Cih, apa-apaan bocah itu?!” gerutunya.
Satu jam kemudian di tempat yang berbeda.
“Aza? Dari mana saja?” tanya Logan.
“Mencari tempat penginapan.”
“Kau bisa menginap di kediaman para petinggi kan?”
“Aku juga ingin jalan-jalan,” Aza Ergo mengambil apel dalam keranjang yang ada di depan Logan. “Ada apa?”
“Tidak, tidak ada apa-apa.”
“Mana yang lain?” tanya Aza Ergo.
“Entahlah. Dua jam lagi akan ada pertemuan. Membahas tentang kematian salah satu anggota hydra dan juga para pembangkang itu.”
“Ho ... menarik. Yang bisa dilakukan hanya membahas tanpa bergerak,” ucapnya dengan nada menyindir.
Sekilas, Logan melirik tajam padanya. “Bagaimanapun ini tetap pembahasan penting. Kita tak bisa menutup mata atas kejadian yang sudah terjadi.”
“Yang mati kan hanya bawahan, kenapa hydra seperti kehilangan bangsawan? Padahal setiap hari ada yang mati di dunia Guide. Kalau dia dibunuh, mau bagaimana lagi. Memang itu takdir hidupnya,” lalu Aza Ergo menggigit apel di tangannya.
“Karena hydra tak bisa menutup mata. Mungkin saja ini ulah orang-orang yang mulai ingin memperlihatkan taringnya,” sela Hea Alcendia tiba-tiba. Ia mendekati mereka bersama dengan Bleria Sirena.
“Mungkin.”
“Kita hanya akan berperang di malam tertentu,” Aza Ergo mengarahkan apel di tangan pada Hea. Membuat pemuda itu menatap tajam pada orang yang berbicara.
“Tidak peduli seperti apa sistem kerja sama bangsa-bangsa. Dalam hidup, hanya kemakmuran masing-masing yang dipikirkan. Aku yakin anda paham apa maksud perkataanku.”
Mereka terdiam, ucapan Hea Alcendia cukup lama membungkam mereka. Sampai akhirnya suara gigitan apel memecah suasana.
“Ya, kau benar. Bagaimanapun kita tetaplah musuh,” Aza Ergo tertawa, membuat yang lain menatap aneh padanya.
“Anda selalu ceria tuan Aza. Pasti menyenangkan jika hidup tanpa beban sepertimu,” sindir Bleria.
“Tentu saja. Jika bisa hidup senang, kenapa harus susah? Aku hanya mencoba menikmatinya.”
“Menikmati hidup ya.” Bleria tersenyum tipis. “Jika anda turun tangan dengan benar, maka para pembangkang itu pasti sudah dihukum sekarang.”
“Oh! Mereka ya. Aku kagum dengan kemampuannya. Bukankah assandia (petarung) dan elftraz (penyembuh) mereka sangat hebat? Bahkan petinggi tersohor tak berkutik di hadapan serangannya,” Aza Ergo lalu tertawa terbahak-bahak. Kalimat dan sikapnya langsung mendapat tatapan tajam dari Hea dan Bleria.
“Anda menyindirku?” tekan Hea.
“Hah? Apa yang kau bicarakan? Oh! Benar juga, bukankah kau elftraz? (penyembuh?), tampak Aza Ergo bersusah payah menahan tawanya. “Aku lupa, kita juga punya assandia (petarung) berdarah.”
“Tuan Aza. Apa maksud kalimatmu itu?” tatapan penuh emosi dilayangkan Bleria tanpa berkedip.
“Hentikan. Aza hanya berbicara tanpa berpikir dulu. Kalian pasti sudah paham dengan ocehannya,” potong Logan tiba-tiba.
“Anda berbicara seolah aku tak punya otak tuan Logan,” senyum aneh tersungging di bibir Aza. Membuat lelaki itu tambah menyebalkan di mata Hea dan Bleria.
“Lagi pula apa yang mereka katakan itu benar. Jika kau turun tangan, sudah pasti para pembangkang takkan kabur.”
“Woaah! Aku terpana kalian menilai tinggi kemampuanku. Lagi pula, bukankah kita sama? Jika anda turun tangan, mereka pasti sudah merintih tak berdaya. Petir jauh lebih cepat dari magma. Tapi tak bisa dipungkiri, terkadang, tikus yang tersudut pun bisa berbahaya,” kilah Aza Ergo.
Logan hanya menampilkan gelengan kepala mendengar jawaban laki-laki itu. Ia terlalu cerewet untuk ditanggapi, orang tak serius sepertinya hanya akan menambah emosi jika diladeni.
“Aku lapar. Jadi, apa sajian yang ada di sini?”
“Entahlah. Lihatlah ke dalam,” balas Logan.
__ADS_1
“Baiklah. Apa tak ada yang ingin ikut? Kalau tidak aku akan makan sendiri,” lirih Aza Ergo tetap melangkah tak peduli.
“Di antara para petinggi, dialah yang paling menyebalkan,” geram Hea.
“Kau benar,” timpal Bleria.
Logan terdiam mendengar ucapan dua petinggi muda di depannya. Bagaimanapun, dirinya maklum jika mereka merasa kesal dengan laki-laki itu. Aza Ergo merupakan petinggi paling menyebalkan yang pernah ia temui. Dia bahkan tak segan mentertawakan bangsanya sendiri. Jadi, tidak aneh jika bangsa lain juga kena imbasnya.
Kalau bukan karena kemampuannya yang diakui, bangsanya sendiri pasti sudah menghabisi Aza Ergo mengingat mulut tak bersaringnya. Sepertinya, laki-laki itu punya banyak nyawa mengingat ia tak peduli apa pun yang keluar dari mulutnya, akan menimbulkan kekacauan nantinya.
Dua jam kemudian, pertemuan pun diadakan. Tempat pertemuan merupakan salah satu ruangan dari bangunan yang disediakan untuk para petinggi menginap.
Perwakilan bangsa-bangsa, dimulai dari Hea Alcendia dan Libra Septor, petinggi dari bangsa hydra. Bleria Sirena dan tuan Criber dari bangsa siren. Logan Centrio dari bangsa dracula. Barca Asera, dari bangsa chimera yang merupakan pemilik toko barang antik. Aza Ergo dan Aquila Ganymede, dari bangsa empusa. Asus Sevka dari bangsa kurcaci. Reoa Attia dan Betelgeuse Orion dari bangsa gyges. Serta yang terakhir Ivailo Stoyan dan Ilhan Leandro dari bangsa manusia.
“Sepertinya masih ada yang belum datang.”
“Tolong jangan sebut lagi bangsa yang tak jelas keberadaannya,” sambung Bleria menatap jengkel Aza Ergo yang tersenyum tipis.
“Jadi, apa yang akan kita bahas?” tanya Ilhan Leandro.
“Ke mana saja kau saat persidangan? Apa kalian tak tahu jika pembangkang kemarin itu dari bangsamu?” sindir Reoa.
“Jarak gerbang ke kota ini cukup jauh. Ini tidak seperti manusia saja yang bermasalah, bukankah bangsa lain juga?” Ilhan membalas tatapan jengkel Reoa Attia.
“Bagaimanapun, kenyataannya pembangkang itu berasal dari bangsa manusia. Tidak hanya menentang hukum, tapi juga membawa kabur budak. Apa manusia memang selalu begitu? Suka melanggar aturan,” timpal Hea sinis.
“Aturan ada untuk dilanggar. Bukankah di sana letak tantangannya?” Aza Ergo terkekeh. Wajah Hea langsung menampilkan guurat emosi di kening dan bibirnya.
“Aku tidak peduli dari mana asal pembangkangnya. Ada begitu banyak petinggi, apa tak ada yang sudi untuk bertarung menangkap mereka?” Ivailo Stoyan melirik orang-orang yang duduk di sekelilingnya.
“Jangan bicara saja bisanya. Bahkan anda tak tahu seperti apa kemampuan mereka,” tegas Hea kesal.
Tawa langsung meledak dari bibir Aza Ergo. “Benar, bagaimana bisa anda berkata seperti itu? Pembangkang dari bangsamu benar-benar luar biasa! Ada assandia (petarung) langka, juga tankzeas (pelindung) bernyali baja. Ah, elftraz (penyembuh) itu dari mana? Dia hebat,” oceh Aza Ergo panjang lebar. Beberapa petinggi menggeleng kepala mendengar suara dari mulut cerewet itu.
“Assandia (petarung) langka?” raut Ilhan berubah penasaran.
“Ya. Dia mengeluarkan banyak pedang dalam sekali serang!” pungkas Aza Ergo bersemangat.
Ilhan Leandro mengernyitkan dahi. “Lelucon apa itu? Assandia (petarung) hanya bisa mengeluarkan satu senjata dari tulangnya. Beda cerita kalau dia pemilik senjata kembar. Jangan-jangan yang anda lihat itu merlindia (penyihir).”
“Dia memang assandia (petarung) langka. Karena itulah kita tak bisa membiarkannya berkeliaran begitu saja,” potong tuan Criber. “Bahkan, anak itu memiliki ular sihir dengan kemampuan teleportasi.”
“Siapa namanya?” tanya Ivailo Stoyan.
“Reve Nel Keres. Pemenang dari seyembara,” sambung Bleria.
Ilhan tersenyum. “Luar biasa, aku akan mencari informasinya di dunia manusia. Bagaimana dengan pembangkang lainnya?”
“Entahlah. Tapi, ada satu elftraz (penyembuh) mencolok bersamanya. Aku tak yakin bocah itu dari bangsa manusia atau tidak. Tapi yang lain, dipastikan guider pemula,” lirih Reoa Attia.
“Cukup dengan pembangkang. Sebar saja lukisan wajahnya di seluruh tempat. Ayo bahas tentang hydra,” potong Libra Septor.
“Hydra? Tampaknya kalian tak sabaran untuk mencari pelakunya ya,” sindir Ilhan.
“Jika tidak segera ditemukan, mungkin akan ada mayat lainnya,” Libra menatap tajamnya.
“Lalu? Makhluk hidup pasti mati. Walaupun akhir hidupnya cukup tragis, tapi itulah hukum alam,” ujar Ilhan yang memanaskan suasana pertemuan.
Tawa Aza Ergo langsung meledak mendengar perkataan petinggi bangsa manusia itu. “Aza!” bentak Reoa Attia, Logan dan Libra bersamaan. Laki-laki itu langsung menutup mulut menahan diri walau raut wajahnya sudah jelas artinya.
“Cukup dengan itu. Tujuan hydra memperpanjang masalah ini, karena mungkin saja pelakunya adalah mereka yang ingin memamerkan taringnya.” Hea menatap tajam Ilhan.
“Apa kau punya bukti?”
“Bukti? Walau tingkat rendah, Cotra merupakan assandia level komandan, apa wajar jika dia mati saat berburu?” tekan Hea membulatkan matanya.
“Mungkin saja dia dibunuh buruannya,” Aza Ergo menimpali.
“Jangan bercanda! Dia mati dengan kehilangan jantungnya! Bahkan itu sama persis dengan mayat pemuja yang mati di kota ini kemarin!” terang Libra dengan lantangnya. Para petinggi itu langsung terbungkam mendengarnya.
“Sekarang kalian tak bisa berkilah, karena itu memang kejahatan terselubung dari mereka yang ingin mengacau di dunia Guide. Jika tak ada yang mau turun tangan ikut mencarinya, jangan mengelak kalau bangsa kalian dicurigai sebagai pelakunya!” lanjut Libra. Tampaknya wanita itu benar-benar emosi, karena para petinggi terlihat menyepelekan masalah yang menimpa bangsanya.
__ADS_1