Death Game

Death Game
Capricorn


__ADS_3

“Hei, aku sedikit lebih tua darimu,” sela Kers.


“Ayolah Blerda. Kami sudah berjalan jauh. Apa kamu tidak kasihan pada kami? Aku benar-benar lapar,” Aza masih saja bersikap menyebalkan.


“Capricorn.”


Tersentak. Kedua tamu pimpinan siren itu terkesiap. Mereka tak menyangka akan mendengar nama itu di sana. Perlahan, asap mengepul di sekitar mereka, membisikkan sensasi dingin seolah ingin melukai kulit masing-masingnya.


Tanduk seperti kambing. Mata merah dan tubuh tegap. Entah wanita atau laki-laki dirinya, kedua sosok itu tidak tahu kecuali hanya diam menatap kemunculannya.


“Tamu kita sepertinya lapar.”


Bayangkan saja, hanya dengan bersuara, bulu kuduk kedua laki-laki di depan sang gadis muda langsung berdiri. Seperti itulah tekanan Blerda Sirena yang ditakuti sebagai salah satu pemimpin terburuk.


Bahkan tidak sampai semenit, sajian mewah terpampang nyata di hadapan Kers dan Aza. Tanpa malu pemimpin bangsa ular mengambil keranjang buah di depannya dan memakan anggur-anggurnya.


Lain halnya Aza. Mulutnya sibuk mengunyah daging. Entah milik hewan apa ia tak peduli karena rasanya enak.


“Appua aumu au alau awaanmu reri ke awaan erlarrang?”


“Makan atau bicara?” tanya singkat Blerda yang membuat Kers langsung menelan habis anggur-anggur di mulutnya.


“Apa kamu tahu kalau bawahanmu pergi ke kawasan terlarang?” ulang Kers dengan kalimat yang lebih jelas sekarang.


“Siapa?” gadis itu menyipitkan matanya.


“Gilles, Sidag, dan juga Draco. Tentu saja ada Tetua Empusa serta petinggi dan bangsawan lainnya,” Aza menimpali.


“Lalu?”


Kedua laki-laki itu terdiam sejenak.


“Yah, mau tidak mau aku membunuh orang-orang dari bangsaku dan Kers membunuh Draco dari bangsamu.”


Perlahan, pimpinan siren itu memiringkan wajahnya. “Hanya itu?”


“Hanya itu?” Kers meniru nada bicaranya. “Kamu tidak lupa kan kalau tempat itu tidak boleh di datangi?”


“Dan kalian pergi ke sana bukan?”


“Tentu saja itu karena orang-orangmu dan juga empusa menyusup ke sana.”


Tapi, justru senyum tipis yang dipancarkan wanita itu pada Raja di depannya. “Dan kamu membunuh bawahanku.”

__ADS_1


“Dia pantas untuk itu. Dia ingin membangkitkan medusa, Blerda. Kutukan para Dewa. Kamu bisa bayangkan bukan seberapa gila bawahanmu?” Aza hanya diam mendengarkan perdebatan di sebelahnya. “Tidak, atau mungkin kamu juga merencanakan itu?” Kers terkekeh pelan.


“Medusa. Pendeta yang dikutuk oleh Dewa. Jadi, atas dasar apa aku ingin terlibat dengannya?”


Tak ada satu pun yang menjawab. Petinggi empusa masih sibuk memakan hidangannya. Berlainan dengan Kers bermuka santai menatap wanita di depannya.


Perlahan tawa pelan berkumandang di bibirnya. “Entahlah. Jika aku tahu, tak ada gunanya bertanya. Lagi pula, siapa yang bisa mengetahui isi pemikiranmu? Bangsawan murni yang mendustai bangsa-bangsa. Aku selalu bertanya-tanya apa tujuanmu sebenarnya.”


Aza Ergo pun melirik Kers yang berbicara. Bahkan jika mulut terus mengunyah, tapi sorot matanya tak menyiratkan penasaran. Lebih seperti enggan mendengar ocehannya.


“Dirimu bahkan tak terlihat menyukai Aza. Jadi, kenapa kamu membohongi mereka semua?” lanjut Kers padanya. Pertanyaannya, jelas-jelas mencoba menyudutkan Blerda. Namun sang gadis muda tetap anggun perawakannya.


Memang benar, sosok yang jarang menampilkan ekspresi apa pun kecuali aura menekan, akan sangat mengundang tanda tanya.


“Hadesia telah mati. Tak ada gunanya membahas itu di sini. Capricon,” panggilnya tiba-tiba. “Sepertinya, tamu kita butuh istirahat,” selesai mengatakannya dirinya pergi meninggalkan mereka.


Tak mengatakan apa-apa, melirikkan pandangan untuk berpamitan pun tidak tertoreh di ekspresinya.


“Baiklah, sekarang kita harus bagaimana? Sang Ratu tutup telinga,” Kers tertawa pelan. Diikutinya langkah jiwa scodeaz (pengendali) asuhan Blerda, walau tangannya masih saja memegangi mangkuk emas yang berisi buah-buahan.


Dan di tempat berbeda, para rekan Aza Ergo sedang membaringkan tubuhnya. Ini benar-benar ruangan yang sangat besar. Bukan sekadar tempat peristirahatan, terlalu mewah untuk ditempati oleh mereka.


Sosok-sosok yang bisa dikatakan hidup dalam kemiskinan kecuali Reve Nel Keres dan Horusca tentu saja terpukau dibuatnya. 


“Ya, kau benar. Kalau tidak, tak mungkin kan mereka jadi pemimpin bangsa-bangsa?”


“Tapi ada satu yang membuatku penasaran. Kemampuan apa yang digunakan wanita itu? Kau dengar kan kalau Raja hydra menyebut iblis tadinya?”


“Entahlah. Bahkan jika aku berasal dari siren, kemampuan Ratu Blerda bukan sesuatu yang umum untuk dibicarakan. Kecuali rumor menyebutkan jika dia salah satu murid terbaik di Hadesia.”


“Hadesia, aku hanya mendengar rumornya. Pelatihan kejam untuk sosok-sosok terbaik dari seluruh bangsa. Apa aku benar?” tanya Doxia sambil melirik Horusca.


Pemuda berambut merah tersebut hanya menatap tenang dirinya. “Aku tidak tahu. Silakan tanyakan pada Aza Ergo.”


“Tuan Aza?” Toz memandang heran.


“Dia salah satu murid dari Hadesia.”


“Benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa pelatihan Hadesia itu,” Toz sibuk membayangkan. Apa mungkin seperti pelatihan beladiri yang pernah ia tonton di dunia manusia? Dirinya berangan-angan.


Berbeda dengan Reve. Tangannya sibuk mengelus lembut leher Near. Tanda kasih sayang pada peliharaan satu-satunya.


“Reve, apa hanya perasaanku saja atau kamu memang tidak bersemangat?” tanya Riz tiba-tiba. Pemuda berambut biru kehitaman itu hanya meliriknya.

__ADS_1


“Ini membuatku lelah.”


“Apanya?”


“Semuanya.”


Riz terdiam sejenak. “Apa mungkin, kamu ingin cepat-cepat sampai pada tujuanmu?”


“Tidak juga. Aku hanya merasa ada sesuatu yang hilang.”


“Sesuatu yang hilang? Apa?”


“Entahlah.”


Riz jadi bingung melihat rekannya. Jujur sosok Reve yang dulu dan sekarang agak berbeda. Terkadang dirinya memang masih sombong dan aneh, tapi saat ini sosoknya terlalu tidak bersemangat.


Seakan tak punya energi kehidupan untuk menikmati keadaan. Entah apa yang membebaninya, rekannya itu tidak tahu.


Namun di tempat berbeda, seorang gadis muda menatap tak percaya. Pada kondisi temannya atau sosok yang menjadi belahan dirinya.


Bleria.


Dirinya dirundung amarah melihat kondisi Gilles yang tidak baik-baik saja. Kedua tangannya telah putus dan belum juga diobati. Karena bagaimanapun juga, sosok elftraz (penyembuh) rekan mereka telah mati di tangan Aza Ergo sebelumnya.


Bahkan sekarang, tak jauh di dekatnya telah berdiri kokoh makam seorang bangsawan dari siren.


Draco, mantan penjaga gerbang di Hadesia. Walau sosoknya tak pernah tahu kisruh apa yang sebenarnya terjadi di pelatihan kejam tersebut. Dan kini, mayatnya telah terkubur sebagaimana mestinya. Ditangisi Sidag yang merupakan adiknya.


Bahkan Cobra, juga mencoba menyemangatinya. Masih tak menyangka, kalau rekan-rekan mereka banyak yang mati di tangan dua orang gila milik empusa ataupun hydra.


Dalam waktu yang terus berlanjut, embun mulai membasahi sekitarnya. Sensasi segar menyapa kesadaran beberapa jiwa. Dan racauan para burung-burung memekakan telinga pendengarnya.


Rekan-rekan Aza tersadar dalam tidurnya. Tapi cukup mengejutkan, karena di salah satu meja besar di tepi ruangan telah tersaji hidangan mewah. Begitu menggiurkan mata penontonnya, sekaligus menimbulkan lucu karena Near sang ular telah melompat duluan untuk menyantap daging impiannya.


Benar-benar hewan yang tahu diri akan kenikmatan dunia.


“Ingin menjemputku?” Aza bergumam. Langkahnya pun mengikuti Capricon menuju kamar Hydragel Kers.


Belum sempat pintu diketuk sosok itu sudah keluar memamerkan wajahnya. “Manis sekali.”


“Apanya?”


“Jemputanku.” Aza Ergo mengabaikannya dan berjalan duluan. “Oh ya, kau tahu Aza? Revtel sudah mengetahui kalau diriku pergi.” Tiba-tiba langkah petinggi empusa itu terhenti dan menoleh padanya. “Jangan menatapku begitu. Lagi pula, dia tidak akan ke sini.”

__ADS_1


Mendengarnya sang pemuda kembali melanjutkan langkahnya. Membuat Kers terkekeh hanya dengan memperhatikan punggungnya. 


__ADS_2