
Semuanya sudah selesai makan dengan hidangan mewah yang disajikan di rumah hitam. Sebagai pemimpin, Izakiel benar-benar menyuguhkan kepuasan yang mengenyangkan perut para tamunya.
Walau sebenarnya, alasannya melakukan itu untuk mengawasi semuanya. Lebih baik memperhatikan mereka dari dekat, sehingga dirinya tahu apa yang mungkin akan dilakukan pendatang itu di Lagarise, kota di bawah kepemimpinannya.
“Ularmu menarik,” begitulah kalimat pertama yang diucapkannya saat bertemu Reve di balkon.
Terlihat pemuda itu sedang memandangi lekukan Kota yang bermandikan salju kecil di pandangan. Dirinya, memilih mengabaikan sosok pemimpin di sebelahnya.
“Reve Nel Keres. Umur 17 tahun. Tinggi 180 cm dan rambut biru kehitaman, tahi lalat di bawah mata kiri serta anting di sebelah sana. Murid kelas dua di SMA MUAN dan anak dari keluarga Agnito. Keluarga yang menjadi salah satu donatur di Asosiasi ya. Ah, dan seorang assandia (petarung) langka yang menjadi buronan para petinggi bersama teman-temannya.”
Penjelasan itu, sontak saja membuat Reve menoleh padanya. Memperhatikannya dengan lekat tanpa membuang ekspresi datarnya.
“Tak perlu memandangku begitu. Petinggi manusia di dunia ini, melaporkan dirimu ke Asosiasi untuk mendapatkan informasi. Yah, karena aku juga seorang manusia dan pemimpin di sini, wajar saja aku juga memperolehnya.”
Reve masih saja diam menatapnya.
“Menurutmu, jika kusebarkan fakta buronan seperti kalian sedang berkeliaran dengan petinggi empusa, apa yang akan terjadi?”
“Kau akan mati.” Tiga kata, dilontarkan dengan irama santai namun tak bisa dianggap bercanda.
Izakiel tersenyum. “Kalau begitu, bisa beri tahu aku apa tujuan kalian sebenarnya sebagai harga tutup mulut?”
Reve memiringkan wajahnya. “Tak ada untungnya bagimu.”
“Salah. Keberadaan kalian di sini adalah keuntungan bagiku.”
“Bagaimana caranya manusia sepertimu bisa menjadi pemimpin di sini?”
Izakiel tertawa pelan. “Tolong jangan alihkan pembicaraan, Nak.”
“Aku penasaran.”
“Kalau begitu, aku juga penasaran bagaimana nasibmu jika ini kusebarkan.”
“Dan nyawamu pun melayaaang,” timpal Aza Ergo tiba-tiba dengan senyum semringahnya. “Wah, wah ... apa-apaan ini? Ajak aku bicara juga,” tampangnya tampak seperti anak kecil yang kecewa.
“Tuan Aza. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan petinggi hebat seperti dirimu. Maaf karena aku telat memberi salam,” Izakiel berujar sopan.
Reve pun memasang ekspresi mencibir karena perubahan sikap pemimpin kota Lagarise di hadapannya.
“Oh, tak perlu seformal itu. Lagi pula aku sudah menghancurkan pinggiran kotamu.”
“Ya. Aku akan memaklumi itu sebagai bentuk selamat datang darimu.”
“Terima kasih pengertiannya,” Aza Ergo terlihat senang berbicara dengannya.
“Kalau begitu sebagai sambutan dariku, bolehkah aku tahu kenapa orang terhormat sepertimu berkeliaran dengan buronan?”
Aza Ergo pun melirik Reve sekilas. Lalu mengedarkan pandangan dengan santainya. “Hm ... sepertinya Ivailo Stoyan sangat berusaha keras ya untuk menyingkirkan sampah-sampah dari bangsanya,” lalu ia terkekeh pelan.
__ADS_1
“Benar. Karena memang itulah tugas petinggi dari bangsa manusia.”
“Lalu?” Aza memiringkan kepalanya. “Apa tugasmu sebagai pemimpin salah satu kota Dewa ini?”
Pertanyaan Aza tidak dijawab Izakiel. Waktu berlalu tenang beberapa saat dengan masing-masing dari mereka saling berpandangan. Entah apa yang ada di pikiran masing-masingnya, tapi pemimpin Lagarise tampaknya sedang menyelidiki sesuatu dari raut wajah petinggi empusa.
“Jika kujawab, apa anda sudi menggantikanku di sini?”
Mendengar itu, sontak saja Aza membuka mulutnya seperti tersenyum lebar. Reve serta Izakiel, dibuat membisu menatap ekspresi sang petinggi yang terasa tidak biasa. Aneh dan menyiratkan sesuatu, sehingga Near sang ular gemetaran lalu memilih bersembunyi di balik baju pemiliknya.
“Kenapa anda berekspresi seperti itu?” lanjut Izakiel bertanya.
Tapi, Aza Ergo justru tertawa. Cukup keras sampai beberapa orang yang bisa mendengarnya menoleh ke arah balkon di atas mereka.
“Apa yang dilakukan orang-orang itu di sana?” tanya Caprio pada Izanami. Bahkan, beberapa orang lainnya berada di bawah. Mereka sibuk memperhatikan hamparan tanaman aneh di halaman rumah hitam.
Tapi Horusca, menatap tak berkedip petinggi yang tertawa itu. Sampai suara Toz mengalihkan tatapannya.
“Jujur karena baru jadi guider, aku agak kaget melihatnya. Tuan Aza dan Reve, ternyata sangat mengerikan aslinya.”
“Toz, apa maksud ucapanmu?” tanya Riz bingung.
“Ada yang tidak biasa dari mereka Riz. Saat pertama kali terjaga, aku merasa Tuan Aza seperti diselimuti sesuatu. Begitu pula dengan Reve. Walau terlihat santai, tapi tekanan mereka terkadang seperti ingin menusukku tiba-tiba. Dan sekarang, Tuan Aza seperti seorang Dewa yang kulihat malam itu. Sensasinya begitu mirip, sampai-sampai aku merasa mungkin saja aku akan mati jika terus berada di dekatnya.”
Riz dan Horusca terdiam.
“Jika Tuan Aza begitu, lalu bagaimana dengan Reve? Kamu bilang dia juga memiliki tekanan yang sama.”
Tak bisa dipahami. Riz yang cuma sebatas guider pemula, tak bisa mengartikan dengan jelas maksud dari ucapan temannya. Ditatapnya sosok-sosok yang berdiri di atas balkon, masih muda dan dua di antaranya merupakan bagian dari kelompok perjalanannya.
Reve dan Aza.
Buronan dan petinggi.
Tapi, satu hal yang pasti. Mereka sangat hebat dan berbakat, serta sama-sama memiliki dua warna rambut yang berbeda.
Tiba-tiba, Riz pun terkesiap karenanya.
“Horusca!” panggilnya. Sang pengendali tanaman lalu menoleh ke arahnya. Riz pun menatap lekat sosok berambut merah di hadapannya. “Kamu penduduk asli dunia ini kan?”
Elftraz (penyembuh) itu hanya mengangguk sekilas.
“Kalau begitu, apa ada mitos tertentu tentang orang yang memiliki warna rambut lebih dari satu? Atau memang suatu kewajaran kenapa mereka bisa terlahir dengan warna rambut yang berbeda?”
Dan akhirnya, raut wajah tak terduga di dapati Riz dan Toz dari Horusca Aste. Terkejut, itulah yang diperlihatkan pemuda bertampang datar di hadapannya. Sosok elftraz (penyembuh) tersebut, akhirnya memilih mengalihkan pandangan ke atas menatap mereka yang entah sedang membahas apa.
“Menurutku, lebih baik kita saling percaya saja tanpa harus mengusik satu sama lain. Karena bagaimanapun juga, ada hal-hal yang tidak harus kita ketahui bahkan jika itu berada tepat di depan mata.”
Selesai mengatakannya, Horusca pun pergi meninggalkan mereka. Riz dan Toz sama-sama membisu, meresapi maksud dari rekan seperjuangannya.
__ADS_1
“Apa itu berarti kita tidak boleh terlalu penasaran?”
Riz pun melirik Toz yang terlihat agak kecewa. “Entahlah. Tapi, mungkin saja kita juga tidak harus terburu-buru mencari tahunya. Karena bagaimanapun juga, Tuan Aza dan Reve tetaplah teman sekaligus rekan kita,” dirinya lalu tersenyum.
“Ya, kamu benar. Seharusnya kita percaya saja,” setuju Toz akhirnya.
Dan di tempat yang berbeda, di mana hanya ada dua orang tersisa di sana, terlihat sosok assandia (petarung) langka dan merlindia (penyihir) magma. Tak ada lagi rupa Izakiel yang tadinya bersama mereka.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah itu akan merugikanmu nantinya?” tanya Reve tiba-tiba.
Aza Ergo hanya tersenyum tipis. “Lebih baik aku mengatakan itu, dari pada aku membeberkan kunci monster yang jadi tujuanmu. Tak ada yang boleh tahu itu kecuali kita.”
“Dan Izanami mengetahuinya.”
“Karena dia salah satu kuncinya.”
“Tapi, demi tujuanku kau membeberkan aib bangsamu sendiri.”
Aza Ergo tertawa pelan. “Apa ini? Apa mungkin kau mengkhawatirkan aku?”
“Tidak. Aku mengkhawatirkan diriku. Karena jika kau bermasalah, otomatis itu akan berdampak padaku nantinya.”
“Oh, kau membuatku patah hati, teman,” nadanya terkesan menyindir.
“Sepertinya aku akan gila jika terus bergaul denganmu,” Reve tersenyum miring.
“Ya. Dan mungkin kau akan semakin gila jika tahu tujuanku setelah ini.”
Raut wajah Reve berubah. “Apa maksudmu?”
“Gagak itu, adalah pesan dari pimpinan hydra.”
Ekspresi pemuda berambut biru kehitaman itu langsung berubah malas mengetahui sosok yang tak begitu disukainya muncul di sana. Bahkan suara teriakan angin seperti ikut menyetujui suasana hatinya.
“Mau apa dia? Jangan bilang dia akan mengganggu kerja sama kita.”
“Ya. Dia memang akan mengganggu waktu kita.”
“Kau membuatnya terdengar menjijikan.”
Aza tersenyum remeh. “Aku harus ke kuil Dewa Susanoo.”
“Untuk apa?” wajah pemuda itu berkerut bingung mendengarnya.
“Entahlah. Sepertinya, bangsaku ingin berpesta di sana. Tentu saja sebagai anak muda yang bertahta, aku harus datang untuk mengacaukannya,” dan seringai tipis pun tercetak sempurna di wajah petinggi yang tak jelas bagaimana jalan pikirannya.
__ADS_1