Death Game

Death Game
Gugurnya para penghuni Hadesia


__ADS_3

“Siapa dia sebenarnya?!” kaget Belze melihat amukan jurus Aza. Terlebih parahnya lagi, ekor magmanya meluluh lantakan area.


“Ireas!”


Teriakan Remus memaksa guru besar dari empusa untuk mengaktifkan perisainya. Berharap mereka terlindungi, tapi kengerian kembali terjadi.


Sosok Aza Ergo yang tiba-tiba berdiri sambil menggendong kakaknya, membangkitkan lingkaran aneh di belakang punggungnya. Semua berasal dari darah yang mengalir lewat luka di dadanya.


Membentuk lambang sihir namun serupa lingkaran pedang magma jika diperhatikan saksama. Dan sebuah rantai muncul mengikat tangannya juga tangan Laravel yang telah meninggal.


Perlahan, tato aneh pun bangkit dari wajah putra Maximus yang mengendalikan cahaya.


“Tradio?!” pekik Remus serta August yang baru datang secara bersamaan.


Akan tetapi, mereka tak punya waktu untuk mencari tahu kebenaran tentang Laravell sekarang. Mengingat lingkaran di belakang punggung Aza tiba-tiba berputar bersamaan dengan berasapnya pijakan mereka.


“Tak diragukan lagi, di bawah tanah ada magma!” Belze memperingatkan mereka.


“Kita harus membunuhnya, sebelum Hadesia dihancurkan olehnya!” dan August Belmera pun mengeluarkan senjatanya. Memang kelebihan para assandia (petarung), mereka memiliki kelincahan dan kecepatan bergerak yang luar biasa. Bahkan sosok itu berhasil melesat maju menghindari amukan gila ekor magma.


Tapi, sayang. Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, tubuh sang guru besar dari chimera terpotong menjadi beberapa bagian. Karena benang merah juga bermunculan di sela-sela ekor magma yang melindungi tuannya.


“August!” pekik Remus. “Kau!” marahnya melihat adik iparnya telah meregang nyawa dengan indahnya. Seolah serpihan tubuh itu hiasan yang pas dalam melukiskan kengerian Aza.


Sementara Ireas, masih membeku menyaksikan semua. Tangannya bergetar sambil sesuatu mengganggu kesadaran. Seolah ada yang teringat saat melihat sosok di pandangan.


“Aza Ergo, tunggu jangan bilang—”


“Ireas!” Jascuer Alcendia akhirnya tiba. Bukan hanya dirinya bahkan guru besar lainnya juga ikut bersamanya. Dan mereka bergidik melihat semuanya. “A-apa-apaan ini?”


“Magma?!” Solea Ganymede menatap tak percaya. “Apa dia benar-benar anak dari bangsa kita?!” tanyanya sambil melirik Ireas.


Tapi tankzeas (pelindung) itu cuma menatap dengan ekspresi yang sangat aneh.


“Potongan mayat?!” kaget Lorgia Asqeral. Terlebih juga ada kepala tengkorak tak jauh dari sana.


“Itu Tuan August dan Quisea!” jelas Belze tiba-tiba. Dan rahang para pendengar pun menegang dibuatnya.


“Semuanya! Cepat serang dia!” suruh Remus. Sosoknya hanya memberi perintah saja.


“Tuan! Gunakan ilusimu untuk menghentikannya!” pinta Bartigo Aertia. Tapi, entah kenapa sang guru besar sekaligus pemimpin mereka itu memamerkan tampang kecut di muka. “Tuan?!”


“Sihirku, tak berpengaruh kepadanya.”


Sontak saja hal itu menggemparkan semuanya.


“Tak berpengaruh?! Apa maksud anda?! Padahal anda pemilik ilusi terhebat di dunia Guide!” teriak Jascuer yang tampak tak terima.


Dan hal itu pun menimbulkan kemurkaan dia yang dicerca. “Kau pikir, jurusku akan berpengaruh pada semuanya?! Fokus saja hentikan bocah itu! Maka aku akan melakukan sisanya!” marah Remus akhirnya.


Tentunya, di situasi yang menegangkan seperti ini, sisanya fokus menyerang Aza. Tapi, tak satu pun serangan dari Azakhel Nerea serta Vea Krusevka mampu menyentuhnya.


Murid-murid yang ketakutan karena mengira kiamat telah tiba akhirnya sampai di lokasi pertempuran. Mereka pun melihat para gurunya berlarian tadinya.


Dan sekarang tampaklah siapa pelaku gila sebenarnya.


Aza Axadion Ergo.


“Magma dan benang merah?” kaget Thertera Aszeria. “Dia, apa dia punya dua kemampuan?!”


Tersentak. Ireas menoleh ke belakang. Menatap tajam pada sosok yang bersuara. Thertera terkesiap dan memasang kuda-kuda. Karena merasakan sensasi berbahaya dari guru besar yang tampak menekan di pandangan.


“Ireas!” panggil Solea tiba-tiba.


“Fokus Ireas! Fokus!” jengkel Jascuer karenanya. Mengingat hanya sosok itu tankzeas (pelindung) yang tersisa setelah kematian Helgida.


Tapi, teriakan para murid mengganggu fokus mereka. Akibat cairan magma mulai muncul dari permukaan tanah.


“Ini!” kaget Belze menyadarinya. “Sial!” dia pun langsung memukul tanah dengan kedua telapak tangannya. Untuk menimbulkan rerumputan keras agar bisa menghentikan kemunculan aliran magma. Mengingat para elftraz (penyembuh) level bangsawan mampu mengubah unsur tumbuhannya menjadi elemen sesuai energinya.


Ya, seperti tanaman es atau tanaman api dan lain-lain. Dan Belze Brask membangkitkan tanaman bertipe batu sebagai ganti dari kehebatannya.


Namun lawan mereka terlalu luar biasa jika dibandingkan dengan para guru besar.


“Kenapa dia menyerang kita?!”

__ADS_1


“Dia monster! Dia harus dibunuh agar kita baik-baik saja!”


“Tolong kami, Guru! Kami tidak ingin mati!”


“Dewa! Tolong hukum anak gila itu agar dia tidak melukai kami!”


“Cepat bunuh dia, Guru! Bunuh dia agar tidak menyerang kami!”


Begitulah teriakan berisik dari para murid yang mengganggu pendengaran. Mereka yang berdiri di barisan belakang benar-benar merusak pemandangan.


Sampai akhirnya Jascuer menoleh dan memberikan tatapan tajam. “Kalian ingin hidup? Kalau begitu bantu kami menyerangnya! Agar kalian bisa jadi Raja ataupun petinggi di bangsa-bangsa!”


Para murid pun terdiam. Entah kenapa, kata Raja ataupun petinggi berhasil membangkitkan sesuatu tak terduga.


Keberanian. Dan dilukiskan lewat seringai di bibir mereka.


“Benar! Aku akan jadi Raja! Karena akulah yang sudah membunuh laki-laki yang digendong Azkandia!” teriak Pangeran pertama bangsa hydra sambil menunjuk ke arah Aza.


Dan tentu saja, ekspresi berbeda ditampilkan anak-anak asrama terakhir. Di mana perasaan mereka campur aduk saat melihat rupa mengerikan Aza Ergo yang dilumuri air mata.


Orion dan Trempusa hanya bisa mengepalkan tangannya. Karena di saat terakhir keduanya mendengar fakta sesungguhnya dari Azkandia yang memanggil nama sosok digendongannya.


Kakak.


Sehingga itu berarti mereka bersaudara. Dan dia sudah kehilangan sosok paling berharga di sisinya.


“Serang!” teriakan dari Pangeran pertama berkumandang. Tentunya berhasil menimbulkan senyuman di bibir para guru besar. Karena sekarang mereka punya umpan untuk mendekati Aza yang tidak terkendalikan.


Namun, levelnya terlalu berbeda. Sepertinya julukan sebagai murid terkuat di Hadesia pantas disandangnya.


Karena dalam keadaan diam saja, kemampuannya mampu menekan semua yang ada di sana. Sampai akhirnya Ireas dan Bartigo terkesiap melihat mahkota aneh tiba-tiba menghiasi kepala Aza.


“Tunggu! Itu, kenapa rasanya pernah kulihat?!” kaget Bartigo.


“Mahkota Maximus Ergo.” Kalimat Ireas bagai hantaman keras untuk pendengaran di sekitarnya.


Remus pun langsung menoleh dengan tampang masam. “Maximus?”


“Sial!” teriak Bartigo Aertia tiba-tiba. “Jangan bilang dia benar-benar—”


Napasnya tercekat akibat Azakhel Nerea berhasil menyelamatkannya. “Hampir saja!” 


“Azakhel!”


“Putra Pangeran Perang?! Empusa legenda?!” sang penyelamat menatap tak percaya.


“Ya. Mahkota itulah buktinya! Dia—”


Tapi beberapa pekikan melengking keras akibat para murid dililit ekor magma. Langsung memakan habis kulit mereka dan hanya meninggalkan kepala sebagai gantinya.


Namun di satu sisi, Remus tersentak menyadari apa yang ada di atas sana. Sosok Blerda, menonton kejadian itu dengan keangkuhan bak duduk di singgasana mengambang.


Seolah semua hanya hiburan yang sedang berjalan.


“Belze!” teriaknya sambil menunjuk ke atas sana. Sontak saja sosok yang dipanggil dan beberapa orang lainnya menengadah.


“Blerda?” kaget Orion melihatnya.


“Itu, monster?” syok Belze saat mengetahui sosok yang menjadi kursi sang gadis siren. Dan tangannya langsung direntangkan. Bersamaan dengan munculnya tanaman dari tanah menuju atas sana.


Mencoba menghantam Blerda yang diam menyaksikan mereka.


“Apa!” Tiba-tiba ekor magma yang sudah terbangkitkan di Hadesia langsung bergerak menuju jurus Belze. Menghancurkan tanamannya seolah melindungi Blerda. “Dia!” geramnya sambil melirik Aza yang sibuk menyerang rekan-rekannya.


“Tak ada pilihan lain! Solea! Belze! Bangkitkan Cindaku Aftoria sekarang juga!”


Terbungkam. Semua langsung menoleh ke arah Remus yang bersuara.


“Cindaku Aftoria?” kaget Beltelgeuse mendengarnya.


“Bohong! Bukankah itu nama penjahat?!” syok Revtel mendengarnya.


“Cepat!” perintahnya lagi.


“Baik!” balas Belze dan Solea hampir bersamaan.

__ADS_1


Tiba-tiba jurus tanamannya melilit para murid yang dekat dengannya.


“Apa-apaan ini?!” pekik Pangeran kedua yang merupakan kakak Revtel.


“Kers!” kaget sepupunya itu sambil berusaha melindunginya. “Kalian! Kenapa kalian menyerang kami?!”


Solea pun terkekeh mendengarnya. “Apa lagi? Tentu saja karena kami ingin menggunakan kalian dengan benar.”


“Maksudmu!”


“AAGH!”


Teriakan Pangeran Kedua dan teman-temannya begitu mengerikan. Akibat lilitan kemampuan Belze dan Solea yang mengunci mereka.


“Kakak! Tolong aku!” pinta Pangeran kedua sambil beruraian air mata. Tapi, Pangeran pertama yang melihatnya hanya bisa menggigil ketakutan.


Terlebih lagi, ia tersadar kalau ekor magma Aza mulai mengejarnya. Dengan teriakan ketakutan dia pun berlari menuju saudaranya.


“Revtel! Tolong aku! Dia mau membunuhku!” histerisnya. Sang adik haram pun terkesiap dan gemetaran dibuatnya. “Apa lagi yang kau tunggu! Cepat bantu aku!”


Dan tanpa keraguan sosoknya pun mengeluarkan es yang menjadi kemampuannya. Menahan magma gila Aza agar tak menyentuh sang kakak.


Tapi, serangannya sulit dihentikan. Walau sang kakak berhasil melewati Revtel untuk lari dari sana, nyatanya magma itu takkan membiarkan.


Jurus Aza pun menajam bagai duri raksasa yang ingin menghujani mangsanya.


“AAGH!” pekik Pangeran pertama. Sontak saja ia tarik sosok di depannya untuk melindunginya.


“Kers!” kaget Revtel akibat ulah saudaranya. Di mana kakaknya menjadikan sang sepupu sebagai tameng untuk menyelamatkannya dari magma.


Dan akhirnya bentrokan antara es serta magma yang hampir membunuh Kers pun menimbulkan ledakan asap.


Revtel terengah-engah. Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Ketakutan melandanya akan kemungkinan yang terjadi di depan mata.


Tapi semua benar-benar di luar dugaannya.


“Wah ... hampir saja. Apa kalian bertiga ingin membunuhku?”


Selesai mengatakan itu, kekehan pun terlontar dari sosok yang berbicara. Di mana tangannya mencengkeram leher seorang anak laki-laki di depannya.


“Hampir saja aku mati, Revtel,” seringai Kers yang memiringkan kepala.


“K-k-au—” sahut Pangeran pertama dengan terbata-bata.


“K-kakak!” jerit Pangeran kedua yang tak berdaya menyaksikan kondisi saudaranya.


Di mana tubuh Pangeran pertama tertusuk duri dari es dan magma di penglihatannya.


“K-Ke-rs,” syok Revtel melihatnya.


Dan sang adik sepupu pun mengalungkan tangannya pada sosok yang akhirnya meregang nyawa.


“Bagaimana ini? Dia sudah mati,” lirihnya. Tampangnya tampak ceria saat mengatakannya. “Jadi, siapa yang membunuhnya? Azkandia? Kamu? Atau aku yang hampir jadi tamengnya?”


“Kers!” kaget Revtel. Karena kemunculan tiba-tiba dari tanaman Belze ke arah sepupunya. Kers yang menyadari itu pun langsung menusuk kedua mata Pangeran pertama dengan tangan kanannya.


Ganti mencengkeram wajahnya, dan dengan refleks luar biasa ia lemparkan mayat itu ke arah guru besar di sana.


Tentunya ketangkasan fisiknya membuat beberapa pasang mata tak habis pikir melihatnya.


“Kau!”


Kers pun menyeringai ke arah Belze yang kesal. “Kenapa menyerangku? Apa kau juga mau mati seperti itu?”


Terkesiap. Rasanya mengerikan. Terlebih saat sang guru besar dengan kemampuan elftraz (penyembuh) itu, diselimuti kenyataan tak terduga. Di mana Kers yang sudah muncul di depannya sedang menusuk dadanya. Tepat menembus tubuhnya dan menggenggem jantung di belakang punggungnya.


“Belze?” syok Solea. “Tidak mungkin, Belze!” histerisnya berhasil mengalihkan perhatian para guru besar yang sibuk melawan Aza.


Mereka pun terbelalak menyaksikan kejadian di depan mata. Perlahan Kers menarik tangannya, dan memamerkan jantung sang guru besar yang akhirnya terhuyung di sampingnya. Sontak saja jurus tanamannya memudar sehingga membebaskan para murid yang ditangkapnya.


“Sepertinya, bisa kujadikan barang negosiasi dengan Azkandia,” kekehnya.


Trempusa dan Orion yang masih membeku di sana menatap tak percaya ke arahnya. Sepertinya kegilaan Kers berhasil mengalihkan fokus mereka dari Aza yang sibuk menggila.


“Dia,” Thertera tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Sementara Lascarzio Hybrida tidak mengatakan apa-apa. Karena selesai melihat ulah Kers, lirikannya kembali menonton Aza.

__ADS_1


 


__ADS_2