
“Woah! Apa yang terjadi? Kalian habis dari mana?” tanya Doxia karena kaget melihat dandanan berantakan Aza serta Reve. Berbeda dengan Horusca, walau ada sedikit lecet tapi ia jauh lebih baik.
“Aku lelah,” gumam sang petinggi mengabaikan.
“Riz,” panggil Reve begitu bertemu dengan sosok yang menyambutnya dengan tatapan cemas.
“Reve, kalian baik-baik saja? Tidak ada yang luka kan? Bagaimana dengan orang itu?” tanyanya tanpa memberi jeda.
“Lupakan. Jangan bahas lagi,” ucap Reve sambil mengangkat sebelah tangannya. Dirinya lalu menunduk dan meraih Near sang ular ke pangkuan. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya yang mengundang tatapan aneh.
“Aku tidak baik-baik saja,” balas Rexcel dengan suara aneh seperti mewakilkan ular itu yang membuat orang-orang tertawa.
“Jujur saja, aku kaget saat melihat bocah ini pulang berlumuran darah. Memang siapa lawan kalian?” tanya Doxia masih penasaran mengingat apa yang menimpa Riz sebelumnya.
“Monster,” balas Aza Ergo dan Reve hampir bersamaan. Lainnya pun memandang aneh pada dua sosok yang rebahan di sofa dalam keadaan berbeda.
Perlahan bocah ular itu pun melirik ke arah ranjang yang posisinya tak di batasi dinding di kanan mereka. Di mana Toz Nidiel masih tak sadarkan diri semenjak insiden terakhir.
“Kenapa dia masih belum sadar?”
“Kan sudah dikatakan kalau proses kebangkitan itu memakan waktu yang berbeda-beda,” timpal sang petinggi dengan tatapan malas.
“Apa jangan-jangan dia mati?” tanya Rexcel sambil menusuk-nusuk pelan pipi Toz.
“Jangan ngawur!” kalimat Riz sontak mengagetkan mereka.
“Kenapa kau teriak?!” pekik Doxia karena ia berdiri di dekat pemuda itu yang membuat telinganya hampir berdenging.
“E-eh, maaf,” Riz gelegapan sambil senyum-senyum tak jelas.
“Dasar.”
Sementara Horusca, walau dirinya duduk di atas karpet dengan menyandarkan tubuh ke dinding, tapi sorot matanya masih enggan meninggalkan Toz. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengusiknya namun ia tak tahu itu apa.
Hening.
Sekarang, dalam suasana langit malam dipenuhi bintang-bintang dan dua bulan merah serta putih sebagai hiasan, pemandangan menakjubkan telah terhampar di depan mata.
__ADS_1
Ada singgasana, dengan kursi sang raja tak hanya satu namun tiga belas buah yang berjarak melingkari pinggiran aula. Tak ada siapa pun yang duduk di sana, terlebih ada altar di tengah-tengahnya dan dikelilingi api di tiga tangga penaikannya.
Seorang pemuda terdiam. Menatap bingung kenapa ia bisa berada di tempat aneh itu. Setelah berjalan jauh melewati jalan setapak yang dihiasi pinggiran pohon magnolia, sekarang dirinya sampai di tempat dengan pesona hamparan bunga lily yang berserakan di lantai, beserta aroma khasnya menguar jelas untuk mengudara.
Sosoknya masih menoleh ke sekeliling, mendapati lima patung berwajah indah yang tadinya telah menyinarinya berdiri tegak di belakang tiga belas kursi raja seperti pilar raksasa.
Toz bingung, karena sosok pria berwajah setengah hancur serta dua anjing doberman itu tak lagi ada untuk menemani. Jadi, ia harus apa? Tak ada yang bisa diajak bicara membuat dirinya jengah.
“Halo? Apa ada orang?” dirinya akhirnya bersuara.
Hening.
“Permisi? Apa di tempat sebesar ini tak ada orang?”
Hanya goyangan api di altar yang seakan membalas kalimatnya.
“Hah ...” matanya masih menyoroti sekelilingnya. “Jasa kiriman! Seorang pemuda tampan dan patuh lagi bijaksana datang!” teriaknya mulai ngawur.
Sungguh ia telah frustasi karena berada di sini sendirian. “Sekarang aku harus bagaimana?” keluhnya sambil kaki melangkah ke salah satu kursi raja yang kosong. Duduk bersila dengan salah satu tangan bertopang ke paha untuk menahan dagunya. “Hm ... kursinya lumayan besar,” liriknya ke tempat yang di dudukinya.
Beberapa detik pun berlalu dengan sorot mata Toz yang menatap tenang semuanya. “Cih! Bisa gila aku kalau begini terus sendirian,” lalu bangkit dari posisinya. Akan tetapi, suara desiran angin yang menerpa membuat pemuda itu menengadah.
“Ini adalah nyanyian, kisah mereka yang berjanji. Sekuntum lily menyambut darah, kata saling terikat, tatapan saling berpindah, tangan saling berkait.”
DEG!
Sontak pemuda itu menatap cepat ke sekelilingnya memastikan di mana sumber nyanyian samar itu berasal.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang pernah mengucapkan. Biru yang dibawa, hijau yang diganti, putih yang dimakan, merah yang dikeluarkan.”
“Siapa di sana!” teriak Toz mulai panik.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang menanti. Tangan yang terulur, buah dewa yang diperlihatkan, pijakan yang disediakan, semua yang ditawarkan, nyawa yang dibayarkan.”
“Siapa itu!” dirinya masih menatap berkeliling. Namun tak ada siapa pun, dan tak jelas dari mana nyanyian samar itu asalnya.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang memberi. Cahaya yang diturunkan, silau yang membutakan, suara yang dirindukan, belaian yang menghangatkan, kegelapan yang dipersembahkan.”
__ADS_1
Toz benar-benar panik. Takutnya justru sosok yang aneh-aneh keluar di sana. Sontak saja tubuhnya melesat untuk bersembunyi di balik kursi raja sambil mengintai sekelilingnya.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang mati. Tangan yang diangkat, suara yang menggertak, darah yang berserak, kutukan yang dilepas, lantunan doa terlarang.”
Perlahan, asap hitam muncul dari lima patung yang berdiri kokoh dan bergerak menutupi semuanya. Toz terkesiap, menatap kaget dan berusaha merapatkan bibirnya agar tidak berteriak ketakutan.
Bahkan, hamparan bunga lily yang berserakan di lantai mulai terbang mengudara. Seolah bergerak ke satu titik menuju pusat pengelilingan api.
Ya altar itu. Altar yang telah diselimuti sepenuhnya oleh asap hitam pekat yang tadinya menutupi semuanya. Aromanya terasa mencekam. Sekarang seperti campuran bunga, buah dan darah.
Tapi aneh, karena Toz justru tidak panik lagi. Ia tak tahu kenapa, tapi rasanya penampakan mendadak itu bukanlah hal yang menakutkan. Sampai akhirnya lantunan terakhir berkumandang tepat di atas altar.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang berlari. Napas yang memburu, tawa yang menari, amarah yang bersembunyi, kegilaan yang menyelimuti, langkah kematian di sini.”
Akan tetapi, tiba-tiba teriakan keras mengagetkan Toz tepat setelah lantunan itu berakhir. Bersamaan dengan ledakan angin kasar di atas altar yang menghempaskan keadaan sekelilingnya dan membuat pemuda itu terjatuh ke belakang.
Spontan saja ia meringis kesakitan karena belakang kepalanya membentur lantai. Tapi, rasa sakit itu tak berlangsung lama karena suara aneh yang terdengar. Refleks dirinya bangkit dan melihat itu semua dari balik kursi raja yang masih kokoh posisinya.
Seorang wanita muda, cantik namun terasa tak biasa. Rambut hitamnya begitu panjang menyentuh kakinya. Kimono merah darah di badannya begitu kontras untuk sosoknya. Bahkan mata amber serigala di wajahnya sungguh menekan suasana.
Dia terasa menakutkan dan juga menakjubkan di saat bersamaan.
“Manusia?” gumamnya. Perlahan, mata dingin itu menoleh pada sosok yang bersembunyi di balik kursi raja. “Keluarlah.”
Napas Toz rasanya tercekat karena ia ketahuan. Tapi, seketika kuasa diri berhasil ia pegang dan keluar dari persembunyian. Karena memang inilah yang sangat ia nantikan, yaitu tidak sendirian. “A-anda siapa?”
Wanita itu tersenyum.
Sontak Toz bergidik ngeri, karena guratan di bibir wanita itu seperti seringai tipis yang aneh. Seolah pisau tajam baru saja menghantam jantungnya saat menatap senyuman itu.
Perlahan, bibir sang perempuan terbuka dan melirihkan kata tak terduga. “Lagarise.”
Selesai mengatakan itu, tato merah aneh pun muncul di leher sang perempuan seperti gambar dua tangan yang ingin mencekik dirinya. Jantung Toz berdetak tak karuan tapi entah kenapa tubuhnya tak mampu bergerak.
Matanya, telah terkunci pada pemilik netra amber yang seperti memakan kontrol dirinya.
__ADS_1