
Menyedihkan. Darah mengalir dari lubang tusukan di perut Aquila setelah magma yang melukainya menghilang. Sekarang, tangan Aza Ergo pun mencekik lehernya.
“Nyonya Aquila!” pekik bawahannya yang tadi sibuk melukis mantra.
Tentu saja ini pemandangan yang cukup mengerikan. Salah satu petinggi empusa, serta seorang pria dengan nama lumayan menggema di kehidupan bangsanya, sekarang terlihat tak berdaya di depan mata.
Gilles yang merupakan bangsawan dari bangsa siren, hanya bisa menatap geram pada nasib rekan-rekannya. Mengepal erat tangan sampai berdarah karena tak mampu membantunya.
“Kutanya sekali lagi, kenapa kalian ke sini? Jika tak menjawab, aku akan membunuhmu.”
“Kau pikir kau akan selamat setelah melakukan itu? Kau akan dianggap sebagai pengkhianat!” teriak Gilles padanya.
Akan tetapi, cuma seringai tipis yang dibayarkan Aza sebagai ekspresinya. “Lalu?” cekikan di leher Aquila pun terlepas. “Memangnya kenapa?”
“Aku bersumpah, kalau kau pasti akan mati,” sela Ahool tiba-tiba. Dia tampak kesakitan di balik siksaan yang masih menusuk dirinya.
Magma dingin namun membeku, masih tertanam di tubuhnya yang mengudara. Sorot matanya jelas-jelas menuliskan dendam untuk petinggi muda di bawahnya. Dia, benar-benar membencinya.
“Tapi sayang sekali, kau yang akan mati. Horusca!” panggilnya tiba-tiba sehingga pengendali tanaman yang bersembunyi itu keluar. Orang-orang di sana pun terkesiap karena ternyata Aza Ergo tidak seorang diri. “Hei, aku hanya memanggil Horusca. Kenapa kalian juga muncul?”
“Mana kutahu kalau kami harus tetap bersembunyi!” Doxia membela diri.
“M-mere-ka,” sahut Aquila terbata-bata.
“Ah, aku lupa memperkenalkannya. Mereka itu teman-teman seperjalananku. Tentu saja siapa mereka takkan kuberi tahu,” Aza pun berjongkok di hadapan Aquila. “Horusca, sembuhkan luka di perut wanita ini. Kau pasti bisa kan?” sambil menatap sinis pada petinggi yang sama dengannya.
“Jika memang mau disembuhkan. Kenapa melukainya?”
“Lakukan saja,” perintahnya lalu berdiri lagi. Sorot matanya pun, menatap tajam Gilles yang murka. “Saatnya pertunjukan,” ia pun terkekeh pelan.
Selesai mengatakan itu, pedang magma yang muncul dari pepohonan untuk menusuk Ahool pun menghilang.
“Ugh!” erang pria itu karena tubuhnya jatuh membentur tanah. Di balik sensasi sakit yang menyelimutinya, diliriknya Aza Ergo seperti ingin membunuhnya. Perlahan, tangannya berusaha keras menopang tubuhnya agar bisa bangkit dari posisinya.
“Keras kepala,” sang petinggi tersenyum menatapnya. Tiba-tiba, duri magma muncul dari permukaan tanah menghujam tubuh Ahool. Sehingga badannya yang berupa siluman monyet bersayap kelelawar sedikit terangkat.
“Ahool!” pekik keras Gilles. Sungguh dirinya tak percaya kalau orang itu akan dilukai tanpa ampun oleh rekan sebangsanya.
__ADS_1
“K-kau,” lirih Ahool terbata-bata. Napasnya serasa sesak akibat derita yang menimpa tubuhnya. Matanya memerah, saat bertemu dengan rupa petinggi muda.
“Aku sudah memberi peringatan bukan?” perlahan pedang magma muncul kembali di tangan Aza. “Jawab aku, jadi aku bisa mengasihani dirimu.”
DEG!
Terdiam.
Beberapa pasang mata yang menatap pemandangan mengerikan itu dipaksa terbungkam. Ahool, sang scodeaz (pengendali) level komandan, dengan sangat mengejutkan baru saja dipenggal tepat di depan wajah mereka.
Bahkan jika rasanya masih sulit untuk dipercayai, tapi memang itu yang terjadi. Kepalanya telah menggelinding menghadap Gilles. Seakan sosok Scodeaz (pengendali) bertipe kuda tersebut, baru saja mendapat hukuman mati saat melihat rekannya dibunuh tanpa iba. Perlahan, gemetar di badan mulai muncul untuk melahap keberaniannya.
“Ahool ... kau ... dasar brengsek!” pekik Aquila tiba-tiba. Bola hijau yang menyelimuti dirinya akibat kemampuan Horusca pun langsung pecah seketika. Bahkan aura membunuhnya, telah berkobar hebat dari sosok assandia (petarung) bangsa empusa itu. Benar-benar emosi dan marah pada Aza Ergo yang telah membunuh temannya. “Aku takkan pernah mengampunimu Aza!” teriak kerasnya sambil berlari ke arah sang pemuda.
“Bodoh.”
Dan begitulah hasilnya. Sebuah kegagalan. Emosi yang berlebihan membuka celah di seluruh tubuhnya. Di saat dirinya masih berlari, tiba-tiba duri magma yang besarnya tak seberapa langsung menusuk kaki Aquila. Membuat wanita itu jatuh tersungkur dan merasakan kulit seperti ingin melebur karena jurus pemuda di depannya.
“Benar-benar keras kepala,” lanjut Aza Ergo sambil terkekeh pelan.
“Hei! Kau—” tapi terlambat. Kalimat Doxia sudah terlanjur terpotong oleh ayunan pedang sang petinggi muda. Sehingga serangan kedua tersebut, berhasil memutus tangan Aquila yang memegang senjata khas assandia (petarung).
“Jangan marah begitu. Karena selanjutnya adalah kau Gilles.” Sekali lagi ia melakukannya. Memotong tangan kedua Aquila sehingga wanita itu kian merintih kesakitan. Bahkan pekikan kerasnya yang menggema di hutan seperti tak berarti apa-apa. Karena Aza memang kejam dalam menyiksanya. “Selanjutnya kakimu, Nyonya.”
“Hei!” sela Doxia tiba-tiba. “Kau, apa kau gila? Dia seseorang dari bangsamu! Bagaimana bisa kau menyiksanya seperti itu?!”
Tentu saja tawa remeh yang disemburkan Aza mendengar ocehan dari anggota timnya. “Menyiksa? Apa maksudmu? Aku mengeksekusinya. Jangan kejam begitu kalau berbicara,” ia pun terkekeh. Lalu sorot matanya pun melirik Horusca.
“Jangan katakan kalau kau ingin aku mengobatinya lagi,” keluh Horusca. Bagaimanapun juga, menyembuhkan luka pertama Aquila memakan begitu banyak tenaganya. Mengingat organ serta kulit perempuan itu sudah hancur akibat magma Aza.
“Jangan salah sangka. Hentikan pendarahan di tangannya, bukan sembuhkan lukanya,” ucapnya santai.
“Kau—”
“Lakukan saja. Dan awasi dia. Karena aku akan memburu mereka,” nada bicaranya berubah.
Selain Horusca dan Doxia yang bersuara, anggota lainnya memilih diam. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya mereka menyaksikan kekejaman sang petinggi muda dari empusa.
__ADS_1
Bahkan Reve yang juga bisa dikatakan setipe dengannya memilih menonton itu semua. Cukup terkejut sekaligus terpukau memperhatikan gaya bertarung Aza Ergo.
“K-kau,” lirih Aquila. Instingnya pun berbicara kalau selanjutnya akan menjadi sangat buruk bagi mereka. Sontak saja ditatap tajamnya wanita yang menjadi rekannya. “Lari Gilles! Atau dia akan menangkapmu!” teriaknya tiba-tiba.
Spontan saja wanita dari bangsa siren itu terkesiap. Menatap tak percaya akan apa yang diucapkan Aquila Ganymede yang terluka.
Dan benar seperti kenyataannya. Aza Ergo langsung mengangkat kedua tangannya ke langit-langit dengan kecepatan tak terduga.
“Gawat. Lari!” pekik Gilles tiba-tiba pada para bawahan yang ada di sekitarnya.
Bersamaan dengan Aza Ergo yang menghantamkan kedua telapak tangannya ke atas tanah. “Nedierma!” (Menyebar!)” seketika duri magma bermunculan di hadapannya dan langsung menghancurkan pijakan mereka untuk mengejar Gilles.
Refleks wanita itu berbalik dan kabur bersamaan dengan para anak buah yang tak berguna di pertarungan mereka.
Napasnya begitu memburu saat melihat duri magma itu masih saja mengejar dirinya. Entah sejauh apa jangkauan jurus Aza dalam melancarkan serangan benar-benar mengerikan untuk dibayangkan.
Tapi, guratan tipis langsung tersungging di bibir petinggi itu. Entah apa yang direncanakannya sampai dirinya terlihat begitu.
“Aza,” gumam Reve menyadari kalau sosok di depannya seperti akan melakukan sesuatu.
“Memang sudah saatnya untuk serius menghadapi kalian.” Dan gumpalan magma dari tanah langsung bermunculan mengitari Aza. Bergerak cepat seolah membentuk wujud tak biasa. Pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan.
Ular raksasa berkepala delapan, telah muncul di sana sebagai bukti kemampuan sang petinggi empusa.
“Ayo. Saatnya makan anak-anak!” sontak salah satu kepala ular membuka mulut lebar-lebar bersamaan dengan Aza yang menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Dilahapnya sang petinggi empusa, bersamaan dengan tujuh ular lainnya yang melebarkan mulut dan melepaskan teriakan memekakan telinga.
Rekan-rekannya pun tersentak kaget karena tekanan dari kemampuan yang seperti monster bagi mereka. Beberapa detik kemudian, kedelapan kepala ular dalam satu tubuh itu langsung melesat maju ke arah di mana Gilles telah meninggalkan semuanya.
Begitu cepat gerakannya, laksana raksasa yang ingin melahap seluruh kehidupan jika menatap ke kedalaman mulutnya. Kemampuan Aza Ergo benar-benar mendinginkan tulang penonton jika berhadapan langsung dengannya.
Sekarang memang harus diakui, kalau julukan eksekutor berdarah empusa yang terkenal itu, pantas disandang olehnya bahkan jika dirinya masih muda dan cukup gila.
__ADS_1