
Akhirnya Revtel terdiam. Sorot mata menekannya berubah. Seperti enggan melanjutkan pembicaraan.
“Kembalilah ke kamarmu, Kers. Aku ingin beristirahat.”
Dan Raja hydra pun menyentuh bahu kakak seperguruannya itu sebelum pergi dari sana.
Tapi, kalimat perpisahannya benar-benar menyentak hati sosok di sebelahnya. “Jangan merasa bersalah, teman. Karena bagaimanapun juga, kau tetaplah yang terkuat di dalam bangsa kita.”
Lalu sosok pemakan anggur itu pergi dengan memamerkan senyuman di bibirnya. Revtel meliriknya, memperhatikan punggung pemimpin bangsanya.
Tak tahu harus mengatakan apa, jika sudah membahas masalah di Altar Hidea. Dirinya benar-benar tak berkutik, dalam pembicaraan yang berkaitan dengan nyawa.
“Jadi, besok orang-orang itu akan pergi?” tanya Reve pada petinggi empusa.
“Ya.”
“Jujur aku takut. Kupikir kita akan ketahuan oleh para petinggi itu tadinya.”
Semua pun melirik ke arah Doxia yang berbicara.
“Tenang saja. Bagaimanapun juga, takkan ada yang bisa mendeteksi kalian karena sayap kanan di bawah kekuasaan Blerda.”
“Tapi, kenapa Raja siren mau melakukan itu semua untukmu? Apa sebenarnya hubungan kalian?” Rexcel tampak penasaran.
“Aku adik seperguruannya.”
“Benarkah? Di Hadesia?”
“Ya.”
Rexcel dan Doxia pun mengangguk paham. Sampai akhirnya pria pemakai kapak itu kembali bersuara.
“Hei, bos! Aku selalu penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di Hadesia? Kudengar itu pelatihan berdarah untuk calon petinggi dan Raja.”
“Memang benar,” jawab santai Aza apa adanya.
“Lalu? Kenapa tempat itu sekarang disebut sebagai kota mati? Dari rumor yang beredar, kau juga terlibat dalam menenggelamkannya.”
“Ya, begitulah,” Aza agak menengadah.
“Tapi kenapa?”
Dan petinggi muda itu pun tersenyum. Dirinya lalu tertawa pelan sambil memegang ujung rambutnya.
“Entahlah? Kenapa ya?”
Orang-orang pun menatap bingung ke arahnya. Sampai akhirnya gemuruh di daratan siren menyentak semuanya. Laksana gempa besar, tapi tak merusak daratan sekitar.
Dan sayangnya, ini terjadi bukan hanya di kawasan itu saja. Namun juga di seluruh permukaan dunia Guide.
“G-gempa?!” panik Toz dan Riz bersamaan.
“Ini!” pekik Doxia.
“Gerbang kemampuan telah terbuka,” Horusca ikut menimpalinya.
Sampai akhirnya beberapa saat kemudian getaran hebat itu terhenti juga. Walau berhasil membuat lolongan hewan-hewan liar ketakutan, tapi kejadian barusan tak berlaku untuk orang-orang di dalam dunia ini. Karena mereka sudah tahu, apa arti dari gempa yang terjadi.
“Gerbang kemampuan telah terbuka?”
Aza pun menoleh ke arah Reve. “Ya. Gerbang kemampuan untuk menaikkan level kita.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Ya. Apa kau tidak tahu? Aneh juga,” sindirnya pada Reve yang hanya tersenyum.
“Lalu bagaimana caranya menaikkan level kita? Apa harus memasuki gerbang itu?” tanya Riz.
“Ya. Kita hanya perlu masuk ke dalamnya dan mengikuti ujiannya.”
Riz dan Toz pun mengangguk-angguk paham akan penjelasan Aza.
“Apa ada cara lain untuk menaikkan level kemampuan selain memasuki gerbang?”
Petinggi empusa pun tersenyum mendengar pertanyaan Toz yang polos. “Sekarat. Jika hidupmu sudah di ujung tanduk, maka gerbang akan mendengarkan deru napasmu dan terbuka secara paksa.”
“Benarkah?”
“Ya tentu saja. Itu pun kalau kau masih hidup saat itu juga.”
Toz pun terkesiap mendengarnya. Sepertinya, masih banyak yang harus ia pelajari mengenai dunia ini.
“Gerbang ya? Sepertinya besok pintunya akan terbuka,” gumam Heksar tiba-tiba.
“Apa anda akan ikut serta?” tanya Logan kepadanya.
“Mm? Entahlah. Aku masih belum tahu.”
Petinggi dracula itu hanya mengangguk paham. Nyatanya, apalagi yang bisa diharapkan? Heksar Chimeral adalah satu-satunya guider scodeaz (pengendali) yang berhasil mencapai level monster.
Dan sosoknya pun cukup fenomenal di dunia Guide sebagai pemimpin paling cebol di antara pemilik tahta lainnya. Tingginya hanya sekitar 160 cm saja. Tentunya itu menjadi bahan guyonan untuk Kers dan Aza karena mulut mereka suka sekali menyindirnya.
Andai mereka bertarung, entah akan seperti apa jadinya dunia Guide.
“Padahal besok kita harus berangkat. Tak kusangka gerbang malah terbuka,” Hanzo pun menimpali pembicaraan rekannya.
“Yang Mulia, kalau aku boleh tahu, seperti apa ujian level monster?” Monster chimera itu pun menoleh ke arah Logan. Cukup lama baginya untuk menjawab, sampai akhirnya kerutan penuh kebingungan muncul di wajah sang Raja yang tak semampai badannya. “Yang Mulia?”
“Ah, maafkan aku.”
“Apa ada yang salah?”
“Tidak-tidak. Aku hanya bingung saja.”
“Kenapa?”
“Sebagai bagian dari pemimpin bangsa dracula, anda terlalu beda dengan tiga rekanmu itu.”
“Ah, tukang tidur?” Logan Centrio pun tersenyum karenanya.
“Apa anda tak mengantuk?” Hanzo juga penasaran.
“Tidak. Mungkin karena aku bukan tipe pemalas seperti mereka.”
Sontak saja tawa berkumandang di bibir orang-orang di dalam sana.
“Bahkan anda jauh lebih mudah diajak bersosialisasi dibanding Raja Lucian.”
Logan masih saja tersenyum. “Mungkin itulah kelebihan saya,” lirihnya.
Jujur, jawabannya cukup mengejutkan. Tapi faktanya memang begitu. Para pemangsa darah itu memiliki hobi rebahan yang sangat parah.
Bahkan pernah suatu masa, Lucian Brastok sang Raja dracula menghadiri undangan makan yang diadakan Tetua chimera. Namun itu berakhir memalukan karena wajah Sang Raja malah jatuh ke dalam piring sajinya saking mengantuknya.
__ADS_1
Dan dia tak peduli lalu tetap melanjutkan tidurnya.
“Benar juga, Aza Ergo,” Heksar kembali bersuara. “Bukankah bocah magma itu sangat mencurigakan?”
“Apanya?” Hanzo melirik bingung.
“Semuanya.”
“Menurutku tidak ada yang aneh.”
“Kau tidak terlalu mengenalnya. Aku yang sering mendengar mulut tak bersaringnya, jadi tahu kalau dia sekarang sangat mencurigakan.”
“Benarkah?”
“Ya. Biasanya dia pasti akan mentertawakan siapa pun yang ditemuinya. Tapi, di pertemuan dia tak begitu banyak mengeluarkan sindiran. Bukankah itu aneh?”
“Bukankah tadi dia sempat mengeluarkan sindiran untuk Revtel?” Logan ikut menyuarakan pendapatnya.
“Tapi, tetap saja aneh. Dia terlihat berbeda sekarang. Apa perasaanku saja?”
Logan dan Hanzo pun terdiam. Walau mereka mencoba berpikir keras apa yang aneh pada Aza, tetap saja sulit ditemukan. Mengingat pemuda itu memang aneh bawaannya. Dan membicarakan sosok Aza Ergo, takkan habis hanya dengan menguliti keburukannya.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Blerda.
Di dalam ruang peristirahatan di kamarnya, telah tampak sosok tak terduga yang sedang rebahan sambil memakan anggur di atas meja. Sungguh lancang dirinya, memasuki kamar Raja siren tanpa izin siapa pun sebelumnya.
Dan laki-laki itu pun berbalik sehingga posisi tubuhnya jadi terlentang.
“Aku lelah.” Gadis itu hanya diam dan melangkahkan kakinya menuju balkon. Tak bersuara, membiarkan sang tamu tak diundang meracau seenak hatinya. “Apa yang harus kulakukan? Gerbang sudah terbuka. Ini buruk bagiku, Raja yang tak berguna.” Kers pun mendesah jenuh karenanya. Terlebih Blerda Sirena masih diam di posisinya. “Jika kamu di posisiku, apa kamu akan tetap mengikuti ujiannya?”
Sosok anggun itu pun berbalik dan menatap laki-laki yang memandangi langit-langit kamar.
“Aku tak pernah di posisimu, jadi aku akan tetap mengikuti ujiannya.”
“Hah ...” suara helaan napas kasar Kers karena merasa tak berguna bicara pada tuan rumah di sebelahnya. “Blerda, bisa pinjamkan aku Megalodon?”
Gadis itu pun memiringkan wajahnya.
“Untuk apa?”
“Aku membutuhkannya.”
“Para scodeaz (pengendali) milik Dewa, takkan bisa tunduk pada aroma darah yang pekat.”
Tanpa sadar, senyum di bibir Kers pun memudar bersamaan dengan wajahnya yang menoleh ke arah Blerda Sirena.
“Aku tidak mengerti. Apa maksudmu?”
Gadis itu pun menekankan sorot matanya. “Kau mungkin bisa menutupi semuanya. Tapi itu tak berlaku untukku. Bukankah darahmu sedang berteriak? Yang Mulia hydra. Tidak, apa mungkin aku harus menyebutmu Yang Termulia Apo—”
“Blerda.”
Seketika hening menerpa. Guratan hangat yang perlahan dilebarkan bibir laki-laki di depannya mulai mendinginkan suasana sekitarnya.
“Aku selalu penasaran. Kenapa gadis sepertimu bisa diangkat menjadi seorang Raja. Sepertinya, aku juga tahu apa jawabannya.”
Kers pun bangkit dari posisinya dan berjalan mendekatinya.
“Pinjamkan aku Megalodon, Blerda. Kau, adik seperguruanku kan?”
Dan dua tatapan menekan yang saling bertemu itu pun melukiskan ekspresi berbeda di masing-masing mereka.
__ADS_1
Bagai di penghujung langit malam, hempasan angin dingin di barat serta angin kejam di timur pun mencerminkan raut wajah Blerda Sirena serta Hydragel Kers yang bersuara.