Death Game

Death Game
Kelompok gabungan


__ADS_3

Gemuruh di dada wanita yang menjadi petinggi hydra pun kian mencekik kesadarannya.


“Libra,” panggil Revtel karena sosok di sebelahnya itu terlihat mulai sesak napas.


“Libra! Kamu baik-baik saja?!” Tuan Criber juga kaget dan menghampirinya. “Tarik napasmu pelan-pelan,” suruhnya sambil memegang bahunya.


Dan orang-orang pun saling melirik dengan pandangan yang tak terlukiskan maknanya.


“Thertera Aszeria, apa anda benar-benar yakin kalau dia pengkhianat?” Zarca Aseral sang petinggi empusa akhirnya berbicara setelah dari tadi hanya diam saja.


“Kau pikir, aku cukup berani untuk sembarangan menyebut nama?” Kers membalasnya dengan tatapan menyindir.


Petinggi itu terdiam. Benar yang dikatakan Raja hydra. Bagaimanapun, atas dasar apa dirinya menuduh asal-asalan? Mengingat orang-orang yang disebutkan merupakan sosok-sosok dengan bertaring di kursinya.


“Yang Mulia,” Arjuna pun menoleh ke arah Blerda Sirena.


“Sudah kuputuskan. Aku akan mengirim pasukan untuk memburu mereka. Dan juga, biar aku sendiri yang mengadili Arigan Arentio, karena bagaimanapun dia orang dari bangsaku.”


“Orang dari bangsamu?” wajah beruraian air mata Kagura menatap remeh ke arah Blerda. “Lalu bagaimana dengan orang-orang dari empusa? Kau tak punya hak untuk membunuh mereka, tapi kau lancang mengadilinya dan memutilasi mereka!”


“Kagura—”


“Diam Estes!” hardiknya. “Di saat keluargaku sudah hancur seperti ini, apa lagi yang tersisa untukku?! Jangan harap aku akan menghormati dia setelah kematian kakek dan kakakku! Jika kalian tidak suka dengan itu, maka silakan bunuh aku! Hancurkan aku seperti kalian menghancurkan keluargaku!”


Sepertinya, sayatan di hati petinggi empusa itu begitu besar, sehingga sosoknya tak lagi bisa menghormati orang-orang di sekelilingnya.


“Kagura ...” Trempusa pun menatap penuh arti kepadanya.


“Maafkan aku. Aku tahu kalau sikapku ini tidak pantas bagi seorang petinggi. Tapi, aku juga tidak bisa membohongi perasaanku atas apa yang terjadi. Aku benci kalian. Aku membenci kalian semua!” tegasnya dengan tangisan yang enggan berhenti alirannya.


Jujur rasanya menyakitkan bagi Trempusa. Karena sebagai seorang Raja, ia tak bisa melakukan apa-apa. Nyatanya, kekuasaan tak bisa membeli perasaan seseorang.


“Kalau begitu kau akan dipulangkan ke empusa dan diawasi para ksatria. Bukan ide yang buruk bukan?”


Kalimat Aza pun menyentak pendengaran orang-orang sekitarnya.


“Apa maksudmu brengsek!”


“Seperti yang kukatakan. Kau akan dipulangkan dan diawasi para ksatria. Hanya itu jalannya, untuk membersihkan nama Masamune di mana isinya sedang dinodai pembangkang.”


“Aza!” hardik Trempusa dan juga Estes bersamaan.

__ADS_1


“Kenapa membentakku? Aku hanya memberi saran. Lagi pula kau Raja nya kan? Semua ada di tanganmu. Tapi, jangan lupa. Kalau aku ada untuk menghabisi pemberontakan. Itulah perjanjianku, teman,” sahut Aza sambil mengibarkan senyum tipis di bibirnya.


Tangan Trempusa pun terkepal erat karenanya, merasakan sensasi aneh saat berbicara dengannya. Perlahan, ingatan di masa lalu kembali menghampirinya. Sebuah kenangan di mana sosok adik seperguruannya itu, pertama kali diangkat sebagai petinggi empusa.  


Perjanjian pun terukir dari bibir Aza Ergo yang sangat menolak keras posisi di hadapannya. Karena bagaimanapun juga, dia adalah sosok buangan milik bangsa setengah Dewa.


“Maafkan aku. Tapi, kupikir kami harus memberi tahu bangsa kami dulu sebelum melakukan sesuatu pada Tuan Ivailo,” sela Julius Troya tiba-tiba yang membuat Gandari serta Ilhan mengernyitkan dahi bingung karenanya.


“Terserahlah. Bagaimanapun dia kan petinggi kalian,” Kers mengibaskan tangannya lalu kembali memakan anggurnya.


Sementara sosok dari bangsa kurcaci ataupun tangan kanan raja gyges, terlihat masih enggan bersuara. Padahal orang-orang sudah menyuarakan pendapat akan langkah selanjutnya.


“Tapi,” semuanya pun menoleh ke arah Gandari. “Mengingat banyaknya orang yang harus diburu, bagaimana kalau kita kirim kelompok antar bangsa-bangsa?”


“Kelompok antar bangsa-bangsa?” Hea mengulanginya. “Pemburu gabungan maksudnya?”


“Benar. Karena kalau memang seperti ucapan Yang Mulia Kers, maka bisa dipastikan mereka sudah di perjalanan untuk membangkitkan cerberus.”


“Kuil Nagagini ya.”


Heksar pun terkesiap. “Dari mana kau tahu kalau cerberus ada di kuil Nagagini?” tanyanya pada Kers.


“Bagaimana kalau yang ada di sana ternyata Minotaurus? Bukankah kita akan buang-buang waktu?”


“Hei cebol! Kau meremehkan kemampuan pembaca ingatanku?” Kers pun mulai jengkel karenanya.


Tiba-tiba hawa mengerikan menyeruak di tubuh monster chimera. “Siapa yang kau panggil cebol, brengsek?”


“Ah ... Yang Mulia. Tolong tenang, sabar ... Yang Mulia Kers pasti cuma bercanda, jadi tolong tahan emosi anda,” panik Hanzo sambil memegang bahu Rajanya.


“Siapa bilang aku bercanda?”


“Kers!” hardik Revtel dan Beltelgeuse secara bersamaan.


“Tunggu! Kalian memanggil namaku? Mana Yang Mulia nya?”


Sungguh geram melanda kedua orang itu. Andai saja dia bukan pimpinan milik bangsa hydra, bisa dipastikan kalau Revtel dan Beltelgeuse akan menyumbat mulutnya dan mengirimnya ke neraka.


Kers benar-benar pengacau untuk situasi yang tak terduga.


“Kupikir itu bukan ide yang buruk. Bagaimana kalau kita dirikan aliansi kelompok sekarang? Dengan begitu, mereka bisa langsung memulai perburuannya. Lebih cepat lebih baik. Semoga, para pengkhianat itu belum sampai ke kuil,” Tuan Criber yang tadinya sibuk menenangkan Libra, memberikan saran terbaiknya.

__ADS_1


“Ada sepuluh bangsa. Bagaimana kalau satu kelompok terdiri dari tiga atau empat orang saja? Pastikan ada elftraz di masing-masingnya, kita juga bisa jaga-jaga dari kemungkinan terburuk nantinya,” sambung Gandari.


“Benar juga. Ide bagus,” setuju Reoa.


“Jadi, siapa yang akan memimpin masing-masing kelompoknya? Karena para pengkhianat merupakan guider tingkat tinggi,” kalimat Hanzo membuat semuanya saling mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Kau saja Hanzo. Untuk pemimpin kelompok pertama, aku merekomendasikan dirimu,” kalimat Barca Asera sang pedagang toko antik menyuarakan pilihannya.


Tentu saja beberapa orang terdiam karena masih menimbang pengajuan itu. Dan akhirnya, sosok yang tak disangka-sangka juga mengakuinya.


“Aku setuju. Dan untuk pimpinan kedua, aku akan mengajukan Aza Ergo,” kalimat Blerdda Sirena, jelas-jelas mengejutkan semua orang di Aula Kaca. Termasuk sosok yang ia rekomendasikan, memiringkan wajah dan mengerutkan tampangnya.


Merasa heran kenapa wanita itu malah memilih dirinya.


“Apa kau yakin Blerda? Bahkan bangsanya saja belum memilihnya,” perkataan Heksar terdengar seperti sindiran bagi sang petinggi muda.


Akan tetapi, Raja siren yang ditanya menyunggingkan senyum tipis ke arah tamu terhormatnya.


“Apa alasanku untuk tidak yakin? Dia petinggi jenius dari empusa. Dan dia sudah berada di posisi itu, bahkan sebelum para murid di Hadesia lulus dalam ujiannya. Apa aku salah merekomendasikan dirinya?”


Tak ada yang bersuara, karena nyatanya itulah faktanya. Tapi, tentu saja sosok yang bersangkutan melukiskan raut wajah berbeda. Seolah tidak suka, tertulis jelas di sana.


“Aku menolak. Jujur saja, kondisiku sangat tidak baik. Menjadi pemimpin sekaligus melakukan perburuan ada di luar kekuasaanku. Sebelum sampai di sana, bisa-bisa aku mati muda,” keluh Aza sambil memainkan ujung rambutnya.


“Aza, kemampuanmu masih bermasalah?” Logan menatap kaget ke arahnya. Bukankah kau sudah pergi untuk memulihkan diri?”


“Memangnya itu bisa sembuh selama beberapa hari?”


Tapi, sebuah guratan aneh terlukis di bibir Hydragel Kers. Entah apa yang ada di otaknya, namun Lucian Brastok, Pemimpin kurcaci serta Blerda, menyadari ada yang tidak beres dengannya.


“Yang Mulia. Apa ada sesuatu yang ingin anda sampaikan?” pertanyaan Noa Krucoa, membuat orang-orang melirik ke arah pandangannya.


Tentu saja Kers terbelalak dan langsung linglung dibuatnya. “Maaf Tuan, anda bicara denganku?” tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.


Dan pemimpin bangsa kurcaci itu pun mengangguk sekilas kepadanya.


“Jangan bersikap bodoh! Jika ada yang ingin dikatakan, sampaikan saja. Heran, apa kau masih belum kenyang? Dari tadi kau masih saja sibuk makan! Sebenarnya perutmu itu terbuat dari apa? Karet?” Heksar tampaknya masih memendam kesal padanya, karena tadi dikatai pemimpin cebol olehnya.


 


  

__ADS_1


__ADS_2