
“Apa! Apa maksudmu?!” syok Tuan Criber mendengarnya.
“Dia kehilangan kendali akan dirinya. Sehingga ilusinya membuat para guru besar saling membunuh dan membantai murid lainnya,” begitu sendu ekspresinya. Bahkan sosoknya membiarkan air mata berjatuhan tanpa berniat menghapusnya.
Delapan murid yang tersisa hanya diam menatap Blerda. Tak habis pikir dengan tipuan luar biasa yang dinyanyikannya.
“Tidak mungkin,” sosok elftraz (penyembuh) yang berdiri bersama Tuan Criber pun menggelengkan kepala. “Tuan Remus tak mungkin melakukan itu. Dia bukan orang yang seperti itu.”
“Jika tidak mungkin, lalu ini apa? Apakah lukaku hanya kebohongan?” ucap Blerda sambil beruraian air mata.
Dan Tuan Criber yang menatap lekatnya pun terkesiap mendengarnya. Dihampirinya Blerda, lalu mengajaknya berbicara di tempat lain.
Sekarang, delapan murid tersisa hanya menunggu bersama kusir kereta yang menatap iba.
Entah apa yang dibicarakan Blerda dengan keduanya, sampai esok harinya utusan dari bangsa-bangsa berdatangan ke sana. Menjemput murid-murid yang masih hidup di Hadesia.
Parahnya lagi, delapan sosok yang selamat terpaksa menyetujui kebohongan Blerda Sirena. Mengingat gadis itu mengatakan dustanya dengan sungguh luar biasa sehingga murid-murid tersebut harus mengelus dada agar tidak saling salah bicara.
Dan insiden di sana pun menjadi salah satu sejarah paling mengerikan sepanjang ingatan bangsa-bangsa. Di mana rupanya Remus Eterno merupakan pimpinan dari penyembah para penyimpang yang disebut sekte Hadesia.
Siren yang menjadi tanah airnya jelas terpukul akan berita itu. Mengingat banyaknya guru besar dan murid tewas di tangannya.
Dan saksi mata hanya Blerda seorang. Karena dia menyaksikan langsung bagaimana beringasnya Remus Eterno yang tak bisa mengendalikan dirinya sehingga kemampuan ilusinya membuat para guru besar menggila di Hadesia. Aza Ergo dan Revtel yang tak tahu apa-apa pun terpaksa bertarung habis-habisan demi melindungi diri juga murid-murid selamat yang pingsan.
Begitulah akhir kisah daratan menyedihkan Hadesia. Diselimuti es dan juga magma, dari kemampuan luar biasa Pangeran berlabel haram dan sang petinggi muda.
Skill dan jurus mereka memang menghancurkan Hadesia, dan juga membunuh beberapa orang di dalamnya. Tapi itu tidak menolak kenyataan, kalau karena keduanya pula beberapa murid berhasil terselamatkan. Walau nyatanya Blerda, harus kehilangan satu tangannya akibat serangan Bartigo Aertia yang termakan ilusi Remus Eterno.
Kisah tersebut pun akhirnya menggema ke seluruh daratan dan merupakan dongeng terbaik dari Blerda Sirena sang penipu ulung yang mendustai bangsa-bangsa.
Tentunya, murid-murid lain memilih menutup mulutnya. Apalagi dalam sidang di Kerajaan hydra yang dihadiri utusan bangsa-bangsa, pernyataannya berhasil mengukuhkan para saudara seperjanjian menjadi petinggi dan Raja muda.
Sebab murid-murid Hadesia, memiliki bakat sempurna untuk membantai para penyimpang sehingga harus dimusnahkan oleh guru besar di sana.
Itulah alasan sesungguhnya dari Remus Eterno sosok paling mengerikan melakukan itu semua.
Dan nama para murid pun menggema ke seluruh penjuru dunia. Sebagai siswa pelatihan gila yang luar biasa juga beberapa julukan menghiasi masing-masingnya.
Terlebih sedikit banyaknya ada peran Aza dan Blerda. Karena sosok dari empusa itu merupakan petinggi termuda yang diakui mereka. Sementara gadis siren, berhasil mengukir julukannya sebagai sang pengendali pelayan Dewa.
Begitulah awal mula mereka ditakuti dan bakatnya dikagumi oleh semuanya.
“Lemah!” teriak Doxia Mero tiba-tiba. Dia baru saja selesai bertarung dengan Toz Nidiel, di mana bocah itu sedang berusaha memperkuat kemampuannya sebagai seorang scodeaz (pengendali).
“Maafkan aku, Tuan,” ucap Toz sambil mengusap kasar darah yang mengalir di sudut bibirnya. Salah satu pipinya memar karena dihantam gagang senjata Doxia. Dan wujud silumannya sudah memudar sekarang.
__ADS_1
Sementara Riz sibuk melirik Aza yang hanya diam menyaksikan semuanya.
“Jika ada yang ingin ditanyakan katakan saja,” ucapnya karena sadar akan arti tatapan bocah itu.
“Mm ... a-aku—”
“Kalian di sini rupanya.”
Sontak saja orang-orang yang sedang berlatih di kastil Aza Ergo menoleh pada sang pendatang.
Sang Raja bangsa empusa, Trempusa. Walaupun sudah pernah melihatnya di kawasan siren, tapi beberapa orang kembali terpana. Akan pesona yang tak biasa dari sang pemilik tahta. Dia jelas ada di level nan berbeda.
“Mau apa kau ke sini?” tanya Aza tanpa basa-basi.
“Apa salah jika aku ingin mengunjungi adik seperguruanku?”
“Tidak. Tentu saja aku menyambutmu, Yang Mulia,” diiringi kekehan olehnya.
Namun siapa sangka, kalau ada tiga orang asing yang datang ke sana selain Trempusa.
“Lho, Anca?!” kaget Toz dan Riz bersamaan.
“Kalian,” sosok yang memakai penutup di kepala itu terkejut melihatnya.
“Iih ... apa yang dilakukan bocah-bocah laknat ini di sini?” jengkel Dokter Cley melihatnya.
“Aku bebas di mana saja. Karena aku jenius.”
“Agh!” erang Riz tiba-tiba. “Tolong jangan katakan itu lagi!”
“Diam kau bodoh, makanya kau belum mati dengan tenang akibat membantah orang tua sepertiku,” hujat sosok itu dan hanya ditatap malas Ragraph Revos di sebelahnya.
Sementara Reve dan Horusca, tampangnya sama-sama datar melihat kedatangan empat orang asing itu.
Tiba-tiba, Aza mengangkat tangannya seperti meminta sesuatu pada Trempusa.
“Mm, apa?”
“Kau dan komplotanmu bertamu, mana buah tangannya?”
“Hei, kita sudah lama tidak bertemu. Apa petinggi kaya sepertimu harus sekikir itu?” sela Ragraph lalu berdiri di samping kakaknya.
“Aku tidak ada niat melihat wajahmu, Nak.”
“Cih!” decihnya akibat lirihan menyebalkan Aza Ergo.
__ADS_1
“Lho, siapa ini? Anak muda yang sombong sekali,” Dokter Cley seenak jidatnya menimpali pembicaraan mereka. Sambil merangkul Ragraph, ditatap lekatnya Aza Ergo yang berwajah santai di depannya. “Mm? Tampangmu menyebalkan dan energimu tidak stabil. Apa kau sekarat?”
Hal itu pun menyentak para pendengarnya. Aza Ergo yang dikatai seperti itu langsung terkekeh dibuatnya. “Elftraz? (penyembuh?)”
“Aku Cley Vortha. Tunjukkan sopan santunmu, Nak,” ucapnya tiba-tiba.
Aza dan Reve pun langsung mendelik karenanya. Sontak saja mereka saling beradu pandang sebab mendengar sesuatu yang tak asing baginya.
“Cley Vortha? Jadi itu namamu?” Reve pun bersuara.
Tentunya sang Dokter memalingkan wajah ke arahnya. “Lho, bukannya ini anak Si Donatur? Apa yang dilakukan bocah gembel sepertimu di sini? Kau belum mati?”
Riz dan Toz pun geleng-geleng kepala mendengarnya. Sungguh malapetaka bertemu dengan Dokter sekolahnya itu.
“Sayangnya aku masih hidup,” kekeh Reve kepadanya. Perlahan ada sesuatu yang bergerak di balik bajunya dan muncul tiba-tiba melingkari lehernya.
“Ular?” gumam Trempusa dan Ragraph bersamaan.
“Cih, masih hidup ya. Hush! Hush! Kau lebih baik menjauh dariku. Aku alergi dengan bocah kaya sepertimu,” usir Dokter Cley kepadanya.
Tapi tiba-tiba semua terbungkam. Karena sang petinggi empusa, memunculkan pedang magma dan diarahkan tepat ke leher sang Dokter yang cerewet menurutnya.
“Aza,” Trempusa menyelanya.
Ragraph pun mengernyitkan dahi bingung melihatnya. “Kau mau membunuh si gila ini? Kalau begitu kudukung Tuan Aza. Bunuh saja dia agar tidak mengoceh lagi.”
“Aish! Beginilah anak muda zaman sekarang. Tak tahu diri padahal sebelumnya menangis kesepian!” jengkel Dokter itu. Lalu tangannya tanpa ragu menyentuh pedang magma Aza. “Kau mau bertarung denganku bocah?” tanyanya pada petinggi muda di depannya.
“Aku menginginkan sesuatu darimu. Ikutlah denganku,” selesai mengatakannya Aza pun pergi meninggalkan semua. Bahkan sebelum berlalu sempat-sempatnya ia berkedip pada Trempusa, dan membuat sang kakak seperguruan menatap heran kepadanya.
“Siapa bocah itu? Main suruh seenaknya. Aku bertaruh jika dia pasti buruk isi otaknya,” gerutu Dokter Cley namun tetap mengikutinya.
Sementara Reve juga berlalu dari sana. “Sampai jumpa semuanya,” kekehnya.
Tentunya beberapa orang jadi bingung kenapa bocah ular itu juga pergi mengekori dua sosok tadi. Tapi, mereka bukan tipe yang suka ikut campur. Begitu pula dengan Revos bersaudara.
Sekarang, pedang magma sudah tak ada di tangan Aza. Dirinya sedang berhenti di bibir tebing sambil menatap lepas pemandangan yang ada di daerah kekuasaannya. Dan pendengarannya menangkap langkah kaki lebih dari satu orang.
“Siapa kau bocah? Jangan buang-buang waktuku dengan hal tak berguna.”
Aza yang ditanyai dengan nada jengkel pun mengibarkan senyum di bibirnya. “Di mana Peri Amarilis? Elf.”
Seketika Reve yang ada di belakang sang Dokter pun terkejut mendengarnya. Apa lagi saat mendengar sebutan itu disematkan pada sosok tak asing baginya.
Lambat laun Dokter Cley pun mengubah ekspresinya. Menjadi semakin menyebalkan jika dilihat cukup lama.
__ADS_1
“Apa ini? Empusa pasti menangis karena keturunannya kurang ajar sepertimu. Sebelum bertanya perkenalkan dirimu dulu bocah. Apa kau ingin mulutmu kudidik terlebih dahulu?” kekehnya.