Death Game

Death Game
Hujatan Rakyat Empusa


__ADS_3

Hadesia.


Entah kenapa mendengar kata itu membuat Thertera tidak nyaman jadinya.


Tak peduli apa pun yang terjadi, label tersebut memang tidak akan pernah hilang padanya. Sebagai salah satu murid pelatihan dingin terburuk yang pernah ada.


Padahal, orang-orang yang mengatakan itu tak satu pun tahu bagaimana menjalani kehidupan di Hadesia. Tapi satu hal yang pasti, seandainya pelatihan menyebalkan itu dibuka lagi, sosoknya takkan pernah membiarkan anaknya dikirim ke sana.


Hujan.


Jatuh membasahi kehidupan di daratan dunia Guide.


Dan Trempusa, kakinya melangkah menuju tanah lapang yang menjadi pemakaman. Begitu banyak kuburan di sana, terlebih lagi sekarang orang-orang dari bangsanya sibuk menangisi sosok-sosok mati dalam penyerangan cerberus gila.


Dia hanya sendiri, dan dilirik Kagura Masamune dari kejauhan. Tangannya terkepal erat saat menyaksikan pemandangan menyedihkan di depan mata. Entah apa yang membuat wanita itu jadi begitu.


“Andai kau tidak terlambat, maka anakku pasti tidak akan mati dalam serangan hewan mengerikan itu!” teriak seorang wanita tua sambil melemparkan keranjang bunga pada Rajanya.


Trempusa terdiam. Menjadi tontonan orang-orang di sekitar. Bisik-bisik dan cerca berkumandang dari mulut-mulut mereka yang kehilangan.


“Dasar Raja tidak berguna! Seharusnya kau sadar diri kalau kau itu pelindung bangsa kita!”


Lagi-lagi makian rakyatnya bersenandung ke telinga.


“Apa saja yang kau lakukan?! Kau sengaja lama-lama menyerang agar banyak orang yang mati! Di mana otakmu Trempusa, di mana!” marah salah satu kepala keluarga dari kawanan bangsawan.


“Bagaimana bisa orang rendahan sepertinya jadi Raja?! Seharusnya Tuan Orthan yang jadi pemimpin kita!” sela salah seorang Tetua. Tampaknya dia pendukung keponakan jauh Raja terdahulu.


Dan dibalik hujatan mereka, Trempusa tidak membantahnya. Tangannya yang membawa keranjang bunga forget me not, memilih menghampiri makam-makam itu untuk mempersembahkan bawaannya.


Sebagai tanda kalau dirinya akan selalu mengingat sosok-sosok yang telah mati dalam insiden kelam itu.


Sementara dari kejauhan, tiga orang menonton lukisan kehilangan tersebut dalam diam. Sampai akhirnya salah satu dari mereka bersuara.


“Kau tidak akan ke sana? Sepertinya Raja empusa membutuhkanmu,” lirih laki-laki berpakaian lusuh itu.


Tapi sosok yang diajak bicara, tidak membalas apa-apa. Selain sorot matanya terfokus pada dia yang dihujat bangsanya.


“Terima kasih,” lirih seseorang tiba-tiba. Trempusa mendongak, saat mendapati seorang anak kecil menyodorkan setangkai bunga lily kepadanya. “Terima kasih karena sudah datang membantuku. Karena jika tidak, bisa dipastikan jika ayahku yang sudah mati akan dimakan monster itu. Sekali lagi terima kasih, Yang Mulia.”


Terkesiap.


Sensasi kalut di dada dihantam dengan kuat. Perlahan namun pasti, Trempusa pun menggigit bibir bawahnya. Ia gemetaran, saat mendapati ucapan seperti itu dari anak kecil berpakaian hitam lusuh di pandangan.

__ADS_1


Ayahnya sudah mati namun sosoknya berterima kasih?


Raja itu tak tahu lagi harus mengatakan apa. Selain tangannya terulur mengusap lembut kepala anak kecil di depannya.


“Maafkan aku.”


“Jangan sedih, Yang Mulia. Orang-orang tidak tahu seberapa hebat anda sebenarnya. Anda adalah pahlawan di empusa.”


Trempusa pun tersenyum padanya sambil mengambil bunga tersodor kepadanya.


“Terima kasih. Semoga, para Dewa memberkatimu dan juga keluargamu,” lirihnya dengan ekspresi yang sangat tulus.


Akan tetapi, raut wajah Raja muda itu seketika berubah. Saat mendengar kalimat menyakitkan menyusup masuk ke pendengaran.


“Dasar brengsek! Bagaimana bisa rakyat rendahan dimakamkan di sini? Jelas-jelas ini tanah khusus para bangsawan! Benar-benar menyebalkan!” 


Sontak saja Trempusa menoleh pada sumber suara, dan pandangannya tiba-tiba dihadang oleh kemunculan Komandan Ksatria Kerajaan.


“Yang Mulia. Sebentar lagi ada pertemuan di aula.”


Selesai mengatakan itu, pria tersebut pergi dari sana tanpa mendengarkan jawaban pimpinannya terlebih dahulu.


Benar-benar tidak sopan tingkah lakunya.


Sepertinya, pertemuan mendadak itu akan menjadi tanda dari pergolakan kekuasaan Trempusa yang tak begitu disukai bangsanya.


“Lho, lho, kau mau ke mana?” tanya laki-laki berdandanan lusuh itu pada sosok yang tadi disuruhnya untuk ke pemakaman.


Tapi, pemuda tersebut mengabaikannya dan terus berjalan menjauh. Mau tidak mau dua orang yang tersisa tentu saja mengikutinya.


Bising di aula.


Rata-rata para hadirin di sana mengenakan pakaian hitam. Sebagai tanda penghormatan untuk mereka yang sudah dimakamkan.


Langit-langit dihiasi chandelier raksasa. Dinding penuh ukiran dengan makna luar biasa, serta lukisan para Raja terdahulu juga terpampang di dalamnya.


Meja memanjang terbuat dari pohon kokoh dan tua menghiasi tengah aula. Serta banyaknya kursi mengitarinya sebagai tanda kalau itu hanya bisa di duduki oleh mereka yang berkuasa.


Tapi di ujung sana, hanya satu kursi yang paling tinggi posisinya.


Dan itu cuma milik para Raja.


Hanya bisa di duduki Trempusa yang sering dihujat bawahannya.

__ADS_1


“Yang Mulia Raja Trempusa memasuki ruangan!”


Begitulah teriakan salah satu pengawal pintu. Dan sosok yang muncul dari baliknya melangkah pasti menuju kursinya.


Tentunya diiringi sorot mata menekan dari anak buahnya.


“Lama sekali. Apa anda tidak tahu kalau kami sudah menunggu dari tadi?” kesal seseorang kepadanya.


Padahal, Rajanya belum duduk dikursi tapi sudah dihiasi kalimat seperti itu sebagai sambutan mereka.


Dan tak satu pun yang berdiri di sana ikut membelanya.


Tentunya, Raja dari pelatihan dingin Hadesia tidak menanggapi kalimatnya. Menurut hati kecilnya lebih baik diam dari pada memicu konflik yang tidak perlu di antara mereka.


“Baiklah. Tak perlu buang-buang waktu lagi, kami ingin kau turun dari posisi Raja.”


Menyentak pendengaran. Tanpa aba-aba dilayangkan sebuah kalimat agak tidak berperasaan. Walau sorot mata Trempusa terlihat tenang, nyatanya tak satu pun tahu bagaimana kondisi hatinya.


“Seperti yang kau ketahui, serangan dari Cerberus benar-benar menghancurkan hampir seluruh bangsa kita. Bahkan banyak Tetua serta bangsawan yang mati karenanya. Andai Raja sepertimu cepat turun tangan, mungkin saja ini semua tidak akan terjadi. Kau, sadar di mana letak kesalahanmu bukan?” tekan salah satu Tetua yang paling dihormati di sana.


Akan tetapi, di saat kecut mendera hati Raja mereka, pintu aula kembali terbuka dengan kehadiran sosok yang tidak disangka-sangka.


Ragraph Revos.


Anak muda itu, dengan dandanan yang sudah tidak lusuh lagi muncul di depan mata. Tanpa keraguan dilangkahkan olehnya kaki mendekati sang kakak. Berdiri di kirinya seperti seorang penjaga.


“Maaf aku terlambat.”


Trempusa pun menatap tak percaya pada kehadiran adik kandungnya.


“Ragraph? Apa yang kau lakukan di sini? Ini pertemuan penting!”


“Kurasa aku berhak hadir di sini mengingat diriku calon petinggi.”


Orang-orang pun terdiam. Tapi, sosok yang tadi menyela tampak tak suka mendengar ucapannya.


“Hanya calon petinggi. Lagi pula melihat kau kembali seperti ini, apa itu berarti ujianmu sudah selesai dilakukan?”


“Begitulah.”


Beberapa pendengar, mengepal erat tangannya mendengar itu semua. Entah kenapa sorot mata mereka terlihat tidak ramah saat menatapnya.


 

__ADS_1


__ADS_2