Death Game

Death Game
Turun tangannya sang Raja


__ADS_3

“Yang Mulia?” Pak tua penjual rongsokan ikut menyelanya. Dan perlahan gadis itu memalingkan wajah ke arah tak asing bagi mereka. Di mana tadinya suar berasal dari sana.


“Blerda? Kau mau apa?” Revtel bahkan mulai waspada. Karena semakin banyaknya kupu-kupu yang terbang mengudara dan membuat panik sekitarnya. Mengingat hewan itu merupakan salah satu kemampuan mengerikan sang ratu bangsa siren.


“Yang Mulia. Anda, baik-baik saja kan?”


Akhirnya, Noa Krucoa sang Raja bangsa kurcaci mendekatinya. Berharap gadis yang tak bersuara dan tampak menekan itu akan menjawab pertanyaannya.


“Arjuna.”


“Arjuna? Apa maksud anda?”


Akan tetapi, justru tangan kanan terangkat sebagai jawaban dari Blerda. Tiba-tiba pusaran angin kecil menari di telapaknya.


“Sikai (Mendekatlah)”


“Aaagh!” sebuah erangan pun mendadak memekik keras dari bibir Del Aney.


Sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya menatap kaget ke arahnya.


“Del Aney apa yang—”


Terkesiap. Hellbertha yang terluka pun tak bisa berkata-kata sekarang. Karena gadis itu mendadak tertarik oleh sesuatu di depan matanya dan menabrak pepohonan di area kanan mereka.


Teriakan dari mulut kesakitan itu begitu keras sampai akhirnya menjauh dari pendengaran masing-masingnya. Del Aney lenyap di hadapan mereka bersamaan dengan hancurnya area kanan oleh gelombang besar yang tak di sangka-sangka.


Dan Blerda yang meneteskan darah lewat pinggiran bibirnya, mulai mencengkeramkan tangan terangkatnya lalu menyentaknya. Bersamaan dengan hempasan kasar yang menabrak puing-puing reruntuhan istana di sekitarnya.


Dia pun melirik tangkapannya barusan dengan sudut matanya.


“A-apa-apaan kemampuannya itu?” kaget Doxia yang menonton itu semua.


“Blerda,” panggil Tuan Criber.


Tapi gadis itu tidak mengatakan apa-apa, kecuali menggerakkan tangan kirinya sehingga Del Aney yang tertimbun reruntuhan mengikuti iramanya.


“Manusia?” lirih Heksar melihat sosok terluka parah itu.


“U-ugh,” erang Del Aney yang rupanya masih sadar. Begitu sakit badannya, tiada angin tiada hujan tubuhnya tiba-tiba tertarik oleh sesuatu dan menabrak pepohonan juga bebatuan dengan kasarnya. Akan tetapi, di sinilah dirinya sekarang. Berdiri mengambang di udara di hadapan gadis cantik yang ia tak tahu itu siapa.


Kecuali sosok di depannya memperlihatkan tampang murka ke arahnya.


“Gravitasi ya,” lirih Reve menyadari jenis kemampuan Blerda. Namun beberapa pasang mata memilih diam saja. Tak ingin ikut campur dengan sosok yang jelas-jelas memburuk suasana hatinya.

__ADS_1


“S-siapa?” gumam Del Aney saat sorot matanya bertemu dengan Blerda.


“Dia! Bukankah dia Del Aney?!” kaget Toz menyadari siapa yang sedang terluka itu.


Seketika orang-orang menoleh kepadanya, berbeda dengan Blerda yang tak merespons apa-apa.


“Dia teman asrama kita,” Riz juga ikut bersuara.


Dan barulah Blerda membalik tubuhnya lalu menatap tajam dua anak muda yang sedang berbicara. “Teman ya,” nadanya terdengar berat. Bersamaan dengan tubuh Del Aney yang bergerak sesuai keinginan hatinya. Dia pun mencengkeram erat lehernya. “Saatnya berburu, Capricorn,” ucapnya tiba-tiba. 


Tiba-tiba langit bergemuruh bersamaan dengan awan yang mendadak gelap di atas sana. Beltelgeuse menyadari perubahan cuaca, dan dia pun sontak menjadi waspada.


“Kita harus kembali.”


“Apa!” kaget Zarca mendengarnya.


“Apa yang terjadi?!” bahkan Logan juga bisa menyaksikan apa yang terjadi dari tempatnya berdiri sekarang.


“Badai?” Ivailo Stoyan yang berada di atas tebing menatap heran pada lukisan di ujung mata.


“Itu Blerda.”


“Blerda?! Apa maksudmu?!”


Thertera pun mengepal erat tangannya. “Itu pasti kemampuan Raja siren. Kita harus pergi sekarang!” ajaknya tiba-tiba.


“Kupu-kupu tadi merupakan pelacak miliknya. Lebih baik kita cepat pergi sebelum dia mengirimkan peliharaannya! Karena bagaimanapun juga, Blerda pasti sudah tahu tentang kita!” paniknya.


Dan Ivailo yang mendengar itu sontak saja menatap tak percaya pada pusaran angin kasar di ujung sana. Pertanda badai besar akan segera menghantam lokasi yang diinginkannya.


“Badai?” Zeril Septor menatap ke arah barat daya yang melukiskan pusaran angin kasar serta hiasan petir di langit-langitnya.


“Itu pasti ulah peliharaan Raja siren.”


“Bagaimana kau bisa tahu?”


“Karena hanya dia yang bisa membuat langit jadi seperti itu dengan tiba-tiba.”


“Sepertinya kau cukup mengenalnya.”


Arigan Arentio pun tersenyum. “Bagaimanapun kami sebangsa. Karena itulah aku bisa tahu seperti apa kemampuannya.”


“Begitu? Jadi apa kemampuannya? Dia pasti memiliki keahlian lain kan selain pelayan Dewa yang dirumorkan.”

__ADS_1


“Keahlian yang lain ya. Jujur saja, aku tak pernah melihatnya memakai cincin. Akan tetapi, dia pengendali gravitasi terburuk yang pernah ada.”


“Gravitasi terburuk? Apa maksudmu?”


 Tapi, entah kenapa laki-laki itu malah tertawa pelan. Membuat Zeril Septor yang bertanya, kian mengerutkan dahi karena bingung akan responsnya.


“Karena dia bisa menangkap musuh sesuka hatinya walau sosoknya hanya diam di dalam kamarnya. Jangkauan gravitasinya, bahkan bisa mencapai satu bangsa jika dia serius melakukannya.”


“Apa! Kau gila?!”


“Tidak, aku serius. Seandainya terjadi perang, Blerda sangat cocok dijadikan Ksatria yang menghadapi serangan gelombang guider, mengingat sosoknya juga memakai pelayan Dewa sebagai ujung pedangnya.”


Dan sesuai perkataan Arigan. Capricorn sang pelayan Dewa, telah meluluh lantakan area pertarungan Hellbertha dan juga Beltelgeuse tanpa sisa. Bahkan puluhan ghoul yang tadi bermunculan, langsung melebur akibat senjata rasi bintang yang punya mantra berbeda.


Sementara sosok Blerda, masih menatap tenang ke ujung sana walau tangannya mencengkeram erat leher Del Aney yang tak berdaya.


Tak ada kasihan di dirinya, suara orang sekitar lolos lepas di telinga. Semua karena amarah di dada akibat kematian yang menimpa salah satu petinggi bangsanya.


Dan Blerda Sirena, bisa mengetahui itu semua lewat kupu-kupu yang tercipta dari darahnya. Hewan dengan penglihatan yang juga terhubung kepadanya.


“Kers, baca ingatannya,” perintah Blerda pada Raja hydra sambil melempar Del Aney ke arahnya.


“Bisakah tidak memerintahku begitu? Kau membuatku terdengar seperti pelayan.” Sorot mata Raja siren pun seketika berubah menatapnya. “Ah, jangan melihatku seperti itu. Aku akan melakukannya, santai saja Blerda.”  


Kers pun mendekati Del Aney yang tergeletak tak berkutik di dekat reruntuhan.


“Jadi, siapa gadis itu? Kamu sampai menggunakan kemampuanmu untuk menangkapnya.”


“Pembunuh Arjuna.”


Dua kata yang mampu membungkam Trempusa. Ditatap tak percayanya Blerda, lalu melirik kembali pada gadis di hadapan Kers itu.


“Apa anda yakin Yang Mulia?” tanya Noa Krucoa.


Jujur bukan hanya Trempusa yang terkejut mendengar pernyataannya. Revtel serta Heksar, juga memancarkan ekspresi serupa. Berbeda dengan Aza Ergo yang tak merespons apa-apa.


“Aku bisa melihat semuanya. Dan dia, memang membunuh Arjuna dengan pisau perak di tangannya. Sekarang, tinggal menunggu Capricorn membawa seorang keparat lagi ke hadapan kita semua.”


Dan selesai ia mengatakan itu semua, sebuah teriakan benar-benar berkumandang tak jauh dari hadapan mereka. Tampak seorang wanita meronta-ronta, sambil rambutnya ditarik paksa oleh Capricorn yang keluar dari hutan berwujud sempurna.


Keduanya, menjadi tontonan bagi orang-orang yang masih berdiri di reruntuhan dengan tatapan tak percaya.


Mengingat Blerda Sirena, benar-benar tak peduli lagi dengan kondisi istananya dan lebih memilih menyeret para pembangkang yang sudah membunuh salah satu petingginya.

__ADS_1


Sehingga Kagura Masamune yang menonton itu semua dari tempat persembunyiannya pun menatap tak percaya, kalau Raja siren ternyata menyadari keberadaannya dan menatap tajam ke arahnya.


   


__ADS_2