Death Game

Death Game
Arena ujian para guider


__ADS_3

“Kita bertemu lagi.”


Toz tersentak. Sebuah suara mengganggu kesadarannya. Aroma magnolia juga pekat di sekelilingnya dan ini semua jelas pemandangan yang tak pernah dilihatnya.


“A-anda? Tuan Susanoo bukan?”


“Kau masih mengingatku rupanya.”


“Bagaimana mungkin aku lupa?” Toz dengan hati senang berjalan ke arahnya. “Agh!” pekiknya tiba-tiba. Tanpa ia sadari, sosoknya ternyata melangkah ke atas rawa. Tentu saja ia jatuh ke dalamnya.


Dan sosok Dewa menawan itu hanya tertawa melihat pemandangan di depan mata. Toz pun menggerutu, karena jengkel tak dibantu. Sampai akhirnya ia memperhatikan tubuhnya yang basah menyedihkan. Kurus dan juga kotor dalam berpenampilan.


“Kau memang selalu menghiburku.”


“Sejujurnya aku juga tak ada niat untuk menghibur anda.” Susanoo tersenyum. Menggerakkan tangan seolah memanggilnya. “Anda menyuruhku ke sana? Bagaimana caranya? Ini rawa! Anda ingin aku mati tenggelam?” 


“Nigel (muncullah)” ucap Dewa Susanoo akhirnya.


Tiba-tiba, udara bergemuruh pun melukiskan pemandangan di atas rawa. Diiringi badai di langit-langit sana. Perlahan, awan mengudara turun ke bawah. Seperti membentuk tangga untuk menghubungkan Sang Dewa yang duduk di singgasana mengambang dengan Toz Nidiel di depannya.


Terpana.


Toz terperangah. Seperti dunia sihir, padahal realitanya memang begitu. “I-ini! Apa bisa kuinjak?” ia masih saja terpukau melihat tangga dari awan.


“Kemarilah.”


Dan pemuda itu benar-benar menaikinya, Bahkan dengan langkah lambat penuh kekaguman, sambil tangan sesekali menyentuh gumpalan awan. Lembut, tapi kenapa seperti tangga batu saat diinjak?


Segala macam teori yang memungkinkan itu semua sebagai jawaban bersenandung di dalam kepalanya. Mencoba mencari kejelasan untuk fenomena di depan mata.


Terkadang, ia lupa kalau dirinya sedang tidak berada di dunia manusia.

__ADS_1


“Lagi-lagi,” keluh Aza Ergo. Dirinya, berada di lokasi yang berbeda.


Gerbang kemampuan yang dimasukinya menampilkan pesona kolam lahar dingin di hadapannya. Dan uniknya, ada daun teratai raksasa mengambang di permukaan, sambil kodok-kodok saling melompat ataupun capung beterbangan.


Sementara Aza Ergo, berdiri di atas menara batu. Menyerupai tangan manusia yang sedang berdoa.


“Tidak perlu bersembunyi lagi, cepat perlihatkan sosokmu.”


Tiba-tiba, seseorang yang tak jauh dari posisinya pun menyeringai. Menatap dari balik batu besar seperti sedang mengintai.


Mungkin, masih mencari waktu yang tepat untuk unjuk gigi di hadapan sang petinggi muda.


Namun di tempat lain, jejak-jejak darah telah bercipratan. Di hamparan taman bunga, berhiaskan lavender sekelilingnya, terdapat mayat-mayat yang berserakan. Namun anehnya, itu menguarkan aroma seperti kertas terbakar.


Deru napas Reve pun memburu, karena semua makhluk gila yang ia bantai mencoba untuk bangkit kembali. Entah bagaimana lagi caranya, agar mayat-mayat aneh itu bisa dienyahkan sepenuhnya. Walaupun berkulit pucat, namun ada aliran darah dalam setiap lubang di tubuh mereka.


Seolah masih bernyawa, namun tampangnya jelas-jelas mengerikan. Dan Reve pun terpaksa mengeluarkan banyak pedang untuk menghabisi semua lawannya.


Hydragel Kers pun terdiam. Di depan matanya, tampak sebuah kereta perang yang ditarik empat kuda hitam. Dinaiki seorang pria, berambut hitam legam bergelompang hampir menyentuh paha. Ada tanda aneh di mata kirinya, dan hiasan berupa mahkota berduri di kepala. Dan di tangan kanannya, terpegang sebuah helm yang berkarat. Tak jelas untuk apa, karena dipenuhi oleh lumuran darah.


Tempatnya terdampar, memancarkan aura mengerikan. Seperti kegelapan, namun juga dihiasi penampakan. Berupa beberapa pasang mata merah menyala di dalam kabut sekitar mereka.


Sang Raja hydra, hanya bisa menerka-nerka. Mungkin memang ini gerbang kemampuannya. Tapi, entah kenapa ia merasa kalau level ujiannya terlalu ekstrem sekarang, mengingat sosok di depannya seperti seorang pembawa kematian. 


Tapi di tempat berbeda, rintikan hujan deras sedang membasahi daratan. Layaknya stepa di dunia manusia, namun ini hanya dihuni oleh Revtel yang baru datang. Dirinya melirik sekeliling, tak ada siapa-siapa. Selain dedaunan kering yang berterbangan entah berasal dari mana.


Dan perlahan di ujung sana, matanya mulai merasakan hal yang tak biasa. Seolah menangkap pemandangan aneh di penglihatannya.


Di balik kacamata basah dan mengganggu sorotan, Revtel pun menariknya. Mencoba memastikan dengan benar apa yang tertangkap oleh matanya.  


Tapi tiba-tiba dirinya malah terkesiap. Oleh kehadiran sosok gelap besar tepat setelah kacamata dilepaskan. Dan ayunan keras pun langsung berkumandang. Dari sosok yang memulai serangan, sehingga darah korbannya pun berserakan di bawah hujan.

__ADS_1


“A-apa ini?” gumam Trempusa.


Dirinya masih tak menyangka dengan penampakan yang ada di sekitarnya. Miris atau mungkin bisa disebut sangat mengerikan.


Ada salib di atas tanah makam. Berdiri tegak hampir di semua gundukan kuburan. Dan terlebih parahnya lagi, begitu banyak tengkorak yang terikat pada kayu kokoh itu. Sehingga bisa dipastikan kalau ujian kemampuannya, takkan berjalan sesuai harapan.


Tapi di sebuah jembatan, sosok Riz Alea berdiri tepat di tengah-tengahnya. Di bawah kakinya terdapat jurang. Sementara di depannya seperti kawasan hutan larangan. Pohon-pohonnya tak memiliki sehelai daun pun untuk dipamerkan. Seperti dilanda musim gugur dan tak ada tanda-tanda kehidupan.


Namun di belakangnya juga menampilkan kawasan di luar nalar. Bersalju, langit-langit menjatuhkan pesona indahnya, dan itu sangat berseberangan dengan hutan di hadapannya. 


Entah kenapa sudut hati Riz Alea membisikkan keadaan. Kalau apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin saja mengerikan.


Katakanlah. Di antara para pemimpin di dunia Guide, hanya Heksar Chimeral yang berada di level berbeda. Dia seorang scodeaz (pengendali) level monster, tentu saja ujiannya akan sangat berbahaya di pandangan orang-orang sekitarnya.


Dan sosok Raja chimera pun harus mengakui itu semua. Kalau fenomena di depan matanya, bukanlah sesuatu yang bisa diterima akal sehatnya.


Reruntuhan kuno. Namun memancarkan kengerian. Seperti bekas peperangan, ada begitu banyak mayat ditumpuk menggunung di hadapan. Dan di kiri kanannya, terdapat pohon sakura berbunga lebat. Tapi sayangnya, pesona keindahan itu harus pupus karena pemandangan tak diharapkan. Kepala tanpa badan, dalam jumlah ribuan dibiarkan menggantung di sana layaknya buah-buahan.


Entah siapa pelaku yang sudah melakukan hal keji itu pada semuanya.


Tapi satu hal yang pasti. Ujian ini, jelas-jelas neraka bagi sosok Heksar mengingat dirinya sangat tak menyukai sebuah pembantaian.


“Hujan?” lirih Blerda.


Dirinya menengadah, menatap langit merah di atasnya. Sosoknya yang menawan tampak duduk di sebuah perahu berjalan. Walau rintikan hujan berhasil menciptakan gelombang yang tak seberapa, namun itu tidak terlalu mengganggunya.


Bahkan bila basah memeluknya, dia masih santai saja.


Tapi tiba-tiba kepalanya menoleh ke kanan, menatap ke dalam danau yang tidak berair tenang.


Lambat laun ada warna merah terpancar dari sana, sampai akhirnya sebuah tangan pun mengapung di permukaan.

__ADS_1


Dan Raja siren, hanya menyipitkan mata atas apa yang muncul selanjutnya di depan matanya.


__ADS_2