
“Tidak.”
“Aza.”
“Ada Kagura bersamamu. Kau bisa kembali ke tempat kita bersamanya.”
“Apa kemampuanmu, benar-benar bermasalah?” pertanyaan Trempusa sontak menyentak pendengarannya. Namun tak ada jawaban yang dibalaskan petinggi itu kepadanya. “Bahkan jika kita tidak seakrab itu, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama. Seorang eksekutor yang diangkat menjadi petinggi di usia sangat muda. Tak satu pun guru-guru mampu menyentuhmu, tidak juga Revtel, jadi apa mungkin orang sehebat dirimu melemah kemampuannya? Kamu, menyembunyikan sesuatu bukan?”
Tiba-tiba, Aza mengeluarkan pisau magma tanpa aba-aba. Membuat Rajanya terkesiap akan ulahnya.
“Aza, kamu—” Dan sang petinggi pun menyayat lengannya. Membiarkan darah di luka berjatuhan di depan mata Trempusa. “Aza! Apa yang kamu lakukan?!” kagetnya.
“Minum darahku, Trempusa. Minumlah, sebelum kamu kembali ke empusa.”
“Kamu gila?! Apa maumu sebenarnya?”
“Kau memang Raja, tapi hanya diakui karena sabit gila itu. Cepat atau lambat, kau akan digantikan oleh mereka. Kau memang Raja, tapi tak ada satu pun yang memihakmu. Kau cuma boneka yang digunakan untuk mendengarkan perkataan bangsawan dan tetua. Tapi bagaimanapun juga, kau tetaplah kakak seperguruanku serta temanku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu.”
Trempusa terbungkam. Masih tak menyangka, kalau petinggi di bangsanya akan mengatakan itu padanya. Menatap bergantian wajah Aza dan juga lengan berhiaskan darah di mata. Dan bibir bawah pun ia gigit akibat perasaan di dada.
“Kalau begitu ayo kembali ke empusa, Aza. Tetaplah bersamaku dan dukung aku sepenuh hatimu. Kalau kau memang menganggapku begitu, maka tolong lakukan itu. Yang aku punya hanya dirimu dan juga Ragraph yang entah di mana.”
Entah kenapa, sang pengendali magma tak mengatakan apa-apa selain mengangkat tangan ke arah wajah Rajanya.
“Aza. Apa kau ingin membunuhku?”
Dan senyum pun dilukiskan pemuda itu. “Aku bukan hydra. Darahku takkan membunuhmu. Kau hanya perlu tahu kalau aku melakukan yang terbaik sebagai bawahanmu. Minumlah, karena orang-orang akan merasa aneh kalau sampai melihatnya.”
Cukup lama bagi Trempusa untuk menyetujuinya. Sampai akhirnya mulutnya pun menghisap darah di lengan adik seperguruannya. Rasanya aneh, karena dia bukan dracula. Sampai akhirnya sensasi kejut menyentak dirinya.
“I-ini!” pekiknya memegang lehernya. Ada sensasi panas di dada seolah-olah darah tersebut hendak membakarnya. Hanya saja, itu tidak menyakitkan dan lebih seperti memberikan rangsangan. Trempusa, menatap tak percaya pada sosok di depannya. “Apa ini?”
“Tenang saja. Kau takkan mati, Yang Mulia,” Aza pun mengarahkan tangannya tepat ke mata Raja empusa. Membuat semua pandangan gelap di penglihatan dan ia tiba-tiba pingsan begitu saja.
Refleks Aza Ergo memapahnya dan dia tersenyum saat melihat keberadaan Blerda tak jauh dari balkon tempat mereka berada.
“Mau membantuku?”
Gadis itu hanya diam memperhatikan langkahnya. Menemani sang petinggi menuju kamar yang terpisah dari ruang peristirahatan bangsa empusa.
Dibaringkan Trempusa di sana, dan ditinggalkan oleh mereka begitu saja.
“Bagaimana dengan Kagura?” tanya Aza kepadanya.
“Sulit membunuhnya. Tapi dia pasti akan balas dendam pada kita.”
“Aku bukan tanya itu. Sepertinya, yang ada di otakmu itu eksekusi saja ya.”
“Sedikit banyaknya mungkin ini juga ada hubungannya dengan Hadesia. Lebih baik bunuh mereka, daripada menyusahkan nantinya.”
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan Thertera?” Bleria hanya menyipitkan matanya. “Apa benar-benar ada hubungannya dengan Hadesia? Dia juga menyetujui kebohonganmu bukan?” jelas Aza.
Akan tetapi, entah kenapa sesuatu yang mengejutkan tiba-tiba menyembur di langit-langit yang cukup jauh dari kediaman bangsa siren.
Semua terkejut, terlebih lagi itu dari arah barat daya.
“Itu, tempat yang dilewati Arjuna!” pekik Heksar menyadari siapa yang pergi ke arah sana.
Dan lagi-lagi dua buah suar kembali naik ke langit-langit. Sehingga para utusan yang menjadi pemburu bisa melihatnya.
“Apa yang terjadi? Kita bahkan belum sampai di kawasan terlarang tapi mereka sudah bertemu musuh? Suar milik siapa?” tanya Logan pada rekannya.
“Antara pasukan Tuan Arjuna atau Tuan Orion,” sahut Libra.
Sementara di istana bangsa siren, terlihat ekspresi tenang Blerda dan juga Aza yang melihatnya. Mereka sama-sama diam, sambil memperhatikan dua buah suar yang mulai memudar.
“Kurasa itu bukan musuh,” lirih Aza.
“Monster.”
Sang petinggi empusa pun terkesiap. “Monster? Kau yakin?”
“Ugh!” erang Blerda tiba-tiba.
“Ada apa?”
Tiba-tiba tepat di depan balkon di mana Blerda dan Aza berdiri, muncul dua makhluk yang tidak disangka-sangka melompat dari batang pohon di depan mereka.
Ghoul.
“Awas!” pekik Aza tiba-tiba sambil menarik Blerda ke belakang. Hampir saja. Kalau ia tidak bergerak cepat, bisa dipastikan cakaran ghoul berhasil melukai wajah gadis kesakitan itu. “Kenapa mereka bisa muncul di sini? Apa ada yang mengusik gerbangnya?!” kaget Aza.
Tapi, erangan Blerda kian menjadi-jadi di sana. Bersamaan dengan monster mengerikan yang lapar ingin memangsa.
Dan sensasi dingin pun langsung semerbak membekukan dua ghoul di depan mata, bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka dan memunculkan sosok Revtel di sana.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
Akan tetapi, bukannya jawaban yang di dapatkan justru teriakan keras dari Blerda menjadi pembalasan. Aza dan Revtel kaget melihatnya. Bersamaan dengan kedatangan orang-orang ke tempat itu dan terkejut melihatnya.
“Blerda! Apa yang terjadi?!” panik Tuan Criber melangkah hendak mendekatinya.
Dan akhirnya, sang pemimpin siren mendadak terdiam begitu namanya selesai disebutkan. Tertawa aneh, membuat bulu kuduk siapa pun berdiri mendengarnya.
“Yang Mulia?” panggil Otama dengan cemas.
Tiba-tiba kepala tertunduk dan tubuh terduduk itu bangkit di hadapan mereka. Ada yang tidak biasa dari gerakannya, sampai akhirnya ia pun melirik cepat ke arah Aza.
“Awas!” pekik pak tua penjual rongsokan tiba-tiba.
__ADS_1
Tanpa ada kejelasan Blerda menyerang Aza Ergo yang tadi membantunya. Serangan fisik memang tidak akan mempan pada petinggi empusa, tapi sensasi ngeri jelas terasa olehnya.
Saat matanya bertemu dengan manik gelap sepenuhnya milik Blerda Sirena. Dia, seperti ghoul yang tadi dihabisi Revtel.
Dan energi tak biasa mulai terpancar dari dirinya.
“Gawat, jangan bilang!” pekik Heksar menyadarinya.
“Bertahan!” teriak Revtel tiba-tiba.
Dan sebuah ledakan besar langsung memporak-porandakan sekitarnya. Terkejut, tentu saja. Kediaman siren di area sayap tengah dan kanan pun hancur lebur menjadi reruntuhan.
Terlebih parahnya lagi, sosok-sosok yang dibawa Aza Ergo juga berpose melongo tak jauh di dari sana, karena tak tahu apa yang baru saja terjadi pada mereka.
“Mereka!” pekik Tuan Criber menyadari para buronan di balik tanaman Horusca yang memudar.
Bahkan Raja kurcaci dan juga Barca Asera ikut terkejut melihatnya, karena benar-benar tak menyangka kalau kawanan Reve Nel Keres dan Toz Nidiel berada di istana bangsa siren bersama mereka.
“G-gawat! K-kita ketahuan,” panik Doxia menyadari tatapan tajam gurunya.
“Lupakan mereka! Tangani Blerda!” teriakan Revtel membuyarkan suasana.
Tuan Criber pun langsung mengeluarkan anginnya dan mengurung kawasan istana yang sudah porak-poranda.
Blerda Sirena yang ditahan Heksar dan Aza dengan magma, melewati gumpalan panas itu tanpa takut badannya terluka. Dia kembali tertawa, dan hal itu lagi-lagi berhasil menggelitik rasa takut mereka.
“Hei, tolong lakukan sesuatu!” panik Heksar menyadari gadis itu berjalan ke arahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?!” tanya Barca Asera.
“Nanti kujelaskan! Sekarang hentikan saja dulu dia!” suruh Tuan Criber makin memperbesar jangkauan lingkaran anginnya.
“Capricorn.”
Tersentak. Orang-orang pun dibuat terkejut olehnya. Karena ucapan Blerda yang diiringi tawa itu malah memanggil pelayan Dewa tiba-tiba.
Seketika, kengerian makin terpancar pada rasi bintang yang dipanggil dirinya. Serupa seperti ghoul yang juga menghiasi wajah Blerda sang pemanggilnya.
“Apa yang salah dengannya?!” panik Heksar. Jujur, rupa ghoul keturunan iblis adalah yang paling ia takuti sebenarnya.
__ADS_1