Death Game

Death Game
Insting Beltelgeuse Orion


__ADS_3

“Tak masalah, kami akan ikut mencarinya. Walau itu terdengar konyol, mengingat banyaknya guider yang saling membunuh bahkan jika bukan di malam bloodgrya,” sahut Ilhan Leandro sambil memainkan ujung rambutnya.


“Tunggu sebentar,” potong Aquila Ganymede. Para petinggi menoleh ke arahnya. “Ini aneh.”


“Apanya?” Hea menatap jengkel padanya.


“Seperti kata Ilhan, ini konyol. Kematian bisa terjadi tiap hari, bagaimanapun ini dunia Guide. Bahkan jika kita bekerja sama, kerusuhan antar bangsa masih ada. Sepertinya kalian lupa karena terlalu fokus dengan siksa di malam bloodgrya.”


“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanya Reoa Attia.


“Kenapa hydra bersikeras mencari pelaku itu? Yang mati hanya komandan tingkat rendah. Bahkan saat anggota kami mati di tangan gyges, tak ada yang peduli. Bukankah kalian terlalu membesar-besarkan masalah?”


Hea menggertakkan giginya. Menatap masam ke arah Aquila Ganymede, sang petinggi dari bangsa empusa.


“Sepertinya ada yang disembunyikan hydra. Aku juga merasa konyol, kenapa kalian mempermasalahkan kematian tak berguna itu? Lagi pula, mau di malam bloodgrya atau tidak, kita tetap saling membunuh demi kesenangan. Kecuali yang mati guider tingkat tinggi atau darah murni, maka aku takkan heran,” timpal Aza Ergo sambil terkekeh.


“Libra, Hea, jujurlah. Agar tak ada keretakan di sini,” perintah tuan Criber.


Cukup lama dua petinggi hydra terdiam, sampai akhirnya Libra Septor membuka mulutnya. “Yang mati bukan masalah besar, tapi pembunuhnya tetaplah bencana.”


“Apa maksudmu?” tuan Criber mengernyitkan dahi bingung.


“Cotra, assandia (petarung) itu mati saat malam lantunan nyanyian terlarang.”


“Lalu apa yang aneh dengan itu? Memangnya mati bisa pilih-pilih waktu ya!” oceh Aquila Ganymede heran. 


Libra semakin jengkel dengan petinggi dari empusa itu. Tatapan tajamnya terarah jelas ke Aquila, namun dia tak peduli. “Karena Cotra mati dalam keadaan menjadi tumbal!” tegas Libra akhirnya.


“Apa maksudmu?” Reoa kaget mendengarnya. Tak hanya dirinya, bahkan para petinggi lain juga berekspresi sama.


“Bukan hanya kehilangan jantungnya, tapi kami juga menemukan persembahan di dekat mayatnya. Kalau bukan ditumbalkan untuk upacara terlarang, lalu apa lagi?! Itu malam nyanyian terlarang! Kita sama-sama tahu apa artinya jika ada yang melakukan upacara!”


Tuan Barca Asera dan Asus Sevka benar-benar tersentak. Sekilas, mereka saling beradu pandang tanpa sadar.


“Apa-apaan itu? Siapa yang berani melakukannya?!” geram Reoa Attia.


“Karena itulah hydra bersikeras mencari pelakunya. Ini berbeda dengan pemuja, itu berarti pembunuh pengikut terlarang para dewa!” tekan Libra berapi-api.


“Sepertinya kita memang harus bertindak. Aku tak ingin tragedi kuno cerberus terjadi di era kita,” jelas tuan Criber.


“Aku juga setuju,” angguk Aquila diiringi yang lainnya. Tapi ada empat orang yang tak mengatakan apa-apa. Merekalah Aza Ergo, Barca Asera, Asus Sevka, dan Beltelgeuse Orion.


Akan tetapi, ada seseorang yang menyadari gelagat aneh dari salah satunya. “Tuan Asus Sevka, perasaanku atau anda memang sedang banyak pikiran?” sela Logan Centrio tiba-tiba.


“Aku baik-baik saja.”


Logan hanya menatapnya, lalu pandangannya beradu dengan Aza Ergo yang tersenyum padanya. Logan langsung mengalihkan perhatian karena tak ingin meladeni ekspresi lelaki yang cukup menyebalkan baginya.


“Kalau begitu, mari sepakati perjanjian. Kita akan melapor pada petinggi lain untuk menangani masalah ini,” jelas tuan Criber menutup pertemuan. 


Beberapa saat kemudian. “Aza? Kamu tidak akan menginap di sini?” tanya Aquila Ganymede pada lelaki itu.


“Maafkan aku nyonya Aquila, sepertinya aku harus pergi.”


“Ada masalah?”


“Tidak. Hanya saja, aku merasa ada yang tidak beres dengan kemampuanku.”


“Apa karena itu kamu tidak ikut turun tangan dengan benar kemarin?” timpal Reoa Attia tiba-tiba. Di sampingnya, ada tuan Criber, tuan Barca Asera, Beltelgeuse Orion dan Logan Centrio.


“Selamat datang,” sapa ramah Aza Ergo.


“Ada apa dengan kemampuanmu Aza?” tanya Logan Centrio.


“Aku merasa, kendali kemampuanku menurun. Jadi aku akan pergi untuk melatihnya.”


“Apa itu berarti kamu takkan kembali bersamaku?” tanya Aquila.


“Tidak Nyonya, aku akan pergi berkelana. Jika ada apa-apa, beri tahu saja aku lewat gagak.”


“Baiklah, jika itu maumu.”


Aza Ergo pun menoleh pada orang-orang sekelilingnya, lalu pamit dengan mengumbar senyum cerah.


“Tak kusangka kemampuannya akan seperti itu. Apa dia baik-baik saja?” imbuh tuan Criber.


“Entahlah, lagi pula dia selalu aneh menurutku,” terang Aquila.


Di jalanan yang sepi, tampak Aza Ergo berhenti sambil menatap langit. Dia tersenyum dan mengangkat tangan. “Sepertinya, ini akan menyenangkan,” lirihnya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” timpal sebuah suara tiba-tiba.


Aza Ergo melirik. “Hmm? Kamu berkeliaran?”


“Ada urusan,” jelas Horusca mendahului langkah.


Aza Ergo tertawa pelan sambil mengikutinya. Mereka pun memasuki kamar Reve Nel Keres, di mana ruangan besar itu dijadikan sebagai tempat pertemuan. “Ah, tuan petinggi,” sapa Toz saat melihat kedatangannya.


“Oh, bukankah ini si pengecut?”


Raut wajah Toz langsung berubah mendengarnya. “Apa maksud anda berkata seperti itu?” oceh Riz jengkel.


“Lupakan kalimatku. Jadi, siapa saja yang akan ikut denganku?” tanya Aza Ergo.


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Tampaklah sosok budak dan Rexcel memasuki kamar. “Tuan Aza, anda di sini?”


Aza tertawa pelan. “Menyenangkan sekali, bahkan yang tua pun hormat padaku,” celetuknya.

__ADS_1


Rexcel memasang tampang malas. “Karena anda petinggi. Sebenarnya, aku juga muak memanggilmu begitu.”


Tawa keras langsung meledak dari bibir Aza Ergo. “Sepertinya aku mengerti kenapa tuan Criber tak pernah menyayangi muridnya,” ia lalu mengeluarkan sesuatu di balik jubahnya.


“Itu!”


“Apa ini yang ingin kau curi dari tuan Criber?” Aza Ergo menggoyang-goyangkan sebuah gulungan di tangan.


“Bagaimana bisa itu ada padamu?”


“Aku mencurinya. Bukankah aku hebat?” sahut Aza Ergo bangga. Lubang hidungnya kembang-kempis memamerkan hasil jerih payah tak berguna.


“Terima ka-” kalimat Rexcel tertahan karena Aza Ergo menjauhkan gulungan begitu akan disentuhnya.


“Kau pikir aku akan memberikannya?” Aza Ergo menyeringai. Muka cerah Rexcel spontan sebal dengan kalimat petinggi tak berperasaan itu.


“Apa yang harus kulakukan agar anda menyerahkannya?”


Aza Ergo tampak berpikir sejenak. “Jadilah budakku, bagaimana?”


Wajah Rexcel semakin menampilkan guratan emosi, “budak?”


Aza Ergo terkekeh. Ia lalu melempar gulungan itu pada Rexcel. “Ah!” pekik Rexcel kaget saat menerimanya. “I-ini-”  


“Aku tidak butuh. Ambil saja, lagi pula itu kucuri karena iseng.”


Rexcel tak bisa berkata-kata menanggapi ocehan petinggi dari empusa itu. Ia tampak terlalu santai untuk ukuran seorang berpengaruh di bangsanya. “A-apa benar tak apa-apa? Aku belum jawab.”


“Aku bercanda. Aku juga tak butuh budak yang merepotkan,” Aza lalu berpaling. Tawa masih saja tak terhenti dari mulutnya. “Ah, benar juga. Mana bocah ular itu?”


“Entahlah, saat kutanya jawabannya cuma bersenang-senang,” jawab Rexcel.


“Kuharap dia tak membawa petaka sebelum berangkat.”


Orang-orang di sana memandang kaget. “Apa Reve juga akan ikut?” tanya Riz.


“Ya.”


“Benarkah?” Toz mendadak senang.


“Ya.”


Senyum lebar merekah di bibir Toz, membuat Riz terdiam menatapnya. “Sepertinya kamu sangat senang bisa bersamanya.”


“Tentu saja. Bagaimanapun dia teman kita,” ucap Toz menoleh senang pada Riz.


Riz yang terbungkam sejenak, mulai menampilkan senyum. “Kamu benar.”


Sementara, ada sepasang mata yang tampak menatap tenang dengan pemandangan di sekelilingnya. Dirinya yang diam, seperti memikirkan sesuatu di sana. Sampai akhirnya suara derik pintu mengganggu mereka.


Di tempat berbeda, sesosok pak tua tersentak kaget saat melihat tubuh tak asing bersandar ke meja. Ia memainkan sebuah pisau berkarat yang seharusnya terpajang di lemari kaca.


Pemuda itu tersenyum, lalu mengangkat pisau dan mengarahkan padanya. “Pisau yang unik. Apa boleh untukku?”


“Jika kau bisa mengeluarkan ribuan pedang, untuk apa satu pisau berkarat itu?”


“Jangan lihat dari bentuknya. Terkadang, pisau tak bercahaya jauh lebih mengerikan di dalam kegelapan.”


“Jadi, yang mana dirimu?” Pak tua pemilik toko berjalan menuju sofa. Ia memainkan mata sekilas, sebagai tanda penyambutan pada pemuda itu untuk duduk bersamanya.


“Entahlah. Karatan pisau ini begitu indah, karena menutupi pesona dan ketajamannya dalam bertindak.”


Pak tua itu terdiam. “Karena itu kau memakai hydra? Tak kusangka aku sudah membantu seorang pengikut terlarang para dewa.”


Sang pemuda tertawa memecah suasana. “Jadi kau sudah tahu?”


Tuan Barca Asera menyipitkan mata tajam. “Apa yang kau inginkan sebenarnya?! Bukankah tujuanmu penjara Reygan Cottia? Bagaimana bisa kau melakukan hal terlarang itu? Apa kau ingin membangkitkan cerberus?!” tukasnya dengan emosi.


“Sepertinya kau sudah salah paham.” Reve pun terkekeh. “Aku bukan pengikut terlarang dewa, dan juga tak ada urusan dengan cerberus.”


Akan tetapi, sorot mata tuan Barca masih memperlihatkan ketidak percayaan pada Reve Nel Keres. “Apa kau, benar-benar assandia? (petarung?)”


Reve tersenyum. Ia lalu berdiri, “ingatlah tuan Barca Asera, terima kasih dariku. Jika saatnya sudah tiba, akan kubalas kebaikanmu. Tak peduli siapa pun aku, karena kau hanya perlu tahu, bahwa namaku Reve Nel Keres.”


Pemuda itu spontan menghilang dari sana, bersamaan dengan jatuhnya pisau berkarat yang tadi dipegang. “Reve Nel Keres,” gumam tuan Barca menatap udara kosong di mana pemuda itu sempat berada. “Kuharap, kau bukanlah anak yang akan membawa petaka ke dunia ini.”


“Deg!”


Sepasang mata menoleh ke arah tak terduga. “Orion? Ada apa?” tanya Logan Centrio pada petinggi bangsa gyges itu.


“Tidak ada. Hanya saja sepertinya akan ada badai,” ucap Beltelgeuse Orion mengedarkan pandangan.


“Benarkah? Padahal cuaca baik-baik saja,” timpal tuan Criber yang juga bersamanya.


“Firasatku berbicara, kalau kita harus segera kembali.”


“Baiklah jika kamu berkata seperti itu. Karena biasanya, firasatmu tak pernah salah,” ucap Logan sambil menepuk pelan pundaknya.


Orion hanya mengangguk pelan. Akan tetapi, matanya masih tetap mengarah ke tempat di mana sesosok anak manusia berdiri bersembunyi di balik dinding kristal tak jauh di dekat mereka.


“Orang yang berbahaya,” lirih Reve menyadari kalau dirinya ketahuan oleh salah satu petinggi. Ia pun kembali ke penginapan dengan mengambil jalur berbeda dari sebelumnya.     


 


*******


 

__ADS_1


“Gulungan apa itu?” tanya Riz.


“Kau penasaran?” Rexcel menyeringai membukanya.


“Sialan! Tak kusangka kau bisa mendapatkan gulungan aslinya!” umpat Doxia.


“Bukankah ini pemberian tuan petinggi itu?” sela Toz. Mereka berempat sibuk melihat isi gulungan yang tampak aneh. Sebuah lukisan, dengan gambar unik mirip peta namun bernuansa burung merak. Permukaan lukisan sangat halus seperti beludru, tapi ada sensasi berbeda saat menatapnya.


Seolah pada pandangan pertama, jantung berdetak tak biasa dan tersihir setiap memandangnya. “Lukisan apa ini” potong Aza Ergo.


“Rahasia!” Rexcel menyeringai senang.


“Apa harus kuambil kembali?”


Doxia dan Rexcel langsung panik mendengarnya. “Bukankah anda sudah memberikannya? Sebagai gantinya, aku akan membantumu ke tempat amarilis itu!” sergah Rexcel.


“Benarkah? Baiklah.”


“Bukankah anda bilang tim impian anda sudah tercipta?” timpal Toz.


Aza Ergo meliriknya. “Dengar nak, tim impian memang sudah tercipta, tapi kita juga butuh tumbal buat keselamatan nantinya,” jelasnya tertawa.


“Sialan! Kalau bukan petinggi, sudah kubuat botak kepalamu!” gerutu Doxia.


“Boleh saja. Lagi pula aku akan tetap tampan,” lirih Aza Ergo sombong sambil meletakkan jari telunjuk di pipi bersikap imut.


“Menjijikan!” potong Doxia.


“Memang tampan,” puji Toz membuat mata pendengar terbelalak.


“Oh, aku suka padamu! Matamu memang normal!” Aza Ergo menepuk bahu Toz keras.


“Aduh!” pekiknya. “A-aku masih normal dan cinta wanita, ja-jangan suka padaku!” tolak Toz mentah-mentah.


Mulut Aza Ergo menganga. “Apa yang kau bayangkan? Aku juga suka wanita, kau pikir anakku sudi membelot padamu?”


“Cih! Hal mesum apa yang kalian bicarakan?” Riz geleng-geleng kepala. Sampai ocehan mereka terhenti dengan masuknya Reve ke kamar.


“Dari mana saja? Kuharap kau tak membawa petaka kemari,” sahut Aza Ergo.  


Reve tersenyum mendengarnya. Lalu melirik pada orang-orang sekelilingnya. “Jadi, siapa saja yang akan pergi?”


Aza Ergo membalas tatapan lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Sepertinya kita semua akan pergi.”


“Cukup merepotkan, tapi baiklah.”


“Delapan orang, cukup banyak,” sela Rexcel.


“Tapi semoga tak ada yang jadi beban,” timpal Doxia.


Setelah sepakat akan pergi, mereka pun berpisah dengan membentuk tiga tim. “Ingat, kita akan bertemu di hutan luar kota, pastikan tak ada yang tertinggal,” jelas Aza Ergo.


Tiga tim di antaranya, Horusca, Rexcel, dan budak itu mengambil jalur kiri. Aza Ergo, Doxia dan Riz di jalur kanan. Lalu, Reve dan Toz di jalur tengah. Berpisah akan jauh lebih baik, agar keberadaan mereka menuju gerbang kota tak terlihat mencolok.


“Reve, ada apa?” langkahnya tertahan saat menatap pemuda yang berhenti di belakang.


“Tidak ada. Ayo,” ia lalu mendahului langkah.


Di tempat yang berbeda beberapa saat kemudian. “Ada apa?” tanya Riz.


Aza Ergo tersenyum. Padahal langkah mereka sudah keluar dari gerbang kota bukit Kristal. “Kalian berdua duluan saja,” perintahnya yang membuat Doxia dan Riz kaget.


“Ada apa?”


“Pergilah!” tatap Aza Ergo pada Doxia. Dengan hati penuh waspada, mereka berdua melangkah meninggalkan Aza Ergo.


Setelah dua orang itu cukup menjauh, Aza Ergo berbalik. “Tak kusangka kita akan bertemu di sini. Jadi, apa anda sendiri?”


“Siapa mereka?”


Aza Ergo terkekeh. “Cuma teman.”


“Benarkah?”


“Aneh melihat anda penasaran. Sepertinya, rumor firasat anda memang mengerikan.”


Hembusan angin malam langsung memburu keduanya. Hempasan yang menerpa, menimbulkan suara berisik mengudara. Sosok lelaki dengan rambut hitam panjang dan mata emerald, berdiri tegak di hadapan Aza Ergo.


“Benar. Dan firasatku berkata, kalau kamu membawa keburukan di sisimu.”


Tawa keras langsung tersembur dari mulut lelaki itu. “Sungguh tuan, leluconmu lucu sekali. Kegelapan? Kenapa anda aneh seperti kurcaci begini?”


Beltelgeuse Orion seketika menyipitkan mata. “Jangan pergi Aza, kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu pergi.”


“Memang apa yang akan terjadi? Jangan meramal aneh di saat seperti ini. Lebih baik anda kembali, karena ada yang harus kulakukan,” jelas Aza Ergo memundurkan langkah.


“Tuan petinggi?” sebuah suara tiba-tiba memecah suasana. Dua petinggi itu langsung menatap ke arah di mana sosok manusia berdiri tepat di samping mereka.


Spontan, mata Beltelgeuse Orion menyorot tajam pada dua rupa yang sangat berbeda auranya. “Ha-halo,” balas Toz pada tatapan Orion.


“Firasatku berbicara, kalau memang ada kegelapan bersamamu. Dan rupanya aku benar,” timpal Orion. Tiba-tiba, tanah pijakan berair di sekeliling mereka.


“Orion!” bentak Aza Ergo tiba-tiba. Membuat yang dipanggil menoleh dan lainnya terbungkam. “Aku tahu kalau anda tidak seperti petinggi lainnya. Lebih baik tidak menarik perhatian, agar hubungan kita tetap baik. Bagaimana?”


“Bocah nakal,” Orion sedikit menundukkan wajah, sehingga raut mukanya menggelap.


“Wuush!” suara hunusan pedang tiba-tiba terhunus ke leher Beltelgeuse Orion. Beberapa pasang mata terkaget dengan silau pedang yang memantulkan cahaya bulan.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?”


“Near juga berbicara, kalau kau orang yang berbahaya,” tegas Reve. Mata pedangnya pun menyentuh kulit leher Beltelgeuse Orion yang berekspresi dingin padanya.         


__ADS_2