Death Game

Death Game
Pedagang api merah


__ADS_3

Mereka pun tertegun mendengar ocehan Aza Ergo. Melirik dua orang yang berbagi pandangan dalam diam. Reve menyentuh kelopak mata dan menggosoknya. Perlahan namun pasti, cahaya dari matanya memudar. Kembali pada keadaan semula di mana mata indah biru laut kempali terpancar.


Tapi yang lainnya masih tetap melongo menatapnya. Sampai akhirnya Osmo menawarkan makanan pada Reve. “Terima kasih,” balasnya menerima.


“Sejujurnya, aku masih tak menyangka bahwa kamu akan ikut dengan kita,” sela Riz.


Reve terdiam, memilih tak memberi jawaban untuk pertanyaan itu. Dua jam kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Di mana mencari darah amarilis yang menjadi tujuan. Dengan bantuan Horusca sang elftraz (penyembuh), perjalanan menjadi lebih mudah. Karena orang-orang dengan kemampuan itu, bisa mendeteksi siapa pun dalam jarak cukup jauh hanya memakai energi tanaman sekitar.


Perjalanan yang menyusuri hutan cukup melelahkan, di mana jalanannya terasa jelas menyusahkan. Lolongan binatang dan sayup-sayup angin tetap terdengar, ikut menemani langkah tubuh sampai tujuan.


“Hei rambut merah, ada apa?” potong Doxia.


Tampak Horusca melirik sekelilingnya. “Ada pedagang,” jelasnya.


“Ah! Syukurlah! Aku ingin beli bekal!” oceh Doxia senang. Itu juga berlaku untuk yang lainnya, terlebih bagi Riz dan Toz karena belum pernah bertemu dengannya. Sambil mengikuti langkah Reve, jarak tempuh pun beradu dengan orang yang tiba-tiba muncul di balik pohon.


Dia memakai jubah abu-abu dan topeng senada, dengan garis hitam membentuk tato aneh di bagian punggung. Ada sebuah api merah pekat mengambang mengudara di sampingnya, membuat Toz dan Riz terpana.


“Woah, luar biasa,” kagum Toz menatap lekat api tersebut.


“Oh! Pelanggan?” ucap pedagang itu pertama kali. Pedagang itu menyapu wajah orang—orang itu dan berakhir pada Toz.


 “H-hai,” sapa Toz.


Pedagang itu mengangguk karena senyumnya takkan terlihat. “Jadi, apa yang bisa kubantu?”


“Makanan,” balas serentak Doxia, Rexcel, Horusca dan Reve.


Pedagang tertawa, lalu mengeluarkan sebuah kertas kecil terlipat. Kertas itu dibuka. Dan tiba-tiba, lipatan selanjutnya terbuka sendiri dengan lebar kertas mencapai meja makan besar di dunia manusia.


Mereka yang amatir di dunia itu terperangah, kertas mengambang menunculkan apa pun yang tak pernah dilihatnya. Mulai dari makanan, buah-buahan, minuman dalam obat, senjata serta buku dan lainnya.


Pandangan Toz tertegun saat melihat sebuah bulu merak terpajang indah dalam botol kaca. “Untuk apa ini?” tanyanya heran.


“Ini untuk menuliskan sesuatu di mana saja,” jelas pedagang tiba-tiba mengagetkannya.


“Benarkah? Apa bisa dipakai untuk menulis di air?” Toz makin bersemangat.


“Di mana saja yang anda inginkan.”


Toz terpancing, “jadi, berapa harganya?”


“Lima koin emas.”


Toz terdiam. Sepersen pun uang ia tak punya. Mendengar jumlah koin mengingatkan seberapa kering dan kosong isi kantongnya. Begitu pula dengan Riz, semenjak datang kedunia guide, ia tak punya uang versi dunia itu. Dirinya bingung bagaimana cara mendapatkannya.

__ADS_1


“Kau menginginkanya?” tanya Reve tiba-tiba.


“E-eh itu,” Toz tergagap.


Reve pun menyodorkan beberapa koin emas pada Toz dan Riz. “I-ini untukku?” Riz tak menyangka melihat apa yang ada di depannya.


“Karena tidak punya uang jadi kalian ambil saja.”


“Lalu kamu bagaimana?” sambung Toz.


“Koin emasku ada banyak, jadi tak masalah.”


“Benarkah?” Riz masih ragu menerimanya.


“Ambil saja, jika tidak mau ya sudah.”


“A-aah! Baiklah, aku akan menerimanya,” cegat Toz tiba-tiba, sambil menarik kembali lengan Reve dan mengambilnya. Riz masih tak percaya kalau teman seperjuangannya akan seperti itu. Toz berpaling, “lumayan Riz, kita bisa beli sesuatu. Pemberian tidak boleh ditolak kata ibuku,” bujuknya pada Riz.


Keraguan masih terpampang di wajah, sampai akhirnya benak Riz berbisik untuk ikut mengambil koin emas itu, jika tidak dia akan rugi sendiri. Reve tersenyum melihat tingkah dua bocah lugu di depannya.


“Terima kasih Reve,” ucap Riz dan Toz hampir bersamaan.


Mata Toz dan Riz berbinar-binar karena uang dunia Guide di tangan. Mereka pun membeli tas ruang pada pedagang tersebut. Ditambah dengan makanan dan keperluan lainnya. Begitu pula bulu burung merak yang menarik perhatian Toz ikut dibeli.


“Jadi, bagaimana?” sahut pedagang itu pelan. Reve menoleh mendengar bisikannya.


“Barangku,” jelas pedagang itu.


Reve menerawang seperti memikirkan sesuatu. “Aku akan meninggalkannya di jalan, Near akan menemuimu,” lirih Reve.


“Baiklah, senang bekerja sama denganmu,” pedagang itu berlalu meninggalkannya untuk menawarkan dagangan pada yang lain.


Entah disadari atau tidak, ada dua pasang mata yang menatap curiga ke arah Reve dan pedagang itu. Siapa lagi kalau bukan Horuca dan Aza Ergo. Insting keduanya penasaran kenapa gerak-gerik mereka terasa mencurigakan. Tapi, semua berlalu dan transaksi sudah selesai.


Reve berjalan paling belakang. “Kenapa aku tak melihat ularmu?” timpal Aza Ergo tiba-tiba.


“Kenapa? Kau merindukannya?”


“Aku hanya penasaran.”


“Near sedang mencari makan,” tukas Reve berbohong.


“Begitu?” senyum tipis merona di bibir Aza Ergo.


Langkah mereka pun terhenti dengan kicauan burung di langit-langit. Begitu berisik, seakan lari dari sesuatu. Horusca menatap diam ke arah depannya, dengan langka terhenti mata menyipit tajam.

__ADS_1


“Ada apa?” Aza Ergo ikut menyadari sesuatu.


Ada sesuatu di depan.”


“Musuh?” timpal Doxia tiba-tiba.


“Entahlah, hanya saja-”


“Aagh!” erang Toz tiba-tiba.


“Toz! Ada apa?!” Riz panik lalu menyentuh bahunya. Pemuda itu berteriak kesakitan sambil menekan dadanya. “Toz! Toz, kamu kenapa?!” keringat dingin mengucur di tubuh Riz saat menyadari temannya muntah darah. Toz!!!” pekik Riz.


Mereka yang lain juga ikut kaget, tak menyangka kalau pemuda itu akan kesakitan. “Hei! Cepat lakukan sesuatu!” perintah Doxia tiba-tiba.


Horusca yang masih terdiam, akhirnya teralihkan oleh tarikan tangan Rexcel. “Apa yang kau lihat?! Dia harus diobati.”     


Akan tetapi, Reve tersentak saat Near sang ular yang sudah kembali, terburu-buru melilit kakinya dan bersembunyi masuk ke baju. “Ini.”


Aza Ergo tetap tenang dengan sorot mata elang, mencoba menyusuri panjang tatapan untuk beradu dengan sumber yang terasa aneh baginya. “Ada yang tidak beres,” jelas Aza Ergo.


Raungan Toz semakin menjaddi-jadi memecah suasana. Kemampuan Horusca berpengaruh padanya namun proses penyembuhan berjalan sangat lambat. Ia mendecih pelan membuat Riz kaget di sampingnya.


“Oi! Oi! Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa makin banyak binatang yang lari dari sana?!” oceh Doxia panik melihat burung-burung terbang cepat, terlebih lolongan para binatang buas juga saling menyahut satu sama lain.


 “Sial!” umpat Reve tiba-tiba.


“Riz!” teriak Aza Ergo.


Tapi terlambat, hempasan angin kuat menyapu mereka, membuat tubuh tertahan ketika sakit merasakannya.


“Energi apa itu?” Doxia bergidik ngeri.


Rexcel dan Osmo juga memperilhatkan tatapan panik. “Aku, tidak pernah merasakan energi seperti itu,” lirih Rexcel berkeringat dingin.


Suara hentakan langkah yang cepat berlari ke arah mereka. Sangat berisik diiringi teriakan binatang-binatang lainnya. Aza Ergo segera memajukan tangan kanan dengan sikap waspada. Telapak tangannya berasap panas dan melelehkan magma.


Magma itu segera membulat besar membakar apa pun yang ada di dekatnya, membuat yang lain spontan melangkah mundur. Suara langkah kaki semakin mendekat namun tampangnya masih tak terlihat. Napas mereka mulai berpacu dengan waktu, sambil jantung berdetak panik. Sensasi mencekam seakan tenggelam dalam kubangan ketakutan mulai berteriak auranya.


Seketika jantung tersentak, bayangan gelap besar mendekat membabi buta. Mata terbelalak dan mulut menganga jelas terpampang di wajah mereka, sampai akhirnya teriakan Horusca menyadarkan kalau itu tanda bahaya.


Tanpa mantra yang jelas Aza Ergo menyebarkan magmanya terbang mengudara, melesat cepat beradu dengan tubuh makhluk itu. Geram jelas terlukis di wajahnya, terlebih bola magma besar tak berpengaruh apa pun pada makhluk yang beberapa meter lagi akan menghantamnya.


“Aza!” teriak Doxia.


Aza Ergo terbelalak, makhluk yang ia tiba-tiba datang itu berdiri di sampingnya, melayangkan tinju penuh darah hendak menghantamnya.

__ADS_1


“Buaagh!!!”


 


__ADS_2