
“I-ibu?” kaget Revtel. “Ibu! Apa yang terjadi padamu?” paniknya sambil beruraian air mata. Dirinya benar-benar syok menyaksikan rambut wanita itu tidak berbentuk lagi keindahannya.
Mahkota panjang tersebut telah menjadi pendek dan berantakan dandanannya. Tapi, hanya senyum yang ditorehkan ibunya sambil memeluk putranya.
“Jadi, bagaimana pelatihanmu?”
“Ibu! Tolong jangan abaikan pertanyaanku!”
Namun wanita dengan mata berkaca-kaca tersebut hanya bisa menyandarkan kepalanya pada bahu putranya.
“Ibu mohon, tolong jangan tanyakan apa pun. Demi kebaikan kita bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa.”
Revtel yang mendengar itu pun terkesiap jadinya. Dadanya bergemuruh dan sesak namun sentuhan sang ibu berusaha menenangkannya.
Dia hanya bisa menangis dalam keadaan menerka-nerka kondisi ibunya.
Tapi, raut wajah berbeda dilukiskan oleh Kers. Wanita cantik yang selalu menyambut kedatangannya dengan senyuman justru tampak menyedihkan.
Memar di wajah menawannya serta tangan kanan yang patah menghantam kesadaran putranya.
Tanpa air mata, Kers pun memegang wajah sosok di depannya.
“Ibu? Apa yang terjadi pada Ibu?”
“Ibu terjatuh saat membersihkan taman belakang, jadi ya seperti yang kamu lihat sekarang,” kekehnya sambil mengelus lembut pipi anaknya.
Akan tetapi raut wajah putra semata wayangnya memang takkan pernah baik-baik saja. “Ibu bohong?”
“Mana mungkin ibu berbohong? Ibu memang jatuh, Sayang. Ibu ceroboh,” diiringi tawa pelan diakhir kata.
“Lalu kenapa tidak diobati? Bangsa kita punya elftraz (penyembuh) kan?”
Wanita itu pun terkesiap. Perlahan, rupa lemah lembutnya berubah menjadi tenang. Diusapnya kepala sang anak, “Nak, tidak semua luka bisa diobati. Ada luka yang harus dibiarkan saja untuk kita lihat. Sebagai tanda, kalau suatu saat kita tak boleh lupa sakit seperti apa yang sudah kita derita sehingga bisa mendapatkannya.”
Kers terdiam. Mencoba meresapi perkataan ibunya. Sampai akhirnya kalimat tak terduga ia lontarkan begitu saja.
“Aku sudah ujian menjadi guider, Bu.”
“Benarkah?” balasnya semringah. Tapi, entah kenapa wajah murung yang terlukiskan di tampang putranya. “Tapi, kenapa kamu sedih begitu? Apa ujiannya susah? Apa kepiting aneh itu mengatakan sesuatu?”
Kers menggeleng. “Aku tak bertemu kepiting, Ibu. Aku bertemu laki-laki berwajah hancur dan dua anjing bersamanya.”
Wanita itu tersentak. “Begitu, lalu bagaimana hasil ujiannya?”
“Dia menangis.”
Ibu Kers semakin penasaran dan bingung akan lirihan putranya. “Maksudmu?”
“Dia mengatakan hal aneh kepadaku. Mengatakan tentang Hidea dan meja batu atau apa pun tentang perjanjian.” Seketika lawan bicara anak itu pun terbelalak dibuatnya. “Dan dia juga menyebutku Yang Termulia, Ibu. Kenapa orang itu menyebutku begitu?”
Tubuh ibunya bergetar hebat mendengar lirihan putranya. Aliran napasnya mulai tidak beraturan sekarang.
__ADS_1
“Apakah aku pernah hilang ingatan, Ibu? Samar-samar bayangan aneh mulai menghantui diriku. Seperti perkataannya, tiga belas kursi, singgasana, dan suara tak asing itu sering mengganggu pikiranku. Apa yang terjadi padaku, Bu? Rasanya sesak dan tidak menyenangkan. Aku merasa tubuhku bukan milikku seorang,” nada bicaranya terdengar frustrasi walau ia masih muda.
Dengan menggigit bibir bawah, wanita di depan mata akhirnya merangkul putranya dan mempertemukan dahi mereka.
“Tak peduli apa pun yang terjadi, kamu tetap putra Ibu. Anak semata wayang ibu dan akan selalu begitu. Tak perlu terlalu memikirkannya, karena semua itu hanya mimpi. Percayalah, Nak semua itu hanya mimpi.”
Dan tanpa terasa air mata pun menetes ke pipi. Sebagai tanda di perasaan kalau ibu kandung dari Hydragel Kers menangisi diri sendiri.
Sebab sudut hati berkata, berharap dalam doa kalau putranya yang mempunyai rahasia besar takkan pernah tahu seperti apa jati dirinya.
Karena dia dan suaminya sudah berusaha keras menyegel keanehan pada sosok Kers sehingga sang kepala keluarga harus meregang nyawa.
Mereka sangat mencintai anak semata wayangnya walau dia merupakan sosok berbahaya dan luar biasa untuk dunia Guide.
Hanya itu yang bisa dilakukan sang ibu muda untuk Kers agar putranya tak lagi mengungkit cerita barusan di masa depan mereka.
Tapi dunia memang tak sebaik itu untuk sosok-sosok yang sudah ditakdirkan pesakitannya.
Thertera Aszeria, harus beruraian air mata akibat pedih di raga karena derita yang tak kunjung sembuh menyiksanya.
Bahkan begitu kakinya menyentuh rumah Tetua yang sudah mengangkatnya jadi cucu, lagi-lagi pukulan dihantamkan sosok putra pria itu.
Merasa iri dan marah besar karena Thertera bisa tersadar duluan dalam ujian kemampuan sehingga sang majikan menjadi bahan candaan teman-teman.
Padahal anak itu dibawa putra sang Tetua sebagai pembantu dan pengawalnya saat di Hadesia.
Tapi, seolah sosoknya lupa kalau cucu angkat ayahnya yang tersiksa sudah menjadi guider bahkan sebelum menginjakkan kaki di tanah pelatihan.
Akibat takut yang dirasa kalau perbuatannya nanti bisa saja menjadi bumerang bagi orang tua kandungnya.
Dia tersiksa padahal mampu mematahkan sakit itu dalam hidupnya. Terkadang kemampuan memang tidak bisa menjamin kebaikan untuk sekelilingnya.
Aza terdiam. Saat sosoknya dipanggil Tuan August untuk menghadapnya. Walau anak kecil itu sudah mengira apa alasannya tapi tiada takut tertoreh di rupa.
Tampang polosnya selalu menghiasi wajahnya sehingga sang guru besar mulai menyipitkan mata ke arahnya.
“Bagaimana ujianmu?”
“Luar biasa.”
“Kudengar sebelum menjadi murid di sini kamu anak didik Betsheba Voskha.”
“Benar, Guru.”
“Jadi, siapa orang tuamu? Dan apa kemampuanmu? Karena aku harus memastikan itu untuk meningkatkan pelatihan di dirimu.”
Butuh sejenak waktu bagi Aza menjawabnya. Raut wajahnya tak berubah, bahkan jika sensasi aneh mulai menyelimuti hatinya.
“Nama ayahku Maxim. Dan ibuku Olan. Mereka pedagang di tanah Lagarise. Aku seorang merlindia (penyihir) dengan kemampuan benang merah.”
“Benang merah?”
__ADS_1
“Benar, Guru.”
“Kalau begitu bisa perlihatkan padaku?”
Aza tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. Perlahan namun pasti, ada sesuatu keluar dari telapaknya. Bergerak-gerak seperti cacing kepanasan di sana.
“Ini kemampuanmu?”
“Benar.”
“Apa yang bisa kamu lakukan dengan itu?”
“Aku bisa memotong apa pun walau tidak sepenuhnya berhasil.”
Sekarang, August Belmera menutup mulutnya. Seperti memikirkan sesuatu setelah selesai mendengarkan perkataan Aza.
Perlahan disentuhnya benang merah di tangan muridnya, sehingga lenyap begitu saja dengan tiba-tiba.
“Ah, maafkan aku,” Aza mengibaskan tangan seolah berusaha mengeluarkan kemampuannya. “Karena masih pemula sepertinya aku kesusahan mempertahankan bentuknya.”
“Tak masalah. Tapi—” sang pengendali magma yang penuh tipu daya pun memiringkan wajahnya. “Apa kamu pernah melihat merlindia atau scodeaz dengan kemampuan tidak biasa?”
“Kemampuan tidak biasa?” bingung Aza.
“Ya, seperti membakar atau melelehkan. Karena seseorang telah menghancurkan salah satu tempat pelatihan dengan kemampuan seperti itu. Jadi, apa kamu pernah melihatnya?”
Aza pun menggeleng. “Aku tidak pernah melihatnya. Tapi jika aku tidak salah, ada seorang laki-laki dengan kemampuan hawa panas.”
“Benarkah? Siapa?”
“Aku tak tahu siapa dia, tapi saat baru memasuki tempat ini, aku bertemu dengannya di area pintu masuk. Dia mengenakan topeng seperti pedagang dan juga meleburkan dedaunan sesuka hatinya. Kupikir, dia mungkin saja guru besar di Hadesia.”
August pun terkesiap mendengar pernyataan anak di depannya.
“Begitu? Baiklah. Terima kasih untuk informasinya Azkandia. Sekarang, kamu bisa kembali ke asrama.”
“Baik.”
Sepeninggalan Aza Ergo, August Belmera pun di datangi Jascuer Alcendia. Tampaknya mereka mulai membahas siapa pelaku pembunuhan Helgida dan juga Romario yang sebenarnya.
Tapi di tanah empusa, sebuah surat tak terduga telah datang pada pemimpinnya. Tentu saja Bragi Elgo terkesiap membacanya. Mengingat pesan di dalamnya, memberitahukan kalau putra dari keponakannya sekarang berada di Hadesia.
Siapa lagi sosok pengirim kalau bukan Betsheba Voskha. Tak peduli permintaan apa yang ia lakukan pada anak itu, sosoknya tetap mengkhawatirkan Aza.
Bagaimanapun juga, sang pengendali magma merupakan keturunan pengkhianat empusa. Di mana kisah kelam Maximus sudah terkubur sehingga tak ada satu pun yang menyadarinya.
“Kupikir, aku memang harus menemuinya,” gumam pak tua yang menjadi pemimpin di tanah bangsa setengah Dewa.
__ADS_1