
Akhirnya, sang Dewa berubah menjadi cahaya dan naik ke atas sana seperti kunang-kunang yang beterbangan. Bukan hanya di tempat Ksatria Bintang bangsa gyges, tapi itu juga terjadi di hadapan Lucian Brastok dan juga lainnya.
Sang Raja bangsa dracula, menatap ke langit-langit dengan sorot mata sayunya.
“Kegelapan yang bersemi ya,” dan lirikannya pun diedarkan pada sosok bayi besar di sampingnya. “Jika memang tidak ada niat menguji, kenapa tidak ikut membereskan monster ini? Bajuku, jadi kotorkan?” keluhnya memperhatikan cipratan darah di perutnya.
Sampai akhirnya, sebuah portal merah kembali terbuka di udara dunia Guide dan menampilkan masing-masing sosok yang gagal dalam ujiannya.
Beberapa menampilkan ekspresi kecewa, tapi di satu sisi ada juga yang tersenyum.
Dia adalah Hydragel Kers sang Raja dari bangsa hydra.
“Wah, tanganku baik-baik saja. Padahal di dunia kemampuan, tanganku jelas-jelas putus tak bersisa,” pandang takjub Hanzo pada anggota tubuhnya.
“Bagaimana dengan ujianmu?” tanya Zarca ke arah Heksar Chimeral yang bertampang menyebalkan.
“Gagal.”
“Hah?! Bagaimana bisa? Apa mungkin kau diberi ramalan aneh oleh pengujinya?!”
“Kau juga?” Heksar menatap tak senang.
“Aku juga,” Hanzo menimpalinya.
“Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi. Jadi, kalian juga menerima pesan yang sama ya,” Revtel bersuara di dalam ruang peristirahatan bangsa hydra.
Sama seperti Hea Alcendia dan Libra Septor, dirinya juga gagal dalam mengikuti ujian peningkatan kekuatan.
Biasanya, Crabius si kepiting campuran yang akan menguji para Guider. Dia memecah dirinya menjadi banyak dan menemui peserta ujian dengan makhluk-makhluk aneh dunia bawah.
Tapi sekarang, justru para Dewa serta rasi bintang sendiri yang langsung turun tangan. Dulu mereka tidak akan semudah itu untuk memperlihatkan wujudnya, kecuali hanya dua orang pernah melihat langsung sosok aslinya.
Dialah Kers dan juga Toz Nidiel yang dirasuki Vanargand.
“Kers?” Revtel pun menyadari kedatangannya.
“Hm? Kalian semua sudah kembali? Bagaimana dengan ujian kalian?”
“Gagal,” jawab Hea singkat dan padat.
“Bagaimana denganmu? Apa kau juga mendapatkan ramalan aneh dari lawanmu?” tanya wakilnya.
__ADS_1
“Oh? Sepertinya kalian juga.”
“Padahal kita harus memburu para pengkhianat, apa-apaan dengan ramalan konyol itu?” Revtel mendengus sebal.
“Ramalan? Bukannya mimpi Dewa Apollo?”
“Apa bedanya? Tetap saja menyusahkan.”
Tapi tiba-tiba pintu ruangan diketuk sehingga Kers pun membukanya.
“Lho, Otama? Apa mungkin kamu ke sini untuk menemuiku?” tanya Sang Raja dengan senyum jahilnya.
“Benar Yang Mulia. Hamba memang datang untuk menjemput anda atas perintah Ratu Blerda.”
“Oh, kalau begitu ayo.”
“Kers,” cegat Revtel tiba-tiba. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu setelah ini.”
“Baiklah. Kalau begitu aku pergi, ayo Otama,” ajaknya dengan girangnya. Dan kepergian Sang Raja hydra beserta pelayan pimpinan siren ditatap lekat oleh tiga orang yang tersisa.
“Kristal biru memekarkan bunga, menurutmu apa artinya itu?” kekeh Aza.
Reve Nel Keres pun tersenyum menatapnya. “Entahlah. Memangnya aku peduli?”
“Lagi pula, ocehannya bukan hanya itu kan? Masih ada yang lain.”
Aza pun menyandarkan tubuhnya ke bibir jendela. “Pertemuan pasti akan dilakukan sekali lagi, cobalah untuk tetap bersembunyi dengan tenang, Reve Nel Keres,” sang petinggi pun berlalu meninggalkannya.
Dan benar-benar seperti perkataannya, esoknya pertemuan terakhir kembali dilakukan di Aula Kaca mengingat keputusan mereka untuk memburu pengkhianat sebelumnya.
“Mana Blerda?”
“Yang Mulia masih di ruangannya.”
“Manis sekali, Tuan Rumah bisa terlambat sesuka hatinya,” Heksar menimpali pertanyaan Revtel dan jawaban Huldra. “Bahkan Kers juga tidak ada.”
“Dia sedang menjemput anggurnya,” jelas Beltelgeuse di hadapan mereka.
“Revtel, apa hydra akan baik-baik saja? Mengingat Raja kalian begitu rakus dalam makanannya.”
“Tolong dimaklumi Yang Mulia. Karena Raja Kers, masih dalam masa pertumbuhannya.”
__ADS_1
Tawa pun langsung tersembur dari beberapa mulut yang mendengarkan. Sungguh pernyataan Revtel itu lebih seperti sindiran dibanding penjelasan. Seolah-olah Hydragel Kers masih seorang anak-anak yang butuh banyak asupan.
Dan akhirnya langkah kaki dari sosok-sosok yang dinanti pun memasuki Aula.
Hydragel Kers dan juga Blerda Sirena.
“Apa mungkin kalian berdua punya kisah terselubung?” Heksar menyela keduanya. Membuat Raja hydra dan siren sama-sama menatap ke arahnya.
“Cebol.”
“Kau!” geram Raja chimera pada Kers yang menyindirnya.
“Sudah-sudah hentikan. Mari kita mulai pembahasannya,” Barca Asera yang merupakan pak tua toko barang antik pun menengahi keadaan. Sehingga pembahasan di Aula Kaca pun dapat berjalan dengan tenang.
“Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi. Jadi, apa kalian semua juga mendapatkan pesan yang sama?” tanya Tuan Criber.
Dan yang sangat mengejutkan, ternyata mereka mendapatkan pesan serupa masing-masingnya.
“Ujian telah gagal, dan kita disuruh menangani ini semua. Melihat Dewa yang tak pernah muncul di depan mata langsung turun tangan, bukankah pesannya berarti benar-benar berbahaya?” Reoa Attia ikut bersuara.
“Apa ada yang bisa memahami artinya?” Asus Sevka yang merupakan petinggi bangsa kurcaci menoleh ke sekelilingnya.
Tapi, tak ada satu pun yang menjawab. Mereka tampak larut dalam pemikiran sendiri, sampai akhirnya Aza pun membuyarkan suasana.
“Katakanlah kalau pesan itu memang benar adanya. Lalu bagaimana dengan para pengkhianat? Kita tak bisa melupakan mereka begitu saja kan? Bagaimanapun tujuan utama dari pertemuan ini adalah mereka.”
Seketika orang-orang menatap ke arahnya.
“Jadi kita abaikan saja pesan para Dewa. Begitu?” Sang Raja chimera mulai memperlihatkan rasa tidak suka atas kalimat petinggi empusa. “Kegelapan yang bersemi, apa kau pikir itu cuma lelucon?”
“Aku hanya bilang kita tidak bisa melupakan para pengkhianat. Apa salah jika aku berharap kalian tidak melupakan tujuan awal kedatangan kita?” Aza tampaknya masih bersikukuh pada ucapannya sambil memamerkan ekspresi santainya.
“Dasar petinggi muda. Jangan lupa kalau Trempusa jauh lebih berhak mengatakan itu dibandingkan dirimu, bocah.”
Sepertinya, suasana mulai memanas karena perdebatan mereka berdua.
“Bagaimana mungkin aku lupa? Karena kenyataannya, aku jauh lebih dulu menjadi petinggi dibandingkan kalian para Raja muda.”
Terkesiap. Heksar dibuat terbungkam olehnya. Pernyataan tiba-tiba yang entah kenapa menusuk beberapa orang itu berhasil membuat Aza Ergo menjadi pusat perhatian mereka. Sampai akhirnya tawa pun meledak dari mulut Kers yang mendengarkan tadinya.
“Lihat, Orion! Monster chimera kalah dalam berbicara,” ledeknya sambil bertepuk tangan. Sungguh Raja hydra itu benar-benar menyiramkan minyak pada api. Sampai-sampai Revtel juga ikut menatap tajamnya.
__ADS_1
“Kupikir, apa yang dikatakan Aza Ergo ada benarnya,” Serpens sang Wakil Raja gyges akhirnya ikut menyatakan pendapatnya. Setelah sebelum-sebelumnya lebih banyak diam menonton perdebatan di depannya.