
Betsheba terdiam. Saat memperhatikan dengan lekat pemandangan dari luar kamarnya. Walau dirinya disambut dengan hangat oleh para guru besar di Hadesia, nyatanya sensasi tak biasa memang terasa di sana.
Kalau lokasi ini seperti punya misteri yang terkubur tenang di bawah daratannya.
Lagi. Lagi-lagi Blerda keluar dari kamarnya. Entah apa tujuannya, tapi langkahnya mengendap-endap di sana. Mencoba menyusuri jalanan tanpa ketahuan sekelilingnya.
Aroma anyir sekarang berkumandang di sekitarnya. Diiringi busuk yang menyengat sehingga membuat tangannya menutup hidung.
Akhirnya sosoknya pun tiba di lokasi yang tak jauh dari pinggiran danau.
“Ther—”
Panik menghadang. Saat mulut Blerda dibungkam seseorang. Perlahan ia menoleh dan mendapati wajah tak disangka-sangka. Kalau itu ternyata Hydragel Kers sebagai pelakunya.
“Sssh ... jangan berisik,” gumamnya.
Gadis itu pun mengangguk dan Kers melepaskannya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Lihat saja,” dan mereka mengintai dari balik bebatuan besar.
Tampak oleh mata, tak lama kemudian dua orang guru besar datang ke sana. Dialah Helgida Septor dan Romario Stoyan.
“Ugh, aku lelah,” keluh Romario setelah memamerkan isi bungkusan kain hitam yang tadi dibawanya.
“Kau pikir kau saja yang lelah? Aku juga.”
“Kenapa tidak bantai saja semuanya?”
“Bisa-bisa seluruh bangsa curiga kalau tak ada keturunannya yang tersisa.”
“Lalu? Sampai kapan monster ini puas?”
“Sampai tunasnya muncul ke permukaan. Kita tunggu saja.”
“Cih! Menyebalkan,” umpat Romario sambil melepas jubahnya akibat noda darah mengotorinya.
“Benar juga. Bagaimana tanggapanmu tentang anak baru itu?”
Helgida pun melirik rekannya lewat sudut matanya. “Bocah yang dibawa Betsheba?”
“Benar.”
Sosok guru besar dari hydra itu pun perlahan memiringkan wajahnya. Tampak olehnya, seekor kupu-kupu yang terbang melewatinya. Tanpa keraguan diraihnya dan dicengkeram erat sehingga hancur begitu saja.
“Merlindia (penyihir) ya. Sepertinya cukup berbakat, tapi bukankah sangat menyusahkan? Bisa saja dia merencanakan sesuatu dengan tua bangka itu. Bagaimana menurutmu?”
“Kita tangani sekarang saja?”
“Jangan. Karena bagaimanapun juga, Tetua sialan itu sedang berada di Hadesia. Kita tunggu saja, setelah dia pergi baru kita habisi muridnya.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu.”
Dan keduanya pun pergi dari sana, tanpa menyadari kalau ada penyusup yang menonton mereka.
Hydragel Kers dan Blerda Sirena pun saling berpandangan. Menatap tak percaya akan apa yang baru saja di dengar.
Itu jelas-jelas pembicaraan terlarang menurut mereka.
“A-apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Kers pun tampak gugup sekarang. “Siapa yang ingin dihabisinya? Bukankah itu, tubuh para murid yang terluka parah saat latihan?” lirihnya dengan suara gemetar.
Sementara Blerda, mengetatkan rahangnya. Takut jelas menyelimutinya, tapi dia masih mencoba berekpsresi tenang. Sampai akhirnya suara seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua.
“Kau!”
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” panik Thertera melihatnya.
“Tentu saja mengintai mereka. Dan kau, sedang apa kau di sini?!” dan penglihatan Kers pun terganggu akibat tetesan darah yang mengalir dari tangan sosok di depannya. “Kau!”
“Ayo ikut aku!” ajak Thertera pada mereka berdua. Tapi, langkah ketiganya tertahan akibat suara yang tak disangka-sangka.
“Sedang apa kamu di sini?”
Ketiga anak itu pun berhenti bergerak dan menoleh pada sumber suara. Diintipnya, ternyata itu Helgida juga Romario yang berbicara.
Tapi, ini benar-benar di luar perkiraan mereka. Mengingat sosok tak asing berdiri di depan dua guru besar itu.
“Aku yakin kau pasti sudah diberitahu untuk tidak berkeliaran saat jam tidur.”
“Tapi aku ingin jalan-jalan.”
Helgida pun menatap masam pada anak kecil di depannya. Jujur saja, ia mulai kesal karena dibantah olehnya.
“Namamu Azkandia bukan?” Romario pun mendekatinya. “Kamu tahu? Kalau saat semuanya terlelap, tempat ini sangat berbahaya. Karena itu—” tiba-tiba muncul perisai emas yang mengelilingi mereka. “Jangan bantah peraturan gurumu, jika kamu masih sayang nyawa.”
“Itu!” kaget Kers melihatnya.
Semua terbungkam. Karena tiga buah ekor dari magma, mendadak muncul dari punggung Aza akibat serangan yang dilontarkan Romario kepadanya.
Aliran petir yang hampir melubangi tubuhnya itu seketika lenyap dari tangan guru besar keturunan bangsa manusia.
“Kau,” tatap tajam Romario Stoyan kepadanya.
“Merlindia (penyihir) magma?” Helgida terbelalak menyaksikannya.
Akan tetapi, Aza Ergo justru menyeringai tiba-tiba. Dan perisai emas Helgida langsung ternoda dengan darah di sana. Para penonton mengintai itu semua dengan ketakutan yang mendera mereka.
Perisai emas pun pecah lalu memamerkan lukisan mengerikan di hadapan mereka.
Di mana tubuh Helgida Septor dan juga Romario Stoyan dihujam ratusan duri magma yang muncul dari tanah. Darah mereka pun menghiasi sekitarnya.
__ADS_1
Dan Aza mulai menoleh ke arah yang tak terduga.
“Sudah puas?” lirihnya tiba-tiba.
Sontak saja Thertera mengeluarkan cakar besar dari tangannya. Membuat Blerda serta Kers menatap tak percaya pada kemampuannya.
“Scodeaz! (Pengendali!)” pekik mereka secara bersamaan.
“Kau,” Thertera tampak terengah-engah. Menunggu detik-detik penuh kecemasan di mana sosok Aza Ergo sedang berjalan mendekati mereka. Sambil menyeret mayat dua gurunya yang berlubang dan dipenuhi darah.
“Guider pemula ya.”
“Azkandia,” gugup Kers melihat kedatangannya. “K-kamu mau apa?”
“Entahlah. Aku mau apa ya?” sorot mata Aza pun menajam. Perlahan ia jatuhkan dua mayat itu ke tanah. Sambil seluruh jurusnya memudar di sana.
Tiga anak yang berdiri tak jauh darinya justru semakin waspada. Karena tidak tahu apa langkah selanjutnya dari anak baru di Hadesia.
“Bukankah kamu bilang jurusmu hawa panas? Kenapa—”
Kaget menghantam mereka. Karena Aza Ergo tiba-tiba muntah darah begitu saja. Dia tampak kesakitan sambil memukul-mukul dadanya. Dan tanpa keraguan Thertera mendekati dirinya.
“Kau,” syoknya sambil memegang bahunya. “Tubuhmu panas,” lirihnya lalu menoleh pada dua orang di belakangnya.
“Lalu kalau panas apa? Dia hampir saja membunuh kita!”
“Ayo kita pergi dari sini,” ajak Blerda.
“Apa!”
“Kita harus pergi sebelum ada yang datang!”
“Lalu dia bagaimana?!”
Thertera pun langsung menggendong Aza. Tak peduli apa yang baru saja dilakukan anak baru itu. Karena sosok kesakitannya benar-benar menimbulkan iba.
Mereka pun mengendap-endap dalam memasuki asrama. Lagi-lagi, lewat jalan yang berbeda. Membuat Blerda bingung seberapa jauh Thertera mengetahui struktur bangunan di sana.
Sampai akhirnya semuanya dikejutkan dengan lirihan tak terduga.
“Kalian mau ke mana?”
Sontak saja keringat dingin mulai mengucur di badan, membuat mereka terpaksa menoleh ke belakang.
Hening seketika berkumandang. Saat sinar bulan yang akhirnya tidak lagi tertutup awan, menampilkan rupa sesungguhnya dari sosok di balik bayang-bayang.
Anak muda berambut pirang. Mata emasnya begitu kontras dengan kulit eksotisnya. Dia tersenyum sambil mengangkat tangan dan mengeluarkan lentera di sana. Begitu tiba-tiba sehingga sangat mengejutkan penontonnya.
“Murid-murid asrama terakhir?” lanjutnya. Pandangannya pun menyapu rupa anak-anak itu dengan lekat. “Mm? Apa yang terjadi pada wajahmu?”
__ADS_1