Death Game

Death Game
VORTHA


__ADS_3

“Ini—” Aza Ergo mengedarkan pandangan di dalam gelap.


Diiringi suara serbuk besi bergerak cepat di sekitar kulit mereka yang tadinya bersitegang. Saling waspada, karena menerka-nerka akan serangan tak terduga.


Dan Izanami pun mengepal erat tangannya sampai cairan merah kembali menetes. Melancarkan serangan, dari darah yang menjadi cambuk baginya.


Sontak saja suasana gelap berubah terang karena perlawanan barusan. Aza Ergo dan sang pengendali darah, membisu karena mereka sekarang berada di tempat yang tak terduga.


“Teleportasi?” gumam sang petinggi empusa.


Akan tetapi, entah kenapa sosok yang menjadi pemilik kemampuan serbuk besi tak lagi tampak. Membuat keduanya melirik sekeliling, mengingat sekarang mereka seperti sedang terkurung di penjara besar.


“Mau apa kau membawa kami ke sini?” tanya Izanami tiba-tiba. Wajahnya menoleh ke kanan dan akhirnya disambut tawa dari sosok tak terlihat di sebelah sana.


“Apa yang harus kukatakan? Sebagai tamu Raja, kemampuanmu sangat luar biasa.”


Tiba-tiba desiran seperti serbuk besi saling bertabrakan berkumandang di tempat yang ditatap Izanami. Menampilkan bayangan, membentuk rupa sosok pembawa tongkat aneh.


“Hei,” sela Aza Ergo tiba-tiba. Kedua orang itu menoleh pada sang petinggi muda. “Aku orang yang sibuk, jadi ayo hentikan basa-basinya.” Dan gumpalan magma langsung muncul dari punggungnya. Bergerak cepat layaknya ular raksasa yang mengitari ketiganya.


“Kau lah yang meminta ini bocah,” gumam Izanami dengan suara menekan. Bahkan air mata menetes begitu saja membasahi wajahnya. Namun, itu adalah tangisan darah yang terlihat mengerikan di rupa menawannya.


Tanpa diduga sosok pengendali serbuk besi bergidik dibuatnya. Tersadar, kalau Izanami Forseti bukanlah orang biasa. Seketika rahangnya menegas dan tubuhnya memancarkan energi emas pekat yang mulai terbakar. Memerah, melambangkan kalau laki-laki berusia 28 tahun itu ternyata seorang merlindia (penyihir) level bangsawan.


“Hentikan!” cegatnya. Izanami dan Aza sama-sama terbungkam dibuatnya. “Jika kalian masih keras kepala, maka Lagarise akan hancur tak bersisa!”


Pengendali darah itu pun tersentak mendengarnya. Pupilnya bergetar, tersadar dengan kecerobohan apa yang sudah dilakukan.


Bagaimana bisa sosok tenang sepertinya tersulut emosi karena provokasi Aza Ergo? Sekarang, batinnya mengumpat dan hawa menekan di tubuhnya mulai memudar.


“Jika tak ingin tempat ini hancur, maka cobalah untuk melindunginya,” lirih Aza Ergo yang menggerakkan jurusnya tiba-tiba.


Serangan magma itu pun langsung bergerak cepat seperti ular melata hendak memakan kedua orang yang menjadi lawannya. Sontak saja mereka menghindar dengan lompatan tinggi namun masih diburu tanpa iba.


“Dasar keras kepala!” jengkel pengendali besi itu dan melancarkan serangannya seperti tsunami raksasa. Jurus Aza pun dihantam keras sehingga menghasilkan percikan magma yang berterbangan.


Pemilik jabatan hebat di empusa itu pun tertawa pelan, melihat kegagalan serangannya pada mereka berdua. “Bahkan jika petinggi elit yang hadir, kau takkan keluar. Kenapa di saat petinggi remahan seperti kami kau malah muncul?”


“Petinggi?” sosok itu lalu melirik Izanami yang berekspresi murka.


“Oh! Apa yang baru saja kukatakan? Mulutku memang seenaknya sendiri ya,” ia pun tertawa sambil memukul-mukul pahanya.


“Menyebalkan!” umpat Izanami lalu menyayat lengannya dengan pisau yang entah muncul dari mana. Sontak saja darahnya berpercikan dan menyembur ke mana-mana seperti benang merah yang sangat banyak jumlahnya.

__ADS_1


“Akan kubakar,” seringai Aza Ergo.


Sebelah tangannya diayunkan seirama magma yang bergerak mengiringinya.


“Bukankah sudah kubilang hentikan?!” hardik merlindia (penyihir) itu. Bahkan muncul jarum-jarum besi panjang yang terlihat memenuhi langit-langit Aza dan Izanami dalam posisi tertahan. Seperti ancaman, jika mereka bergerak sedikit saja, keduanya mungkin akan dihujani tanpa ampun. “Jangan lampaui batasanmu, anak muda.” Sekarang, ekspresi wajahnya benar-benar serius dalam berbicara.


Tapi, entah kenapa tawa keras tersembur dari bibir petinggi empusa. “Benar, memang beginilah seharusnya! Ayo buat aku bergairah sekarang juga!” semangatnya.


DEG!


Mereka tersentak, karena tiba-tiba sebuah pedang terarah di leher Aza. Dia yang tadi seperti ingin menggila sekarang berekspresi malas menatap sosok yang membokongnya.


“Aku penasaran kenapa kau pergi diam-diam. Apa ini semacam pemanasan? Tawamu mengerikan.”


“Kupikir kau tidur. Jadi, kenapa kau ke sini? Jangan bilang si tanaman itu juga kemari.”


“Tidak. Dia tak ingin terlibat dengan orang gila sepertimu.”


“Kejam. Padahal kan kita satu kelompok,” Aza lalu menyisir rambutnya ke belakang. Bersamaan dengan gumpalan magma yang melayang disekitarnya berjatuhan ke lantai dan menimbulkan desiran.


“Kau,” Izanami menatapnya lekat.


“Kita bertemu lagi,” Reve tersenyum remeh padanya. “Bukankah, aku seharusnya juga diundang? Tidak seru jika kalian saja yang bersenang-senang.”


“Siapa yang bersenang-senang? Mereka hampir menjadikanku daging cincang,” Aza menimpali.


“Tentu saja. Memang menyusahkan karena aku hebat,” Aza Ergo berekspresi sombong.


Sungguh, dia benar-benar menyebalkan di mata kedua orang yang tadi ingin diserangnya.


“Aku tak peduli apa pun urusan kalian di sini. Tapi, jangan melewati batasan atau pergi dari kota ini.”


“Siapa orang aneh itu? Sikapnya seperti bos saja,” tanya Reve sambil melirik Aza.


“Dia memang bos di sini.”


“Kau bilang pemimpin di sini takkan muncul bahkan jika petinggi bangsa-bangsa datang.”


“Mana kutahu? Tanya saja padanya.”


“Hei! Di mana aku bisa mencari amarilis?” tanya Reve pada sang pengendali serbuk besi.


Guratan bingung pun langsung terpampang nyata di wajah dia yang ditanya. “Kenapa kau tanyakan itu padanya?” Aza Ergo menatap jengkel.

__ADS_1


“Kan kau yang menyuruhku bertanya.”


“Tapi bukan tentang itu. Kau menambah masalah saja,” petinggi itu pun geleng-geleng kepala.


“Jadi, apa itu berarti kalian datang ke sini untuk mencari Peri amarilis?”


“Benar,” jawab Reve dan Aza bersamaan. Sementara Izanami, hanya diam memandangi mereka. Mukanya seperti memendam kesal namun tak menyuarakannya.


Pengendali serbuk besi tersebut akhirnya menghela napas pelan. “Seharusnya katakan itu dari awal. Bukan menggila di hutan Lagarise seperti sebelumnya.”


“Oh! Berarti kau tahu di mana kami bisa menemukannya?” Aza terlihat semringah.


“Ya. Kalian cari saja elftraz (penyembuh) manusia bernama Cley Vortha. Pengetahuannya mungkin akan membantu kalian.”


“Vortha?” Izanami dan Aza bergumam bersamaan.


“Kenapa? Kau mengenalnya?” Reve melirik kedua sosok yang bergumam.


“Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya,” tapi entah kenapa petinggi itu tersenyum aneh pada sang pengendali darah yang menatap tajam. Pemuda ular yang memperhatikan hal tersebut pun mengernyitkan wajah bingung karenanya. “Jadi, di mana kami bisa menemukan Cley Vortha?”


“Entahlah. Aku tak tahu apa dia sekarang ada di dunia ini atau dunia manusia. Tapi tak sulit untuk mencarinya, karena dia cukup populer di kalangan petinggi gyges dan dracula.”


“Cih!” Aza Ergo mendecih tiba-tiba. “Baiklah, setidaknya aku harus berterima kasih padamu karena sudah memberi tahuku informasi sepenting ini. Ayo pergi, Reve,” ajaknya.


“Tunggu!” cegat pemuda itu tiba-tiba. “Selain amarilis, kita masih membutuhkan hal yang lain kan?” tatapnya pada Izanami.


“Kau takkan mendapatkan apa pun dariku,” ucap Izanami tiba-tiba.


Sosok yang menjadi pemimpin di Lagarise, hanya menatap heran karena sesuatu yang tidak diketahuinya.


“Kau—” Reve memperlihatkan ekspresi jengkel.


“Sudahlah,” petinggi empusa memotong tiba-tiba.  


“Apa maksudmu?” Reve tampak kaget dan tak terima dengan perkataan Aza Ergo.


“Biarkan dia menutup rapat mulutnya. Lagi pula, kita sudah dapatkan salah satu kuncinya kan?”


“Apa.”


“Kau lupa? Tentu saja Cley Vortha. VORTHA,” ejanya yang membuat Reve Nel Keres terdiam.


“Itu,” dirinya langsung menoleh pada Izanami yang bertampang masam. Dan akhirnya, sesuatu tak asing menyentak pikirannya. “Ah, begitu ya. Aku ingat sekarang,” lalu ia tertawa pelan. “Bagaimana bisa aku lupa? Vortha, nama itu salah satunya,” dan dirinya pun perlahan berbalik. “Baiklah, tak masalah aku tak mendapatkan apa pun darimu. Lagi pula aku bisa tanyakan itu pada yang lainnya. Memang tidak perlu terburu-buru, karena cepat atau lambat aku pasti bisa mendapatkan kuncinya.”

__ADS_1


Seringainya pada Izanami, membuat guratan emosi di wajah pengendali darah itu kian tak terlukiskan. Rasanya geram, karena tak menyangka jika nama Vortha yang menjadi incaran mereka, adalah nama yang sama dengan salah satu dari tiga belas pengetahui kunci Reygan, Zeus Vortha.


 


__ADS_2