
Kers bersuara, tapi justru hembusan balon oksigen yang termuntahkan olehnya. Dirinya pun berenang cepat ke arah monster itu yang masih menusuk dada sepupunya.
Perlahan tangan wanita menakutkan itu melepaskan tubuh Revtel. Membuat Kers berhasil menangkap kakaknya.
Sungguh menyakitkan baginya, saat mendapati saudara sepupu yang sangat disayanginya telah meregang nyawa. Ditatap tajamnya monster itu dengan wajah penuh amarah.
Tapi, entah kenapa wanita itu menyodorkan jantung di tangan ke arah bocah hydra.
“Jabat perjanjianku, dan akan kukembalikan jantung ini kepadamu,” lirihnya dan diiringi tawa di akhir kata.
“Aku akan membunuhmu,” geram Kers mulai memperlihatkan aura yang tak biasa.
“Silakan, dan dia akan benar-benar mati,” kekehnya.
Hal itu pun berhasil meredam amarah Kers yang hampir menggila. Ditatap lekatnya wajah tak berbentuk Revtel, sambil dipeluk eratnya.
“Apa yang kau inginkan?”
“Mantra yang mengikatku. Dan itu berada di Hidea.”
“Hidea? Tempat di mana prasasti kuno berada? Kau gila?! Tak ada seorang pun yang tahu di mana jalan masuknya atau bagaimana cara ke sana!”
Tapi, justru kekehan keras yang diberikan wanita itu sebagai balasannya. Benar-benar merinding melihat rupanya, di mana mata merah serta mulut robek di wajah berkulit hitam tersebut seperti malapetaka untuk para penontonnya.
“Apa kau yakin?” sosok mengerikan itu mulai mendekat. Tak tahu kenapa, rasa gugup kian mendera Kers saat disentuh olehnya. “Jantungmu tahu di mana letaknya.”
Sontak saja ditepis sang anak tangan yang hampir menyentuhnya. Takut menyelimuti seolah akan mati tiba-tiba di tangan monster di depan mata.
“Jika aku pergi ke sana, apa kau akan mengembalikan jantung Revtel?”
“Ya. Jika kau lepaskan segel yang mengikatku sebagai gantinya.”
Kers menunduk. Walau sang sepupu berada di pelukannya, sorot matanya bisa melihat tebaran darah dari dada berlubang Pangeran haram bangsa hydra. Bercampur air yang menyelimuti mereka.
“Apa yang harus kulakukan kalau begitu?”
“Hancurkan jantungmu, dan kau akan tahu jawabannya.”
Tak bisa dipungkiri, kalau mata Kers terbelalak mendengar omong kosong yang dilantunkan di depannya. “Kau!”
“Kau takkan mati, Yang Termulia. Karena kau makhluk abadi.”
Raut wajah Kers pun langsung menegang mendengarnya. Rasanya menakutkan saat panggilan seperti itu disematkan pada dirinya.
“Cindaku Aftoria, itulah namaku. Jangan lupakan perjanjian kita, karena anak inilah taruhannya.”
Selesai mengatakannya, wanita mengerikan itu pun menusuk dada Kers lewat lubang menganga di tubuh Revtel.
Seketika napas putra Hydrea tercekat dibuatnya, seolah lehernya dipenggal secara tiba-tiba. Dan jantungnya pun dikeluarkan Cindaku dari dalam raga. Lalu dihancurkan tepat di depan matanya.
“Kutunggu janjimu, wahai sang Dewa kegela—”
“Kers! Revtel!” pekik seseorang tiba-tiba. Kers terkesiap saat menyadari sosoknya berada di pinggiran danau. “Kers!” panik Bragi Elgo menyaksikan dirinya.
Dalam keadaan mulai bangkit dari posisinya, bocah hydra itu melirik ke sebelahnya. Di mana rupa mengerikan Revtel tampak di mata, namun dadanya tidak berlubang lagi.
“Kers, dadamu,” perkataan pak tua itu berhasil mengalihkan atensinya. Sekarang, justru adik sepupu Revtel yang menampilkan wujud tak biasa. Di mana Kers melihat pakaiannya sudah berlumuran darah akibat lubang menganga di tubuhnya. “Kers, kamu—”
Tapi justru senyum yang dibalaskan anak itu pada sosok penolongnya. Perlahan disentuhnya wajah Revtel bersamaan dengan munculnya retakan di rupa sendiri.
“Kers.”
“Revtel akan mati, karena itu tolong bawa aku dan dia ke Hidea. Karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kami berdua. Aku mohon kepadamu, Yang Mulia.”
Dan mata Kers pun tertutup dengan sempurna. Tubuhnya yang tumbang justru tergantikan oleh kebangkitan Revtel secara tiba-tiba.
Tentunya hal tersebut sangat mengejutkan Bragi Elgo saat menyaksikan pemandangan di depan mata. Di mana rupa pangeran bungsu kerajaan hydra sudah pulih seperti sedia kala.
Tapi mendadak Revtel justru menangis keras di hadapannya. Memeluk Kers dengan erat sambil melirihkan kata tak terduga.
Berupa maaf, di mana rohnya saat berada di danau menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di dalam sana.
Kalau sang adik mengorbankan semuanya untuk dirinya. Dan tubuh mendingin Hydragel Kers pun mulai memucat tampilannya.
Ia telah mati sepenuhnya di depan mata kedua orang di sisinya. Seekor gagak hitam tiba-tiba bertengger di bahu Bragi Elgo dan meledak menjadi serbuk merah di hadapan mereka.
Sebagai tanda kalau hewan itu merupakan sosok dari jantung Kers yang memberitahukan jalan menuju Hidea.
Sungguh benar-benar di luar prasangka, namun tak ada gunanya buang-buang waktu lagi. Mengingat Revtel akan mati dalam tiga hari jika mereka tidak sampai di Hidea saat itu juga.
“Eh? Latihan lagi? Untuk apa? Aku tidak ingin jadi kuat! Aku hanya ingin jadi orang kaya,” keluh Heksar Chimeral di depan kakek dan neneknya.
“Dengar, Nak. Kalau kamu tidak kuat, bagaimana caramu bertahan hidup di dunia? Kamu bisa ditindas orang-orang dan mati sia-sia.”
“Ya, kan ada Ksatria. Mereka bisa melindungiku. Kalau aku kaya bukannya aku bisa menyogok penjahat? Jadi kami tidak perlu bertarung dan sama-sama hidup damai.”
__ADS_1
Sungguh pak tua yang mendengarkan ocehan cucunya tak habis pikir sekarang. Kenapa bocah ini keras kepala sekali? Padahal perintahnya itu merupakan kebaikan untuknya. Mengingat kerasnya hidup di dunia guide untuk mereka yang lemah dan tak berguna.
Tapi, tiba-tiba seekor gagak memekik keras di hadapan mereka. Terbang cepat lalu hinggap di bahu pak tua.
Seperti dikejar sesuatu namun dirinya tak tahu itu apa.
“Cih! Apa-apaan burung ini? Bulunya rontok, Kek!” keluh Heksar saat melihat serpihan lembut dari hewan itu berhampuran ke atas piringnya.
Benar-benar merusak nafsu makan menurutnya. Namun pak tua itu menyentuh sang hewan sehingga pecah menjadi serbuk di depan mata.
Tampak bagi istri dan cucunya, kalau mantan Raja chimera itu berubah ekspresi wajahnya.
“Heyka, tolong siapkan banyak bunga lily, ada tamu penting yang akan datang sebentar lagi.”
Mendengar permintaan suaminya, sontak istrinya berdiri dan pergi secara terburu-buru dari sana.
Tentu saja Heksar jadi bingung melihat sikap kakek dan juga neneknya.
“Ada apa, Kek?”
Pak tua itu malah tersenyum ke arah cucunya. “Tidak ada apa-apa. Kita hanya akan kedatangan tamu. Kamu istirahat saja, jangan ke mana-mana,” lirihnya dan berlalu meninggalkan cucunya.
Hal tersebut justru membuat Heksar semakin mengernyitkan wajah bingung karenanya.
Sampai akhirnya, sosok yang berhasil membawa dua murid Hadesia dengan penuh usaha, menginjakkan kaki di sana setelah dua hari kematian salah satunya.
Heksar yang menyaksikan pemandangan dari lantai dua pun mengernyitkan wajah bingung melihatnya.
Tampak di mata, seorang pak tua menggendong anak laki-laki yang mungkin sebaya dengannya.
Tapi anehnya sosok itu begitu pucat dan aneh wajahnya. Sementara di sebelahnya, seorang pemuda menangis sambil memegang tangan dia yang tak berdaya.
“Yang Mulia.”
“Hargia, aku mohon tolong bantu kami,” pinta Bragi Elgo pada kakek Heksar Chimeral.
Dan pak tua itu pun menyentuh anak yang berada di belakang punggung kenalannya. “Tapi dia—”
“Aku mohon,” sosok Raja empusa tampak benar-benar memohon kepadanya.
“Ayo,” ajaknya.
Dan mereka pun memasuki rumah yang bersebelahan dengan kediaman mantan Raja chimera. Di mana Heksar sedang menatap lekat tiga orang yang mengikuti kakeknya.
Diperhatikan dengan penuh selidik, sampai akhirnya tatapannya berakhir pada rupa yang tak bergerak itu.
Perlahan, Bragi Elgo pun merebahkan Hydragel Kers di atas sofa.
“Dia,” kaget Hargia melihat lubang di dadanya.
“A-aku mohon, tolong selamatkan adikku. A-aku mohon,” pinta Revtel sambil terisak-isak.
Kakek Heksar pun meneguk ludah kasar mendengarnya. Tangannya lambat laun menyentuh wajah Kers, dan terbelalak mendapati kenyataan yang ada.
“Dia sudah mati sejak dua hari yang lalu?” kagetnya sambil melirik tak percaya ke arah Bragi Elgo. “Apa yang bisa kulakukan?! Ini jelas mustahil, Yang Mulia!”
“Tolong berikan aku bola api untuk ke Hidea.”
Terkesiap. Pak tua itu terbelalak. Tak menyangka akan ocehan yang dilontarkan kenalan terhormat di depannya.
“Hidea?! Mau apa anda ke sana?!”
“Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka berdua. Aku mohon, Hargia. Bagaimanapun hanya kamu yang bisa membantuku, karena mereka merupakan keturunan berharga milik hydra. Aku mohon.”
Tak habis pikir. Apa yang ada di dalam otaknya? Mantan pemimpin itu menatap jengah ke arahnya. Diliriknya Revtel yang masih saja terus menangis sambil menggenggam tangan adik sepupunya.
“Hidea bukan tempat untuk membangkitkan orang mati. Bahkan tak ada yang tahu jalan masuknya.”
“Aku tahu, karena itu aku butuh bola api. Hanya itu yang bisa membantu kami untuk memasukinya.”
Hargia menggelengkan kepala. Masih tak bisa menerima keinginan Bragi Elgo yang jelas-jelas sangat berbahaya menurutnya.
“Yang Mulia, apa yang ingin anda lakukan?”
“Aku mohon, Hargia.”
“Bahkan jika kalian berhasil menemukan jalannya, tak ada yang tahu apa saja isi di dalamnya selain batu aneh itu.”
“Mereka masa depan dunia Guide, Hargia. Aku mohon,” mantan Raja chimera tersentak. Benar-benar tidak menyangka akan tindakan tak terduga pria tua di depannya. Batinnya bergemuruh saat menyaksikan Bragi Elgo menundukkan kepala.
“Yang Mulia!”
“Aku mohon, Hargia. Tolong bantu aku, bagaimanapun juga mereka sudah seperti cucu bagiku. Aku mohon.”
Dengan mengepalkan tangan dan menegaskan rahang, pak tua itu pun akhirnya menyetujuinya.
__ADS_1
“Baiklah, Yang Mulia. Tapi tolong angkat kepala anda. Karena seorang Raja, tidak pantas menundukkan wajahnya pada siapa pun juga.”
“Jabatan tak ada artinya dibandingkan sebuah nyawa.”
Pernyataan itu, membuat kakek Heksar terdiam. Perlahan disentuhnya kepala Revtel dan dielus lembutnya.
“Semoga Dewa memberkatimu dan juga adikmu, wahai masa depan bangsa hydra.”
Selesai mengatakan itu, Hargia pun bangkit dari posisinya. “Akan kuambilkan bendanya, silakan beristirahat dulu, Yang Mulia.”
“Terima kasih.”
Sepeninggalan pak tua itu, Bragi Elgo pun menyentuh bahu Revtel. “Adikmu pasti akan baik-baik saja. Percayalah.”
“T-tapi, ini semua gara-gara aku. Karena aku Kers terluka, karena aku juga dia membuat perjanjian dengan monster mengerikan itu. Karena aku—”
“Monster?” kaget sang Raja mendengarnya. Sampai akhirnya seseorang mengetuk pintu dan mengalihkan perhatian mereka.
“Selamat malam, Yang Mulia.”
“Ah, selamat malam Heyka.”
Istri dari Hargia itu pun masuk sambil membawa sekeranjang besar bunga lily.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda lagi, Yang Mulia.”
Bragi Elgo tersenyum mendengar sambutan dari sepupunya. “Tak perlu sekaku itu.”
Tentunya Heyka tersenyum mendengarnya. Sampai akhirnya guratan itu memudar seketika saat mendapati penampakan mengerikan tak jauh darinya.
“I-itu!” kagetnya. Bragi Elgo tampak tertunduk sedih sekarang. “Anak siapa ini? Apa yang terjadi padanya?!”
“Dia daun muda sekaligus masa depan bangsa hydra. Sama seperti anak ini dan juga Heksar.”
Mendengar itu Heyka beralih menatap sosok yang menangis di samping sofa. Disentuhnya kepala Revtel dan dielusnya.
“Lalu, apa yang akan anda lakukan selanjutnya?”
Tapi tiba-tiba pintu kembali terbuka dengan kedatangan mantan Raja chimera ke dalamnya. Benda di tangannya benar-benar mengejutkan istri dan Bragi Elgo.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Heyga.
“Bola api. Terima kasih sudah memetikkan bunga itu, Heyka,” lirih suaminya.
Dan ia pun mengangkat keranjang bunga lily ke atas meja. Berdekatan dengan sofa tempat pembaringan Kers.
Sungguh benda yang dibawa mengusik para penontonnya. Di mana botol kaca itu berisi tujuh jantung berselimutkan air biru nan indah warnanya.
Perlahan, penutup botol dibuka dan memancarkan aroma seperti daging yang dibakar.
Bagi Revtel, ini jelas tontonan yang aneh dan menakutkan. Tapi bagi Bragi Elgo serta Heyka, mereka sudah memakluminya.
Mengingat sosok Hargia Chimeral merupakan elftraz (penyembuh) yang cukup ahli dalam berurusan dengan mantra roh.
Entah apa yang ia bacakan, tapi saat telapak tangannya menyentuh permukaan kumpulan bunga juga bibir botol kaca, keduanya langsung terbakar oleh api biru.
Begitu benderang sinarnya, menampilkan kilauan yang cantik di mata dan Heksar dari dalam kamar bisa melihatnya.
Percikan cahaya biru itu sontak saja mengundang rasa penasarannya. Tanpa keraguan ia melompat melewati balkon. Dengan posisi mendarat yang tampak sempurna.
Dari jendela kaca diintipnya kejadian yang sedang terjadi di sana.
Tampak olehnya seorang anak laki-laki asing terbaring dengan lubang di dada. Seketika tangannya menutup rapat mulut yang hampir menyemburkan teriakan.
Perlahan, dua benda yang terbakar itu mulai bergerak mengudara dan mengambang di hadapan mereka.
Seolah berusaha menyatu sampai menjadi abu. Tiba-tiba terbentuklah percikan api hijau bersamaan dengan lenyapnya kedua benda itu.
Revtel terkesiap begitu pula dengan Heksar. Karena ada sebuah mata aneh di dalamnya. Berwarna biru menyala dan langsung berbalik menatap ke arah Kers.
“Terima kasih, Hargia.” Ucapan dari Bragi Elgo pun membuat suami istri dari bangsa chimera menatap penuh arti kepadanya. “Suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan kalian berdua.”
Dan digendongnya mayat itu kembali ke punggungnya. “Tunggu, anda mau ke mana lagi?” kaget Heyga.
Tapi, bukannya jawaban malah senyuman yang dibalaskan olehnya. Hargia pun menyentuh bahu istrinya.
“Semoga perjalanan kalian bertiga, diberkati para Dewa,” ucap pak tua itu sebelum melepas mereka.
Walau masih tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Revtel pun membungkuk hormat untuk mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.
Bagaimanapun juga, sepertinya api hijau yang sedang mengambang di penglihatan mungkin saja bisa membantu adiknya. Terlebih mata biru yang diselimutinya, bergerak tak tentu arah di sekitar Kers.
Tak peduli apa pun yang terjadi, Kers harus hidup kembali karena hanya dia anggota keluarga tersayangnya yang tersisa.
__ADS_1