
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa cuaca jadi seperti ini?” gumam Xavier melihat sekelilingnya. “Dan kau, apa kau baik-baik saja?” tanyanya pada sang petinggi empusa.
Aza tak meresponsnya. Apalagi pintu ruangan yang terbuka sekarang sedang menampilkan sosok Reve Nel Keres dengan napas terengah-engahnya.
“Reve,” sambut Toz di sana. “Bagaimana? Apa Near sudah ditemukan?”
Dirinya menggeleng dengan wajah frustrasi.
“Kau pastilah bocah dari tanah biru itu,” tekan Xavier tiba-tiba. “Pembawa masalah.”
Guratan aneh pun terpatri di muka sang pemilik rambut biru kehitaman. “Abaikan dia,” sela Aza. “Apa kau sudah mencari ke seluruh bangunan ini? Atau mungkin saja dia tertidur di suatu tempat.”
“Itu tidak mungkin,” Reve menimpalinya. “Kalaupun dia ada di suatu tempat, aku pasti bisa merasakan kehadirannya. Tapi ini tak ada, bahkan koneksinya juga tidak terasa. Seolah-olah dia—”
“Mati?” potong Horusca tiba-tiba. Membuat sang pemilik netra sedalam samudera menajam dan masam tampangnya.
“Apa mungkin hilangnya ularmu ada kaitannya dengan fenomena ini?” Pertanyaan Aza Ergo membuatnya terdiam. “Benar?”
“Entahlah. Aku tak tahu, tapi yang jelas kondisi cuaca sekarang benar-benar aneh. Bagaimana menurutmu?”
Aza pun melirik ke luar jendela. Entah apa yang dipikirkannya, tapi dahinya berkerut bingung sekarang. Tiba-tiba sosoknya tersentak, “tunggu, sebelum aku pingsan, aku memegang pedang bukan? Di mana pedang itu?”
“Ah, pedang itu lenyap saat kau tumbang.”
“Lenyap?”
“Ya. Aku juga kaget, tapi karena kau pingsan jadi tak terlalu kupikirkan.”
Aza pun pergi dari sana. “Hei! Kau mau ke mana?” Xavier malah mengikutinya. Tentunya sang petinggi itu kembali ke tempat di mana ia menemukan diary Kuyang. Sang saudara seperguruan pun terperangah melihat kengerian di depan mata. “A-apa-apaan ini?! Kau yang melakukannya?!”
“Bukan,” jawab singkatnya sambil memeriksa sekelilingnya. Memang tak ada pedang di sana, tampaknya apa yang diucapkan Reve benar adanya. Namun diary sebelumnya masih terletak di atas meja.
“Semuanya kehilangan jantungnya.”
Aza hanya melirik sekilas sosok yang bersuara.
Sementara di tempat berbeda, Riz dan Osmo sedang membantu Reve mencari ularnya. Bagaimanapun juga, mereka juga kasian melihat tampang sang pemuda yang menyedihkan dan merasa kehilangan.
Sampai akhirnya keduanya pun tiba di sebuah jembatan dengan tiga persimpangan. Di bawahnya terdapat rawa yang setengahnya ditutupi es sementara serengahnya lagi tergenangi daratan magma.
“Tempat ini membuatku merinding,” lirih Riz memandang ke bawah.
“I-itu,” ucap Osmo dengan nada gemetaran.
Sontak saja sang pemuda menoleh pada sumber pandangan rekannya. Dan di ujung jembatan, tampaklah dua orang yang tak biasa energinya. Juga seekor serigala namun bagian perutnya seperti terbuat dari kaca.
__ADS_1
“S-siapa itu?” gumam Riz ikut gemetaran. Tak tahu kenapa, sensasi takut menerpa dirinya, terlebih saat melihat dua orang itu berjalan menuju ke tempatnya.
“A-apa kita kabur saja?” tanya Osmo.
“Bagaimana jika mereka bukan orang jahat? Ayo tanyakan Near dulu padanya,” Riz menahannya. “P-permisi. Apa kalian orang baru di sini?” ucapnya. Namun kedua orang itu tidak mengatakan apa-apa dan terus berjalan. “Kami kemari untuk mencari seekor ular. Kulitnya berwar—”
Osmo dan Riz pun terkesiap. Belum sempat melanjutkan ucapannya, seorang wanita yang tadinya di ujung sana telah tiba di hadapan mereka. Dia tertawa lalu menyeringai tiba-tiba.
“Sepertinya, sudah saatnya untukku makan.”
“Awas!” teriak Osmo tiba-tiba. Tapi terlambat, di saat dirinya mencoba melindungi Riz ayunan tangan Kuyang justru menyayat lehernya. Membuat darah bercipratan dan anak manusia di sampingnya terbelalak melihatnya. “A-a-a-aku ....”
“Tuan!” Seketika tameng berwarna emas pun bangkit untuk melindungi mereka berdua. “T-tuan! Tuan!” Riz pun tak bisa menghentikan aliran air matanya.
“L-la-ri.”
Dirinya tersentak. “L-lari-lah.”
“Mau lari ke mana?” potong wanita itu tiba-tiba. “Aku lapar, bukankah sudah seharusnya kalian memberiku makan?” kekehnya dengan tangan menyentuh perisai terang itu.
Bunyinya seperti besi dan cakar yang saling beradu, membuat Riz bergidik ngeri melihatnya.
“Sudah lama aku tak melihat guider.”
Orang-orang ini jelas berbahaya.
“Seingatku di dalam sana masih ada beberapa orang. Kupikir, kita mungkin akan terhibur.”
“Begitu?” balas singkat Reygan. Dan tangannya mulai menyentuh perisai emas di hadapan.
Riz terpekik, karena lambat laun tangan pria itu mencengkeram perisainya. Sehingga semakin retak dan mulai memperlihatkan celah dirinya.
“Ah, kau memang luar biasa,” puji Kuyang.
Dan tiba-tiba saja perisai itu pecah sehingga membuat dua orang yang berlindung di dalamnya menatap tak percaya pada mereka.
“Kau menghalangi jalanku,” gumam pria itu mengulurkan tangannya ke arah Riz Alea. “Ugh!” erang Reygan tiba-tiba. Seseorang mendadak muncul di antara mereka dan mengayunkan pedang untuk melukainya.
“Tuan!”
“Lari!” teriak Rexcel lalu membantu Riz membawa Osmo.
“Wah, bisa-bisanya mereka kabur di depan kita,” kekeh Kuyang melihatnya. Sementara Reygan, menatap luka memanjang di lengannya. “Ada apa?”
“Tidak ada. Hanya saja, sudah lama aku tak merasakan sakit seperti ini,” senyum tipis terpancar dari bibirnya.
__ADS_1
“Dasar pembohong.”
“Baiklah. Mungkin aku juga butuh peregangan,” sorot mata pria itu tiba-tiba menajam ke arah depannya. Bersamaan dengan sensasi aneh yang ia pancarkan, tiga orang barusan pun langsung jatuh terduduk karenanya.
Di satu sisi para penghuni asrama tersentak akibat tekanan yang dirasa. Mereka melirik ke satu sumber secara bersamaan.
“B-bo-hong,” gugup Reve tiba-tiba. “S-sensasi ini, Reygan?!” geramnya.
Orang-orang di sana pun terbelalak mendengar ucapannya.
“Apa maksudmu?!” pekik Xavier tak terima.
Tapi ekor magma langsung muncul dari punggung Aza. Menghancurkan jendela sehingga ruangan itu langsung terhubung dengan dunia luar.
“Iselkia Redas Ragidos, prohibit dezaria! (Memanggil dalam ketiadaan, mata terlarang!)”
Seketika sebelah wajah Aza pun retak dan berubah menjadi bara. Bersamaan dengan matanya menggelap serta kulit muka yang tersisa dipenuhi tato aneh berwarna serupa.
Gemuruh kian kacau di atas mereka, petir berkumandang dan lingkaran merah bak api muncul tiba-tiba. Seolah merangkai penampakan di langit kawasan Hadesia.
Rexcel dan Riz pun terpekik menyaksikannya. Karena sebuah mata raksasa muncul sana.
“A-ap-a itu?” kaget Toz ikut terperangah melihatnya.
Dan Aza Ergo yang mengukir mantra, wajahnya mulai dihiasi air mata darah. Pertanda kalau jurus di langit memanglah ulahnya.
“Gemuruh apa itu?!” kaget Heksar Chimeral di istana bangsa chimeral. Di menara yang sedang ia datangi, terlihat jelas penampakan aneh di ujung penglihatan.
“Wah! Mata terlarang?!” Kuyang terpekik kagum melihatnya.
“Sepertinya ada guider monster di sini,” sambung Reygan yang ikut tersenyum dalam posisi menengadah.
Dan Aza yang bisa melihat penampakan mereka lewat mata terlarangnya, seketika menggeram sambil memegang kepalanya. “Mereka—”
“Siapa?!” Xavier memotongnya.
Tapi sang petinggi malah tersenyum. “Bersiaplah. Ada iblis di depan sana.”
Mata terlarang di langit-langit pun langsung memudar menjadi ular magma. Bergerak lincah di udara. Bergerak menukik hendak memburu mangsanya.
Kuyang pun tertawa pelan melihatnya. “Aku suka anak berandal yang seperti ini.”
Tiba-tiba energi guider yang menyelimutinya terbakar oleh aura berwarna merah. Bersamaan dengan wujud normalnya berubah bentuk menjadi kaki laba-laba. Sementara tubuh atasnya, diselimuti bulu serigala tapi kepalanya tetap sama.
Hanya saja ada tambahan mahkota dari kumpulan kepala tengkorak sekepalan tinju anak bayi menghiasinya. Dan lengannya berubah menjadi pedang ganda sekarang.
__ADS_1