
Berat sensasinya.
Seolah hendak mencekam, itulah yang dirasakan para guider setelah teror di udara tadinya. Sekarang semua kembali normal, tapi beberapa sosok yang terikat tahu akan kenyataannya.
Di mana seorang monster telah terbangkitkan.
Bragi Elgo.
Mantan Raja empusa, menatap telapak tangannya yang bergetar. Setelah tadinya pingsan karena mantra Reygan dicuri paksa darinya, ia pun tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Kalau dirinya benar-benar takut untuk berhadapan lagi dengan monster yang susah payah di penjarakan.
Izanami Forseti.
Napasnya sungguh terengah-engah. Rekan terdekatnya jelas cemas, namun tak satu pun dari mereka bersuara. Kecuali menatap laki-laki yang tampak frustrasi dalam bersandar pada sebuah pohon di bibir hutan Lagarise.
Barca Asera.
Pak tua penjual rongsokan, masih diam memandang sebuah lukisan di ruangan miliknya. Sebuah gambaran di mana beberapa orang tampak dipenuhi senyuman di dalamnya. Dan Reygan Cottia salah satunya.
Noa Krucoa.
Sang Raja bangsa kurcaci. Menatap diam pada ruangan yang dipenuhi tanaman itu. Matanya tertuju pada satu bunga, memancarkan aroma serupa sang penyimpang mengerikan yang telah terjaga. Lily dan juga kayu cendana, itulah bau yang dimiliki Reygan Cottia.
Sif Valhalla.
Penampilannya begitu berbeda daripada sebelumnya. Walau masih tergeletak tak berdaya di sebuah pemakaman, tapi perubahan drastis telah terjadi pada wujudnya. Sekarang, fisiknya jauh lebih muda seperti remaja berambut biru juga bermata aquamarine yang tajam.
Ada tato serupa milik Reygan Cottia di dahinya. Tapi satu hal yang pasti, tiga tahi lalat kecil yang sejajar di bawah mata kanannya semakin memperindah visualnya.
Aegayon Cottia.
Sang Raja bertubuh ringkih itu masih dengan pakaian tidur kebesarannya. Tetap melirik keluar lewat celah gorden di jendela, dan sosoknya mulai menarik kain itu agar bisa melihat lukisan pemandangan di luar kamarnya.
Dan bibirnya memamerkan guratan tipis di sana.
Olea Zoiyaveira.
Sang ibu dari Aza Axadion Ergo. Menutup mata di dalam sebuah peti mati yang tersembunyi di balik air terjun di sebuah tebing. Begitu pucat kulitnya, rupanya mirip dengan putranya. Tapi dia memiliki tanduk selayaknya unicorn dan sepasang sayap rusak yang dihimpit tubuh matinya.
Begitulah wujudnya yang sebenarnya.
Zeus Vortha.
Mantan Raja bangsa elf. Dikenal sebagai monster bermuka dua. Sosok yang bersembunyi dalam peti mati curian Kuyang. Menutup mata dalam visual tenangnya, pria dengan rupa mirip Dewa Zeus namun berambut hijau.
Satu hal yang pasti tentang dirinya, tubuhnya di dalam peti itu diselimuti oleh tanaman merambat nan memamerkan bunga mawar.
__ADS_1
Laszea Arentio.
Bibi dari Arigan Arentio. Penampilannya seperti orang gila, di mana tubuhnya dirantai dan dipasung di penjara bawah tanah kediaman bangsawan Masamune di empusa. Sorot matanya tajam bak singa betina. Namun anehnya sosoknya memancarkan seringai lebar di bibirnya.
Danzo Yukimura.
Mengenaskan kondisinya. Dia seperti disalib di sebuah pohon akasia. Sosoknya layaknya semuda Logan Centrio, namun kondisinya yang menutup mata begitu menyedihkan rasanya. Karena seakan menangis darah dalam wujud tak sadarnya.
Pohon yang menjadi penopang raganya dikelilingi kolam darah. Bahkan ada banyak helaian rambut mengapung di sana. Sementara seekor burung merak berjalan di daratan tepi seperti mengawasinya.
Tobial Vascogama.
Sibuk merayu para gadis di dunia manusia. Menebar sensasi playboy kelas kakap yang luar biasa. Sesekali mengedipkan mata pada rupa manis di sekelilingnya. Namun seorang wanita yang sedang makan bersamanya pun menyiramnya.
“Dasar laki-laki bajingan! Mata keranjang! Kau pikir aku apa?! Bisa-bisanya kau mengedipkan mata pada perempuan lain saat sedang bersamaku! Kita putus!”
“Misa! Tunggu dulu, Misa! Bagaima— agh! Sial!” umpatnya tiba-tiba. Sosoknya langsung mengeluarkan beberapa lembar uang di meja dan pergi menuju toilet di sana.
Membuang ikan tak bertulang yang sudah sewajarnya disetorkan pada closet duduk di bawahnya.
“Sial! Bisa-bisanya perutku tidak paham situasi begini,” keluhnya. “Agh, aromanya seperti angin dari neraka,” kekehnya.
Tapi perlahan ia tatap telapak tangannya. Di mana sebelumnya menjadi sumber pesakitan yang hampir membunuhnya.
“Sial! Apa mungkin Pak tua Reygan itu benar-benar bangkit? Dia pasti akan mencariku bukan? Aah! Kenapa juga aku jadi juru kunci?! Kalau dia benar-benar lepas aku pasti mati!”
Castroz Keres.
Itulah namanya. Rambutnya biru dan matanya selayaknya samudera terdalam mirip Reve Nel Keres. Mungkin mereka sebangsa, tapi dirinya di tempat itu tidak sendirian saja.
Ada seorang pemuda dengan separuh wajahnya normal namun sisanya serupa tengkorak yang diselimuti asap hitam.
Dialah Laraquel Hybrida.
“Sepertinya, dia memang sudah bangkit.”
Castroz pun menoleh pada sosok yang berbicara. “Karena itu kamu datang kemari?”
Tampang setengah tengkorak itu pun mengibarkan senyumnya. “Mungkin saja. Mungkin juga tidak.”
Laki-laki berambut jamur itu pun memetik salah satu bunga lily yang tumbuh di halaman rumahnya. “Dia pasti akan datang.”
“Tentu saja. Guruku itu, pasti akan menghabisi para penusuknya.”
“Apa kamu menyesal?”
__ADS_1
Laraquel pun tertawa. Entah apa yang lucu dari pertanyaan kenalannya. “Ya. Tentu saja aku menyesal. Karena dia tidak mati di tanganku.”
Castroz pun menyipitkan matanya. “Kau murid kurang ajar.”
“Terima kasih pujian, teman,” kekehnya dan berlalu dari sana.
Sementara di kediaman bangsa gyges, Beltelgeuse Orion merasakan sensasi mengerikan di kawasan itu. Seolah kematian sedang menjemputnya secara perlahan. Dan dirinya pun menengadah memandang langit. Angin ribut mulai datang dari sana tepat di depan matanya.
“I-ini!” gumamnya dengan tubuh gemetaran.
Sementara Serpens yang sedang melangkah hendak menemui Komandan Ksatria terdiam sekarang. Karena lewat jendela yang mengarah ke barat, terlihat penampakan aneh dari kejauhan.
Seperti seseorang namun ditemani benda aneh yang melayang. Semakin diperhatikan itu jelas mengarah ke kawasan mereka. Dan Wakil Raja itu menjadi tidak tenang menyaksikannya.
“Di sini ya.”
“Benar. Di sinilah tempatnya,” ucap pria berambut pirang pada wanita jejadian di sebelahnya.
“Apa aku boleh makan?”
“Silakan. Makan sebanyak yang kau mau, Kuyang,” seringai Reygan Cottia.
Dan sosok yang masih berdiri di kamarnya menoleh ke arah barat. Di mana pandangannya terhalang oleh dinding kokoh yang dihiasi lukisan.
“Akhirnya kau datang, Ayah.”
Dan teriakan di kawasan kota pun berkumandang secara tiba-tiba. Karena seorang wanita menjerit akibat anaknya dimakan sosok aneh yang mengerikan rupanya. Siapa lagi kalau bukan Kuyang, manusia jejadian yang menerima kutukan sehingga menjadi siluman tanpa badan dan cuma memamerkan kepala serta organ dalam melayang.
Dia memakan anak-anak serta wanita gyges tanpa ampun dan juga tidak berperasaan.
“Serang!” teriak salah satu pria yang merupakan seorang guider level komandan.
Sementara Reygan Cottia menghentikan langkahnya di udara tengah kota. Menatap kekacauan yang ditimbulkan oleh rekan penyimpangnya.
“Siapa kalian? Brengsek!” ucap Serpens tiba-tiba yang datang bersama Beltelgeuse Orion.
Dan Reygan Cottia pun terkekeh melihatnya. “Sepertinya kalian lumayan hebat.”
Tersentak. Serpens serta Orion tak bisa berkata-kata, karena pria itu sudah berdiri di antara mereka, sampai akhirnya sebuah suara yang indah mengalihkan perhatian semuanya.
“Jangan sentuh mereka, Ayah.”
__ADS_1