
Napas memburu. Rasa syok berkumandang, getaran di tangan enggan menghilang dan emosi mengumpat untuk dilepaskan. Begitulah keadaan mereka yang menjadi lawan. Tapi, Aza Ergo hanya memperlihatkan tampang tak peduli. Terlalu santai bahkan jika sudah melakukan hal keji pada rekan sebangsanya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Ayo maju. Kalian pasti ingin membunuhku bukan?” dirinya terkekeh.
Dan ekspresi kian masam tersirat di wajah mereka. Sidag menggenggam erat rantainya. Begitu kuat sampai jejak kuku mencekam ingin melukai telapak tangannya.
“Sidag,” tahan Tetua itu.
“Aza Ergo. Aku tak pernah mengira akan berhadapan langsung denganmu. Tapi kupastikan akan membunuhmu!” ucapnya mengabaikan peringatan pria yang sudah seperti kakeknya.
Tapi, hanya tampang angkuh dilukiskan Aza, dalam keadaan wajahnya dimiringkan. Senyum tipisnya seakan benar-benar merendahkan lawan bicara. Tak peduli bahkan jika mereka lebih tua darinya. “Yang sering menggonggong biasanya akan kalah.”
“Brengsek!”
“Sidag!” pekik Cobra karena wanita itu melesat cepat ke arah Aza. Rantai di tangan pun diturunkan seperti cambuk kejam hendak menyiksa kepala lawannya.
Akan tetapi, bunyi dentingan dari pedang sebagai penahan pun menghentikan serangan sang bangsawan Siren. Reve Nel Keres, telah turun tangan dan berdiri tepat di hadapan Aza Ergo laksana pelindung di hadapannya.
“Siapa kau brengsek!”
“Kasar sekali,” Reve tampak tak suka.
“Ingin bermain juga?” Aza Ergo merangkulnya yang ditatap aneh oleh sang pemuda.
“Tetua! Sekarang bagaimana?” Cobra melirik pak tua di sebelahnya. Bagaimanapun kondisi Gilles yang sedang dirangkulnya tidak baik-baik saja. Cairan merah masih berceceran dari kedua tangannya. Seolah mereka lupa untuk menghentikan pendarahannya.
“Siapa mereka sebenarnya?” tanya Reve pada Aza.
“Hanya mangsa yang harus dibunuh, Nak. Dan aku, akan mempertontonkannya,” sambil tertawa dan melepaskan rangkulan.
“Aza, mau apa kau?” Doxia agak kaget saat pemuda itu menjambak rambut Aquila.
“Kau!” geram Cobra dan Sidag bersamaan.
“Aku tak suka kasar pada perempuan. Tapi, kalian juga tak memberiku pilihan,” kedua tangannya pun memegang kepala Aquila Ganymede.
“Aza!” napas Sidag kian memburu.
Dan seringai lebar pun merona di bibir sang petinggi empusa. Dia, benar-benar menikmati ekspresi mereka.
“KRAK!”
“Kau ... kau ... benar-benar brengsek Aza!” teriak Cobra akhirnya. Sensasi menekan spontan berkobar di diri Sidag dan Cobra karena amarah mereka.
__ADS_1
“Kalian!”
“Jangan halangi kami, Tetua! Aku akan bunuh keparat itu!” tekan Cobra tak terima.
“Oi ... oi, mereka,” panik Doxia melihat amarah lawan Aza.
“Jika mereka menyerang bunuh saja. Tapi, aku butuh dua siren dan pak tua itu hidup-hidup. Paham?” ucapnya melirik rekannya lewat sudut matanya.
Selesai mengatakannya, Aza pun berjalan duluan. Matanya menyapu sosok-sosok lawan di hadapannya.
“Apa boleh begini?” tanya Reve tiba-tiba sambil melirik Horusca.
“Kenapa?”
“Membunuh mereka.”
Horusca pun tersenyum menatap pemuda berambut biru kehitaman yang berekspresi santai. “Aku tak yakin, tapi pimpinan kita orang gila. Lihat saja apa yang akan dilakukannya.”
Aza yang berjalan menghampiri mereka pun tiba-tiba mengangkat tangan kanannya. “Majulah,” ucapnya sambil menggerakkan jari sebagai tanda memancing lawannya.
“Hiaah!” teriak Cobra tiba-tiba. Dia langsung melompat ke arah sang pemuda tanpa keraguan. Bisa dipastikan tenaga di kakinya sangat luar biasa, mengingat dirinya langsung mendarat dan memainkan tendangan ke arah wajah lawannya.
Aza cukup lihai menghindarinya. Walau terkadang tangannya terpaksa menjadi pelindung dari serangan fisik Cobra, namun ia tidak tampak kesulitan.
Bahkan mampu membuatnya sekarat dan mengaktifkan mantra terlarang yang seharusnya tak pernah ia gunakan. Karena bagaimanapun juga, tak ada sejarah bangsa lain bisa menggunakan mantra keturunan dari bangsa hantu tersebut. Kecuali Aza Ergo dan Reve Nel Keres.
Mengingat mereka benar-benar penuh rahasia, untuk sosok-sosok yang sudah melihat kendali mantra hexlama (kutukan kegelapan) digunakan oleh keduanya. Mantra umum milik tradio, dengan pengorbanan besar dalam mempelajarinya.
“Ini, cukup menyakitkan,” lirih Aza saat melihat bahunya digores rantai Sidag. Mereka berdua mengeroyoknya, sampai-sampai menyayat pipinya untuk mengalirkan darah.
“Harus kuakui, para murid Hadesia memang bajingan,” tekan wanita berambut pixie cut tersebut.
“Bajingan karena berbakat?” Aza pun terkekeh. “Hei, Nona. Jika Blerda tahu bangsanya memasuki kawasan ini, menurutmu apa yang akan dia lakukan?”
“Jangan sebut-sebut nama gadis kotor itu di hadapanku!” berangnya sambil menghantamkan rantai untuk membelah pijakan. Seandainya petinggi empusa itu tidak bergerak cepat, mungkin saja ia akan menjadi bagian dari retakan tanah di sampingnya. Dilirik tenangnya, garis memanjang di sebelah dirinya.
“Pertarungan ini benar-benar tidak berguna. Sekarang aku penasaran, apa yang tersimpan di kawasan ini sehingga orang-orang seperti kalian menyusup kemari,” gumam Aza tiba-tiba. “Sepertinya Kers, akan sangat senang bila kubawakan hadiah yang menarik untuknya.”
Orang-orang di sana pun terdiam karena perkataan Aza Ergo menusuk kesadaran mereka.
“Kers? Hydragel Kers? Jangan bilang, dia yang memberikan kunci kepadamu?” kaget Tetua itu.
Akan tetapi, hanya seringai yang dibalaskan Aza. “Jika kalian memberi tahuku rencana kalian. Mungkin aku akan berubah pikiran.”
__ADS_1
“Jangan mimpi Aza! Rasakan ini!” Sidag pun memainkan rantainya untuk memburu sang petinggi. Bukannya menghindar tapi pemuda itu justru membiarkannya. Mengizinkan rantai lawan menggores dadanya. Dan dari luka menganga tersebut, mengalir darah pelan membasahi pakaiannya.
“Seharusnya serangan fisik tak mempan padaku. Tapi sepertinya, rantaimu itu pengecualian ya,” dan kakinya pun sontak langsung menginjak rantai lawannya.
“Ugh!” kaget Sidag dan menarik senjatanya. Itu berhasil ia lakukan, namun raut wajah Aza masalahnya. Sang pemuda sedikit pun tidak memperlihatkan kesakitan akan luka yang di deritanya.
“Dia gila!” umpat Cobra saat melihat gada miliknya, tak bisa memukul ular licik seperti Aza.
“Sepertinya, aku juga harus turun tangan.”
“Tetua!” Cobra dan Sidag menatap tak percaya pada sosok pak tua itu.
“Silakan. Aku tak masalah jika kalian semua maju,” ucapnya. Dan tangannya pun menyentuh darah di dada lalu menjilatnya. “Calsea bloodeya, senka porta! (pemanggilan berdarah, gerbang bayangan!).”
DEG!
Jantung orang-orang di sana pun tersentak. Spontan saja mereka menatap tak percaya pada Aza Ergo.
“Gawat!” pekik Rexcel tiba-tiba.
“Nigel! Flores rabidus! (Muncullah! Bunga gila!)”
“Nigel! Raika Anteria! (Muncullah! Pelindung cahaya!)”
“Nigel! Raika Anzarkia! (Muncullah! Pelindung air Dewa!)”
Begitulah teriakan yang tiba-tiba dilontarkan Horusca, Riz dan tankzeas (pelindung) milik lawan, serta Tetua dari bangsa empusa.
Semua disebabkan karena kemunculan sebuah bayangan hitam besar dari tubuh Aza. Menyeruakkan benang-benang magma namun lebih seperti tsunami kumpulan ular di mata mereka. Menerjang apa pun di sekitarnya, sampai meluluh lantakan area dan pepohonan tanpa iba.
Kemampuan Aza Ergo, terlihat seperti ingin meratakan sekelilingnya tanpa peduli siapa lawan dan kawannya. Bahkan dinding pelindung kuil Dewa Susanoo pun juga harus menerima dampak dari bergesekan dengan kumpulan ular tersebut.
Aza hanya terkekeh melihat efek dari serangannya. Menilik dari kecepatan kemampuannya, walau beberapa berhasil berlindung dan bertahan namun ada juga yang terluka.
Di antara yang terluka adalah tangan Cobra, helaian rambut pak tua, serta salah seorang dari pelukis mantra harus meregang nyawa karena terlambat berlindung pada tameng sang tankzeas (pelindung).
Sidag, berhasil meraih Gilles untuk berlindung di balik kemampuan air Tetua, namun yang paling menyedihkan adalah mantan rekan-rekannya.
Aquila, Ahool, dan juga elftraz (penyembuh) paruh baya, harus meregang nyawa karena kekejian Aza. Tak ada belas kasihan darinya, benar-benar tak satu pun iba untuk mereka yang sebangsa dengannya.
Dan dirinya, juga tampaknya tidak peduli jika harga yang harus dibayar karena sudah membunuh petinggi tidaklah murah untuknya.
__ADS_1