
“Bagaimana anda bisa—” Toz tak lagi melanjutkan ucapannya.
Pedang magma telah lenyap dan Aza Ergo hanya tertawa lalu berlalu meninggalkan mereka untuk merebahkan tubuhnya di sofa.
“Scodeaz (pengendali) tipe serigala?” Reve mengernyitkan wajah bingung. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
“Karena empusa adalah bangsa setengah Dewa,” timpal Horusca tiba-tiba.
“Apa!” pekik kaget orang-orang di sana secara bersamaan. Kecuali Reve yang mendengarkan ataupun Aza Ergo yang menjadi bintang utama pembicaraan.
“Empusa bangsa setengah Dewa?” Rexcel menatap tak percaya.
“Apa ini? Kalian tidak tahu? Apa bangsamu tidak mengatakan apa-apa?” sang petinggi tampak berekspresi remeh.
“I-itu—”
“Jadi empusa bangsa setengah Dewa? Bagaimana bisa?” Reve kembali bersuara.
“Entahlah. Jangan tanya aku,” Aza Ergo menyeringai membalasnya.
“Sialan,” umpat Reve Nel Keres sambil tersenyum aneh. “Kau rupanya jauh lebih hebat dari penampilanmu.”
“Baru sadar? Ingin jadi pelayanku?”
“Aku ingin membunuhmu,” kalimat Reve sontak membuat yang lain geleng-geleng kepala.
“Tapi, kenapa kamu bisa tahu itu Toz?” tanya Riz akhirnya. Sungguh dirinya sangat penasaran melihat keanehan temannya sejak Toz terjaga.
“Karena mereka mirip.”
“Mirip? Siapa yang kau bicarakan?” Doxia jadi bingung.
“Tuan Aza dan Dewa itu, tekanan mereka serupa.”
“Dewa?” wajah Rexcel berkerut bingung dibuatnya.
“Ya. Susanoo dan Lagarise. Tekanan mereka saat berbicara sangat mirip dengan Tuan Aza.”
DEG!
Debaran di jantung mereka tersentak kaget saat mendengar Toz mengatakan itu. “Kau, apa mungkin kau bertemu Dewa? Kau tidak mengigaukan?” Doxia menyentuh kening sang pemuda.
“Aish! Aku serius! Bahkan Lagarise itu membunuhku dengan pedangnya. Dia benar-benar wanita yang mengerikan,” Toz pun memeluk tubuhnya karena teringat kembali dengan kengerian sang Dewa serigala raksasa yang telah menyiksanya.
“Membunuhmu? Lalu kenapa kau masih hidup?” Doxia tertawa meledek. Ia sungguh tidak percaya dengan ocehan anak manusia yang terdengar seperti guyonan menurutnya.
“Aku serius! Lagarise itu ibunya Vanargand! Mereka melakukan sesuatu padaku sehingga Vanargand jadi darahku. Bahkan gara-gara itu pula aku jadi punya cincin.”
“Sudah-sudah. Jangan berdebat lagi. Kami percaya, benar-benar percaya. Jadi sekarang cepat makan ini karena sejak pingsan kau belum makan apa-apa,” Rexcel menengahi mereka.
“Iih! Anda mengatakan itu tapi tampang kalian seperti mengataiku berbohong,” jengkel Toz namun akhirnya memakan sajian di depannya. Ia masih saja menggerutu di sela-sela kunyahan makanannya.
“Makan atau bicara?! Satu-satu bodoh!” jitak Doxia.
“Iya aku makan! Jangan dijitak begitu!” keluh Toz tak terima.
__ADS_1
Riz pun tertawa melihat interaksi mereka. Akan tetapi, ada tiga pasang mata yang menatap tenang rupa anak manusia itu. Merekalah Reve, Aza dan Horusca. Memandang Toz yang makan dengan lahap seperti tak pernah melihat makanan enak.
“Kau aneh,” timpal Reve tiba-tiba saat mendekati Aza yang berada di balkon lantai dua. Menatap pemandangan lepas ke arah kota Lagarise dengan segala penghuninya yang mengenakan pakaian serba merah.
“Aneh apanya?” Aza Ergo meliriknya lewat sudut matanya dengan ekspresi santai.
“Sejak Toz hampir terjaga. Kau aneh dan seperti menyembunyikan sesuatu,” Reve lalu menaruh Near sang ular ke bawah.
“Kau terlalu sensitif Nak.”
“Hei, aku bukan anakmu. Jadi jangan panggil aku begitu,” Reve pun memasang tampang malas. Aza Ergo tertawa mendengar responsnya. “Bangsa setengah Dewa ya.”
Petinggi itu menoleh. “Kupikir kau tahu, rupanya tidak juga ya.”
“Mana mungkin aku tahu informasi bangsa-bangsa? Aku bukan petinggi sepertimu.”
Aza pun tersenyum meledek ke arahnya. “Karena tampangmu mencurigakan jadi kupikir kau tahu.”
“Mencurigakan? Karena aku terlalu tampan?”
“Kau mungkin harus berkaca di lumpur.”
“Sialan!” Reve pun berbalik dan menyandarkan tubuhnya ke pinggir jendela. Hening di antara mereka. Kecuali suara angin yang menemani keduanya. “Near gelisah.”
Sang petinggi hanya meliriknya sekilas. “Ular itu?”
“Near tak nyaman di dekat Toz.”
Aza Ergo pun tertawa pelan. “Apa ularmu makhluk iblis?”
“Lalu kenapa dia gelisah di dekat bocah itu?”
“Aku tidak tahu.”
Perlahan, mulut sang petinggi sedikit terbuka. Tak bersuara namun ekspresinya seperti menyiratkan keangkuhan. “Apa kau tahu Vanargand?”
“Tidak.”
“Lagarise?”
“Bukankah tempat yang sedang kita datangi ini?”
“Dia Dewa. Atau lebih tepat disebut Dewi?”
“Jadi Toz benar-benar bertemu Dewa?”
“Mungkin.”
Reve pun melirik ularnya yang tiduran di lantai. Begitu menyamankan tampaknya, sang peliharaan terlihat begitu menikmati hidupnya. “Siapa itu Vanargand?”
“Serigala.”
“Serigala?”
“Ya. Serigala Dewa, atau lebih tepat disebut sebagai anak dari Dewa.”
__ADS_1
“Dan perkataan Toz yang menyebutkan ia dibunuh lalu Vanargand jadi darahnya?” Reve pun sekarang berdiri menghadap sang petinggi yang memandang jendela.
“Kemungkinan memang begitu adanya. Kebangkitan kemampuannya, memakai jiwa serigala Dewa.”
“Scodeaz? (pengendali?)”
“Ya.”
“Apa itu berarti Toz sekarang memiliki kemampuan yang hebat?”
“Entahlah.” Aza Ergo lalu menyeringai. “Terkadang, sehebat apa pun suatu kemampuan jika penggunanya payah tak ada artinya.”
“Tapi setidaknya dia bisa menjadi kunci di kelompok kita.”
“Kau mengharapkannya?”
“Tentu saja,” tegas Reve tanpa basa-basi.
“Apa kau yang jadi pelarian tanah biru tidak tahu apa-apa?”
Reve terdiam. Hatinya berdenyut saat petinggi itu menyebutnya begitu. “Tidak,” wajahnya terlihat santai menanggapinya.
“Orang-orang yang membawa langsung kemampuan jiwa Dewa, itu berarti mereka sangat berbeda dengan sosok di sekelilingnya.”
“Maksudmu?” Reve terlihat tak paham.
“Dia berseberangan dengan kita yang tak membawa jiwa Dewa.”
“Lalu apa masalahnya?”
“Jika waktunya tiba kau akan mengerti.”
“Tak perlu berdrama, katakan saja terus terang. Apa dia akan menjadi halangan bagiku untuk mencari Reygan?”
Aza Ergo tersenyum. “Tidak, dia akan sangat membantumu. Hanya saja, kemampuannya akan menyusahkan kita jika orang-orang tahu. Karena scodeaz (pengendali) yang membawa jiwa Dewa, sangatlah langka di sini.”
“Itu berarti dia akan menjadi incaran orang-orang tertentu?”
“Pintar.”
“Sialan,” Reve mendengus sebal mendengar responsnya. “Itu berarti dia harus kuat agar tak jadi beban kelompok.”
“Entahlah. Mungkin bukan hanya dia, tapi kita. Karena masalahnya kelompok ini punya dua orang bermasalah yang harus dijaga.”
“Dua?” Tiba-tiba, Aza Ergo melebarkan seringai yang seperti membelah dua wajahnya. Reve terdiam, penasaran kenapa petinggi itu berekspresi demikian. “Toz dan ... aku?”
“Benar. Assandia (petarung) langka. Diselimuti salah satu mantra tradio dalam memakai kemampuannya. Menurutmu, apa kau bukan incaran orang-orang? Bahkan pimpinan hydra memamerkan taringnya padamu."
“Aku takkan bergabung dengan mereka.”
“Ya, kau mungkin takkan melakukan itu. Tapi—” Aza Ergo membalik tubuhnya dan ikut bersandar ke pinggir jendela seperti Reve. Dipandang lekatnya sang ular yang tampak terlelap dalam istirahatnya. “Para makhluk gila yang obsesinya keterlaluan, hanya perlu memburumu tanpa harus membuatmu berlutut. Cuma itu, salah satu cara untuk merebut kemampuan mereka yang berbakat dan ditakuti di dunia ini.”
“Itu—”
“Ada kolektor kemampuan di dunia kelam ini,” selesai mengatakannya, Aza Ergo pun tersenyum yang membuat bocah ular itu heran dengan arti ekspresinya.
__ADS_1