
“Tenang Revtel. Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas,” lirihnya. Dan seperti perkataannya, es itu menguap dari tubuhnya. Tampaknya, kemampuan sang kakak sepupu kurang berlaku bagi Kers yang tak melakukan apa-apa.
“A-aku sudah membunuh mereka, Kers. Aku membunuh mereka! Aku tidak bermaksud melakukan itu semua tapi aku tak bisa mengendalikannya,” ia pun mengatakan itu dengan nada ketakutan.
Kers pun terkesiap sekarang. Karena sepertinya, ketakutan Revtel membuat kemampuannya semakin berkumandang. Hadesia kembali ditelan esnya dan Trempusa langsung mengayunkan senjata agar pijakan mereka terlindungi.
Akan tetapi tiba-tiba sebuah pukulan kasar pun dilontarkan Kers ke arah perut sepupunya. Membekukan tangan sekaligus Revtel pingsan karenanya. Dan dia dengan sigap pun langsung menangkap badan saudaranya agar tidak jatuh membentur tanah.
“Maafkan aku, Revtel.”
Perlahan hujan pun turun membasahi daratan Hadesia. Di mana menggenangi magma dan mayat itu tanpa iba.
Anak-anak yang tersisa sudah kembali ke asrama.
Walau hancur lebur akibat Aza, setidaknya masih tersisa tempat yang bisa dijadikan peristirahatan.
Sementara sang petinggi, duduk termenung di kamarnya. Entah karena kebetulan atau bagaimana, hanya asrama terakhir itu yang kondisinya masih baik-baik saja.
Dengan bantuan senjata Trempusa dan Thertera, mereka pun menggali makam di halaman depan asrama. Sebagai rumah terakhir bagi Laravell Axadion Ergo yang tidak dikenalnya.
Tentunya semua karena arahan Beltelgeuse Orion. Bahkan dia juga yang menyediakan pakaian terbaik bagi kakak Aza Ergo.
Mengingat sosoknya sangat bersimpati pada adik seperguruannya itu.
Sekarang, para murid tersisa pun duduk dengan makanan di depannya.
“Pangeran Es itu bagaimana?” tanya Xavier pada Kers.
“Kau bertanya padaku?” anak itu menunjuk dirinya sendiri.
“Menurutmu aku sedang melihat ke mana?”
“Jika ingin tahu kondisinya, lihat saja ke kamarnya,” jawab Kers dengan santainya.
“Ini buruk,” Thertera bersuara tiba-tiba.
Lascarzio pun memasang tampang bingung di wajahnya. “Apanya?”
“Semua sudah mati. Bahkan para prajurit sudah tak tersisa lagi. Hanya ada kita, dan selain area pertempuran, ternyata kawasan lainnya sudah ditutupi magma juga es. Kita harus bagaimana?” tanya Trempusa.
“Tentu saja kita harus pergi dari sini,” jawab Xavier Lucifero dengan entengnya.
__ADS_1
“Kamu pikir mudah pergi dari sini? Apa kamu tidak dengar perkataanku? Selain area pertempuran semuanya sudah ditutupi es juga magma,” tekan Trempusa kepadanya.
“Lho, bukannya asrama baik-baik saja?” bingung Xavier masih saja mendebatnya. Trempusa yang mulai lelah menanggapi sosok sebangsanya itu pun memilih membuang muka.
“Seperti perkataan Trempusa. Hadesia sudah diselimuti oleh magma dan juga es. Hanya saja, area dalam yang menjadi lokasi pertempuran dan tempat tinggal baik-baik saja. Tapi,” lanjutannya pun tertahan jeda sehingga orang-orang menatap ke arah Thertera. “Nasib kita selanjutnya pasti akan dalam bahaya.”
“Kenapa?” bingung Xavier.
“Apa kita benar-benar sebangsa? Bagaimana bisa kamu sebodoh ini? Bocah barbar!” kesal Trempusa jadinya. Karena bagaimanapun juga, dia masih ingat kekejaman anak itu. Di mana Xavier memotong tubuh Bartigo Aertia menjadi beberapa bagian dan membuangnya ke sembarang arah.
Entah apa maksudnya melakukan itu, tapi satu hal yang pasti kalau dia gila.
Setidaknya begitulah label yang disematkan orang-orang normal saat melihatnya. Dan tiba-tiba, pandangan mereka teralihkan oleh kehadiran Aza Ergo karena keluar kamar.
“Azkandia,” panggil Orion.
Tapi, sosok itu cuma mengabaikan dan hendak berlalu dari sana. Namun siapa yang bisa menyangka, kalau Xavier Lucifero tiba-tiba mengangkat tangannya dan melontarkan serangan pada sofa.
Sontak saja benda itu terdorong dan hancur menjadi serpihan di jalan yang ingin dilewati Aza.
“Hei!” pekik Trempusa karena kaget melihat ulahnya.
Dan tanpa membalas perkataannya, sosoknya pun memilih menghancurkan kekacauan di depan mata dengan magma. Tentunya orang-orang hanya diam menyaksikannya.
“Gara-garamu Hadesia jadi hancur seperti ini. Sekarang kami tak bisa jadi Raja atau petinggi. Bagaimana caramu akan bertanggung jawab? Bocah magma.”
Mendengar kalimat Xavier Lucifero, Trempusa pun mengepal erat tangannya.
“Kau! Bisa-bisanya kau mengatakan itu? Apa kau tidak sadar apa yang baru saja terjadi? Dia baru saja kehilangan kakaknya! Dia baru saja kehilangan saudaranya!” kesal sosok sebangsanya.
Tapi Xavier tampaknya tak peduli dan mendekati Aza Ergo yang masih berdiri diam akibat ucapannya.
“Tentu saja aku bersimpati. Tapi, aku punya tujuan lain untuk datang ke sini. Dan sekarang semua sirna karena emosi semata. Bagaimana caramu bertanggung jawab dengan semua itu? Wahai petinggi muda dari empusa.”
Perlahan, mata Aza pun bergerak untuk menemui rupa sosok di sampingnya. Jelas tersirat di sana, kesedihan yang mendalam di diri putra Maximus Ergo.
Tapi entah apa yang ada di pikirannya, dia tidak mengatakan apa-apa.
“Kita semua akan jadi petinggi dan juga Raja.” Kalimat itu pun berhasil menyentak sekelilingnya. Dan para pendengar menoleh ke sumber suara. Di mana Blerda Sirena yang merupakan satu-satunya perempuan di sana berujar sambil mata terarah pada buku di tangannya. “Kita semua bisa jadi Raja ataupun petinggi, jika kalian mengikuti rencanaku.”
“Apa kau bisa dipercaya? Kau bahkan membiarkan semua orang mati dalam pertarungan. Gadis kejam yang kerjanya hanya menonton dengan tenang.”
__ADS_1
Sindiran itu begitu telak untuk Blerda. Tapi entah kenapa ia tidak merasa tersinggung. Kecuali memamerkan tampang datar pada semua.
“Blerda,” Orion memanggilnya tiba-tiba. “Kenapa kamu tidak turun tangan? Setidaknya mungkin saja ada murid lain yang bisa terselamatkan.”
“Kenapa aku harus menyelamatkan sainganku?” Orang-orang pun terkesiap mendengarnya.
“Blerda, kamu—” Trempusa benar-benar kaget karenanya.
“Apa kalian tahu apa ujian terakhir?” tanya gadis itu. Tapi tak satu pun yang menjawabnya. Perlahan ia condongkan tubuhnya ke depan dengan buku di tangan masih terbuka lebar. “Saling membunuh, itulah ujian terakhir. Daripada mengotori tangan sendiri, bukankah lebih baik bersikap seolah sok suci?”
“Kau—”
“Jika kalian berpikir bahwa kalian korban para guru, maka kalian salah besar. Hanya kita yang selamat di pulau ini,” tekannya. “Maka itu berarti kitalah pelaku sehingga kejadian mengerikan ini bisa terjadi. Apa kalian pikir, orang-orang di luar sana akan percaya dengan sekte Hadesia? Di saat semua bangsa kehilangan banyak garis darahnya?”
Semua pun terdiam dibuatnya. Karena akhirnya tersadar akan kebenaran ucapan Blerda. Sekarang hanya mereka yang tersisa di Hadesia. Sementara Aza sudah keluar dari dalam sana. Ia tak peduli dengan ocehan wanita itu.
Mengingat baginya masa depannya sudah hancur akibat kematian kakaknya. Satu-satunya orang yang tersisa dalam hidupnya. Dan Laravell dengan tega pergi begitu saja.
Sosoknya benar-benar tidak bisa melupakan penyerangan yang sudah merenggut kehidupan kakaknya.
“Pikirkanlah. Masa depan seperti apa yang tersisa di diri kita? Karena para murid yang bernyawa, pasti akan tertuduh sudah membunuh semua guru dan siswa di Hadesia. Dan hanya posisi Raja serta petinggi yang bisa menyelamatkan kita. Jika kalian setuju dengan rencanaku, maka semua pasti akan baik-baik saja. Karena sembilan murid yang tersisa, merupakan korban kekejaman di tanah airnya.”
Terkesiap. Sontak saja semua menoleh tak percaya. Di mana Blerda menyeringai tipis saat melihat mereka.
“Kau!” Xavier mengepal erat tangannya akan lirihan Blerda yang seolah tahu masa lalunya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya sosok berambut perak di seberangnya.
“Aku?” raut wajah tenang Blerda pun berubah menekan mereka. “Raja siren yang baru.”
__ADS_1