Death Game

Death Game
Kecurigaan para Tetua


__ADS_3

 “Ayo,” Reve pun membalikkan tubuhnya tiba-tiba.


“Tunggu!” cegat pengendali serbuk besi yang menghentikan langkah mereka. Keduanya langsung menoleh padanya. “Apa kalian akan pergi dari kota ini?”


“Belum. Kemungkinan dua hari lagi,” balas Aza dengan melirik ke atas. Sepertinya ada yang ia pikirkan saat menjawabnya.


“Kalau begitu datanglah ke rumah hitam. Aku akan menyambutmu di sana.”


“Hah? Kenapa?” petinggi itu terlihat malas.


“Kalian orang yang mencurigakan. Sampai kepergian kalian, tetaplah di sana.”


Reve pun tertawa pelan. “Jadi kau ingin mengawasi kami?”


“Ya.”


“Yah, terserahlah. Aku tak masalah karena kau sudah berbaik hati memberikan informasi. Besok kami akan datang. Jangan lupa siapkan makanan, kau Raja di sini kan?” Aza Ergo tersenyum meledek.


Akhirnya, dirinya serta Reve pun pergi dari penjara itu. Sekarang hanya tersisa sang pengendali serbuk besi dan Izanami Forseti.


“Kuharap anda juga menuruti permintaanku, Tuan.”


Izanami langsung menoleh. “Anda mengundangku?”


“Aku tahu kalau anda sudah lama berkeliaran di kota ini. Tapi, baru sekarang anda memperlihatkan taring. Lebih baik menuruti saranku, karena sepertinya anda sedang bersembunyi.”


Izanami tersenyum. “Sekarang aku mengerti, pantas saja orang sepertimu bisa menjadi pemimpin di kota ini. Tampaknya, tak ada yang luput dari pengawasanmu ya.”


Sosok itu tak menjawabnya dan hanya melangkahkan kaki mendekati pengendali darah tersebut. Perlahan, tangannya pun terangkat. “Izakiel, merlindia manusia level bangsawan,” ucapnya memperkenalkan diri.


Laki-laki itu terdiam. Sejenak kemudian, dirinya membalas jabat tangan. “Izanami, hanya orang asing yang ingin tinggal di sini.”


“Tidak masalah. Siapa pun bisa menghabiskan hari di kota ini.”


“Maaf karena sudah mengacaukan pinggiran kotamu.”


Izakiel tersenyum. “Tak masalah, tapi kuharap kalian mau membayar ganti ruginya,” jawabnya yang dibalas tawa oleh Izanami.


Sementara di jalanan, diiringi pesona langit malam dihiasi dua bulan tanpa bintang, dua pemuda melangkah dengan santainya.


Sayup-sayup dingin menerpa kulit, walau itu takkan memperngaruhi salah satunya. Sepi di sekitar tak berarti apa-apa. Dan seekor ular yang melilit leher seorang pemuda, mencoba bersembunyi di dalam malam.


“Tak kusangka, kita tak bisa mendapatkan apa pun dari Izanami itu,” ucap Reve tiba-tiba.


“Kecewa?”


“Ya.”


“Tapi, setidaknya kita mendapatkan informasi lainnya. Semoga saja Cley Vortha itu mengenal Zeus Vortha.”


Reve pun melirik Aza yang setinggi dirinya. Garis wajah petinggi itu memang mempesona. “Aku ingin tanya sesuatu.”


Aza tersenyum meledek. “Aneh melihatmu bersikap sopan.”


“Cih!” respons Reve dengan tampang malas. Keheningan pun menerpa selama beberapa detik. “Jika kita gagal menemukan informasi Zeus dari Cley, apa yang selanjutnya akan kau lakukan?”


Aza Ergo hanya diam. Mereka tetap melangkah sampai akhirnya petinggi itu berhenti. “Kenapa?”


“Aku hanya tanya.” Akan tetapi, terlihat senyuman aneh di bibir Reve Nel Keres. Aza yang tampak berekspresi santai pun mendongak menatap langit. 


“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau pasti mengira, jika aku berhasil mendapatkan informasi amarilis dan darahnya duluan, mungkin saja aku takkan membantumu lagi kan?”


Tak ada jawaban dari pemuda yang memelihara ular. Netranya hanya fokus pada mata sang petinggi empusa.


 “Bukankah sudah kukatakan? Bahkan jika itu apel busuk, aku akan tetap membayar harganya,” lanjutnya.

__ADS_1


“Aneh mendengar orang semuda dirimu mengatakan itu. Terkadang, tidak semuanya akan bertaruh nyawa hanya karena sebuah kerja sama.”


Entah kenapa ketegangan mulai tercipta di antara mereka.


“Aku tahu kau tidak mempercayaiku. Tapi, pengalaman hidup kita tak jauh berbeda. Kau yang kehilangan tanah kelahiranmu dan aku yang kehilangan hidupku. Memang tidak perlu saling percaya. Tapi jangan lupa, kalau ingin bekerja sama harus ada harga yang dibayar duluan. Dan aku membayarnya dengan informasi yang takkan mungkin kau dapatkan. Karena aku adalah petinggi dari empusa.”


Selesai mengatakan itu, Aza pun berjalan melewati Reve. Sekilas tangannya menyentuh bahu sang pemuda, sebelum melangkah duluan meninggalkannya.


Esok harinya, rombongan di tempat penginapan yang dipesan Aza sedang bersiap-siap.


“Apa tak masalah?”


“Apanya?” Riz menoleh ke arah Doxia.


“Kita akan pergi ke sarang singa.”


“Tapi ini kan perintah Tuan Aza.”


“Sejak kapan dia jadi pemimpin kita?!”


“Tapi kan dia petinggi dan yang terhebat di antara kita semua,” timpal Toz tanpa dosa.


“Terhebat? Jika aku serius, mungkin saja aku lebih hebat darinya!” jengkel Doxia Mero tak terima.


“Jika anda serius, mungkin saja badan anda cuma tinggal tulang di tangannya.”


“Apa kau bilang!” sambil melotot ke arah Horusca.


“Aku hanya bilang kenyataan. Yang sibuk berkoar biasanya yang paling lemah.”


“Aah! Kau ya, benar-benar menyebalkan!” geram Doxia sambil tangan hampir saja mencengkeram kepala Horusca.


“Kenapa ribut begini? Ayo cepat, aku sudah lapar,” keluh Aza. Dirinya pun melangkah duluan beserta rombongannya yang mengikutinya dari belakang.


Di tempat berbeda, seorang pria tua mendatangi sang pemimpin hydra di kamarnya. Ruangan yang sangat besar, ranjang mewah di tengah dan sebuah permandani indah terbentang sepanjang mata memandang.


“Lho, apa yang dilakukan tetua elit seperti anda di sini?”


“Apa aku tidak boleh mengunjungimu?”


Hydragel Kers tertawa pelan. “Tentu saja boleh. Tidur di sini juga boleh, apa anda mau anggur? Tapi aku takkan membaginya, jadi anda makan apel saja.”


Pak tua itu hanya bisa menggelengkan kepala karena kalimatnya. “Kau masih saja belum berubah.”


Tapi tiba-tiba justru tawa keras yang dilontarkan Kers. “Mana bisa aku berubah? Aku sudah terlahir sebagai pria, Tuan.”


Sungguh pak tua itu dibuat sakit kepala karena berhadapan dengan anak muda di depannya.


“O-oh, apa ini? Anda sakit kepala? Jangan pingsan! Aku tak kuat membantu anda,” paniknya sambil mengambil kursi dan menyerahkannya untuk di duduki tamunya.


“Ya ampun. Pantas saja Revtel selalu darah tinggi jika membahas dirimu.”


Dan masih tawa yang disemburkan pimpinan hydra. “Itu karena Revtel tidak bisa diajak bercanda. Lagi pula, siapa yang mau berurusan dengannya? Terlalu serius, kaku, bahkan matanya saja empat. Aku yakin gadis-gadis cantik pasti tidak menyukai tampangnya.”


“Dia rekan seperguruanmu Kers.”


“Lalu? Dia tetap wakil dan bawahanku kan?” laki-laki itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul pahanya. Entah apa yang lucu, rasanya orang-orang harus banyak bersabar jika berurusan dengannya.


“Hah ...” suara helaan napas pelan pak tua itu. “Kers.”


“Mm.”


“Ada pergerakan aneh dari empusa.”


Tampang bercanda sang pemimpin hydra pun berubah santai. “Lalu?”

__ADS_1


“Apa kau tak berniat menyelidikinya?”


“Memangnya itu akan merugikan bangsa kita?”


“Entahlah. Tapi ada baiknya kita berjaga-jaga. Mengingat mereka pergi ke kuil Dewa Susanoo secara rahasia.”


“Mm ... mungkin saja mereka ingin bersemedi.”


“Kers.”


“Apa?”


Pak tua itu kembali geleng-geleng kepala. “Empusa itu ancaman, bagaimanapun mereka bangsa setengah Dewa.”


“Lalu? Kemampuan mereka tetap payah seperti orang-orang pada umumnya.”


“Tapi itu tak menolak kenyataan jika petinggi jenius pertama berasal dari bangsa mereka.”


“Aza?” tampang Kers tampak meledek.


“Dia salah satu murid di Hadesia, Kers.”


“Aku juga.”


“Tapi dia lebih muda darimu.”


“Cuma beda empat tahun.”


“Dia yang termuda Kers.”


“Tapi dia cuma petinggi, sedangkan aku pemimpin bangsa hydra, Tuan.”


Rasanya umur pak tua itu ingin menipis karena berbicara dengannya. “Bahkan pelatihan hancur karena dirinya.”


“Benar, tapi Revtel juga bersalah.”


“Apa yang sebenarnya terjadi di Hadesia?”


“Entahlah,” Kers kembali memakan anggurnya dengan santai.


“Itu bukan lelucon Kers. Lebih dari separuh penghuni mati di sana.”


“Lalu?” laki-laki itu memiringkan kepalanya. Bahkan senyuman jahil tercetak di bibirnya. “Banyak juga yang selamat. Contohnya aku,” sahutnya dengan bangga.


“Kers.”


“Lagi pula itu masa lalu. Jika diungkit lagi, kesalahan Revtel juga akan bertebaran. Bangsa-bangsa kan sudah sepakat untuk melupakan semuanya.”


“Tapi mereka yang kehilangan masih dendam karenanya.”


Kers terdiam sejenak. “Lalu orang-orang mau apa? Yang mati takkan hidup kembali. Kita juga kehilangan kan? Bahkan kita kehilangan tiga orang penting.”


“Beberapa tetua menuntut kebenarannya.”


“Untuk apa?”


“Karena orang tua Algios, tidak percaya jika itu cuma sekadar kecelakaan. Bagaimana bisa Tuan Remus kehilangan kendali? Tak ada satu pun yang percaya, Kers. Kebohongan terlalu jelas jika hanya Aza dan Revtel yang turun tangan untuk menghentikannya, sampai-sampai menghancurkan dan membunuh orang-orang sekitarnya.”  


“Kebohongan? Bahkan Blerda sendiri yang sebagai saksi sudah mengakuinya. Kalian para orang tua terlalu berlebihan sampai tidak mempercayainya.”


“Bukannya tidak percaya. Tapi dalam pertarungan mengerikan itu, bagaimana bisa kalian tidak mengetahuinya? Orang-orang curiga jika kau, Blerda serta murid yang tersisa, berbohong untuk menutupi kebenarannya. Mereka meragukan kalian para pemimpin muda.”


Kers pun menaruh anggurnya. Memetik satu lalu melemparnya ke atas agar bisa ditangkap mulutnya. Pak tua itu hanya bisa memandanginya sambil menunggu jawaban dari pemimpin muda di depannya.


“Terserahlah. Aku tak peduli. Kalau mau menurunkanku lakukan saja. Malah bagus karena aku bisa bersantai dengan tenang,” dirinya pun terkekeh. “Tapi kalau Blerda? Siren pasti akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Lagi pula, siapa yang lebih buruk darinya? Revtel dan Lucian Brastok saja takut padanya.”

__ADS_1


 


__ADS_2