Death Game

Death Game
Sosok pajangan di lemari kaca


__ADS_3

 “Hei! Apa kau yakin kita akan baik-baik saja? Entah kenapa aku merasa seperti berada di sarang singa,” lirih Doxia dengan raut muka tidak tenangnya.


Bagaimanapun juga, kelompoknya sekarang berisitirahat di rumah Aza Ergo. Kediaman sang pengendali magma di tanah empusa.


Terlebih parahnya lagi, bukan hanya ada mereka. Tiga orang dari kubu pengkhianat juga turut hadir di sana. Siapa lagi kalau bukan Arigan Arentio, Thertera Aszeria dan juga Zargion Elgo.


“Wah, sepertinya petinggi menyebalkan itu suka mengumpulkan teman ya? Tampaknya dia sudah berubah,” Arigan terkekeh menyaksikan tampang-tampang anggota seperjalanan petinggi muda itu.    


Orang-orang yang menyaksikan itu, memilih diam mendengarkan.


“Mm? Aromamu agak aneh. Siapa namamu anak tampan?” lirihnya sambil menatap Toz dan Reve bergantian.


“Oh, namaku Toz Nidiel, Tuan. Ini temanku, Reve Nel Keres. Dan ular ini Near serta yang ini temanku Riz Alea. Kalau yang itu Horusca Aste, Tuan Rexcel Sirenca, Doxia Mero serta Tuan Osmo.”


Sungguh penjelasan panjang lebar darinya. Tapi entah kenapa Toz merasa nyaman berbicara dengan Arigan yang tampak lebih ramah dibandingkan lainnya.


“Cincinmu, scodeaz (pengendali) ya.”


“Ah iya, aku scodeaz (pengendali) tipe serigala.”


“Oh, kalau tidak salah, Ilhan Leandro dari bangsa manusia juga serigala.”


“Sepertinya kemampuan itu sangat umum ya,” kekeh Toz menanggapinya.


“Yah, begitulah. Tapi setidaknya ada berbagai jenis serigala. Benar juga, apa kamu bisa melepaskan roh hewanmu menjadi senjata?”


“Roh hewan jadi senjata?!” Toz malah kaget mendengarnya.


“Benar. Karena temanku itu bisa melakukannya,” jelas Arigan sambil menunjuk Thertera yang sibuk membaca buku. “Apa kamu juga bisa?”


“Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan kemampuanku.”


“Masih pemula ya,” angguk Arigan akhirnya.


Sementara, kehebohan terjadi di aula istana bangsa empusa. Di mana Ragraph Revos yang merupakan calon petinggi, terlibat perdebatan dengan para Tetua serta bangsawan di sana.


Sampai akhirnya pintu utama kembali lagi terbuka dan mengalihkan atensi beberapa orang.

__ADS_1


“Kau!” kaget Tetua yang paling dihormati saat menyadari sosok di depan pintu.


Sontak saja orang-orang berpaling ke sumber pandangan. Mendapati petinggi berambut hitam kemerahan dan juga berpakaian dengan warna senada.


“Wah, ada apa ini? Ke mana sepi begini?” lirih Aza tiba-tiba.


Tentu saja, dua bersaudara Revos menatap tak percaya dengan kehadirannya.


Tanpa ragu Aza berjalan ke salah satu kursi yang ada.


“Aku baru datang dan kudengar ada pertemuan jadi aku mampir saja,” ucapnya santai sambil menopang wajahnya dengan punggung tangan kanan.


“Aza Ergo, bahkan jika anda seorang petinggi, anda pikir anda duduk di kursi siapa?”  


“Memangnya aku duduk di kursi siapa?”


“Itu kursi Tetua Masamune!”


Tiba-tiba raut wajah Aza berubah. “Pak tua pengkhianat itu?”


“Apa katamu!”


“Tapi bagaimanapun juga, Trempusa juga salah karena tidak cepat turun tangan untuk membasminya. Andai dia bergerak cepat, maka orang-orang kita takkan mati begitu saj—”


“Apa yang anda bicarakan?” potong Aza Ergo. “Dia Raja, kenapa Yang Mulia kita harus langsung turun tangan? Apa gunanya pasukan di istana? Wah, pantas saja bangsa ini dicap payah. Ternyata, anak buah kita banyak yang tidak berguna ya.”


Orang-orang pun meradang mendengarnya. Dibandingkan Ragraph Revos dengan karakter pembangkang, Aza Ergo jelas bukan sosok yang diharapkan untuk jadi lawan bicara.


Tak peduli semuda apa dirinya, dia tetaplah petinggi senior di bangsa empusa. Bahkan jika orang-orang ingin mengabaikan sosoknya, itu tak menolak kenyataan kalau pengendali magma tersebut diakui rakyat sebagai atasan dengan kemampuan terbaik di sana.


“Jaga bicaramu Aza Ergo. Lawan kita itu cerberus. Bagaimanapun juga, memang cuma Raja kita yang paling hebat dan mampu membunuhnya. Bukankah sudah seharusnya dia turun tangan untuk melindungi rakyatnya? Kamu tidak tahu apa-apa, karena kamu tidak ada di saat kejadian.”


Akhirnya, Aza Ergo terdiam. Bukan hanya dirinya, tapi Trempusa yang merupakan pemimpin di sana juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Tak peduli seperti apa ucapannya karena orang-orang itu tak akan begitu mendengarkannya.


Dia seperti perhiasan mewah namun cuma sekadar pajangan. Membuat Ragraph kian kesal dengan lirihan orang-orang yang menyudutkan kakaknya.


“Lalu? Apalagi masalahnya? Cerberus sudah mati kan?”

__ADS_1


“Cerberus memang mati! Tapi orang-orang kita juga mati! Dan itu semua karena kelalaian Yang Mulia yang terlambat menghentikannya! Padahal rakyatmu sedang dibantai! Bagaimana bisa kamu tidak membunuh makhluk itu dari awal?! Kamu sengaja ya!” hardik salah satu bangsawan di seberang Aza.


“Inilah akibatnya menjadikan rakyat campuran sebagai Raja. Benar-benar bodoh dan tidak berguna.”


“Kau!” geram Ragraph tiba-tiba. Trempusa pun langsung berdiri menahan dada adiknya. “Apa yang Kakak lakukan?! Kakak tidak dengar kalau mereka semua sedang merendahkanmu!”  


“Cih!” decih bangsawan yang tadi mengatai mereka.


Dan Aza Ergo sebagai penonton di sana, hanya melirik kakak seperguruannya. Benar-benar Raja menyedihkan menurutnya.


“Jadi, apa itu berarti kalian ingin Trempusa turun tahta?”


Dua bersaudara Revos pun terkejut mendengarnya. Bersamaan dengan itu, beberapa orang mengibarkan senyum pada pengendali magma yang berbicara.


“Bukankah hanya itu pilihan kita?” balas Tetua yang paling disegani itu. Sorot matanya, tampak menatap remeh pada dua bersaudara yang agak jauh darinya.


“Benar juga. Lalu saat pengangkatan Trempusa jadi Raja, siapa saja saksi sumpahnya?”


Sungguh kalimat Aza Ergo mengundang rasa tak percaya Raja empusa. Walau dia memang tak pernah ingin menjadi Raja, tapi itu tidak menolak kenyataan kalau sosoknya benar-benar sendirian.


Tak ada yang memihaknya, bahkan saat jabatan itu terpaksa disandangkan ke kepalanya. Dia benar-benar seperti pajangan dalam lemari kaca.


Mewah namun serasa tidak berguna.


“Bragi Elgo, Barca Asera, Legion Ganymede, dan juga Noa Krucoa. Merekalah saksi sumpah sekaligus pengujinya.” Tapi, entah kenapa Aza Ergo malah tertawa mendengar nama-nama yang disebutkan salah satu bangsawan cerewet di seberangnya. “Apa yang lucu?” 


Perlahan, pengendali magma melirik kakak seperguruannya. “Sepertinya karena terlalu berambisi menurunkan Raja, kalian lupa aturan bangsa-bangsa.”


“Aza,” Trempusa menatap lekat ke arahnya.


“Siapa pun berhak menjadi Raja, tak peduli seperti apa latar belakangnya, bahkan jika mereka pendosa, mereka pantas duduk di atas tahta dengan tiga syarat di dunia. Trempusa memenuhi ketiga syarat itu, lalu atas dasar apa kalian bisa menurunkannya? Tanpa izin dari para saksi sumpah, sebuah bangsa tidak berhak menendang pimpinannya kalau bukan karena tiga perkara. Kelalaian pada insiden cerberus jelas-jelas tidak masuk dalam pelanggaran kekuasaannya. Jadi hentikan omong kosong ini dan pulang ke rumah masing-masing. Ayo Trempusa, ada pekerjaan yang harus kita lakukan.”


Aza Ergo pun tiba-tiba berdiri dari duduknya dan mengajak dua bersaudara itu pergi dari sana.


“Aza Ergo! Lancang sekali kau! Pertemuan ini belum sele—”


Tersentak. Orang-orang terbungkam, saat melihat ekor magma tiba-tiba menyeruak dari punggung sang petinggi yang berjalan. Perlahan dirinya pun menoleh ke belakang.

__ADS_1


“Jika kalian semua mati di sini, siapa yang akan menjadi saksinya?”  


__ADS_2