
“Kalian!” kaget Reoa melihat siapa yang ada di depan matanya.
“Penyusup?” Arigan tersenyum menatapnya.
“A-ayah,” Libra pun beruraian air mata, saat menyadari kalau sosok terpenting dalam hidupnya, juga bersama para buruannya.
“Menarik,” ucap Ivailo Stoyan.
Sekarang di depan pintu masuk kuil Dewa Nagagini, telah hadir dua kubu. Kubu pertama, pengkhianat yang terdiri dari Arigan Arentio, Thertera Aszeria, Zeril Septor serta Ivailo Stoyan. Sementara kubu kedua, Logan Centrio, Reoa Attia dan juga Libra Septor.
“Kita, kalah jumlah,” lirih Reoa menyadari kesenjangan yang mereka punya. Tapi, raut hanya raut tenang terlukis di muka petinggi bangsa dracula. Mungkin Logan tidak takut kalau seandainya terjadi pertarungan di antara mereka.
“Cerberus,” ucap laki-laki pengendali petir tiba-tiba. “Apa itu tujuan kalian sampai datang kemari?”
Tapi, tak satu pun dari kubu pengkhianat menjawabnya. Sampai akhirnya Libra bersuara, akibat sesak di dada yang dirasakannya.
“Itu semua bohong kan Ayah? Ayah, tidak mungkin kan mengkhianati bangsa kita?”
“Libra,” gumam Zeril Septor melihat ekspresi anaknya.
“Kita sudah sampai sejauh ini, jangan sampai anda ragu, Tuan,” sela Ivailo Stoyan tiba-tiba. Membuat Zeril mengeraskan rahangnya, akibat sadar dengan posisinya.
Tiba-tiba, pandangan mereka teralihkan akan kehadiran yang tak terduga dalam langkah santainya.
“Siapa itu?” Reoa menatap bingung ke arah orang asing di kanan mereka.
“Tak kusangka, kalau kamu juga seorang pengkhianat Zargion,” tekan Logan dengan suara beratnya. Dan hal itu berhasil mengejutkan dua rekannya yang menatap tak percaya.
“Jadi dia Zargion? Cucu Yang Mulia Bragi Elgo?!” petinggi bangsa gyges masih tidak mempercayainya. “Bagaimana bisa cucu mantan Raja menjadi pengkhinat begini?!”
Tapi, malah tawa yang disemburkan Arigan Arentio, sehingga fokus orang-orang di sana pun pecah kepadanya.
“Kuberitahu padamu, tak ada gunanya bicara dengannya. Karena dia, mungkin tidak punya suara.”
“Leluconmu buruk Arigan,” Ivailo menimpalinya.
“Bahkan Thertera juga di sini. Kau—” kalimat Logan terhenti sejenak. Berganti dengan helaan napas kasar melihat rupanya. “Kami bertiga, datang sebagai perwakilan bangsa-bangsa untuk menghukum kalian semua. Atas kejahatan, karena sudah memasuki kawasan terlarang dan juga berencana membangkitkan dua makhluk legenda.”
“Lalu? Kalau kamu ingin bertarung maka akan kulayani. Zargion, ayo mulai,” Arigan pun melirik rekan di kirinya.
Tiba-tiba, cucu mantan Raja empusa itu bergumam. Entah apa yang ia lirihkan tanpa suara. Tapi di tangannya ada terompet dari keong hitam dan ditiupnya. Mengejutkan Logan akibat sensasi aneh muncul ke permukaan.
Perlahan, tangan-tangan mulai keluar dari tanah seperti bangkit ke daratan untuk menakuti para penikmatnya.
Ghoul.
Makhluk dunia bawah pun telah hadir bersama mereka.
__ADS_1
“Kalian!” pekik kaget Reoa.
“Silakan dinikmati pertarungannya!” dan monster itu menyerang mereka setelah Arigan bersuara. Bergerak memburu seperti hendak memakan mereka.
Dan Reoa pun secepat kilat mengeluarkan tanamannya untuk menghentikan ghoul di depan mata.
“Ayah!” teriak Libra saat melihat Zeril Septor mencoba memasuki gerbang Dewa Nagagini yang sudah terbuka.
Perlahan, pria itu berbalik dan tersenyum kepadanya. “Maafkan aku,” gumamnya tanpa suara.
“Kyaa!” teriak Libra karena serangan kasar dihempaskan salah satu ghoul ke arahnya. Andai Logan tidak bergerak cepat, bisa dipastikan tubuh bagian depannya sudah terluka.
“Jangan lengah!” sosoknya mengingatkan Libra. Dan gadis itu tak bisa menghentikan uraian air matanya.
“Ini gawat! Gerbangnya sudah terbuka! Bagaimana bisa?!” Reoa panik melihat kepergian mereka.
Tapi, sosok yang diburu malah mengabaikan dan memilih memasuki Kuil Nagagini di depannya.
“Menunduk!” teriak Thertera tiba-tiba.
Dan bersamaan dengan itu, serangan berupa bola api bergerak cepat menyerang mereka. Membuat Ivailo melakukan hal serupa untuk mementalkan benda padat terbakar itu agar menjauh dari rekan-rekannya.
Terlihat.
Sesosok serigala sebesar singa. Begitu kokoh penampilannya, berselimutkan api di tubuhnya. Hewan tersebut melolong sekeras-kerasnya sehingga bergema dan membuat bulu kuduk berdiri bagi pendengarnya.
Perlahan, sang serigala terbakar pun mulai megobarkan api besar dan berubah menjadi seorang laki-laki.
Ilhan Leandro. Dialah wujud sesungguhnya dari hewan mengerikan itu.
“Apa maksudnya ini?” tanyanya.
Tapi, tak ada balasan dari sosok yang ditanya kecuali diam memperhatikannya.
“Ilhan? Apa mungkin Ilhan Leandro?” Arigan menyelanya.
“Sepertinya, namaku jauh lebih terkenal dari pada tampangku. Bukankah begitu? Tuan Ivailo.”
Dan petinggi manusia yang menjadi pengkhianat pun memilih memalingkan muka. “Duluan saja. Aku akan menyusul nantinya.”
“Baiklah kalau begitu,” angguk Zeril dan melangkah duluan.
“Aya— ugh!” erang Libra. Karena dua ghoul menyerangnya secara membabi buta untuk membunuhnya.
“Kalian mau ke mana?” suara berat yang muncul tiba-tiba pun menghentikan langkah para pengkhianat.
“Suara? Siapa itu?” Arigan melirik ke sekelilingnya. Mendadak getaran hebat pun mengejutkan mereka. Akibat retakan besar di tanah dan memunculkan sosok tak terduga. “Kurcaci,” lirihnya.
__ADS_1
“Tuan Asus Sevka!” kaget Libra akan kedatangannya.
“Dasar Arigan keparat!” sebuah teriakan pun menyentaknya. Bersamaan dengan tanaman merambat yang tumbuh menggila untuk mencambuk lawan-lawannya.
“Nigel! (Muncullah!)”
Dan perisai berwarna emas pun langsung melindungi kubu pengkhianat. Kemampuan dari Zeril Septor, mengingat sosoknya merupakan seorang tankzeas (pelindung) level komandan tingkat tinggi.
Sekarang, Huldra yang melompat tiba-tiba entah dari mana pun memperlihatkan wajah murkanya. “Dasar bocah keparat! Apa-apaan maksudmu itu?! Menjadi pengkhianat begini! Apa kau ingin menghancurkan bangsa kita?!”
Tapi malah tawa yang dipamerkan Arigan kepadanya. “Sampai jumpa, Nona Huldra.”
“Agh!” jerit wanita itu yang mengejutkan rekan-rekannya.
“Huldra!” teriak Reoa karena kaget yang dirasa.
Dan perlahan, sosok elftraz (penyembuh) dari bangsa siren pun menoleh ke belakang. Terkesiap begitu mendapati rupa tak asing di wajahnya. “Qatil?”
“Maafkan aku,” dia yang menusuknya dengan pedang pun beruraian air mata.
“Sialan!” pekik Reoa tak terima.
Dan pedang panjang itu pun menyayat tubuh Huldra menjadi dua tepat di depan mata teman-temannya.
“Qatil!” marah Ilhan melihatnya. Tapi langkah geramnya malah tertahan oleh dinding api yang tiba-tiba diciptakan Ivailo untuk menghentikannya.
“Akulah lawanmu.”
“Kau!” murkanya.
“Kardiria Exnasa! (Petir penghakiman!)” serang Logan dengan ganasnya ke arah Kuil Dewa.
Tapi serangan itu langsung meledak saat bertemu sosok yang tak disangka-sangka.
“Bohong, kenapa anda ada di sini?! Yang Mulia Mosia!”
Sosok yang dipanggil Libra pun mengibarkan senyum tipis di bibirnya. Berdiri dengan angkuhnya, di pintu masuk kuil Dewa. Dan dialah orang yang sudah menghentikan petir Logan dengan mudahnya.
“Apa aku terlambat?”
“Tidak, anda sangat membantu, Yang Mulia,” Ivailo pun membungkukkan badan dalam menyapanya.
“Yang Mulia,” Logan Centrio pun menyipitkan matanya.
Sementara Qatil pun memegang mayat Huldra yang berlumuran darah karena dirinya. “M-maafkan aku Nyonya. Maafkan aku, karena harus membunuhmu. Bagaimanapun aku tidak punya pilihan, karena kalian para elftraz (penyembuh) harus dihabisi terlebih dahulu. Sekali lagi maafkan aku, Nyonya.”
__ADS_1