
Toz menangis, karena semua kekejaman ini. Matanya melirik sendu ke arah tangan yang dipaku pedang Lagarise. Gadis cantik nan mengerikan, menyiksanya tanpa ampun.
“Kau tuli?” ia pun tertawa pelan. “Bunuh Vanargand, hanya itu pilihanmu.”
“K-kau gil— aaagh!” pekiknya kesakitan karena Lagarise kembali mendorong pedang untuk semakin tenggelam memaku tangan Toz. “S-siapa kau? Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya terisak.
“Bunuh Vanargand.”
Pemuda itu menggeleng.
“Bunuh Vanargand.”
Toz tak peduli dan mencoba menarik pedang itu agar tangannya terbebas. Tapi sia-sia, pedang itu seolah tertancap ke lantai dengan sangat kuat, terlebih tangan Lagarise masih menahan gagangnya.
“Keras kepala,” tiba-tiba sebelah tangan Lagarise terangkat dan diarahkan pada serigala raksasa. Sontak saja raungan keras menggeliat dari hewan yang tadinya duduk patuh tak jauh dari mereka. Melolong keras, seperti anjing tak berdaya yang disiksa dan dipukuli majikannya.
Toz terbelalak. Entah sihir apa yang digunakan Lagarise, tapi hewan itu benar-benar kesakitan di matanya.
“Hentikan, aku mohon hentikan. Aku mohon hentikan!” pintanya sambil beruraian air mata. Bahkan jika darah termuntahkan kembali saat ia selesai berbicara, tapi raungan hewan itu lebih menyiksanya.
“Bunuh Vanargand.”
“Aku mohon hentikan!” pekiknya keras.
“Bunuh Vanargand.”
Dan akhirnya, lolongan kesakitan serigala itu memelan. Sungguh memilukan persis seperti Toz. Dari lubang-lubang di wajah hewan tak berdaya di matanya, mengalir cairan merah segar. Seperti sekarat, menatap sayu seakan menangis karena siksaan yang telah diterimanya.
Makhluk bernama Vanargand, hanya bisa mengerang pelan di balik raungan serak yang putus-putus akibat pita suaranya rusak.
“Kenapa?” Lagarise menatapnya tenang. “Serigala itu salah apa sampai kau melakukan ini?!”
“Kubilang bunuh Vanargand.”
“Kalau begitu kenapa bukan kau saja yang membunuhnya!” emosi Toz akhirnya. Tak peduli bahkan jika rasa sakit mencabik-cabik tubuhnya, atau darah berserakan terus dari mulutnya, hatinya tak bisa menerima siksaan yang tampak di depan mata.
__ADS_1
“Karena Vanargand adalah rasa sakitmu, dan rasa sakitmu adalah Vanargand. Hanya satu yang harus hidup dan yang lainnya mati. Entah kau atau Vanargand, dan semua pilihan ada di tanganmu.”
“Kau bukan Dewa. Kau tidak berhak menentukan mati hidupnya seseorang.” Lagarise terdiam. Tangannya yang tadi diturunkan kembali terangkat ke arah serigala itu. “A-apa yang mau kau lakukan? Hentikan, aku mohon hentikan!” pintanya memohon. “Agh! Uhuk-uhuk! Uhuk!” darah segar kembali tersembur di hadapan Toz.
Dirinya benar-benar tidak tahu lagi ini apa. Sekujur tubuhnya benar-benar sakit, terlebih sesak di dada dan tangannya yang tertusuk pedang. Tapi nuraninya menolak untuk diam. Dia benar-benar tidak bisa menerima keadaan di pandangan.
Angin berhembus kencang. Menerpa mereka dan menghempaskan rambut panjang Lagarise seolah surainya helaian benang sutra. Mata ambernya menajam, dengan tangan yang masih memegang pedang dan satunya masih menahan serangan, dirinya pun melirik serigala tumbang.
“Karena aku Dewa, aku berhak menentukan hidup matinya seseorang. Karena aku Dewa, aku berhak menentukan keadilan di pandangan. Karena aku Dewa, aku berhak memutuskan siapa yang tinggal atau tenggelam di belakang. Karena aku Dewa, kurangkul mereka yang akan menggapai tangan dan membunuh mereka yang membuang harapan. Karena aku Dewa, semuanya bisa kulakukan.”
Toz Nidiel terdiam. Apa yang baru saja di dengarnya? Manik matanya bergetar akan sesuatu yang menyusup masuk ke pendengaran. “K-kau Dewa?”
“Kau atau Vanargand. Hanya satu di antara kalian yang bisa bertahan.”
Akan tetapi, perlahan justru tawa yang merekah dari bibir sang pemuda. Bahkan jika ia terbatuk-batuk dan memuntahkan darah kembali, bahkan jika cairan merah itu sudah membasahi lantai sampai ke area dadanya, dirinya tak peduli lagi dengan rasa sakitnya.
Otaknya mulai memahami bagaimana kondisinya.
“Lalu karena aku manusia, aku hanya bisa pasrah dengan pilihan?” dirinya menyeringai tipis. “Benar, aku memang cuma manusia, pilihan apa yang kupunya? Aku sudah sekarat di sini,” lalu kepalanya pun direbahkan. Pipi kanannya menyentuh lantai yang basah karena darahnya. Dipandangnya serigala sekarat, begitu menyedihkan seperti dirinya. “Jika aku mati, apa serigala itu juga akan mati?”
“Entahlah.”
Toz terdiam. Matanya, masih belum melepaskan pandangan dari Vanargand. Entah kenapa, senyum mulai merekah dari bibirnya. “Bunuhlah aku, tapi tolong lepaskan serigala itu. Jangan siksa dia lagi, aku mohon,” pintanya pada Lagarise yang menatap dingin dirinya.
“Vanargand hanya binatang. Kau bisa selamat jika membunuhnya.”
Pemuda itu tersenyum, lalu menyentuh darah di dekatnya dengan jari telunjuk dan melukis aneh di sekitar jangkauan. “Kamu tahu, Dewa? Binatang juga makhluk hidup. Jika mereka bisa berbicara, mungkin mereka juga berharap bisa tetap hidup sepertiku.”
“Lalu kenapa kau memilih mati untuknya?”
Rasanya batin Toz tertohok mendengar kalimatnya. Tapi, darah yang juga ikut menetes pelan di mata sang serigala, jauh lebih menyayat hatinya.
“Aku tidak ingin mati,” tangisan sang pemuda kian tak terbendung. “Aku tidak tahu kenapa kau melakukan semua ini. Tapi, jika serigala itu adalah rasa sakitku, lebih baik aku yang mati sehingga aku takkan menyalahkan dunia karena kepergiannya.” Dirinya lalu tertawa, “mengorbankan yang lain demi diriku, tak ada yang jauh lebih menjijikan dari itu.”
Akhirnya, bibirnya yang bergetar terkatup rapat. Perlahan lengkungan merah bagian bawah digigitnya karena gugup yang dirasa. Bahkan, sorot matanya hendak memudarkan cahaya. Mulai buram karena sekujur sakit mengikis kesadaran sesuai detik-detik perjanjian.
__ADS_1
Toz kembali melanjutkan kata-katanya.
“Kamu tahu? Aku manusia bukan batu. Dan aku tidak akan menyesal karena menuruti nurani hatiku,” matanya pun tertutup secara perlahan. Senyum cerah akhirnya terukir di bibir Toz. “Vanargand, aku merindukan orang tuaku. A-aku juga merindukan teman-temanku. T-tapi aku yakin mereka tidak akan menyalahkanmu, karena aku percaya kalau mereka akan bangga dengan pilihanku,” dan akhirnya kelopak mata itu tidak lagi terbuka.
DEG!
Kaget menerpa, sensasi aneh terasa menjalar pada kulit mereka yang peka. Sosok-sosok tak biasa, menajamkan pandangan pada arah yang sama.
“Orion, ada apa?” tanya Reoa Attia pada petinggi gyges yang sama dengannya. Terlihat laki-laki itu menatap tak biasa ke ufuk sana. “Ada apa?” tanyanya sekali lagi.
“Pedang bermata dua,” lirihnya lalu pergi. Reoa Attia pun mengeryitkan wajah bingung karena kalimat tak masuk akal milik lawan bicara. Memandangi punggung sang petinggi, sosok pemegang firasat tak biasa yang dijuluki Ksatria Bintang dari bangsa gyges.
“Kers?” panggil Libra Septor di tempat yang berbeda. Karena petinggi itu bingung mengapa sang pemimpin diam tak melanjutkan makannya. Orang-orang di ruangan yang sama juga heran kenapa sosok pemegang puncak hydra memasang ekspresi tak biasa.
“Kers ada apa? Apa makanannya tidak enak?” tanya Revtel heran dengan tampangnya.
Akan tetapi, justru ekspresi remeh yang ditampilkan sang Raja sambil memainkan garpunya. “Menarik,” lirihnya menyeringai.
Namun di balkon istana dengan pemandangan jurang di depannya, seorang gadis muda menatap bingung pada sosok menawan di pandangan yang hanya diam .
Blerda Sirena.
Rambut pirang bergelombang, pendek sebahu namun bermata hitam pekat. Ada tato senada di pinggiran matanya, dengan hiasan rambut berupa bunga baby breath di kepala. Anting dan cincin sewarna netranya, menghiasi penampakannya. Gaunnya seperti putri Raja, namun penglihatannya bak singa betina. Hendak memangsa tapi masih diam posisinya.
“Kak, kamu dengar aku bicara atau tidak?” sela Bleria Sirena yang mulai kesal karena diabaikan. Bagaimana tidak, karena pemimpin siren itu sama sekali tak menoleh sedikit pun ke arahnya. “Budak yang kabur itu dari bangsa kita! Kita harus melakukan sesuatu kan? Jangan diam saja.”
Blerda pun menoleh yang membuat adiknya terbungkam. “Bersikaplah sebagai petinggi, Bleria,” selesai mengatakan itu, sosok yang ditakuti sebagai pimpinan siren pun beranjak meninggalkannya.
Meninggalkan Bleria yang masih menatap tajam pada punggung kakaknya. Tangannya terkepal erat karena tak bisa menghentikan kekesalan pada ketenangan yang mirip kesombongan baginya.
Blerda Sirena, sang pemegang tahta siren benar-benar tampak menjengkelkan di matanya. “Pedang bermata dua ya,” gumamnya sambil menatap ke arah cincinnya.
__ADS_1