
Tentunya, mereka yang mendengarkan kaget sekarang. Tanpa keraguan para guru itu ikut melancarkan serangan.
Sementara Cindaku, bersiap memakai mantranya untuk menyerap segala jiwa dan kemampuan Kers. Karena bagaimanapun juga, semua demi sekte Hadesia.
Akan tetapi, belum sempat ia membacakan mantra, sensasi dingin berkumandang di sana. Napas mereka serasa berembun sekarang. Terlebih lagi, energi aneh terpancar dari sosok yang kesakitan.
Revtel Elkaztas.
Dia yang patah tulang rusuknya bangkit dengan pesona anehnya. “Adikku ... lepaskan adikku!”
Tiba-tiba saja hampir separuh daratan Hadesia diselimuti es. Terlebih parahnya lagi, hewan-hewan yang mencoba lari untuk menghindari pertarungan terkena dampaknya.
Mereka membeku akibat hempasan dingin yang diluapkan Revtel tanpa disadarinya.
“Pengendali es?” gumam Cindaku melihatnya.
Tampak oleh mata, sebelah wajah Revtel diselimuti kemampuannya. Sementara Azakhel dari bangsa manusia terkesiap melihat kejadian yang menimpa. Di mana ia merasakan keanehan setiap menghembuskan napasnya.
“A-a-aku—” ucapnya terbata-bata.
Solea dan lainnya yang kebetulan berlindung di balik perisai Ireas pun menoleh ke arahnya. Di mana sosok guru besar tersebut memegang dadanya sambil terbelalak.
“Azakhel?”
Dirinya malah tumbang. Semua orang yang dilanda gelisah akibat pertarungan pun terkesiap melihat kejadian di depan mata.
“Azakhel!” teriak Jascuer tiba-tiba. Sontak saja ia keluar dari perisai Ireas yang melemah. Dan mendapati kenyataan tak terduga.
Kalau sosok itu bagian dalam tubuhnya telah terbekukan. Bahkan mata serta penampakan di mulutnya terlihat dihiasi es.
“Keparat!” marah Jascuer Alcendia tiba-tiba.
“Jascuer!” pekik Solea.
Karena sosok itu akhirnya melancarkan serangan membabi buta pada Revtel. Tapi, sepertinya ia lupa kalau lawan mereka ternyata bukan hanya sang Pangeran. Di mana Aza Axadion Ergo yang merupakan anak laki-laki dengan tiga garis keturunan khusus menghujani semuanya dengan magma.
Pertempuran tiga sisi itu pun meretakkan tanah Hadesia sampai akhirnya seseorang yang masih berada di asrama mulai berjalan ke arah sana.
“Dasar gila,” gumam anak laki-laki berambut perak itu. Setiap ia melangkah, aliran petir tertinggal di jejak kakinya. Telinganya perlahan-lahan memanjang dengan mata emerald menghiasi rupa. Tapi, dia memiliki tangan kanan yang cukup mencolok penampilannya.
Di mana, di sana terdapat tato beragam senjata yang memenuhinya.
“Sepertinya akan hancur,” lirih seseorang tiba-tiba.
Blerda menoleh dan mendapati rupa tak terduga. Di mana seorang anak laki-laki berjalan di udara dan perlahan mendekatinya.
__ADS_1
“Kau,” gadis itu menyipitkan mata.
“Pengendali pelayan Dewa ya,” tukas sosok asing itu.
“Siapa?”
“Xavier Lucifero. Aku, merlindia (penyihir) dari empusa.”
Selesai mengatakan itu, tiba-tiba ia mengangkat tangannya. Dengan telapak mengarah ke bawah sana. Tanpa aba-aba sebuah kejutan mengalir menyerang semuanya.
Di mana energi kasar terhempas dan menghantam sosok-sosok yang berada di daratan Hadesia.
Orang-orang yang terkena serangan pun langsung tergeletak tak berdaya akibat kemampuan anehnya.
“S-sia-pa?” Solea yang terkena jurus itu mulai mendongak ke atas. Terlihat olehnya, tiga sosok mengambang di udara.
Blerda Sirena yang duduk di atas kursi dari kumpulan tangan Capricorn, serta Xavier Lucifero yang merupakan murid dari bangsanya sendiri.
“M-mereka,” gumam Ireas akibat sakit di raga.
Tapi, rupa-rupanya ada dua sosok yang tak terpengaruh serangan tiba-tiba itu. Siapa lagi kalau bukan Cindaku Aftoria dan juga Aza Ergo.
Serangan barusan, jelas tidak berdampak apa pun pada Cindaku yang memiliki fisik luar biasa.
Sementara bagi Aza, selama lingkaran sihir aneh yang berputar di belakang punggungnya masih ada, ia akan bisa merespons bahaya di sekitarnya.
“U-uh ...” seseorang mengerang tiba-tiba.
Cindaku yang mendengar itu pun menurunkan pandangan. Di mana tangannya masih menggenggam lengan Kers. Ternyata luka bocah hydra telah pulih sepenuhnya.
“Kau—”
“Kers!” teriak Revtel yang kesakitan. Walau raganya tergeletak tak berdaya akibat serangan Xavier, sosoknya masih mencoba menyelamatkan adik sepupunya.
Dengan mencengkeram tanah, aliran es pun melesat cepat ke arah Cindaku yang menjadi incaran.
Tak menghindar ataupun menepisnya.
Kaki wanita itu, menerima serangan dengan santainya. Sampai akhirnya ia tersadar kalau ada sesuatu yang berbeda.
“Ini, bukan es biasa?” gumamnya menyadari keanehan. Sontak saja ia sipitkan mata ke arah Revtel di sana. “Dasar bocah keparat!” teriaknya lalu melempar Kers ke arah Aza.
Betapa terkejutnya Revtel, saat melihat sang sepupu tertusuk ekor magma. Kers muntah darah dan menatap sayu Aza yang menyerangnya tanpa iba. Sepertinya, lagi-lagi ia harus mati dengan cara tak berguna.
“Nigel, senka porta!” (Muncullah, gerbang bayangan!)”
__ADS_1
Tiba-tiba saja, tanah bergetar hebat seperti dilanda gempa. Tak diragukan lagi, penyebabnya pasti Cindaku yang tadi bersuara.
Sekarang, rantai-rantai bermunculan dari dalam tubuhnya dan menancap ke permukaan tanah. Menimbulkan sensasi aneh yang takkan pernah disangka-sangka.
Karena akhirnya wujud tak biasa mulai tercipta di udara, membentuk siluman harimau yang mulutnya dipenuhi tetesan air liur untuk dipertontonkan setiap pasang mata.
“Itu!” kaget Ireas menyadari level kemampuan di depannya.
“Serang!” perintah Cindaku akhirnya.
Dan ciptaan wanita itu pun melesat ke semua arah untuk menyerang siapa pun juga. Termasuk Blerda serta Xavier, juga anak-anak yang sedang bertarung dengan Vea Krusevka serta Bartigo Aertia.
Tentunya Trempusa, Orion, Thertera, dan Lascarzio langsung memamerkan kemampuan mereka. Di mana jurus masing-masingnya menghajar hewan itu tapi malah berakhir sia-sia.
Karena harimau milik Cindaku seperti arwah yang bisa pulih kembali.
Di satu sisi, Revtel yang merasa terluka akibat menyaksikan kondisi sepupunya pun dibuat tak bisa berkata-kata. Di mana para murid yang tadinya tertangkap oleh Solea merintih meminta bantuan agar diselamatkan dari gigitan harimau gila.
Salah satunya Pangeran kedua yang memanggil-manggil namanya.
“R-Revtel, t-tolong bantu aku,” isaknya sambil mengarahkan tangan kepadanya. Seperti hendak menggapai bantuan dengan tampang memilukan. “R-Rev-tel—”
Air mata yang berjatuhan pun akhirnya mampu meraih iba adiknya. Dengan geram di dirinya, Revtel akhirnya melancarkan serangan untuk membantunya.
Tapi tak tahu kenapa, jurus itu justru membekukan kakaknya. Dan yang tersisa hanya bongkahan es dari tubuh Pangeran kedua yang sudah hancur karena ulahnya.
Revtel pun bergetar hebat menyaksikannya.
“T-tidak, tidak mungkin, tidak!” teriaknya karena telah membunuh saudaranya. Tak tahu apa yang terjadi, bukannya menyelamatkan, Revtel justru membantainya.
Dan harimau yang hendak menyerangnya pun langsung membeku saat menghampirinya.
“Kenapa kalian melakukan ini padaku?” Suara yang tiba-tiba menyentak pendengaran pun mengejutkan mereka.
“Azkandia,” kaget Ireas menyadari sumber pemiliknya.
“Apa salah kakakku? Sampai dia harus mati seperti itu!” marahnya. Sepertinya, bocah itu sudah sadar sekarang. “Aku takkan pernah mengampuni kalian semua! Abteriov! Senka porta!” (Terbukalah! Gerbang bayangan!)”
Dan akhirnya Hadesia pun dihantam tsunami dari magma. Serangan kuat yang dilancarkan Aza Ergo karena sudah menyatu dengan jiwa dan kemampuan kakaknya. Di mana Laravell ternyata menyalurkan itu semua untuk menyembuhkan sakit keras adiknya.
Dan kenyataan itu tertinggal di dalam ingatan Aza. Informasi yang diberikan Laravell sebelum meregang nyawa. Dan karena hal tersebut pula akhirnya putra Maximus mendapatkan kembali kesadarannya.
Pemandangan di depan mata seperti lautan magma. Tapi satu hal yang pasti, Revtel Elkaztas masih selamat di sana. Dan esnya juga melindungi orang-orang termasuk para guru besar.
Setidaknya itulah yang ia pikirkan sebelum tahu kalau kemampuannya justru membunuh mereka. Karena siapa pun yang menghirup udara es di sekitar Revtel, akan langsung mati akibat organ mereka membeku dan juga hancur di dalam badannya.
__ADS_1