
“Aza!” teriak Doxia dan Rexcel memecah keadaan. Sebuah gumpalan magma yang dilapisi pelindung air berhasil melindungi Aza Ergo. Dia segera melompat menjauh.
“Ma-makhluk apa itu?” Riz jatuh terduduk dengan bada gemetaran. Begitu pula Horusca, matanya yang tak tenang dengan kemunculan aneh itu masih mencoba fokus mengobati Toz. Walau pemuda itu masih meraung kesakitan dan mengeluarkan darah di mulutnya.
“Makhluk apa ini?” Reve menyentak tangan dan mengeluarkan pedang ganda di tangan.
“Tuan Aza, anda baik-baik saja?” tanya Osmo cemas.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu,” ucapnya tanpa menoleh sedikit pun. Ekspresi mereka jelas kaget dan tak menduga, kalau yang berdiri di hadapan sekarang adalah makhluk aneh tak biasa.
“Mo-monster? Monster dalam legenda?” suara Rexcel bergetar.
“Sial!” Doxia mengeluarkan kapaknya, hendak melancarkan serangan tiba-tiba.
“Duaagh!”
“Doxia!” pekik Rexcel tiba-tiba. Namun terlambat, pria itu menerima pukulan di perut dan menghasilkan bunyi patah tulang yang keras. Rexcel segera berlari panik menyelamatkan Doxia yang terpental jauh di sana.
Seketika, suasana berubah mencekam. Begitu sinar bulan tak lagi tertutup awan, sekarang lebih jelas memancarkan cahayanya. Sesosok monster, dengan tanduk di dahi dan belakang kepalanya. Tapi, bukan auranya yang membuat orang-orang bergidik ngeri. Melainkan banyaknya mata yang terpajang di tubuh monster itu sambil mengalirkan darah. Di dadanya bahkan terdapat lubang menganga besar diselimuti taring mirip gerjaji di sana.
“Makanan orang mati. Makanan orang mati. Makanan orang mati,” sahut monster itu dengan suara parau.
Ia memutar tubuh menyapu siapa pun yang berdiri di sekelilingnya. Mulutnya yang menjulurkan lidah hampir mencapai dadanya. Bahkan liur darah juga ikut menetes menampilkan pemandangan jijik di rupanya.
Aza Ergo semakin menegaskan rahang, tangannya jelas bergetar, dalam keraguan ingin melancarkan serangan atau tetap memerhatikan tingkah makhluk yang masih fokus diam dengan sekelilingnya.
Tapi, tatapannya seketika terhenti begitu tersangkut pada Aza Ergo dan Osmo yang berdiri berdekatan. “Makanan orang mati ... makanan orang mati ... makanan orang mati.” Kaki pun dilangkahkan ke arah mereka berdua.
“Sialan, sepertinya kita memang harus membunuhnya,” seringai Aza Ergo melebar. Ia mengangkat tangannya ke depan. “Nigel (muncullah), espasa de magma (pedang magma),” sebuah pedang dari magma padat pun muncul tiba-tiba dalam genggaman. Makhluk itu spontan menjerit begitu merasakan energi Aza Ergo, ia berlari dengan mengangkat tangan hendak meninjunya kembali.
“Buagh!” suara tinju dan pedang yang beradu. Bahkan panas dan sensasi terbakar dari senjata petinggi itu tak mampu melukai monster tersebut walau serangan berhasil ditahan. “Buaagh! Buagh! Buagh!” monster itu melayangkan tinju beruntun namun bisa dihentikan Aza Ergo dengan kelihaiannya. Akan tetapi, kenyataan kalau makhluk itu berhasil membuatnya tersudut jelas terlihat dari kaki Aza Ergo yang sedikit tenggelam begitu menerima serangan.
Reve yang masih diam akhirnya melempar pedang di tangan.
__ADS_1
“Trang!” pedang berhasil ditepis oleh makhluk itu dan tertancap di pohon.
Reve menyeringai, karena mulai merasakan sesuatu di tubuhnya. “Nigel (muncullah), espasa de explosa troia (ledakan pedang terselubung).”
“Wuush! Sraak! Sraak!”
Suara kemunculan dari banyak pedang di belakang Reve membuat makhluk itu menatap tajam. Ia langsung memutar tubuhnya.” Groaar!” raungan makhluk itu membabi buta berlari ke arah Reve.
“Sepertinya dia sensitif terhadap kekuatan!” tukas Aza Ergo masih melancarkan serangan ke punggung makhluk itu. Akan tetapi, sang monster tak mengacuhkan dan mengatup mulut sehingga menggembung seperti balon.
“Ini,” Reve sedikit menundukkan wajah dengan rautnya menggelap. “Majulah,” ucap Reve. Seketika, pedang-pedangnya melesat cepat ke arah makhluk yang berjarak 3 meter darinya. Mulut monster yang menggembung pun memuntahkan cairah hijau aneh mirip karet ke arah pedang Reve.
“Wuush! Buaagh!” suara muntahan karet panas dan pedang saling beradu, membuat pedang Reve meleleh oleh jurusnya.
“Sial! Makhluk apa itu?!” jerit Rexcel. Tampak ia membopong Doxia mendekat ke arah Horusca dengan badan terluka parah.
“Ayo kita serang dia!” perintah Aza Ergo pada Osmo yang dibalas anggukkan.
Osmo pun memasang kuda-kuda, mengucapkan mantra tak bersuara. Seketika, tanah pijakan monster itu basah dan membuat makhluk itu menatap sekelilingnya. Aza Ergo dan Reve saling memainkan mata, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu yang tak terduga.
“Trang!” Reve juga ikut menyerang. Pedangnya membentur gelang yang sama di tangan monster itu. Spontan dirinya memutar tubuh dan membungkuk untuk mengayunkan pedang ke kaki monster. Tapi, monster itu berhasil menghindarinya sambil menyerang Aza Ergo.
Serangan Osmo dari tanah, mencoba menusuk monster itu sambil membentuk duri air. Akan tetapi, langsung ditepis dalam sekali ayunan, membuat yang lain jengkel dengan kemampuan bertarung sang monster.
“Aku akan membantu!” Rexcel hendak berlari namun di tahan Reve sambil mengangkat tangannya.
“Jangan!” cegat Aza Ergo. “Fokus saja melindungi mereka. Akan menyusahkan jika tak ada yang bertahan saat yang lain terluka!”
Sementara Reve, masih tk henti-hentinya menyerang makhluk itu. Pedangnya yang beradu dengan gelang, kadang langsung patah saking kerasnya. Membuat ia harus mengeluarkan banyak pedang mengambang dan menjadikannya petarung jarak dekat.
Riz terdiam, ia tak tahu harus bagaimana. Dirinya merupakan tankzeas (pelindung), dan itu berarti akan lebih baik ia fokus bertahan sambil melindungi yang terluka. Namun, sudut hatinya seakan juga terluka dan merasa tak berguna. Dirinya tak punya pilihan. Terlebih, Toz masih meraung-raung kesakitan sambil darah tak henti-hentinya keluar dari mulutnya.
Horusca tampak bersusah payah, mantra yang ia lafalkan membuat raungan Toz tak sekeras tadi namun tak banyak perubahan. Riz bergidik ngeri melihat ada beberapa sayatan luka muncul dan hilang di leher Toz.
__ADS_1
“Toz. Apa yang sebenarnya terjadi?” Riz gemetaran melihatnya.
Di satu sisi pertarungan makin sengit dengan perubahan gaya bertarung Reve dan Aza Ergo. Mereka menyerang membabi buta. Baik Reve dengan pedang-pedangnya, ataupun Aza Ergo dengan lelehan magmanya yang tumpah ruah saat ia menghunuskan serangan lewaat pedangnya.
“Deg!” suara jantung tersentak. Sebuah kegelapan tanpa cahaya menyelimutinya. Samar-samar ada suara tangisan, namun beriringan dengan raungan. Pemuda itu menganga, antara takut dan cemas tubuhnya tak mau bergerak. Memilih diam di tempat dengan pendengaran semakin nyaring terhadap sumber suara.
“Ini adalah nyanyian, kisah mereka yang berjanji. Sekuntum lily menyambut darah, kata saling terikat, tatapan saling berpindah, tangan saling berkait.”
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang pernah mengucapkan. Biru yang dibawa, hijau yang diganti, putih yang dimakan, merah yang dikeluarkan.”
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang menanti. Tangan yang terulur, buah dewa yang diperlihatkan, pijakan yang disediakan, semua yang ditawarkan, nyawa yang dibayarkan.”
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang memberi. Cahaya yang diturunkan, silau yang-”
Nyanyian itu tiba-tba lenyap. Bahkan raungan yang mengiringi tak lagi terdengar, membuat bulu kuduk Toz makin berdiri dibuatnya. Sekarang, ada sebuah titik cahaya di depan, bergerak pelan ke arahnya. Toz masih tertegun menatap sambil mengeluarkan suara hembusan napas yang cukup berat.
“Ini adalah nyanyian, kisah mereka yang berjanji. Sekuntum lily menyambut darah, kata saling terikat, tatapan saling berpindah, tangan saling berkait.”
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang pernah mengucapkan. Biru yang dibawa, hijau yang diganti, putih yang dimakan, merah yang dikeluarkan.”
Cahaya itu semakin mendekat dengan sumber nyanyian itu menghampirinya. Sekarang, keringat dingin turun ke pipi, sambil ikut membasahi tubuhnya. Mulut Toz makin menganga lebar, namun tak ada teriakan terlontar darinya. Matanya melotot hendak keluar ke arah makhluk sumber cahaya yang berdiri tepat di depannya.
“Gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba.”
Toz masih terdiam dengan posisi yang sama. Mulutnya yng terbuka lebar karena kaget enggan mengatup saking kagetnya. “Gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba,” ucap makhluk itu sekali lagi.
Toz mengangkat tangannya dan menyentuh dagunya sendiri untuk menutup mulut. “Tenang Toz, jangan panik. Tenang-tenang. Mungkin ini hanya mimpi, tarik napas ... tahan. Tarik napas ... tahan,” lirihnya sendiri sambil menutup mata. “Ini hanya mimpi, sadar-sadar ....”
Ia pun membuka mata. Keringat makin turun membasahi wajah. “S-se-se-taaaaaaan!!!” teriaknya.
“Buaghh!” Toz pun meninju wajah makhluk itu lalu lari tunggang-langgang.
__ADS_1