Death Game

Death Game
Pembakaran mayat mereka


__ADS_3

Tapi, efeknya sungguh di luar dugaan. Seperti tornado besar, berputar hebat dan seakan ingin menghisap air yang menyelimuti mereka.


Sontak saja Horusca menepuk punggung Riz yang mengagetkannya. Menyuruhnya membuat pelindung jika dilihat dari gestur bibirnya. Dan tampaknya ia paham, bersamaan dengan bibirnya yang akan merapalkan mantra, pengendali tanaman itu sudah duluan mengeluarkan kemampuannya dan menarik rekan-rekannya untuk lebih mendekat. Seketika pelindung emas berbentuk kotak pun langsung melindungi rekan-rekan Aza.


Bersamaan dengan tornado yang kian membesar dan menari di dalam kolam air itu. Begitu hebat tekanannya, Toz merasa akan mati hanya dengan menonton kengerian di sekitarnya. Bahkan Aza kian menggila dan mengeluarkan magma dari dalam badannya.


Sekarang bisa dipastikan jika seluruh air yang menenggelamkan mereka sudah dicampuri oleh kemampuan sang petinggi empusa.


Dan akhirnya, setelah penglihatan ditutupi oleh pemandangan lahar dingin semuanya meledak seketika.


Riz terperangah, karena pelindungnya pecah namun suasana sekelilingnya sudah baik-baik saja. Tak ada lagi air, ataupun magma sang petinggi yang menggila dan mencampuri semuanya.


Akan tetapi, ada seseorang yang kondisinya tidak baik-baik saja.


Aza Ergo.


Dia terbatuk-terbatuk sambil memuntahkan darah segar. Efek samping dari memaksakan diri karena memakai kemampuannya secara berlebihan. Tubuhnya benar-benar sudah sangat kelelahan.


“Mereka melarikan diri?” Kers melirik sekitar. “Sepertinya, pak tua itu hebat juga ya,” seringainya sambil menyisir rambutnya ke belakang. Dan akhirnya, matanya pun memandang Aza yang masih belum menghentikan pesakitan di dadanya. “Kau masih disegel?” tanyanya sambil berjongkok.


Diperhatikannya ekspresi kesusahan sang petinggi muda yang kesakitan setiap batuk berdarah.


“Menurutmu?” akhirnya dia berbicara. Terlihat darah menetes dari bibirnya diiringi tatapan mata sayu yang menekan.


“Jika segel dilepaskan, apa yang akan terjadi?”


Hanya tawa pelan yang disemburkan Aza. Kers pun memilih diam memperhatikan pemuda di depannya. “Entahlah. Lagi pula, siapa yang bisa membuka segelnya?”


“Temanmu?” pemimpin bangsa lain itu menyeringai.


Seketika wajah Aza kehilangan ekspresi begitu mendengar kata yang dilontarkan padanya. Dirinya lalu berdiri dan mengusap bibirnya. “Horusca, sembuhkan aku.”


“Hah ...” suara helaan napas pelan pemuda berambut merah. “Liaythax nehriem miaglea (bola hijau nehriem)” dan gelembung bulat itu tak hanya menyelimuti sang petinggi tapi juga semuannya.


“Lalu selanjutnya apa yang akan kau lakukan? Kau sudah susah-susah kabur kemari. Wakilmu tidak tahu kan?”


 “Sebegitu takutnya dirimu pada Revtel?” Kers meledek. “Ayo ke istana merah.”


“Apa!” pekik Rexcel kaget mendengarnya.


“Kenapa kau teriak?”


“M-maaf Tuan. Istana merah, a-apa maksud anda istana bangsa siren?”

__ADS_1


“Menurutmu?”


Rexcel seperti mendengar mimpi buruk. Akan jadi apa dirinya jika ketahuan berjalan dengan seorang pimpinan bangsa lain? Bahkan petinggi pun jarang bisa melangkah bersamanya. Mimpi apa dia semalam kalau ini benar-benar terjadi?


“Tidak. Kau saja yang pergi.”


“Ayolah Aza. Kapan lagi kita mengunjungi kakak seperguruanmu itu bersama-sama?”


“Aku sibuk.”


“Ayolah, teman. Aku sudah berbaik hati menutup mulut. Sampai kabur sejauh ini karena kegagalanmu. Setidaknya cobalah untuk bertanggung jawab, Aza.”


“Kau pikir, apa yang akan dikatakan orang-orang jika tahu aku berkeliaran denganmu? Petinggi empusa, pimpinan hydra, buronan campuran, benar-benar kombinasi yang buruk.”


Hydragel Kers pun tertawa mendengar kenyataan yang ada. “Jangan lupa kalau kau sudah membunuh petinggi dari empusa.”


“Bukankah kau yang menyuruhku? Ah, tidak. Kau mengancamku,” Aza menyeringai.


“Lihatlah bocah tidak tahu terima kasih ini. Ayolah, kita pergi. Atau akan kusebarkan tujuan kalian berkeliaran ke sana kemari. Kau tidak ingin pencarianmu terganggu kan?” ajaknya sambil melirik ke arah Reve.


Pemuda bertampang santai itu mengernyitkan dahinya karena jengkel akan ucapan pemimpin bangsa ular di depannya.


“Kau membawa neraka, Kers.”


“Aku tidak peduli. Ayo cepat Nak, kita jalan,” dan tangannya pun merangkul Toz yang langsung terkejut karenanya. “Kenapa menatapku seperti itu? Aku tampan?”


Reve pun mendecih dibuatnya, lalu mendekati Aza yang sedang sibuk memeriksa kerusakan baju compang-campingnya.


“Kita benar-benar sial karena harus mengikutinya. Apa kita bunuh saja?”


“Kau yakin? Kalau begitu kau saja yang lakukan. Aku tak ingin tertimpa sial karena mengganggu sampah Guide seperti, Kers. Ayo jalan,” ajaknya akhirnya.


Dengan terpaksa mereka pun mengikuti sosok pemimpin hydra. Raja paling menjengkelkan sepanjang sejarah dunia Guide. Sosok rebahan dan pemalas tak ada duanya, tapi malah memimpin jalan semuanya.


Sampai akhirnya pijakan mereka terhenti menatap jejak-jejak mayat yang mati tadinya.


“Tak kusangka Aquila benar-benar mati. Empusa akan bagaimana ya?” oceh Kers dengan nada menyindir pada Aza.


Pemuda itu hanya diam memperhatikan sosok yang sudah meregang nyawa karena tangannya. Ditatapnya sekelilingnya, entah untuk apa.


“Ingin dikuburkan?”


“Tidak. Akan kubakar sebagaimana mestinya,” selesai mengatakan itu magma pun meleleh dari tangan kanannya dan jatuh ke tubuh Aquila. Melelehkan kulitnya dan perlahan tulang-tulangnya. Hal yang sama juga berlaku untuk Ahool dan juga siapa pun mayat di sana.

__ADS_1


Aza melenyapkan mereka semua sampai tak bersisa seolah ingin menghilangkan bukti keberadaannya. Dan tak ada satu pun yang ingin mengusik tindakannya. Karena bagaimanapun juga, kematian seorang petinggi yang dibunuh bukan pertanda baik bagi mereka.


Terlebih karena ini adalah empusa. Sang bangsa setengah dewa dan pelakunya juga berasal dari sana.


Lebih baik bersikap tak terlibat dan berpura-pura tidak tahu agar tak diburunya.


“Sayang sekali mayat siren itu hilang.”


“Pasti dibawanya. Setidaknya pemakaman yang layak pantas untuk si botak itu,” celetuk Aza setelah menyelesaikan pekerjaannya.


“Bukankah dia temanmu?”


“Sejak kapan?”


“Sejak kalian di Hadesia.”


“Cih,” Aza pun mendecih lalu berjalan duluan.


“Dasar bocah.”


Dan mereka pun melangkah bersama-sama untuk pergi dari kawasan terlarang. Saat sampai di pintu keluar, Kers merapalkan mantra di salah satu pohon yang membuat orang-orang terkesiap.


Tanaman raksasa yang disentuhnya bergerak sendiri seperti bernyawa dan bersuara. Pohon itu hidup seperti sosok mereka.


“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan salah satu darah tertinggi ras dunia guide,” begitulah sapaan sang pohon pada Kers. Seolah hanya sosoknya yang tampak, sedangkan lainnya seperti bayangan. 


 “Mm ... bagaimana aku harus memanggilmu? Bapak Pohon? Pohon tua? Si jelek? Atau—”


“Nehriem, begitulah Dewa memanggil kami.”


“Ho ... nama yang sama dengan kemampuan elftraz. Yah, terserahlah, dalam buku kalian diceritakan untuk menuruti perintah raja pemilik kunci bukan?”


“ Benar Yang Mulia.”


“Kalau begitu, pastikan tidak ada siapa pun lagi yang memasuki kawasan ini kecuali para Raja. Apa kau bisa?”


“Bisa, Yang Mulia.”


“Baiklah. Hanya itu perintahku. Selamat tinggal.”


“Selamat tinggal Yang Mulia.”


Dan mereka keluar dari sana sambil salah satu pohon besar yang menjadi pintu masuk menutup gerbangnya.

__ADS_1


Sekarang, tak ada siapa pun lagi yang bisa memasukinya kecuali para pemegang puncak tertinggi bangsa-bangsa. 


 


__ADS_2